Thursday, November 15, 2018

Ramadan Pertama di Canberra

0 comments
 “Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (Q. S. Al-Mulk (67): 15)

Ramadan adalah bulan yang istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Banyaknya kegiatan ruhani, kajian dan tarawih di masjid, berkumpul dengan keluarga, silaturahmi dengan tetangga, teman kerja, banyaknya penjual takjil di pinggir jalan, acara buka bersama dan lain sebagainya. Namun pada tahun 2018 ini saya tidak bisa merasakan semaraknya Ramadan seperti tahun-tahun sebelumnya. Akhir tahun 2017 lalu, saya menerima kabar yang menggembirakan. Setelah bermimpi selama 10 tahun lebih, mempersiapkan segala persyaratan beasiswa, mencoba mengumpulkan kepercayaan diri, mengirimkan aplikasi beasiswa di antara segala tugas saya sebagai istri dan ibu dan setelah menerima kabar kegagalan di tahun 2016, Alhamdulillah bulan Oktober 2017 saya menerima kabar bahwa saya lulus beasiswa. Saya diijinkan Allah untuk menimba ilmu di Australia. Namun rupanya berita kelulusan ini tidak selamanya terdengar menyenangkan. Dua minggu setelah menerima kabar tersebut, saya harus mempersiapkan segala sesuatu untuk kepindahan saya dan anak-anak. Belum lagi mempersiapkan psikologis suami saya. Segala sesuatu harus diputuskan dan dipersiapkan dengan cepat karena Maret 2018 saya sudah harus berada di Canberra.

 “Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkanNya dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikannya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Az-Zumar : 21)

Pertama kali menginjakkan kaki di Canberra pada tanggal 22 Maret 2018. Kami terkagum-kagum dengan kebersihan kota ini, sekaligus juga harus beradaptasi secara fisik, yaitu dengan temperatur yang jauh berbeda dengan Surabaya. Saat itu masih musim gugur, suhu Canberra berkisar 16-19 derajat celcius. Sangat jauh berbeda dengan suhu Surabaya yang berkisar 28-33 derajat celcius. Meski di ruangan dengan AC, saya jarang sekali memasang suhu terendah, biasanya hanya 22-23 derajat saja. Segala macam alergi saya mulai kambuh dengan suhu dingin Canberra. Anak-anak dan suami flu di hari ke lima. Dengan iklim yang dingin dan kering, kulit saya juga begitu kering hingga mengalami eczema.
Selain suhu, adaptasi besar yang harus saya lakukan adalah penggunaan transportasi publik. Di Canberra, saat ini alat transportasi publik terbesar adalah bus. Semua penduduk Canberra didorong untuk menggunakan alat transportasi publik, dibandingkan mobil pribadi. Hal ini terlihat dari kebijakan pemerintah yang memberikan peraturan parkir yang ketat (sebagian besar parkir memiliki batas waktu maksimal parkir, misalnya 1 jam, 2 jam, dan maksimal 4 jam), tarif parkir yang mahal (semakin lama parkir, semakin mahal) dan khususnya parkir di area kampus sangatlah sulit karena terbatasnya lahan parkir. Transportasi menggunakan bus sangat nyaman untuk kami, namun tantangannya adalah kami harus berjalan menuju halte bus terdekat dan jadwal bus yang tepat waktu. Sehingga kalau saya terlambat 2 menit saja, sudah bisa dipastikan saya akan ketinggalan bus dan harus menunggu 20 menit untuk jadwal berikutnya. Ini juga tantangan karena saya harus bertahan menunggu di halte bus dengan suhu dingin dan terkadang angin yang cukup kencang. Mayoritas penduduk Canberra didorong untuk melakukan kegiatan fisik, itu juga sebabnya semua kegiatan dari gedung ke gedung kebanyakan harus berjalan kaki, karena tidak mungkin menggunakan mobil (karena susahnya mencari parkir mobil) ataupun bus (karena rute bus tidak terlalu banyak antar gedung). Rata-rata sehari saya harus berjalan kaki sekitar 1,5-2 kilometer, jarak yang sangat jarang saya tempuh dengan berjalan kaki selama di Surabaya.

