Sunday, June 20, 2010

Cat!

0 comments
Baru saja saya dan suami berdebat "agak panas", lagi-lagi mengenai perbedaan kebiasaan kami. Kebiasaan keluarga saya yang selalu bersih (maklum, kedua orang tua saya adalah dokter) dilawankan dengan keluarga suami yang santai soal kebersihan. Suami saya adalah seorang pecinta berat kucing. Sedangkan saya tidak pernah punya binatang peliharaan, kecuali ikan, itupun ikan kecil-kecil yang kalau mati, tinggal beli lagi. 

Masalahnya sejak dulu orang tua saya memberi tahu saya banyak hal tentang kesehatan, termasuk bahwa kucing merupakan pembawa virus toksoplasma yang berbahaya bagi wanita (nantinya jika dia hamil). Tapi saya juga tahu bahwa banyak orang yang berprofesi dokter pun memelihara kucing, karena memang kucing bisa divaksin, dirawat dengan baik, sehingga meminimalkan risiko itu.

Dari dulu saya sudah sadar bahwa kecintaan suami saya ini akan sulit untuk dihilangkan, dan saya juga sadar saya akan menjadi egois apabila saya memintanya untuk tidak memelihara kucing lagi. Jadi saya mengeluarkan satu pernyataan, bahwa kalau memang mau memelihara kucing, harus dipelihara dengan baik dan menjaga kesehatannya, harus disiplin dengan kebersihannya, tidak bisa setengah-setengah. Kalau memang tidak mau atau malas merawatnya, lebih baik tidak usah pelihara, karena saya sendiri tidak bisa memelihara binatang.

Akhirnya dia membeli dua ekor kucing anakan persia yang kemudian ditaruh di rumah keluarganya. Keluarganya sangat senang dengan kehadiran dua kucing itu. Saya tidak ambil pusing. Kemudian hari ini tadi dia lagi-lagi membeli dua ekor kucing anakan persia lagi, dengan niat mau dijual nantinya. Inilah yang membuat saya jadi bete. Entahlah saya merasa, dia yang sudah cukup sibuk dengan pekerjaan dan usaha sampingannya, masih saja membeli sesuatu yang juga akan membutuhkan perhatiannya. Saya sangat tidak suka jika orang membeli sesuatu (apalagi makhluk hidup) tapi kemudian menelantarkannya. Bagi saya, lebih baik saya tidak membelinya sekalian. Namun sepertinya itulah yang berbeda dari kami berdua.

Saya sadar pasangan suami istri tentulah banyak perbedaan kecil dan yang dulunya dianggap sepele oleh pasangan-pasangan yang belum menikah dan dimabuk cinta :) 
Semoga kami berdua terus bisa saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada..

