Thursday, September 30, 2010

Panggilan (calon) Anak Terhadap Orang Tuanya

0 comments
Dari beberapa referensi yang aku baca, mengajak berbicara calon bayi yang ada di dalam kandungan bisa dilakukan sejak dini dan bermanfaat untuk meningkatkan ikatan ibu dan anak.
Selama ini panggilan sayang suamiku buat aku adalah deta (adek sayang --> tayang), atau juga dekcil (adek kecil). Sedangkan panggilan sayangku untuk suamiku adalah mata (mas sayang --> tayang).
Berhubung aku masih hamil 8 minggu, maka kami belum tahu jenis kelamin calon anak kami. Tapi suamiku akhirnya memanggil kami berdua dengan sebutan dekcil. Untuk aku, dekcil 1, sedangkan calon bayiku dekcil 2. Awalnya aku menganggap itu konyol, tapi lama kelamaan, aku pikir apa salahnya juga. Toh kata "dekcil" tidak merujuk jenis kelamin tertentu.
Sejak itu aku sering mengajak bicara calon bayiku, terutama saat aku harus bekerja. Jadi kadang aku bilang "ayo nak, kita berangkat dulu ya".
Kemudian muncul ganjalan, bagaimana aku membahasakan diriku sendiri ke calon bayiku?
Aku suka panggilan Bunda, terdengar elegan dan bersahaja. Awalnya aku merasa minder sendiri karena karakteristikku tidak mencerminkan kata elegan dan bersahaja...hahaha... Tapi suamiku bilang aku pantas dengan sebutan itu karena menurut dia, aku akan jadi seorang ibu yang perhatian, sama seperti yang aku lakukan ke dia (waktu dia bilang gitu, rasanya terharu :) )
Tapi aku kurang suka dengan panggilan Ayah (pasangan Bunda), aku suka panggilan Abi, tapi sayangnya dari jauh terdengar sama dengan nama suami, nanti dikira anak kami memanggil bapaknya dengan namanya...hehehe..
Sebenarnya nama panggilan yang netral di lingkungan kami adalah Mama Papa. Tapi aku memanggil almarhumah ibuku dengan Mama. Aku masih merasa ragu dengan itu..
Waktu aku terakhir mendiskusikannya dengan suamiku, dia lebih memilih Ayah dibanding Abi. Kalau untuk panggilan yang aman, dia lebih pilih Papa Mama. Hhmm...aku masih harus memantapkan hati dulu, mana yang lebih nyaman buat aku :)

Tuesday, September 28, 2010

Kebanggaan Manusia

0 comments
Aku baru saja membaca status facebook sahabatku. Dia menuliskan, stop membanding2kan anak karena setiap anak memang berbeda. Dari nada tulisannya, terlihat dia agak emosi. Hhmm...sebenarnya seringkali aku juga melihat, masing2 orang tua membangga2kan anak2nya masing2. Itu aku lihat jauh sebelum aku menikah.

Yang menurutku annoying adalah kalau mereka membangga2kannya berlebihan, seakan2 anaknya lah yang paling cantik atau cakep, paling banyak makannya, paling cepat jalannya, dan lain2, dan mereka dengan sadar dan bangga mengucapkannya secara keras di hadapan banyak orang.
Hellooo?? Bukannya lebih baik biarkan orang lain yang menilai? 

Tapi dipikir2 lagi, memang sudah sifat dasar manusia ingin menonjolkan dirinya lebih dari yang lain. Sewaktu masih sekolah atau kuliah, ingin menjadi yang terpopuler lah, paling cantik, dan lain2. Kalau sudah punya pacar, membangga2kan pacarnya kemana2 seakan2 pacarnya itu paling cakep atau cantik, paling kaya, paling sukses, dan lain2. Ketika kerja, membangga2kan tempatnya bekerja, jabatannya, gajinya, dan lain2. Kalau berencana menikah, dipamer2in lagi tuh foto pre weddingnya, bahkan segala aktivitas berdua di-update di status facebook.
Setelah menikah, dipamer2in lagi tempat honeymoon-nya, betapa mesranya mereka, atau betapa sempurnanya pasangan mereka.
Nanti setelah punya anak, kemungkinan juga begitu...

