Anne-Marie - Friends (on Sounds Like Friday Night)







Ooh ooh, ooh ooh
Ooh ooh, ooh ooh
You say you love me, I say you crazy
We're nothing more than friends
You're not my lover, more like a brother
I known you since we were like ten, yeah
Don't mess it up, talking that shit
Only gonna push me away, that's it
When you say you love me, that make me crazy
Here we go again
Don't go look at me with that look in your eye
You really ain't going away without a fight
You can't be reasoned with, I'm done being polite
I've told you one, two, three, four, five, six thousand times
Haven't I made it obvious?
Haven't I made it clear?
Want me to spell it out for you?
F-R-I-E-N-D-S
Haven't I made it obvious?
Haven't I made it clear?
Want me to spell it out for you?
F-R-I-E-N-D-S
F-R-I-E-N-D-S
Have you got no shame? You looking insane
Turning up at my door
It's two in the morning, the rain is pouring
Haven't we been here before?
Don't mess it up, talking that shit
Only gonna push me away, that's it
Have you got no shame? You looking insane
Here we go again
So don't go look at me with that look in your eye
You really ain't going away without a fight
You can't be reasoned with, I'm done being polite
I've told you one, two, three, four, five, six thousand times
Haven't I made it obvious? (Haven't I made it?)
Haven't I made it clear? (Haven't I made it clear?)
Want me to spell it out for you?
F-R-I-E-N-D-S
Haven't I made it obvious?
Haven't I made it clear? (Haven't I?)
Want me to spell it out for you? (To spell it out for you?)
F-R-I-E-N-D-S
F-R-I-E-N-D-S
F-R-I-E-N-D-S
That's how you f- spell "friends"
F-R-I-E-N-D-S
Get that shit inside your head
No, no, yeah, uh, ah
F-R-I-E-N-D-S
We're just friends
So don't go look at me with that look in your eye
You really ain't going nowhere without a fight
You can't be reasoned with, I'm done being polite
I've told you one, two, three, four, five, six thousand times
Haven't I made it obvious? (Have I not made it obvious?)
Haven't I made it clear? (I made it very clear)
Want me to spell it out for you? (Yo)
F-R-I-EN-D-S (I said F-R-I-E-N-D-S)
Haven't I made it obvious? (I made it very obvious)
Haven't I made it clear? (I made it very clear)
Want me to spell it out for you?
F-R-I-E-N-D-S
F-R-I-E-N-D-S
Ooh ooh, ooh ooh
Ah ah ah
Songwriters: Anne-Marie Nicholson / Fred Falke
FRIENDS lyrics © Sony/ATV Music Publishing LLC

Hospital Tour at Canberra Hospital: NICU and Maternity Ward

Selasa tanggal 4 September 2018 saya berkesempatan mengunjungi salah seorang lactation consultant (selanjutnya disingkat LC) di Canberra Hospital. Saya mengenal Mary-Ellen di sebuah diskusi di kampus, dikenalkan oleh seorang teman saya dari Australian Breastfeeding Association (ABA). Setelah diskusi itu, Mary-Ellen mengundang saya kalau mau datang ke RS tempatnya bekerja. Tentu saja saya langsung jawab iya! 
Sudah menjadi pekerjaan sehari-hari saya di Indonesia untuk mengunjungi RS, observasi dan belajar dari RS.

3 minggu kemudian baru Mary-Ellen mempunyai waktu untuk saya. Padahal tidak ada kewajiban buat dia mengajak saya keliling dan menjelaskan semuanya. Kebetulan lagi Mary-ellen ini kepala NICU (Neonatal Intensive Care Unit), jadi dia mengajak saya keliling NICU, memberi saya brosur, contoh alat bantu dan mengijinkan saya untuk mengambil foto.