Pada bulan ke dua kami memasuki bulan Ramadan. Tantangan terbesar kami memang suhu Canberra. Bulan April-Mei merupakan musim gugur, namun suhu sudah mencapai 6-8 derajat celcius. Jujur saja, saya merasa sedih dan tidak terlalu antusias dengan Ramadan kali ini, karena saya membayangkan betapa dinginnya untuk sahur atau betapa beratnya menjaga suhu tubuh tetap hangat dalam kondisi puasa. Saya juga tidak tahu bagaimana suasana tarawih di sini, bisa saja sepi dan tidak semeriah di Indonesia, dan sebagainya. Meski di sisi lain, durasi puasa di Canberra lebih pendek dibanding di Indonesia, yaitu subuh pukul 5.30 dan maghrib pukul 17.

 “Allah-lah yang menjadikan bumi untukmu sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentukmu, lalu memperindah rupamu, serta memberimu rezeki dari yang baik-baik. Demikianlah Allah, Tuhanmu, Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam” (Q. S. Gaafir (40): 64)

Ternyata perkiraan saya salah. Saya mampu berpuasa penuh, saya mampu menjaga suhu tubuh saya tanpa makan selama berpuasa. Saya mampu beraktivitas seperti biasa, saya mampu berjalan 1,5-2km per hari. Waktu kerja selama bulan Ramadan tidak berbeda dengan hari lainnya, yaitu jam 9-17. Hanya saja saya sudah menyampaikan jika saya akan pulang lebih cepat yaitu jam 16 setiap harinya untuk mempersiapkan buka puasa (iftaar). Suatu ketika saya mendapat email jika staf IT akan menginstal software pada laptop saya sekitar jam 16. Saya menyatakan bahwa saya harus pulang lebih cepat, mereka pahami dan mengganti keesokan harinya.
Tidak seperti di Indonesia, dimana orang akan menghormati orang yang sedang berpuasa, dengan cara makan di tempat tertutup, banyak warung dan restoran yang tutup saat siang hari, sehingga tidak mudah melihat orang makan di tempat umum saat Ramadan. Di Canberra, tidak ada perbedaan di kehidupan kampus. Semua orang makan siang seperti biasa, membawa snack dan mengadakan morning tea setiap Rabu pagi. Namun demikian, dengan kondisi seperti inilah saya merasakan puasa yang sebenarnya, dimana kita benar-benar bergantung pada keyakinan kita untuk tetap berpuasa di tengah orang yang tidak berpuasa. Mereka tidak akan peduli jika kita ikut makan, atau diam-diam makan. Di kondisi seperti inilah kita diuji atas keyakinan kita.
Suatu ketika saat meeting dengan supervisor saya, Jane dan Julie, saya membawakan mereka salah satu makanan ringanIndonesia, yaitu kripik tempe. Mereka menanyakan apakah boleh mereka makan saat itu juga, dan menawari saya untuk makan juga. Saya persilakan mereka makan dan saya jelaskan kalau saya sedang berpuasa. Jane tidak asing dengan konsep puasa, namun dia masih heran dengan konsep puasa dari subuh hingga maghrib. Dia bertanya apakah saya kuat tidak makan sejak pagi hingga malam hari.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (Q. S. Ar-Rum (30): 22)