Oooo...memang manusia kan terus berproses selama hidup. Semoga saja prosesnya adalah proses yang baik. Padahal lagi semua kenikmatan2 yang dialaminya juga berimbang dengan cobaan atau ujian yang dijalaninya. 

Menurutku sih biasa ajaaa....kalaupun orang lain menilai kita cantik, sukses, punya pasangan dan anak yang sempurna, ya alhamdulillah.. Kita hanya wajib bersyukur dengan apa yang ada. Tetapi tidak perlu sampai berapi2 mengatakannya ke banyak orang. Ingat pepatah "tong kosong nyaring bunyinya" kan?


*Semoga kita termasuk orang-orang yang baik, namun tidak perlu menunjukkannya*

His Birthday

0 comments
Hari ini ulang tahun ke 27 suamiku dan juga ulang tahun pertamanya setelah kami menikah. Sayangnya sudah seminggu ini dia sibuk menyiapkan akreditasi untuk RS tempatnya bekerja. Bahkan bertepatan dengan hari ulang tahunnya juga malah para asesor datang menilai.

Sebelumnya aku ingin memberikan kejutan, bukan sekedar kado. Tapi mengingat hari ultahnya jatuh pada hari kerja, aku nggak terlalu yakin bisa melakukannya. Mengingat jam kerjaku sampai malam.

Akhirnya pada pukul 12 malam tepat, aku membangunkan suamiku (jarang2 dia tidur awal, berhubung mau menyiapkan akreditasi untuk keesokan harinya). Tapi responnya biasa banget...hihihi....dia cuma bilang "makasih sayang, kamu kok repot2" tapi dengan setengah kesadaran juga.
Dia juga bilang belakangan ini mimpi akreditasi. Padahal dia itu orang yang jarang banget mimpi.
Akhirnya seharian itu, kami cuma bertemu pagi dan malam saja. Malamnya dia juga pulang jam 10. Praktis, nggak ada hal istimewa yang kami lakukan.

Olala...sepertinya aku memang harus mengalah dengan akreditasi, even in his birthday!

Friday, September 24, 2010

This is The Reason 2

0 comments

Karena sebelumnya aku sudah menuliskan alasan2ku merencanakan (baca: menunda) kehamilan, sepertinya aku juga harus menuliskan alasan2ku kenapa memutuskan untuk hamil :)

Yang pertama, sesuai janji awal aku dan suamiku, bahwa aku berusaha mendapatkan scholarship selama tahun ini (dengan perhitungan kalau diterima tahun ini, berarti sudah bisa balik ke Indonesia tahun 2011). Dan batas terakhir untuk bisa kuliah di tahun ajaran 2010/2011 adalah bulan Juli. Karena sejauh ini aplikasi yang aku ajukan selalu ada kendala, jadi aku menyimpulkan sudah selesai juga "perburuanku" mencari scholarship.
Beberapa waktu yang lalu setelah aku testpack hamil yang hasilnya positif, ada seorang temanku yang berkomentar bahwa kalau sudah punya anak, pasti susah untuk mendapatkan scholarship. Wah...jadi ingat yang dulu sering diajarkan mamaku, bahwa jangan berpikir terlalu sempit seperti itu. Seperti prinsipku juga, bahwa scholarship itu tidak terbatas pada jenjang formal saja. Tentu saja banyak scholarship non degree, dan kesempatan seperti itu akan banyak datang di masa depan kalau kita tetap berusaha. Apalagi aku sudah S2, yang menurut suamiku, sudah cukup mumpuni. Dan lagi, itu hanya soal prioritas. Bagi aku, prioritas mencari scholarship sudah selesai sebatas waktu yang sudah aku janjikan. Setelah itu prioritasku berubah.

