Kehebohan Susu Kental Manis

Beberapa minggu ini di Indonesia sedang dihebohkan dengan adanya pelarangan penggunaan kata "susu" pada produk susu kental manis (sweetened condensed milk), selanjutnya disingkat SKM, oleh BPOM.  Beberapa teman menuliskan kekagetannya di status media sosialnya karena baru tahu kalau SKM ini tinggi gula dan malah rendah kandungan susunya. Tidak salah juga karena memang pada label di produk ini tertulis rekomendasi penyajiannya sebagai minuman harian, cukup dicampur dengan air dan diminum 2 kali sehari.
Kebiasaan masyarakat kita memang jarang membaca kandungan suatu produk (ingredients), termasuk juga saya :D

Pada SKM sebenarnya juga menjadi perhatian kami di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) karena banyak masyarakat dengan pendidikan dan tingkat sosial ekonomi rendah memilih memberikan SKM, jika sudah gagal menyusui, dengan pertimbangan harga yang lebih murah. Banyak kasus dari keluarga miskin yang mengencerkan pemberian SKM (ataupun susu formula) dengan tujuan agar lebih hemat. Sehingga masalah kasus gizi buruk banyak terjadi.
Di sisi lain, ada kalangan masyarakat yang mengalami kasus overweight atau bahkan obesitas. Salah satunya tentu karena konsumsi produk tinggi gula seperti SKM ini.

Kasus gizi buruk maupun obesitas memang tidak bisa hanya menyalahkan satu pihak saja, dalam hal ini SKM.

Ada banyak faktor yang menyebabkan berita tentang SKM ini menjadi besar beberapa minggu ini. Salah satunya adalah kepercayaan masyarakat bahwa minum susu itu wajib. Mereka masih teringat jelas dengan slogan "4 Sehat 5 Sempurna", dimana minum susu merupakan langkah ke-5 sebagai penyempurna. Kalau tidak minum susu, tidak sempurna. Padahal slogan ini telah dihapus sejak tahun 1996an.
Saat ini yang digunakan adalah Pedoman Gizi Seimbang (PGS). Namun rupanya pemerintah belum berhasil membuat kampanye PGS yang mengalahkan slogan "4 Sehat 5 Sempurna". Perbedaan mendasar dari PGS adalah peran susu yang setara dengan protein hewani lainnya. Jadi susu bukanlah penyempurna. Boleh dikonsumsi setara dengan protein hewani lainnya.

World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif sejak lahir hingga usia 6 bulan, dilanjutkan dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang berkualitas dengan terus menyusui hingga usia 2 tahun atau lebih. Jika memang ibu tidak bisa menyusui karena alasan medis, bisa diberikan susu formula yang direkomendasikan oleh tenaga medis. Setelah usia 2 tahun, susu bukanlah asupan wajib. Sehingga tidak perlu diberikan keharusan minum susu.

Jadi bagaimana pemberian makan yang benar?
  1. Bayi diberi ASI saja mulai lahir hingga usia 6 bulan
  2. Memberikan MPASI sejak usia 6 bulan dengan bahan lokal dan berkualitas, dengan gizi seimbang, sesuaikan porsi dan teksturnya sesuai usia
  3. Lanjutkan menyusui hingga dua tahun atau lebih
  4. Menu makanan anak usia 1 tahun ke atas sudah sama dengan menu keluarga. Jadi tidak perlu ada pembedaan menu ataupun teksturnya.
  5. Pastikan ada karbohidrat, protein, sayur, lemak dan buah dalam setiap porsi makan hariannya.
Kesimpulannya, jika anak mengikuti proses makan yang benar sejak usia 6 bulan, tidak perlu ada kewajiban minum susu. 