Friday, June 18, 2010

7 Tipe Pria yang Tidak Layak Dijadikan Suami

0 comments

Pat Connor, pastor kelahiran Australia, yang kini tinggal di New Jersey, AS, ini memiliki kesimpulan mengenai tipe pria tidak tepat untuk dijadikan suami. Hal ini berdasarkan 40 tahun pengalaman menjadi pakar konsultasi para pasangan telah bertunangan dan akan menikah.
Pastor Connor telah memberikan konsultasi pernikahan pada lebih dari 200 pasangan. Ia juga kerap menjadi pengajar lepas di sekolah-sekolah menengah atas, dan mengajarkan gadis-gadis agar jangan sampai terperangkap dalam pernikahan dengan tipe pria yang salah. 
Mengapa Pastor Connor sering memberikan pengarahan tentang perkawinan pada gadis-gadis yang belum cukup umur untuk menikah? "Sebab, gadis muda yang baru mengenal cinta akan lebih mudah menyerap informasi tentang asmara, ketimbang wanita yang telah beberapa kali jatuh cinta," kata Pastor yang tidak percaya adanya belahan jiwa, tapi ia lebih yakin pada pasangan yang mau berkomitmen.
Saran yang paling sering dilontarkan Pastor Connor adalah sebaiknya Anda menjalani masa pertunangan selama setahun untuk mengetahui karakter, dan nilai-nilai yang dianut pasangan Anda. Namun menurutnya, tidak semua pria layak dijadikan suami. Berikut ini daftar tipe pria yang sebaiknya jangan dijadikan suami, seperti dikutip dari Times of India:
  1. Tipe anak mama. Pria yang selalu bergantung pada ibunya, biasanya menunjukkan dia tidak bisa berdiri sendiri, dan akan terus bergantung pada ibunya atau istrinya.
  2. Pria tidak bisa mengelola uang. Bila pasangan tidak memiliki tabungan, atau tidak berinvestasi, umumnya tergolong pria yang kurang bertanggung jawab.
  3. Pria yang tidak mempunyai teman.
  4. Pria yang kerap meremehkan Anda di depan teman atau keluarga. Tipe satu ini kerap menuntut untuk dihargai tapi tidak menghargai pasangannya.
  5. Pria yang kasar terhadap pramusaji. Biasanya, jika sering memberikan perlakuan kasar terhadap orang lain, bukan tak mungkin ia juga melepaskan temperamennya yang tinggi pada Anda.
  6. Pria yang tidak bisa menertawai dirinya sendiri. Tipe yang terlalu perfeksionis bisa membuat hidup pasangannya tidak tenang.
  7. Pria yang tidak bersedia terbuka dengan Anda. Tipe pria ini kerap memiliki rahasia yang bisa jadi merugikan untuk pasangannya di masa mendatang.

Sumber: Klik

Monday, June 14, 2010

Having a Baby!

0 comments
Lagi-lagi pagi ini saya ditanya oleh teman saya via online, apakah saya sudah hamil atau belum. Waktu saya jawab belum karena memang saya planning alias sementara saya tunda dulu, kebanyakan akan terkejut, kenapa harus ditunda, serta ditambahkan kalimat, "padahal punya anak itu enak lhoo". Inilah yang kadang saya pikir kecenderungan masuk ke pola pertama (penjelasan)
Memang ada yang tidak begitu strict memegang prinsip itu, alias masih terbuka terhadap alasan orang lain.

Kalau alasan saya pribadi, awalnya adalah karena saya masih ingin mencari beasiswa ke luar negeri, meskipun saya sendiri agak berat kalau nanti harus meninggalkan suami selama 1 tahun (suami sudah mengijinkan selama belum ada anak). Pertimbangan saya, itu adalah cita-cita saya sejak lama (meski sebenarnya saya sudah S2 dari salah satu PTN dalam negeri) dan saya memutuskan bahwa apabila nanti saya mempunyai anak, sudah tidak mungkin lagi bagi saya untuk mencari beasiswa yang long-term seperti itu, karena saya berkomitmen anak akan jadi prioritas saya.
Selain alasan itu, saya juga berpikir bahwa saya dan suami harus benar-benar mempersiapkan segalanya untuk anak kami kelak. Mempunyai anak bukan sekedar hamil dan melahirkan. Lebih dari itu, kami ingin memberikan sandang, pangan dan pendidikan yang terbaik bagi dia. Tentu saja hal itu membutuhkan kesiapan finansial. Saya tidak mau berprinsip "apa kata besok saja lah..".

Mohon maaf, saya jadinya juga kurang setuju dengan kuantitas banyak, tapi kualitas rendah. Memang Allah memberikan rejeki kepada setiap manusia, namun menurut saya, itu juga harus diawali dengan usaha. Mana ada uang turun dari langit? Memang hidup bukan hanya untuk mencari uang. Prinsip saya adalah mencari uang untuk hidup sehingga dapat hidup berkecukupan, dengan demikian kita akan dapat beribadah juga dengan lebih optimal. Bagaimana mau menyantuni anak fakir miskin, apabila kita sendiri kurang mampu dalam memenuhi kebutuhan hidup kita?