Yang kedua, aku tidak boleh egois. Karena sebenarnya suamiku tidak ingin menunda terlalu lama. Dan kemungkinan bapakku juga sebenarnya ingin mendapatkan cucu.

Yang ketiga, aku menganggap bahwa seorang anak itu adalah suatu anugerah dan kepercayaan dari Allah. Itu berarti Allah memberikan anugerah dan percaya kepada orang yang diberi anak, percaya bahwa dia dapat menjaga anak tersebut, merawat dan membimbingnya hingga dewasa dan menjadi orang yang baik pula (secara agamaku, menjadi muslim/muslimah yang baik). Allah juga percaya bahwa dia pantas atau mampu melewati segala ujian yang menyertainya juga. 
*Semoga kami termasuk orang2 yang mampu melewati segala ujian yang menyertainya juga*

Wednesday, September 22, 2010

Living-with-parents couple

0 comments
Setelah menuliskan beberapa post di blog ini hari ini, aku jadi mulai concern terhadap satu issue. Living-with-parents couple. Aku sempat browsing di internet mengenai topik ini. Ternyata kebanyakan yang membahas issue ini berasal dari luar negeri (atau mungkin aku belum menemukan yang di Indonesia ya?).

Namun dari hasil browsing-cepatku itu sekilas aku menyimpulkan bahwa untuk sebagian pasangan bule yang sudah menikah, tinggal bersama orang tua merupakan suatu hal yang tabu alias tidak menyenangkan. Meskipun secara obyektif, ada juga ulasan dari the New York Times bahwa hal itu merupakan solusi terbaik, terutama pada masa resesi seperti yang terjadi di Amerika.

Pendapat yang kontra "living with parents" menyatakan bahwa banyak hal tidak bisa dilakukan alias mereka merasa tidak bisa bebas, misalnya tidak bisa melakukan seks dimanapun mereka mau (ya iyalah...). Ada juga yang menyatakan bahwa menantu akan merasa teralienasi dengan kebudayaan atau kebiasaan yang sudah terbangun di keluarga itu. Selain itu orang tua cenderung akan menganggap anaknya masih seorang anak (belum cukup dewasa bagi mereka), meski anaknya tersebut sudah menikah dan harus bertanggungjawab terhadap keluarganya sendiri.

Sedangkan yang pro antara lain menyatakan, mereka bisa menjadi lebih dekat dengan keluarga, bahkan juga mendekatkan antara grandparents dan cucunya. Mereka juga menyatakan bahwa bagi pasangan yang belum stabil secara finansial, tinggal dengan orang tua merupakan solusi terbaik. Alasan lain, pasangan muda bisa terus mengejar karir, dengan anak mereka yang dirawat oleh kakek-neneknya.

Sedangkan di Indonesia tidak banyak yang membahasnya, mungkin karena budaya di Indonesia sudah biasa kalau suatu keluarga besar (extended family) tinggal di sebuah rumah. Bahkan jika rumah itu sangat sederhana. Ditambah lagi ada pepatah di Jawa "mangan ora mangan, sing penting kumpul".

Apapun alasannya, semua keputusan memang ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Family

0 comments
Menyambung tulisanku sebelumnya, aku masih berpikir sampai saat ini. Dan mungkin aku terlambat menyadarinya-well better late than never, right?

Sepertinya aku saat ini masih melakukan kewajiban seorang anak yang seharusnya aku lakukan jauh sebelum ini, yaitu sebelum aku menikah. Sepertinya setelah mama meninggal, aku begitu berubah sehingga nilai keluarga di mataku sangatlah tinggi. Entah ini karena aku begitu menyesali apa yang tidak aku lakukan sebelumnya sewaktu mama masih ada atau apa. Namun secara nggak sadar, "keluarga" yang aku anggap di sini adalah bapak dan adikku. Bukan berarti aku nggak sayang suamiku. Tapi sepertinya aku lebih menuruti bapakku daripada suamiku, sesuatu yang harusnya aku lakukan dari dulu sewaktu aku masih single.
Inilah kesimpulanku saat ini.