Perempuan dan Beasiswa

Untuk perempuan, berburu beasiswa bukan sekedar soal kepintaran dan skor IELTS. Apalagi untuk yang sudah berkeluarga, ada banyak yang harus dipertimbangkan di luar hal akademik. Lahir dan besar di negara yang patriarkis, mayoritas prinsip yang “normal” adalah istri mengikuti suami, bukan sebaliknya. Dan ini juga menjadi salah satu topik yang ditanyakan saat seleksi LPDP, yang mana pada seleksi pertama tahun 2016, saya masih ragu dan (sepertinya) ini yang mengakibatkan saya gagal.

Saya paham norma di Indonesia. Saya ingat betul saya kesulitan mencari tulisan pengalaman perempuan lain yang lolos beasiswa dan membawa suami dan anaknya untuk kuliah di luar negeri. Padahal saya yakin banyak perempuan yang melakukannya. Apalagi saya bukan dosen, rasanya mendapatkan beasiswa dan kuliah di luar negeri masih merupakan hal yang tidak umum terjadi, terutama di Indonesia. Ini juga yang ditanyakan saat seleksi LPDP.

Maka tulisan ini akan mencakup dua hal: 1. Pengalaman saya sebagai perempuan yang sudah menikah dan punya anak untuk mendapatkan beasiswa; dan 2. Pengalaman saya yang bukan seorang dosen dalam mendapatkan beasiswa S3.

Keputusan untuk mencari beasiswa datang dari dalam diri saya sendiri, keinginan untuk bisa belajar di negara maju memang sudah lama ada, bahkan sejak sebelum saya lulus S1 dan sebelum menikah. Kebetulan saya dan suami teman satu angkatan (meski dia satu tahun lebih tua) dan kami pacaran 5 tahun sebelum menikah. Dia tahu apa dan bagaimana saya, termasuk juga kesukaan saya terhadap sekolah, pendidikan dan negara2 asing. Dia tahu saya senang dan ingin mengunjungi negara lain.
Prosesnya tidak sebentar, karena karakter kami berbeda. Dia tipe orang yang tidak suka buku, pendidikan, seminar, training, apalagi kuliah. Dia mendorong saya untuk menjadi dosen karena melihat karakter saya yang seperti ini. Saya sempat menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta selama 2 tahun sampai Axel lahir dan membutuhkan perhatian khusus.
Saya memutuskan hanya menjadi konsultan RS saja yang waktunya lebih fleksibel.

Pernah ada lowongan menjadi dosen Unair, tapi mungkin memang bukan rejeki saya. Bahkan saya sekarang berpikir jika saya jadi dosen Unair, belum tentu saya bisa kuliah di luar negeri dalam waktu cepat (mengingat biasanya dosen muda dibebani lebih banyak pekerjaan >.< ).
Tahun 2011-2012 saya baru mendengar ada beasiswa LPDP yang membuka kesempatan untuk non dosen. Tahun 2011 juga saya mengalami keguguran dan operasi endometriosis. Tahun 2012 saya melahirkan Ayra.

Sebagai perempuan, memang banyak hal alamiah terkait peran biologis yang kadang menghambat karir kita. Tapi saya yakin Allah mempunyai caranya sendiri. Jadi meski saya sudah mendengar tentang LPDP, saya tidak bisa terlalu fokus mempersiapkannya. Tahun 2014 Axel lahir dan perlu penanganan khusus karena adanya kelainan jantung bawaan. Tahun 2015 Axel operasi jantung terbuka. Sehingga waktu, tenaga dan pikiran saya banyak habis untuk Axel. Untungnya tempat saya bekerja sangat memaklumi hal ini. Bahkan saat Axel sudah mulai stabil di tahun 2016, mereka mempercayakan proyek2 RS besar kepada saya.

Selama tahun2 itu meski saya tidak fokus beasiswa, keinginan saya tidak pernah padam, hanya tersimpan rapi di sudut hati saya. Setelah Axel mulai stabil dan pengalaman ini membuat saya semakin yakin dengan keinginan saya.