Saya bukannya kontra terhadap pasangan yang langsung mempunyai anak, karena who knows pasangan itu memang sudah mampu segalanya, baik mental maupun finansial. Jadi pada dasarnya, lagi-lagi, menurut saya, kalau memang sudah mampu, ya silakan. Kalau belum, janganlah hanya sekedar untuk gengsi-gengsian apalagi hanya sebagai akibat dari nafsu saja. Karena dengan mempunyai anak, berarti kita telah memproduksi seorang manusia yang kelak juga akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. 

ps. anyway, who could resist this cute baby?

Saturday, June 12, 2010

Dating!

0 comments
Istilah pacaran sudah tidak asing lagi, terutama bagi remaja. Secara singkat, pacaran adalah suatu proses dimana dua orang berlainan jenis yang diawali dengan rasa ketertarikan satu sama lain. Rata-rata rasa ketertarikan itu muncul pada usia puber, yaitu sekitar umur belasan. Namun, seiring perkembangan jaman, belakangan ini kata pacaran sering juga muncul dari bibir seorang anak kecil setingkat TK. 

Secara agama Islam, pacaran memang dilarang. Alasannya cukup masuk akal, karena dikhawatirkan mendekati zina. Karena biasanya pada proses pacaran, dua orang berlainan jenis pergi kemana-mana berdua. Meskipun perginya bersama teman-temannya, namun dua orang yang berpacaran cenderung untuk menunjukkan bahwa pasangannya adalah miliknya dengan berbagai cara, misalnya bergandengan tangan, duduk selalu bersebelahan, dan lain sebagainya. 

Sebenarnya apakah ada manfaat dari berpacaran? (Saya tidak menyangkutpautkannya dengan agama, ini analisis pribadi saya secara umum). Ada beberapa hal yang sebenarnya bisa menjadi manfaat dari berpacaran apabila dilakukan dengan jalan yang benar. Misalnya: menambah semangat belajar ataupun berprestasi. Apabila berkomitmen pacaran untuk hal yang positif saja, misalkan yang cowok berprestasi dalam hal olahraga, maka yang cewek seharusnya merasa tertantang untuk berprestasi juga. Hal ini tentu akan menambah perasaan bangga dari pasangannya. 
Manfaat lainnya, dia akan mulai belajar beradaptasi dengan pasangannya, tidak lagi memikirkan kepentingannya sendiri. Juga mulai belajar menerima bahwa semua orang berbeda dan itu harus dihargai.

Menurut saya, orang tua juga harus berperan dalam proses ini. Jangan langsung menolak atau melarang mentah2 bahwa anaknya berpacaran. Karena dari analisis saya (dan pengalaman pribadi saya sebagai anak), remaja cenderung untuk memberontak apabila dilarang. Apalagi  dewasa ini lingkungan sangatlah permisif terhadap hal-hal yang dulunya dianggap tabu.
Sebaiknya orang tua bersikap terbuka dan seperti layaknya sahabat. Libatkan pacar anak dalam kegiatan non formal keluarga, misalnya ajak ngobrol pacar anak apabila sedang menjemput anak. Tentu saja pendidikan dini dari keluarga sejak kecil juga harus dilakukan, untuk menanamkan nilai-nilai moral yang dianut keluarga.

Ujian

0 comments
Memanglah benar bahwa hidup ini adalah suatu ujian sebagai manusia, baik itu berupa kesenangan maupun kesedihan. Begitu pula pernikahan, ia merupakan salah satu bagian dari ujian dalam hidup kita.


Menemukan pasangan yang terbaik untuk kita, itu saja juga sudah merupakan perjalanan panjang penuh dengan ujian. Perjalanan setelah menikah pun merupakan suatu ujian.
Pernikahan adalah menyatukan dua pribadi berlainan jenis yang juga sangat berbeda dalam segala hal, mulai dari kebiasaan sehari-hari, latar belakang keluarga, pendidikan, lingkungan bahkan mungkin sampai beda bangsa. Oleh karena itu di Islam, tidak diperbolehkan untuk menikah dengan berbeda agama. Saya pikir ini merupakan hal yang paling tepat, karena dari begitu banyak perbedaan yang ada pada dua diri pasangan, haruslah ada satu hal prinsipil yang menyatukan mereka. Persyaratan minimal itu adalah agama. Apakah dengan sama agamanya, maka pernikahan juga bebas dari ujian? Tentu tidak. Setelah agamanya sama, maka pasangan yang menikah itu haruslah mempunyai tujuan hidup dan berkeluarga yang sama dan sejalan berdasarkan agama.