Mary-Ellen sangat baik mengajak saya keliling di NICU dan Maternity ward


Botol penyimpanan ASI Perah yang digunakan di Canberra Hospital





Brosur informasi untuk pasien dan keluarga








Expressing Room




Birthing Unit



Alat resusitasi di setiap kamar birthing unit

water birth


Rooming-In in the NICU







Parent Rooms



Poster



Emergency Procedures


Retrieval Rooms




 Main Lobby

Donation station at the main lobby
Info at the main lobby





Helipad for emergency neonatus case from ACT and NSW


Store room at the NICU

 Inovasi dan Donasi dari Non Government Organization
Folder donasi dari salah satu foundation




Gender Equity: Why Aussie use "Partner" more common than "Husband/Wife/Spouse"

Di bulan pertama, saya bertemu pertama kali dg SpV kedua saya, Julie Smith, salah seorang pakar kebijakan laktasi internasional (https://researchers.anu.edu.au/researchers/smith-jpx) jelas bikin deg-degan. Singkat cerita, saya banyak bengongnya di pertemuan pertama. Julie sangat antusias dengan segala hal terkait breastfeeding.
Waktu itu dia membawakan setumpuk artikel jurnal yang dia sarankan untuk saya baca. Satu hal yang membuat saya bingung adalah dia meminta saya mempelajari breastfeeding dengan perspektif human rights. Tidak pernah terpikirkan sekalipun breastfeeding dikaitkan dengan human rights. Pikir saya, perempuan di Indonesia sepertinya masih jauh deh kalo mau mengkaitkan menyusui dengan HAM. Karena setahu saya, mayoritas perempuan (apalagi anak pertama dan di struktur budaya tertentu) harus mengikuti apa kata suami dan/atau ibu/mertua. Apa yang dilakukan orangtua atau mertuanya dulu, kemungkinan besar akan juga dilakukan si ibu.

Seiring berjalannya waktu (dan setumpuk artikel jurnal serta textbooks online dan printout), saya mulai paham. Memang menyusui adalah peran alamiah perempuan. Menyusui juga keputusan pribadi perempuan. Namun apakah perempuan mendapatkan informasi yang jelas dalam membuat keputusannya? Seringkali perempuan (terutama di Indonesia) tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai menyusui. Bukan hanya manfaat menyusui saja lho ya..tapi juga risiko bila tidak menyusui bagi kesehatan ibu, risiko penggunaan susu formula bagi kesehatan anak, dan sebagainya.
Selain itu, kondisi lingkungan juga mempengaruhi perempuan dalam membuat keputusannya. Contohnya, jika ibu bekerja tidak mendapat kesempatan untuk memerah ASI selama jam kerjanya, dia bisa saja mengambil keputusan untuk menambahkan susu formula selama dia bekerja, yang mana ini justru akan membuat produksi ASInya berkurang.

Kemarin siang tidak sengaja melihat status seorang teman yang sedang "galau" karena mendadak mendapat kabar ada seminar penting yang menarik di luar jadwal kerjanya, sedangkan anaknya tidak ada yang mengasuh. Kegalauan macam ini sangat sering terjadi pada perempuan bekerja, lebih-lebih di Indonesia.
Saya pun termasuk yang demikian di awal-awal kelahiran Ayra dan Axel. Selalu merasa bersalah untuk meninggalkan mereka bekerja. 

Masih banyak lagi kejadian sehari-hari yang tidak saya sadari di Indonesia, kemudian kembali saya lihat atau amati di Australia. Terutama karena di sini kesadaran akan human rights/gender equity cukup tinggi. Beberapa kali saya menghadiri seminar dan workshop yang terkait dengan ini, misalnya pengaruh paternity leave dengan pola pengasuhan anak, dengan angka menyusui, dan lain-lain.

Ada beberapa aliran pengusung human rights/feminist, termasuk juga aliran yang ekstrim, yang (katanya) meminta hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan harus sama. Ini yang biasanya bertabrakan dengan ajaran Islam.
Namun ada juga aliran yang moderat. Tidak menuntut harus sama, karena mereka sadar secara anatomi dan fungsional tubuh sudah berbeda. Ada fungsi reproduksi yang memang hanya dapat dilakukan oleh perempuan, yaitu hamil, melahirkan dan menyusui. Oleh karena peran dan fungsi spesial perempuan ini, maka perlu ada kebijakan yang khusus juga terhadap perempuan. Contohnya antara lain seperti yang saya tulis di paragraf awal. Hal ini tidak berlaku hanya untuk perempuan bekerja di sektor formal saja ya. Tapi juga segala macam aktivitas perempuan, whether dia mau melanjutkan sekolah, membuka usaha sendiri (entrepreneur). Salah satu contoh lagi di kampus saya sedang digalakkan tentang kebijakan family-friendly, karena ANU dianggap kurang family-friendly, mulai dari tidak adanya parkir mobil untuk staf/student yang datang setelah mengantar anaknya sekolah (biasanya akan datang jam 9 lebih), mahalnya harga childcare, terutama untuk international student, kurang banyaknya jumlah parents room (alhamdulillah di gedung saya ada satu), dan masih banyak lagi.