Saran saya, pertama luruskan niat. Untuk apa mencari beasiswa, terutama beasiswa ke luar negeri, itu yang harus dicari dan dipegang. Jangan hanya karena ingin jalan2 ke luar negeri (kalau itu mah pesan ke travel agent aja sudah cukup :) ), atau karena gengsi, dsb. Karena meski dapat beasiswa, perjuangannya tidak berhenti sampai di pengumuman kelulusan beasiswa.
Kedua, bicarakan dengan suami. Lihat tipe suami juga yaa...ada yang bisa sekali diskusi langsung topik serius, ada juga yang butuh waktu lebih sering untuk diskusi. Jangan terlalu memaksa. Suami, bagaimanapun juga, merupakan kepala keluarga.
Diskusi dengan suami ini juga paling penting karena akan menyangkut nasib rumah tangga ke depan, terutama jika sudah punya anak.
Masalah2 kecil, seperti anak akan ikut atau tidak, kalau ikut, nanti waktu kuliah, bersama siapa. Apakah ada childcare benefit, kalau tidak ada bagaimana. Kalau sudah masuk usia sekolah, bagaimana urus pendaftaran sekolahnya, bagaimana biaya sekolahnya. Dan sebagainya.
Banyaaaak sekali yang harus diurus untuk awardee yang sudah berkeluarga, terutama awardee perempuan. Sudah saya tulis di sini dan sini.

Pengalaman saya, saya selalu menyelipkan keuntungan belajar dan tinggal di Australia kepada suami secara berkala. Hal2 kecil saja. Contohnya seperti bagaimana anak2 mempunyai banyak aktivitas fisik dibanding di Indonesia, dll.

Kalau sudah, ajak suami bertemu atau kontak dengan awardee perempuan yang juga membawa suami. Biasanya ini akan menjadikan suami lebih pede. Karena "norma" di Indonesia adalah istri ikut suami, maka biasanya suami para awardee merasa tidak pede karena mengikuti istri.
Buat suami merasa percaya diri, berikan pujian dan juga berikan kesempatan untuk terus mendalami passion-nya meski sudah berada di luar negeri.

Yang kedua, bagaimana saya yang bukan dosen bisa melanjutkan ke jenjang S3. Jujur saja, ini karena saya suka belajar. Saya suka suasana kampus, suka bau buku (ya, saya suka menciumi bau buku :D ).
Tapi memang di Indonesia, mayoritas yang S3 adalah dosen. Maka saya mencoba browsing mengenai S3 non dosen. Mayoritas blog yang saya temukan lagi2 adalah dosen.
Maka saya mendalami lagi proposal riset saya. Kenapa saya perlu sekolah lagi untuk mendalami itu.
Dalam kasus saya, saya adalah konsultan RS dan juga konsultan laktasi. Saya adalah praktisi, bukan akademisi. Saya melihat langsung bagaimana rumah sakit dikelola. Di sisi lain saya juga aktif di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), saya melihat langsung pengalaman ibu-ibu yang gagal menyusui justru karena intervensi saat melahirkan di RS. Ada kebijakan di RS yang tidak mendukung menyusui. Di situ lah saya masuk.

Saya tidak tahu dan tidak paham dengan bidang lain ya. Tapi mungkin itu bisa memberikan gambaran bagaimana seorang praktisi non dosen bisa mendapatkan beasiswa S3.

Saya yakin bahwa cita-cita dan kemampuan perempuan Indonesia tidak kalah dengan perempuan dari negara lain, jika saja diberikan kesempatan.
Silakan kontak saya jika perlu tempat untuk sharing, I'd be happy to help :)







Diskusi Isu Aktual di Indonesia - PPIA ACT

Hari Rabu tanggal 9 Mei 2018 kemarin saya berkesempatan hadir di acara diskusi isu aktual di Indonesia yang diselenggarakan oleh PPIA ACT. Tema kali ini adalah tentang terorisme; pola rekrutmen, pendanaan dan deradikalisasi di penjara.
Niat awal saya sih karena ingin melihat mbak Lola (Haula Noor) yang selama ini sudah saya anggap kakak sendiri. Karena isu terorisme sendiri kurang menarik buat saya.