Pre Marriage Thinking

0 comments
Pernikahan bukanlah suatu cerita cinderella ataupun cerita fantasi lainnya yang selalu berakhir dengan happy ending. Pernikahan juga bukanlah suatu tujuan, melainkan suatu perjalanan baru yang juga merupakan bagian dari perjalanan hidup kita sebagai manusia.

Ada dua kecenderungan pola pikir orang2 sebelum menikah (terutama di Indonesia, sejauh yang saya amati), yaitu:

Yang pertama, menerapkan pola agama, bahwa pernikahan haruslah disegerakan (lepas dari faktor kesiapan calon pasangan). Sebenarnya alasan agama tidaklah salah, karena untuk menghindari zina (mengenai ini, akan saya bahas berikutnya). Yang menurut saya kurang tepat adalah apabila segera menikah hanya karena alasan agama, tanpa melihat kesiapan mental dan finansial calon pasangan. Seolah-olah pernikahan adalah suatu tujuan akhir, tanpa memikirkan bagaimana kehidupan setelah pernikahan. Ada kalimat yang seringkali diucapkan oleh penganut fanatik pola ini, yaitu "rejeki yang mengatur adalah Tuhan, jadi pasti nanti ada rejekinya sendiri2". Ini adalah suatu pemikiran yang kurang tepat menurut saya.


Yang kedua, bersikap seolah-olah tidak membutuhkan pernikahan, dengan alasan bahwa menikah itu harus mapan secara finansial sampai dengan merasa masih muda sehingga merasa masih harus mencari yang terbaik. Dengan demikian, tidak salah bila mereka berganti-ganti  pasangan. Padahal memang benar seperti yang tertulis di AlQur'an, bahwa sangatlah banyak godaan selama proses yang mereka sebut sebagai "pencarian yang terbaik" ini. Di sisi lain, kemungkinan mereka yang menganut pola pikir ini sebenarnya juga merasa takut akan mendapat pasangan yang tidak baik, seperti misalnya suka menyakiti, selingkuh, dll. Juga sudah tertulis di AlQur'an, bahwa perempuan baik-baik adalah untuk lelaki baik-baik, dan perempuan tidak baik adalah untuk lelaki tidak baik pula. Jadi sebenarnya solusinya sangat mudah, kalau memang merasa masih muda dan ingin mencari pasangan yang baik, ya sudah, tinggal jadikan saja diri kita sendiri sebagai orang yang baik pula.
Tuhan Maha Adil, Tuhan akan memberikan yang terbaik sesuai usaha kita. 


Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-lakilaki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). (QS. An-Nur: 26)


Jangan berpikir semua sudah ditakdirkan Tuhan. Memang yang ditakdirkan Tuhan adalah kelahiran, jodoh dan kematian. Tapi bagaimana kelahiran itu didapat, jodoh seperti apa yang didapat ataupun bagaimana kita meninggal nanti merupakan hasil dari usaha atau perbuatan kita sendiri.


Dalam Islam juga sudah dijelaskan, apabila sudah mampu, maka segerakanlah menikah. Namun apabila belum mampu, maka hendaklah berpuasa. Kalimat yang pendek dan general ini seharusnya bisa dikaji lebih dalam. Dan saya pikir sudah banyak orang pintar agama di luar sana.

The beginning

0 comments
Saya membuat blog ini khusus untuk mencatat perjalanan pernikahan, baik dari pengalaman pribadi maupun dari lingkungan. Semoga catatan ini bisa membawa manfaat, baik bagi saya sendiri, lebih-lebih untuk orang lain. Amiinn...

Bismillahirrahmanirrahim....let's begin the journey!
 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review