Saya pernah suudzon terhadap lebih seringnya penggunaan kata "partner" dibanding "husband/wife/spouse" di Australia, terutama dalam percakapan sehari-hari. Saya suudzon, pasti ini karena banyaknya kaum LGBTQI. Namun ternyata salah besar. Mereka menggunakan istilah partner karena memang menganggap suami/istrinya ini partner sejajar dalam pernikahan. Semua dilakukan sebagai kerja tim. Tidak ada rasa gengsi, tidak ada pekerjaan yang tabu dilakukan laki-laki. Tentu banyak sekali keluarga muslim di sini, yang menambahkan value Islam dalam pemahaman ini. Meski partner sejajar, suami tetap imam dalam keluarga. Ini yang sedang saya pelajari saat ini.

Saya melihat banyak sekali laki-laki di sini tidak gengsi mengajak anak-anaknya bermain di playground, mengantikan popok anaknya, memasak, mengantar ke sekolah anak tanpa istrinya, dan sebagainya. Pemandangan yang jarang terlihat di Indonesia, terutama di kota kecil. Banyak paham di masyarakat tradisional bahwa urusan rumah dan anak itu mutlak urusan perempuan, sedangkan tugas laki-laki hanya mencari uang. Kalau sampai ada laki-laki yang mengerjakan "tugas" perempuan, bisa turun harga dirinya. Padahal di Islam pun diajarkan pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak. Hal ini menarik buat saya, dan insyaAllah akan terus saya pelajari.

Mental Health Matters

Salah satu hal yang menarik sejak saya mulai kuliah di ANU adalah tingginya kesadaran dan kepekaan warga Australia terhadap kesehatan mental. Ini terlihat dari adanya pusat riset khusus kesehatan mental, yaitu Centre for Mental Health Research (CMRH), juga adanya layanan konseling psikolog bagi postgraduate students.

CMRH ini satu school dengan saya dan kebetulan berbagi gedung dengan departemen saya.
Untuk informasi, kebetulan saya PhD full research, jadi tidak ada perkuliahan di kelas. Untuk awal, saya masih ditempatkan di kantor temporer bersama dengan Master Student. Karena tidak ada perkuliahan di kelas dan saya pun harus beradaptasi (dan juga membantu adaptasi suami dan anak-anak), saya jadi tidak punya teman by default. Kalau saya mau punya teman di kampus, saya yang harus bergerak. Kebetulan lagi, tidak ada mahasiswa Indonesia di school saya.

Saya berada di Health Services Research and Policy Department, Research School of Population Health (RSPH), College of Health and Medicine (CHM). Supervisor saya juga berada di departemen yang sama.
Meski demikian, sejak awal supervisor #1 saya (yang bernama Jane) sangat memperhatikan kesehatan mental saya, salah satunya dengan selalu menanyakan kondisi keluarga saya, bagaimana suami dan anak-anak adaptasi di Australia. Hal yang sepele untuk di Indonesia, tapi mengingat mayoritas orang Aussie sangatlah individualis, hal ini sangat menarik.

Perlu diketahui juga bahwa hal-hal kecil yang di Indonesia dianggap remeh, merupakan hal yang sangat diperhatikan di sini. Contohnya, saat saya akan ditempatkan di kantor permanen saya yang ternyata di gedung yang berbeda dengan mayoritas mahasiswa RSPH. Sebelum benar-benar dipindahkan, Jane masuk ke ruangan saya dan menanyakan pendapat saya jika saya ditempatkan di calon kantor permanen saya. Dia khawatir kalau saya sedih atau keberatan ditempatkan di ruangan yang jauh dari mayoritas teman2 RSPH (yang beberapa di antaranya menjadi teman baik saya).
Saya menjawab, tidak masalah. Karena kami bisa janjian via whatsapp (dan itu yang benar terjadi hingga sekarang).