Ternyata saya salah. Pemaparan dari para narasumber sangat cocok buat awam seperti saya. Saya jadi mendapat wawasan baru mengenai kondisi terorisme di Indonesia.
Saya coba tuliskan beberapa catatan penting dari pemaparan kemarin.


  1. Haula Noor. Topik yang diangkat adalah mengenai pola rekrutmen teroris. Mbak Lola memaparkan bahwa mindset yang harus dibentuk adalah radikalisasi adalah sebuah proses, bukan keadaan statis. Sehingga yang perlu digali adalah "how", bukan "why". Karena faktor penyebab seseorang menjadi teroris multifaceted. Sehingga yang lebih perlu digali adalah bagaimana proses seseorang menjadi radikal dan kemudian dibaiat. Ini penting agar bisa diketahui solusi yang tepat untuk melakukan disengagement.
  2. Sylvia Windya Laksmi. Topik yang diangkat adalah mengenai pendanaan kegiatan terorisme di Indonesia. Mbak Sylvia memaparkan gambaran peta di Indonesia yang sudah ada jaringan terorisnya. Sebelum tahun 2003, pendanaan kegiatan terorisme di Indonesia didapatkan dari luar negeri. Setelah 2003, pemerintah mulai berupaya mengetatkan peraturan untuk perpindahan dana dari luar. Meski demikian, peraturan di Indonesia masih memiliki beberapa kelemahan yang begitu pintarnya dimanfaatkan oleh jaringan teroris. Yang terbaru adalah pemanfaatan mata uang digital, seperti bitcoin, alfacoin, dll (saya kurang begitu familiar). Ini yang masih sulit diatur oleh pemerintah Indonesia. Selain itu, dana sumbangan sosial di Indonesia juga belum dapat dikontrol dan dimonitor oleh pemerintah. Sebagai perbandingan, di Malaysia, semua organisasi (meski non profit) yang akan melakukan penggalangan dana (charity) harus mendaftar ke pemerintah dan setiap tahun membuat laporan pengelolaan dananya ke pemerintah. Begitu pula di Australia. Jadi semua organisasi yang legal akan terdaftar di website resmi pemerintah dan bisa diakses oleh masyarakat umum. Sedihnya di Indonesia, hal itu belum terjadi. Kita banyak menerima proposal pembangunan masjid, proposal buka puasa, dan lain sebagainya tanpa kita tahu pasti penggunaan uang itu benar atau diselewengkan. Organisasi non formal pun dapat dengan mudah membuka rekening tabungan di bank. Sehingga jaringan terorisme dapat memanfaatkan usaha di bidang lainnya, dan hasil dananya digunakan untuk membiayai kegiatan terorisme.
  3. Leopold Sudaryono. Topik yang diangkat adalah mengenai deradikalisasi di penjara. Menurut mas Leo, deradikalisasi di penjara dapat dikatakan gagal. Pemerintah menempatkan napi teroris (napiter) bercampur dengan napi lainnya, dengan harapan napiter dapat berbaur, mendapatkan gambaran berbhineka tunggal ika sehingga nantinya bisa berasimilasi lagi di masyarakat. Namun yang terjadi, napiter ini kuat sekali, sehingga mampu mempengaruhi napi lain. Bahkan juga mempengaruhi para sipir. Kondisi mental sipir yang kurang kuat juga ditengarai sebagai penyebabnya. Bagaimana tidak, rasio jumlah sipir dan napi sangat jauh. Di Indonesia, rasio nasional jumlah sipir:napi adalah 1:43, bahkan di beberapa lapas ada yang sampai 1:500 napi. Sebagai perbandingan, mas Leo menceritakan beberapa waktu lalu serikat sipir di Australia melakukan protes karena beban kerja yang dianggap berat yatu rasio sipir dibanding napi adalah 1:4! Belum lagi kebanyakan pendidikan sipir di Indonesia adalah lulusan SMA. Apalagi untuk sipir yang di Nusakambangan, lokasinya yang terpencil membuat sipir ini jauh dari keluarga. Alhasil sipir di Indonesia belum bisa melakukan tugasnya dengan optimal, alih2 untuk deradikalisasi. Kebetulan sekali saat diskusi ini berlangsung, bahkan sampai postingan ini ditulis, dikabarkan ada penyerangan petugas oleh napiter di Makobrimob di Depok.