Meski merasakan tantangan yang belum pernah saya rasakan selama berpuasa di Indonesia, saya juga mendapatkan banyak pengalaman berharga selama berpuasa di Canberra. Pada satu hari di bulan Ramadan, ada sebuah workshop yang saya ikuti. Peserta workshop dari berbagai school yang ada di universitas saya. Pada workshop yang memang diperuntukkan untuk mahasiswa postgraduate baru ini, saya duduk satu meja dengan seorang perempuan India. Setelah masuk break makan siang, saya tetap berada di meja karena sedang puasa. Ternyata teman baru saya ini juga seorang muslim dan juga sedang puasa, meski dia mengenakan pakaian kasual biasa dan tanpa mengenakan jilbab. Kami bertukar nomor kontak dan masih berhubungan hingga sekarang.
Kejadian menarik lainnya adalah saat saya berpapasan dengan muslimah dari negara lain. Hari Sabtu dan Minggu biasanya saya mengajak anak-anak untuk mengunjungi tempat-tempat umum untuk mengisi waktu luang, seperti National Gallery of Australia, National Library of Australia, National Portrait Gallery, National Museum of Australia dan sebagainya. Seringkali jika saya berpapasan dengan muslimah dari negara lain, mereka akan mengucapkan salam. Ini yang jarang saya rasakan saat berada di Indonesia karena saya hanya mengucapkan atau menerima salam dari orang yang sudah saya kenal saja. Dengan menggunakan jilbab di Australia, ini semacam penanda bahwa saya muslimah dan kami merasa disatukan olehnya.
Salah satu event di National Museum of Australia di bulan Ramadan lalu adalah adanya pameran mengenai agama dan budaya Islam. Saya sempat mengunjunginya dan saya terharu karena banyak pengunjung merupakan orang asli Australia dan tidak mengenakan jilbab, sehingga asumsi saya, mereka adalah non muslim.
Pengalaman menarik lainnya adalah saat saya bertemu dengan salah satu sukarelawan konselor menyusui di Australian Breastfeeding Association (ABA), bernama Jessica. Sesuai dengan topik riset, latar belakang pekerjaan dan pengalaman saya selama di Indonesia, saya ikut terlibat dalam organisasi ini.  Acara pertama yang saya hadiri kebetulan dilaksanakan di bulan Ramadan. Pertama kali berkenalan dia sangat antusias begitu tahu saya dari Indonesia, seorang muslim dan saat itu sedang menjalani puasa. Dia menunjukkan konten brosur yang sedang dikerjakan mengenai menyusui selagi berpuasa. Rupanya semakin banyak umat muslim di Canberra, sehingga semakin banyak yang berkonsultasi ke ABA mengenai hal ini. Jessica langsung meminta bantuan saya untuk melengkapi materi tentang ini.
Pengalaman malam Ramadan juga menarik, meski tidak bisa mengalahkan meriahnya pelaksanaan ibadah malam saat Ramadan di Indonesia. Masjid di Canberra tidak banyak, salah satunya berada di dekat rumah kami berjarak sekitar 4km yaitu masjid Yarralumla. Sebagai informasi, 4km di Canberra dapat ditempuh dalam waktu 4 menit saja. Setiap malam ada tarawih yang dilaksanakan di mushalla kampus (berjarak 7km dari rumah) dan masjid Yarralumla. Mushalla kampus tidak digunakan untuk muslim Indonesia saja, tapi juga muslim dari negara lain seperti Malaysia, Bangladesh, Brunai Darusalam dan sebagainya. Saat tarawih pun saya jadi mempunyai pengetahuan baru, salah satunya bahwa perempuan muslim dari negara lain tidak mengenakan mukena saat salat. Dengan jadwal tertentu, kami juga menggunakan mushalla kampus untuk kegiatan buka bersama,bergantian dengan muslim dari negara lain. Organisasi mahasiswa di universitas saya juga mengadakan acara buka bersama meski mayoritas anggotanya adalah non muslim. Mereka antusias ikut merayakan iftaar di mushalla kampus.
Kebetulan juga rumah kami dekat dengan KBRI. Setiap hari Sabtu diadakan buka bersama, salat maghrib dan tarawih berjamaah di KBRI. Sehingga kami memutuskan setiap hari Minggu sampai Senin kami salat tarawih di mushalla kampus dan setiap sabtu malam, kami buka bersama dengan makanan Indonesia yang lezat dari KBRI dilanjutkan dengan salat Maghrib dan tarawih berjamaah. MasyaAllah…Tidak terasa 30 hari sudah kami menjalani puasa Ramadan. Idulfitri tiba. Pengumuman jatuhnya hari Idulfitri tidak dilakukan oleh pemerintah, melainkan oleh Australian National Imams Council. Malam takbiran hanya dilakukan di KBRI. Tidak seperti di Indonesia, malam takbiran hanya dilaksanakan di dalam ruangan salah satu gedung KBRI. Bagaimana perasaan saya? Antara senang dan terharu. Rasanya bersyukur masih bisa mengikuti takbiran dan puasa tanpa ada kendala berarti di Canberra. Di sisi lain, saya jadi tersadar bahwa selama ini saya tidak bersyukur menikmati takbiran dengan meriah di Indonesia. I took it for granted.
Idulfitri jatuh pada hari Jumat. Tidak ada libur nasional untuk perayaan ini. Bahkan ada beberapa teman saya masih masuk kerja atau kuliah setelah melaksanakan salat Ied. Seharusnya saya dan anak pertama saya, Ayra, masih masuk sekolah. Beberapa hari sebelumnya, saya telah mengirimkan surat ijin pada guru Ayra jika pada hari itu Ayra tidak akan masuk sekolah untuk merayakan Idulfitri.  Salat Idulfitri diadakan di semua masjid di Canberra dan juga di KBRI. Kami memilih salat Ied di KBRI karena dengan demikian kami bisa langsung berkumpul dengan orang-orang Indonesia. Salat Ied dimulai pukul 8 dan takbir dimulai pukul 7 pagi.
Setelah salat Ied, kami mendatangi rumah Duta Besar Indonesia untuk Australia yang mengadakan open house. Acara ini terbuka untuk umum, baik masyarakat Indonesia yang tinggal di Australia maupun warga negara Australia (dan tentunya Duta Besar negara lain) yang tertarik dengan perayaan Idulfitri. Disediakan berbagai macam menu makanan Indonesia. Saat itu ruangan tengah telah dipenuhi oleh tamu penting, maka kami menikmati menu makanan di taman belakang. Sudah disiapkan banyak kursi dan meja serta tidak lupa outdoor heater.  Memang suhu mencapai 8 derajat celcius, 5 menit saja makanan kami sudah menjadi dingin. Kami harus segera menghabiskannya dengan cepat. Meski demikian, anak-anak asyik bermain, tidak terlihat kedinginan. Mereka asyik berlarian bermain bersama teman-temannya.Selain open house pada siang harinya, malam harinya kami berkunjung ke rumah salah satu senior PhD Indonesia yang juga sahabat saya. Beberapa teman juga ikut datang dan berkumpul bersama. Seminggu kemudian kami juga menghadiri acara silaturahmi komunitas Indonesia di Canberra. Komunitas ini tidak hanya mahasiswa saja dan tidak hanya muslim saja, namun juga masyarakat Indonesia yang telah menjadi permanent resident maupun yang non muslim.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q. S. Al-Hujurat (49): 13).