Ini semua sesuatu yang tidak aku sengaja dan tidak aku sadari sampai hari ini. Dan mungkin aku masih belum bisa menempatkan diri sebagai istri, sementara aku sendiri belum memenuhi tugasku sebagai anak sedari dulu.

Ternyata sangat banyak yang belum aku lakukan dan pelajari. Aku tidak pernah diajari oleh mamaku mengenai hal ini. Tapi bukan berarti aku menyalahkan mama atau bapakku. Aku sadar mereka juga cuma manusia yang punya banyak kekurangan dan kelebihan. 
Well being parents doesn't mean that you have to be perfect, right?

Pertengkaran

0 comments

Memanglah benar bahwa kehidupan berumah tangga adalah kehidupan orang dewasa. Bahkan siapapun yang sudah berumah tangga, suka tidak suka, dipaksa untuk menjadi dewasa.


Hari ini aku dan suami bertengkar. Sebenarnya alasannya sepele, seperti masalah2 lainnya. Hanya saja kalau suamiku sudah merasa tidak dihargai, dia akan sangat meledak, meskipun menurutku aku tidak melakukan perbuatan yang tidak menghargainya.
Di sisi lain, setiap kali dia marah meledak seperti itu, aku selalu merasa nggak ada harganya di mata dia. Jadilah kami seperti lingkaran setan, kalau saja tidak ada yang terpaksa menghentikan pertengkaran kami, misalnya sudah masuk jam kantor, dll.
Tapi baru saja aku memikirkannya dari sudut pandang yang berbeda. Aku melihatnya dari sudut pandang suamiku.


Kami memang dari latar belakang keluarga yang berbeda, yang dulu sering aku anggap tidak masalah, karena kami saling mencintai, maka semua kondisi di luar kami berdua tidak akan mempengaruhi cinta kami *idealisme anak muda yang masih berpacaran*
Orangtuaku adalah dokter dan PNS murni, meski ada pakdheku yang juga pengusaha, namun cukup sukses di kota kami. Sedangkan orangtua suamiku adalah wirausaha murni dan berasal dari kota kecil. Aku sadar bahwa keluarga kami berbeda, bahkan dulu orangtua suamiku, sebelum kami menikah, sempat mempertanyakan hal itu kepada suamiku. Tapi suamiku -dan aku- meyakinkan bahwa keluargaku tidak memandang status sosial keluarga.
Dari perbedaan latar belakang sosial keluarga kami, tentulah berpengaruh juga pada pola kehidupan keluarga kami masing2.

Apalagi kami sekarang masih tinggal bersama keluargaku. Tentu saja dia yang paling merasakan keharusan untuk beradaptasi dengan suasana baru. Meski sebenarnya suamiku orang yang lebih fleksibel dibanding aku, secara dia sudah mulai kos sejak SMA, sedangkan aku sampai detik ini tidak pernah meninggalkan rumah keluargaku :D


Kembali ke masalahku hari ini, tiba2 aku melihat dari sudut pandang suamiku. Bagaimana kalau dia sebenarnya lama kelamaan merasakan perbedaan kehidupan keluarga kami dan dia sebenarnya berusaha keras untuk bisa memenuhi pola kehidupan kebiasaanku?
Bahwa dia sebenarnya berusaha untuk memenuhi semua keinginanku, meski tidak pernah aku ucapkan? Bahwa dia marah meledak merasa tidak dihargai adalah karena sikapku yang -secara tidak sadar- menunjukkan bahwa aku nggak butuh dia, sehingga dia semakin merasa tidak mampu?
Apalagi kaum laki-laki -mayoritas yang aku kenal- cenderung untuk tidak banyak bicara, tidak seperti kaum perempuan, alias aku. Sehingga semakin komplekslah perasaan suamiku. Mungkin dia berusaha sendiri tanpa pernah bilang ke aku, tapi di sisi lain, ada saat dimana dia tidak bisa menahannya karena pemicu dari sikapku juga.