Materi presentasi kemarin tidak boleh didokumentasikan dan disebarkan karena merupakan tesis para narsum dan belum final sehingga akan melanggar kode etik penelitian jika disebarkan.
Ini pengetahuan yang berharga untuk saya yang jelas awam sekali dengan topik ini :D

Is Breastfeeding Really The Best?

Kita sering mendengar istilah "breast is best" alias menyusui itu yang paling baik. Sebenarnya apa alasan ungkapan itu?
Kali ini saya baru saja membaca satu artikel yang diberi oleh supervisor saya, jadi memang tugas saya untuk membacanya, tapi saya rasa ada satu bagian yang menarik yang saya rasa perlu saya bagikan.

Tulisan ini dari Elisabet Helsing dalam salah satu chapter sebuah buku. Judul chapter-nya "Breastfeeding: baby's right and mother's duty?"
Saya coba tuliskan dalam bahasa Indonesia agar mudah dipahami. Semoga bermanfaat.

Apakah benar menyusui adalah cara terbaik yang dapat diberikan agar bayi dapat menikmati status kesehatannya secara optimal? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita kaji gambaran global dan melihat manusia dalam konteks sebagai bagian dalam makhluk hidup di planet ini.

Setiap spesies mempunyai "resep" makanan dan strategi perawatan sendiri untuk bayinya masing-masing. Tugas utama eksistensi makhluk hidup adalah untuk menjaga dan menumbuhkan anak mereka. Spesies dengan skala evolusi lebih tinggi mempunyai strategi yang cukup menantang untuk membantu sel telur dan sperma setelah bersatu, untuk membantunya tumbuh dan berkembang dengan aman dan optimal. Salah satu strategi adalah dengan melahirkan anaknya dalam bentuk telur. Namun, bentuk telur seringkali menarik perhatian predator.

Strategi lainnya, yang lebih berisiko namun lebih seidikit membuang energi ibunya adalah untuk mengeluarkan bayinya sebelum bayinya bisa mempertahankan dirinya sendiri dan kemudian ibunya akan menyediakan makanan untuk bayinya (setara dengan fungsi telur) dalam bentuk susu. Satu masalah adalah bayinya tidak mempunyai cangkang untuk berlindung, sehingga tidak dapat berlindung, bukan hanya dari predator besar tapi juga dari penyerang yang berukuran mikro, mayoritas bacilus dan virus yang ada di mana saja.

Namun ibu mamalia telah memiliki respon yang sangat bagus untuk ancaman ini: tubuh ibu telah mendapatkan paparan mikroba ini sepanjang hidupnya sehingga telah membentuk mekanisme pertahanan imunologis untuk dapat menyerang sebagian besar mikroba. Melalui air susunya, ibu mamalia memberikan substansi perlindungan ini dalam jumlah besar.

Nah setiap spesies mendapat ancaman dari mikroba yang berbeda, begitu pula manusia. Mikroba tertentu saja yang menyerang manusia. Itu sebabnya kandungan air susu ibu (ASI) manusia memang sudah dirancang sesuai kebutuhan bayinya.

Semoga bermanfaat yaa..

Kebijakan Menyusui di Australia

Sedikit catatan saya tentang kebijakan menyusui di Australia yang saya temukan hari ini.