Jujur saja, saya sebenarnya tipe introvert, dimana saya membutuhkan waktu untuk sendirian. Saya suka berada di keramaian, tapi berkenalan, berbaur dan berbicara dengan orang banyak cukup menguras energi saya :)

Kejadian lain, saat admin school saya akan ditempatkan di college lain, kepala departemen saya (bernama Emily) merencanakan farewell morning tea. Saat itu Emily mengirim email menyatakan waktunya Selasa pagi atau Rabu siang. FYI, anggota departemen saya berjumlah 8 orang, dan hanya saya PhD student-nya. Yang lain menyatakan bisa Selasa pagi, tapi saat itu saya sudah mendaftar untuk workshop di kampus jam 10-12. Saya menjawab emailnya menyatakan tidak bisa Selasa pagi, tapi silakan dilanjutkan tanpa saya jika memang mayoritas bisa Selasa pagi.

Ternyata, entah bagaimana, Jane dan Emily bicara lewat telp dan kemudian Emily mengumumkan via email kalau acaranya Rabu jam 11. Well mungkin saya GR, tapi benar yang terjadi, tidak banyak yang bisa hadir di Rabu jam 11.


Saat ini saya tidak terlalu punya banyak teman dekat di RSPH, kecuali satu teman laki-laki dari Thailand dan satu teman perempuan dari Phillipines.

Saya pribadi belum terlalu familiar atau mendalami mengenai kesehatan mental. Tapi pemerintah Australia sangat peduli dengan kesehatan mental masyarakatnya. Di level universitas juga sangat peduli dan banyak sekali program yang mendukung kesehatan mental khususnya untuk mahasiswa PhD, lebih-lebih PhD student-parents alias yang juga orangtua.

Secara tidak sadar, saya membandingkan dengan kondisi di Indonesia. Kesehatan mental masih sedikit sekali diperhatikan, kalaupun ada biasanya sudah sampai level parah yaitu saat sudah menjadi depresi atau bahkan gangguan jiwa.
Namun saya menyadari juga hal ini terjadi karena sebenarnya kebutuhan dasar mayoritas masyarakat belum terpenuhi. Ibaratnya saat ini Indonesia masih berfokus pada kesehatan fisik saja, belum sampai kesehatan mental.
Selain itu, keyakinan masyarakat bahwa masalah-masalah cukup diadukan pada Tuhan saja. Bukan saya menentang keyakinan ini, namun demikian ada kalanya masalah perlu dilakukan ikhtiar untuk mencari solusinya. Wallahu'alam.

Saya pun masih belajar, dan akan terus menuliskan pengalaman dan pengetahuan baru yang saya dapatkan, dengan harapan bisa menebar manfaat untuk orang lain. Amiinn yra.

The Trump’s Zero-Tolerance Immigration Policy May Affect Breastfeeding Baby and Mother’s Health


Several weeks ago many headlines about Trump’s immigration policy broke my heart. At least 2000 young infants were ripped off from their parents since late April on the US-Mexico borders as they are seeking asylum. They crossed the border illegally as they have no proper documents. To be clear, there is no official policy stating that every family crossing the border without legal documents has to be separated. But when an adult is caught crossing border illegally, they are supposed to be criminally prosecuted. If this happens to a parent, it means their children have to be separated from their parents.
But the most horrible news was a few week ago when an undocumented immigrant mother from Honduras said federal officials took her daughter away from her while she was breastfeeding in a detention centre. CNN first reported the incident, the mother was placed in handcuffs after she resisted. The mother who had her daughter ripped from her breast is not just emotional; it is physical too.
In lactation science, there are several probable risks after this incident. There are two hormones that are directly involved in breastfeeding, one of them is oxytocin, the “love hormone”. It releases good feeling, relaxing for mothers and induces breastmilk ejection. When a baby suckles, the mother’s brain’s posterior lobe secretes oxytocin and it releases breastmilk. If a baby ripped off from the breast while she was breastfeeding, the breast was still full of milk and that could be pain for the mother.
When something touches a baby’s palate, he or she starts to suckle it and it is when the oxytocin comes in too. The baby’s tongue presses milk from the ducts into baby’s mouth. Therefore, it is important to break the suction with finger, before remove the baby from the breast. If the baby was pulled without breaking the suction first, it will traumatize mother’s nipple. Furthermore, the mother continue making milk, and without it being expressed, the breast could be engorged, swollen and could develop mastitis, which in severe stage need surgical drainage.
As for the baby, the separation will likely affect his or her psychological development as young infant need attachment to build strong connection to the environment. Baby that is not breastfed has higher risk to ear infection, gastroenteritis and pneumonia. Even though it has not reached the target rate from WHO, breastfeeding rate in developing countries is higher than in developed countries. Breastfeeding save million life from the making of formula milk with unhygienic water or where the clean water is inaccessible. Honduras is one of developing countries where the mother and baby benefits from breastfeeding. Separating breastfeeding children from their parents will have long term consequences.
The International Lactation Consultant Association (ILCA), the International Board of Lactation Consultant Examiners (IBLCE) and the Lactation Education Accreditation and Approval Review Committee (LEAARC) stand together in opposition to policies that unnecessarily separate a parent from their infant. I do hope that US government will make a new procedure to process the illegal immigrant without sacrificing the children’s future.
ps. the image is not related to the article :)