Ya Allah...aku tidak pernah berpikir seperti ini sebelumnya. Tadi malam yang aku pikirkan hanyalah mengenai kehamilanku, dan kondisi  yang menyertainya. Dan aku ngambek karena suamiku tidak merespon sesuai yang aku harapkan. Memang aku menyalahkan hormon2 ini. Tapi setidaknya aku bisa berpikir jernih sekarang setelah melihat dari sudut pandangnya.

Ya Allah, jadikanlah kami keluarga yang selalu berada di jalanMu, untuk dapat terus menggapai ridhoMu, untuk dapat mencapai surgaMu. Apabila ada cobaan, maka kuatkanlah kami untuk mampu tetap berada di jalanMu. Amin ya Robbal 'alamin..

Tuesday, September 21, 2010

Diary of Pregnancy

0 comments
Sudah seminggu ini aku berusaha untuk menulis jurnal harian, karena menurut situs yang aku baca (babycentre.co.uk), menulis jurnal harian dapat meringankan mood-swing during pregnancy.
Sejauh ini keluhanku yang aku alami selama hamil 7 minggu ini adalah cepat-berubahnya mood-ku alias mood-swing. Hal ini wajar karena hormon pada ibu hamil terutama pada trimester pertama sedang kacau2nya.
Lebih lengkapnya dapat dibaca di sini

Alhamdulillah sejauh ini, aku nggak merasakan morning sickness, mual, pantangan terhadap makanan tertentu ataupun ngidam. Semua makanan masuk, cuma memang aku menghindari makanan2 yang, kata mayoritas orang, tidak baik bagi kehamilan, seperti nanas, tape dan softdrink.
Bahkan nafsu makanku jauh meningkat alias frekuensi laparku semakin sering. Padahal sebelum hamil aja, semua orang yang kenal aku, tahu bagaimana nafsu makanku :D
Semua aku syukuri, mungkin ini suatu anugerah dari Allah, setelah aku menerima kondisi bahwa kehamilanku dengan adanya kista endometriosis.

Aku hanya berdoa, apapun yang terjadi, aku selalu mengusahakan yang terbaik, demi calon bayiku agar bisa tumbuh dan berkembang dengan sehat dan sempurna hingga lahirnya nanti.
Amiinn..

Sunday, September 12, 2010

I'm pregnant!