Dalam masa yang cukup pendek hingga tulisan ini dibuat, saya mendapatkan begitu banyak pengalaman berharga sebagai seorang istri, ibu dan muslimah di negara mayoritas non muslim ini.  Saya juga merasakan persaudaraan muslim yang kuat di sini. Mayoritas penduduk Australia menghormati aktivitas keagamaan yang kami jalani.  Dengan segala keterbatasan dan tantangan yang berbeda dari di Indonesia, saya percaya Allah sedang mengajarkan kami sesuatu.


Friday, October 12, 2018

RSPH Student Conference 2018

6 comments
Student Conference di tingkat School ini sebenarnya tidak wajib, tapi supervisor saya menyarankan saya untuk participate. Akhirnya berbekal bismillah, saya submit abstract. Karena saya baru 6 bulan menjalani PhD, maka yang saya tampilkan adalah bagian dari systematic literature review yang saya lakukan untuk mempersiapkan proposal tesis.
Saya adalah peserta paling junior dalam masa PhD, karena peserta lainnya minimal sudah tahun kedua. Ada 1 peserta lagi di tahun pertama, tapi dia sudah 10 bulan masa studi (plus dia native Australian), namanya Kayla (see picture below). Jadi tantangan terbesar saya adalah membangun kepercayaan diri.
Saya nggak pede karena ini presentasi pertama saya dalam bahasa Inggris, di depan audiens 90% Australian yg jumlahnya sekitar 60 dan semuanya akademisi dari RSPH.
 

Sebagai gambaran, ANU (universitas) memiliki beberapa College (salah satunya adalah College of Health and Medicine) yang terdiri dari beberapa School (salah satunya Research School of Population Health/RSPH) yang kembali dibagi menjadi beberapa departemen dan center (salah satunya Department of Health Services Research and Policy).


Saya tidak bisa bilang puas dengan ini karena saya sadar banyak kekurangan dalam presentasi pertama saya kemarin. Tapi saya sangaaat bersyukur dimampukan Allah untuk menjalani pengalaman berharga ini. Alhamdulillah satu step sudah terlewati.
Untuk sebagian orang, ini adalah hal kecil.
Buat saya, ini pengalaman luar biasa.