  1. Pemerintah Australia berkomitmen untuk menjaga, mendukung, mempromosikan dan memonitoring praktik menyusui di Australia. Lebih lengkapnya silakan baca di sini
  2. Australia telah memiliki Marketing in Australia of Infant Formula (MAIF) Agreement sebagai respon atas Kode WHO. Beberapa manufaktur dan importir formula menandatangani perjanjian ini. Lebih lengkap baca di sini
  3. MAIF Agreement juga mengatur tentang praktik marketing di media massa. Lebih lengkapnya baca di sini
  4. MAIF Agreement juga mengikat pada tenaga kesehatan profesional. Bisa dibaca di sini
  5. Pemerintah Australia juga telah membentuk suatu badan yang bertugas memonitoring pelaksanaan MAIF Agreement ini. Masyarakat umum bisa melaporkan pelanggaran praktik marketing formula langsung ke Department of Health.
  6. Secara berkala, pemerintah Australia menerbitkan laporan monitoring MAIF Agreement yang bisa diakses secara gratis oleh publik di websitenya. Bisa dicek di sini
  7. Pemerintah Australia memberikan dana kepada organisasi non profit Australian Breastfeeding Association untuk dapat menyelenggarakan kegiatannya dalam mendukung dan menyukseskan praktik menyusui di Australia. 

Postingan ini hanya sedikit catatan dari begitu banyak informasi yang saya temukan hari ini dan tentunya harus saya pelajari lagi lebih dalam. Memang masih terlalu awal, tapi kemungkinan masalah menyusui di Australia dan Indonesia berbeda. Secara karakteristik masyarakatnya juga berbeda.
Well, it's just the beginning of my research journey :)

ps. tidak semua dokumen yang saya temukan sehari-hari saya masukkan ke blog, so if you're interested in this area too, please feel free to contact me at andini.pramono@anu.edu.au :)

Being a Muslim in Canberra

Menjadi seorang muslim di negara mayoritas non muslim merupakan pengalaman berharga bagi saya pribadi. Beberapa tahun terakhir, sejak saya menjadi lebih dewasa, saya lebih sering belajar ilmu agama lagi, atas keinginan sendiri. Beda sekali dengan belajar agama karena persyaratan sekolah, yang akhirnya menjadi sekadar asal bisa lulus mata pelajaran itu saja.

Lahir dan besar di negara yang mayoritas muslim, dari orang tua yang juga muslim, tentu saja saya menjadi muslim. Meski semakin besar, saya semakin mantap dengan pilihan ini.
Seringkali saya merasa dan sadar diri, kalau semua ritual ibadah yang saya lakukan hanya sekadar ritual saja tanpa paham maksudnya. Setelah punya anak, saya sering baca perjuangan para mualaf untuk bisa masuk Islam, dan juga perjuangannya untuk belajar agama Islam. Sedangkan saya? Hhhmmm....cuma untuk ujian sekolah aja...

Di Surabaya juga saya seringkali menggampangkan kondisi yang sangat kondusif bagi umat muslim. Mau sholat mudah, dimana2 ada musholla. Mau puasa, insyaAllah juga mudah, karena banyak teman muslim. Cari jajanan buka puasa juga mudah.

Sejak di Indonesia saya sempat berpikir justru mungkin para mualaf dan muslim yang tinggal di negara mayoritas non muslim yang sebenarnya beruntung karena mendapatkan kondisi yang membuatnya harus belajar lebih dalam sendiri. Akhirnya saya mendapat kesempatan itu.

Selasa dan Rabu lalu tanggal 24-25 April 2018 ustadz Abdul Somad datang ke Canberra atas undangan AIMFACT. Alhamdulillah saya berkesempatan hadir di hari Rabunya. Materinya sangat menarik dan bermanfaat.










Axel's Weaning With Love

Kali ini saya akan menuliskan tentang perjalanan menyusui Axel, terutama saat ini dalam masa menyapih. Saat ini Axel berumur 3 tahun 3 bulan dan masih menyusu, alhamdulillaaah...