0 comments
Sebenarnya aku sudah punya feeling, kalau aku akan hamil. Tapi aku takut untuk kecewa. Jadi waktu aku terlambat mens, aku masih agak khawatir -dan sedikit phobia- untuk melakukan tes. 
7 hari terlambat (30 Agustus 2010), aku melakukan testpack -tanpa sepengetahuan siapapun- dan hasilnya negatif. Or at least aku hanya melihat satu garis pink dan satu garis nggak meyakinkan. Kecewa? Pasti...
Aku agak stres hari itu, but in the end of the day, aku berusaha untuk ikhlas. Hari itu aku merasa, apapun yang aku rencanakan sebelumnya, seperti rencana untuk mencari scholarship dan get pregnant, gagal semua. Aku merasa selama ini mungkin ada satu kelemahanku. Aku terlalu pede, yang mungkin di mata sebagian orang terlihat seperti arogan. Aku berusaha untuk ikhlas, dan berusaha untuk mengontrol arogansi-ku.
Hari berjalan, aku masih belum mens. Hingga akhirnya pada akhir bulan Agustus, aku bilang sama suami mengenai keterlambatan haidku dan aku akan melakukan testpack lagi kalau dia sudah menyuruhku.
Akhirnya hari sabtu tanggal 4 September 2010, sebelum sahur, aku melakukan testpack lagi dan hasilnya positif! Alhamdulillah...aku senang sekali, excited sampai-sampai aku nggak bisa tidur lagi setelah sahur. Paginya adikku bilang ke bapakku -aku masih bingung gimana caranya bilang ke bapakku soal ini, karena kami bukan keluarga yang terbuka sejak dulu.
Malam harinya kami keluar untuk makan malam, dan kami membahas tentang ini secara terbuka. Alhamdulillah...
Entah karena pengaruh hormon atau apa, aku dan suami terlibat pertengkaran kecil mengenai kapan aku harus ke dokter dan dokter siapa yang kami pilih. Suami menyarankan dokter di RS tempatnya bekerja karena memang mendapat fasilitas tersebut, sedangkan aku ingin mencari dokter yang terbaik yang sesuai dengan kemampuan kami dan cocok dengan aku (karena berdasarkan hasil browsing, memilih dokter obsgyn itu berbeda-beda, tergantung selera si ibu hamilnya). Sedangkan untuk periksa di dokter pilihan suami, kami harus menunggu 4 hari lagi, karena jadwal praktek dokter tersebut di RS tersebut. Sedangkan aku ingin cepat-cepat memastikan kehamilanku ini. 
Singkat cerita, akhirnya aku mengalah. Aku terima bahwa aku sudah seharusnya menurut kata suami, lagipula apa salahnya aku coba dulu.
Lama sekali rasanya menunggu hari Rabu tanggal 8 September 2010. Akhirnya hari itu datang juga. Setelah menunggu beberapa saat, kami masuk ke ruang periksa dan dilakukan USG. Dokternya menyatakan bahwa aku postif hamil 6 minggu, bahkan ditunjukkan gambar janinnya. Subhanallah...
Namun, dokternya mengabarkan kabar buruk juga, bahwa ada myoma (tumor) di rahimku. Untuk memastikan diagnosis itu, diminta dilakukan pemeriksaan dalam. Perasaanku sudah kacau sekali, ini kehamilan pertamaku dan periksa pertamaku ke dokter, tapi kenapa hasilnya seperti ini.
Setelah pemeriksaan dalam, dokter memberitahukan bahwa ada myoma berukuran 4x5 cm di rahimku. Bukan ukuran yang kecil! Myoma ini kemungkinannya kecil untuk menyusut secara ukuran. Bahkan dia akan berebut makanan dengan janinku. Aku stres mendengarnya. Aku sudah nggak berminat untuk bertanya2 lebih jauh lagi tentang kehamilanku. Waktu itu aku merasa ini cobaan yang sangat berat, sehingga aku cepat2 keluar RS dan menuju mobil. Tangisku langsung tumpah di dalam mobil, sehingga suamiku nggak tega untuk membiarkan aku pulang sendiri. Jadi dia ikut pulang sama aku. Sepanjang perjalanan aku terus menangis, bahkan sampai rumah pun, aku bertemu adik dan bapakku, aku nggak menyembunyikan wajah sembabku. 
Aku bingung harus merasa apa. Aku merasa kosong, nggak tau harus marah atau kecewa sama siapa.
Akhirnya aku masuk kamarku, nggak lama diikuti suamiku. Beberapa saat aku masih menangis. Rasanya saat itu aku sangat butuh mamaku. Karena emosiku yang kacau itu, aku merasa sia-sia puasaku, jadi aku batalkan puasaku, padahal kurang 1 jam lagi berbuka.
Di kamar, aku bilang suamiku bahwa aku harus periksa lagi ke dokter lain, dan harus hari ini juga, karena keesokan harinya sudah libur menjelang Idul Fitri, aku nggak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan second opinion. Suamiku langsung setuju, dan dia langsung menelepon RSnya untuk meminta no telpon prakteknya dr. Hari Paraton, SpOG. Beliau adalah teman lama orang tuaku. 
Ternyata sebenarnya hari itu dr. Hari tidak praktek, tapi karena suamiku mendesak, akhirnya bisa dijadwalkan hari itu juga. Alhamdulillah semua dimudahkan.
Ternyata di bawah, bapakku juga menelpon teman obsgyn yang satu RS dengan bapakku. Menurut teman bapakku itu, myoma sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan karena sudah banyak kasus seperti itu di Surabaya, dan kebanyakan juga berhasil dengan kehamilannya.
Aku sendiri juga browsing di internet. 
Singkat cerita, setelah periksa di dr. Hari melalui USG, beliau juga menyatakan aku hamil 6 minggu, namun tidak yakin dengan gambaran myoma yang disebut dokter sebelumnya. Akhirnya dilakukan pemeriksaan USG melalui vagina. Sebenarnya aku takut, tapi aku pikir demi calon bayiku, aku harus berani.
Alhamdulillah...ternyata itu adalah kista endometriosis, bukan myoma. Meski memang ada myoma, tapi dengan ukuran lebih kecil dan menurut dr. Hari, tidak perlu dikhawatirkan. Sedangkan kista endometriosis adalah sejumlah darah menstruasi yang terperangkap hingga membentuk suatu kantong (kista). Nah kista inilah yang diperingatkan oleh dr. Hari untuk berhati2. Karena sifatnya yang seperti kantong, jangan sampai pecah karena membahayakan janinnya. Kista ini tidak bersifat seperti myoma yang berebut makanan dengan janinnya. Aku disarankan untuk berhati2 terutama pada 12 minggu pertama. Sehingga menyebabkan aku tidak bisa ikut mudik ke Jember bersama suami.
Dr. Hari juga sangat heran, bahwa aku tidak merasakan sakit sewaktu mens, karena sudah pasti oarang yang terkena endometriosis akan merasakan sakit yang luar biasa pada saat haid. Memang biasanya aku sakit pada hari pertama atau kedua, tapi aku pikir itu biasa pada umumnya orang menstruasi.
Alhamdulillah..aku merasa lebih lega dan optimis mendengar penjelasan dr. Hari. Mungkin juga karena beliau memang sudah senior dan pembawaannya yang menenangkan ;)
Aku diberi obat penguat kandungan dan asam folat yang harus aku minum setiap hari.
Sekarang aku mengartikan ini semua sebagai bentuk kasih sayang dari Allah. Allah memberikan anugrah untuk aku dan keluargaku, tapi karena Allah tahu sifatku yang hiperaktif dan responsif terhadap semua - biasanya aku akan loncat2 atau berkaitan dengan fisik kalau aku sedang senang. Mungkin dengan adanya kista endometriosis ini, Allah mau memberikan "rem" untuk aku agar menjadi orang yang lebih tenang, yang kalau sedih, nggak terlalu stres dan kalau senang, nggak euphoria.
Apapun itu, sekarang aku mensyukuri anugrah yang diberikan oleh Allah dan berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya. Semoga Allah juga menjaga kami berdua dan keluarga, diberi kelancaran hingga waktu persalinan nanti. Amin ya Robbal 'alamiinn..