Kehebohan Susu Kental Manis

Beberapa minggu ini di Indonesia sedang dihebohkan dengan adanya pelarangan penggunaan kata "susu" pada produk susu kental manis (sweetened condensed milk), selanjutnya disingkat SKM, oleh BPOM.  Beberapa teman menuliskan kekagetannya di status media sosialnya karena baru tahu kalau SKM ini tinggi gula dan malah rendah kandungan susunya. Tidak salah juga karena memang pada label di produk ini tertulis rekomendasi penyajiannya sebagai minuman harian, cukup dicampur dengan air dan diminum 2 kali sehari.
Kebiasaan masyarakat kita memang jarang membaca kandungan suatu produk (ingredients), termasuk juga saya :D

Pada SKM sebenarnya juga menjadi perhatian kami di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) karena banyak masyarakat dengan pendidikan dan tingkat sosial ekonomi rendah memilih memberikan SKM, jika sudah gagal menyusui, dengan pertimbangan harga yang lebih murah. Banyak kasus dari keluarga miskin yang mengencerkan pemberian SKM (ataupun susu formula) dengan tujuan agar lebih hemat. Sehingga masalah kasus gizi buruk banyak terjadi.
Di sisi lain, ada kalangan masyarakat yang mengalami kasus overweight atau bahkan obesitas. Salah satunya tentu karena konsumsi produk tinggi gula seperti SKM ini.

Kasus gizi buruk maupun obesitas memang tidak bisa hanya menyalahkan satu pihak saja, dalam hal ini SKM.

Ada banyak faktor yang menyebabkan berita tentang SKM ini menjadi besar beberapa minggu ini. Salah satunya adalah kepercayaan masyarakat bahwa minum susu itu wajib. Mereka masih teringat jelas dengan slogan "4 Sehat 5 Sempurna", dimana minum susu merupakan langkah ke-5 sebagai penyempurna. Kalau tidak minum susu, tidak sempurna. Padahal slogan ini telah dihapus sejak tahun 1996an.
Saat ini yang digunakan adalah Pedoman Gizi Seimbang (PGS). Namun rupanya pemerintah belum berhasil membuat kampanye PGS yang mengalahkan slogan "4 Sehat 5 Sempurna". Perbedaan mendasar dari PGS adalah peran susu yang setara dengan protein hewani lainnya. Jadi susu bukanlah penyempurna. Boleh dikonsumsi setara dengan protein hewani lainnya.

World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif sejak lahir hingga usia 6 bulan, dilanjutkan dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang berkualitas dengan terus menyusui hingga usia 2 tahun atau lebih. Jika memang ibu tidak bisa menyusui karena alasan medis, bisa diberikan susu formula yang direkomendasikan oleh tenaga medis. Setelah usia 2 tahun, susu bukanlah asupan wajib. Sehingga tidak perlu diberikan keharusan minum susu.

Jadi bagaimana pemberian makan yang benar?
  1. Bayi diberi ASI saja mulai lahir hingga usia 6 bulan
  2. Memberikan MPASI sejak usia 6 bulan dengan bahan lokal dan berkualitas, dengan gizi seimbang, sesuaikan porsi dan teksturnya sesuai usia
  3. Lanjutkan menyusui hingga dua tahun atau lebih
  4. Menu makanan anak usia 1 tahun ke atas sudah sama dengan menu keluarga. Jadi tidak perlu ada pembedaan menu ataupun teksturnya.
  5. Pastikan ada karbohidrat, protein, sayur, lemak dan buah dalam setiap porsi makan hariannya.
Kesimpulannya, jika anak mengikuti proses makan yang benar sejak usia 6 bulan, tidak perlu ada kewajiban minum susu. 

Designed by FlexyCreatives