Kai Hodgkin

with Raine, my bestie

Kayla Smurthwaite

Saturday, September 8, 2018

Anne-Marie - Friends (on Sounds Like Friday Night)

0 comments






Ooh ooh, ooh ooh
Ooh ooh, ooh ooh
You say you love me, I say you crazy
We're nothing more than friends
You're not my lover, more like a brother
I known you since we were like ten, yeah
Don't mess it up, talking that shit
Only gonna push me away, that's it
When you say you love me, that make me crazy
Here we go again
Don't go look at me with that look in your eye
You really ain't going away without a fight
You can't be reasoned with, I'm done being polite
I've told you one, two, three, four, five, six thousand times
Haven't I made it obvious?
Haven't I made it clear?
Want me to spell it out for you?
F-R-I-E-N-D-S
Haven't I made it obvious?
Haven't I made it clear?
Want me to spell it out for you?
F-R-I-E-N-D-S
F-R-I-E-N-D-S
Have you got no shame? You looking insane
Turning up at my door
It's two in the morning, the rain is pouring
Haven't we been here before?
Don't mess it up, talking that shit
Only gonna push me away, that's it
Have you got no shame? You looking insane
Here we go again
So don't go look at me with that look in your eye
You really ain't going away without a fight
You can't be reasoned with, I'm done being polite
I've told you one, two, three, four, five, six thousand times
Haven't I made it obvious? (Haven't I made it?)
Haven't I made it clear? (Haven't I made it clear?)
Want me to spell it out for you?
F-R-I-E-N-D-S
Haven't I made it obvious?
Haven't I made it clear? (Haven't I?)
Want me to spell it out for you? (To spell it out for you?)
F-R-I-E-N-D-S
F-R-I-E-N-D-S
F-R-I-E-N-D-S
That's how you f- spell "friends"
F-R-I-E-N-D-S
Get that shit inside your head
No, no, yeah, uh, ah
F-R-I-E-N-D-S
We're just friends
So don't go look at me with that look in your eye
You really ain't going nowhere without a fight
You can't be reasoned with, I'm done being polite
I've told you one, two, three, four, five, six thousand times
Haven't I made it obvious? (Have I not made it obvious?)
Haven't I made it clear? (I made it very clear)
Want me to spell it out for you? (Yo)
F-R-I-EN-D-S (I said F-R-I-E-N-D-S)
Haven't I made it obvious? (I made it very obvious)
Haven't I made it clear? (I made it very clear)
Want me to spell it out for you?
F-R-I-E-N-D-S
F-R-I-E-N-D-S
Ooh ooh, ooh ooh
Ah ah ah
Songwriters: Anne-Marie Nicholson / Fred Falke
FRIENDS lyrics © Sony/ATV Music Publishing LLC

Wednesday, September 5, 2018

Hospital Tour at Canberra Hospital: NICU and Maternity Ward

0 comments
Selasa tanggal 4 September 2018 saya berkesempatan mengunjungi salah seorang lactation consultant (selanjutnya disingkat LC) di Canberra Hospital. Saya mengenal Mary-Ellen di sebuah diskusi di kampus, dikenalkan oleh seorang teman saya dari Australian Breastfeeding Association (ABA). Setelah diskusi itu, Mary-Ellen mengundang saya kalau mau datang ke RS tempatnya bekerja. Tentu saja saya langsung jawab iya! 
Sudah menjadi pekerjaan sehari-hari saya di Indonesia untuk mengunjungi RS, observasi dan belajar dari RS.

3 minggu kemudian baru Mary-Ellen mempunyai waktu untuk saya. Padahal tidak ada kewajiban buat dia mengajak saya keliling dan menjelaskan semuanya. Kebetulan lagi Mary-ellen ini kepala NICU (Neonatal Intensive Care Unit), jadi dia mengajak saya keliling NICU, memberi saya brosur, contoh alat bantu dan mengijinkan saya untuk mengambil foto.



Mary-Ellen sangat baik mengajak saya keliling di NICU dan Maternity ward


Botol penyimpanan ASI Perah yang digunakan di Canberra Hospital





Brosur informasi untuk pasien dan keluarga








Expressing Room




Birthing Unit



Alat resusitasi di setiap kamar birthing unit

water birth


Rooming-In in the NICU







Parent Rooms



Poster



Emergency Procedures


Retrieval Rooms




 Main Lobby

Donation station at the main lobby
Info at the main lobby





Helipad for emergency neonatus case from ACT and NSW


Store room at the NICU

 Inovasi dan Donasi dari Non Government Organization
Folder donasi dari salah satu foundation




 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review