This is The Reason

0 comments
Written in July 24, 2010

Some people have asked me whether I'm pregnant or not. Well, me and my hubby have been planning about it since we get married. We decided to use protection and plan on it a couple more months. Here are the reasons:
  1. I thought I wasn't ready mentally, because it's been too much happened this last year. My mom passed away, I should worked on my thesis and graduated on time due to fulfill my mom's wish. I should accept the reality and handle the condition inside my own family. I should get it stable first.
  2. I wasn't ready being a mother after I lost my mother. I was spending the whole year just to think about my mom. What I have done to her, what I should have done for her and what I haven't done for her. I am not grieving, it's an introspection.
  3. I had my own ambition, I was still trying to get an abroad scholarship this year. Now that I've done that, and I didn't get it this year. So it's over for this year.
  4. We were planning our financial condition. I thought we had to prepare and predict our financial condition.

Fortunately, my husband is supporting all my condition. After all, we're planning it for good reasons. We hope for the best.
I have taken TORCH test and dental examination on June 2010, and the result is good. My body is free from TORCH virus.

Now, I am gladly stating that I'm ready, insyaAllah. Started this July, we don't use protection anymore :)
Bismillah...

Update:
September 4, 2010 --> testpack result is positive
September 8, 2010 --> gynaecologist examination result is 6 weeks pregnant, with endometriosis cyst, which cause me to be more careful, especially in the first trimester.
 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review