Pada dasarnya, saya pribadi memang tidak punya target kapan akan menyapih Axel. Beda dengan perjalanan menyapih Ayra dulu, agak "terpaksa" karena saya sudah hamil 8 bulan lebih, jadi suami meminta Ayra untuk disapih. Cerita lengkapnya ada di sini.

Axel yang punya riwayat kelainan jantung bawaan, meski sekarang sudah sembuh, dan lagi insyaAllah dia anak terakhir, jadi saya tidak punya target kapan harus berhenti menyusui Axel. Beberapa kali suami meminta Axel disapih sebelum pindah ke Canberra, karena alasannya takut Axel rewel, takut proses menyapih semakin susah di Canberra, dan lain-lain.

Saya hargai perasaan suami. Tapi saya tahu bahwa proses menyapih dengan cinta yang benar justru tidak dipatok target waktu. Prinsipnya adalah "do not offer, do not refuse". Jadi kalau Axel minta ya dikasih, kalau tidak minta ya jangan ditawari. Terkadang dia minta menyusu hanya saat dalam kondisi yang menurut dia tidak aman. Ada perasaan insecurity, bisa karena tempat baru atau orang baru. Tapi perlahan kami bisa menangani perasaan tidak amannya dengan cara yang lain. Saat dia mulai merasa tidak aman, perhatikan kebutuhannya. Kalau dia minta digandeng, ya gandeng. Butuh dipeluk ya dipeluk. Tidak serta merta menawarkan menyusu. Penuhi kebutuhannya sambil jelaskan kondisi yang membuat dia tidak nyaman.

Dalam kasus Axel, selain karena alasan pribadi (emaknya masih belum tega), juga karena menurut saya, perubahan kondisi drastis seperti pindah rumah (apalagi beda negara) akan membuat ketidaknyamanan yang sangat ekstrim. Jadi menyapih sebelum berangkat ke Canberra bukanlah keputusan yang tepat.

Satu bulan berada di Canberra, dua minggu pertama, Axel sering sekali rewel. Selalu ada saja yang membuat dia menangis. Waktu tidur malam pun demikian, seringkali dia terbangun dan menangis tidak jelas. Masuk minggu  ketiga baru Axel mulai agak enjoy. Makannya pun mulai banyak. Masuk minggu ke empat, makan semakin banyak dan menyusunya jauh berkurang.

Beberapa hari terakhir ini dia malah minta tidur sama papanya. FYI, sejak Ayra lahir, saya selalu tidur bersama anak (selain karena alasan kamarnya cuma 1 waktu di Surabaya dulu), juga karena saya selalu menyusui anak2. Waktu anak baru satu, suami masih bisa tidur sekamar juga. Begitu Axel lahir, suami sudah tidak mau tidur di kamar kami, karena Axel tidak tahan panas. Begitu AC dimatikan, dia pasti langsung bangun. Jadinya suami yang tidak tahan dingin, mengalah tidur di luar dengan kasur tambahan. Jadi sejak Axel lahir, saya selalu tidur bersama dua anak.

Nah dua hari terakhir ini Axel selalu minta pindah tidur sama papanya. Kemarin malam puncaknya, dia hanya menyusu 5 menit di kamar saya, tidak sampai tidur, kemudian dia minta tidur sama papa. Ayra pun akhirnya minta ikut tidur sama papa. Alhasil saya tidur sendirian di kamar saya.
Setelah 9 tahun menikah, akhirnya saya tidur sendiri lagii :))

Memang belum selesai perjalanan menyapih Axel, tapi ini adalah salah satu capaian yang luar biasa. Saya pribadi tidak terlalu berharap, karena dalam 5 hari ke depan, suami akan pulang ke Indonesia untuk 1 minggu. Bisa jadi Axel balik lagi banyak menyusu...hihi...

Ps. 20 April 2018:
Tidak perlu menunggu lama, keesokan harinya, Axel sudah minta tidur sama saya lagi. Cuma Ayra aja yang masih tidur sama papanya.
Well, perjalanan weaning masih jauh rupanya :D