Panggilan (calon) Anak Terhadap Orang Tuanya

Dari beberapa referensi yang aku baca, mengajak berbicara calon bayi yang ada di dalam kandungan bisa dilakukan sejak dini dan bermanfaat untuk meningkatkan ikatan ibu dan anak.
Selama ini panggilan sayang suamiku buat aku adalah deta (adek sayang --> tayang), atau juga dekcil (adek kecil). Sedangkan panggilan sayangku untuk suamiku adalah mata (mas sayang --> tayang).
Berhubung aku masih hamil 8 minggu, maka kami belum tahu jenis kelamin calon anak kami. Tapi suamiku akhirnya memanggil kami berdua dengan sebutan dekcil. Untuk aku, dekcil 1, sedangkan calon bayiku dekcil 2. Awalnya aku menganggap itu konyol, tapi lama kelamaan, aku pikir apa salahnya juga. Toh kata "dekcil" tidak merujuk jenis kelamin tertentu.
Sejak itu aku sering mengajak bicara calon bayiku, terutama saat aku harus bekerja. Jadi kadang aku bilang "ayo nak, kita berangkat dulu ya".
Kemudian muncul ganjalan, bagaimana aku membahasakan diriku sendiri ke calon bayiku?
Aku suka panggilan Bunda, terdengar elegan dan bersahaja. Awalnya aku merasa minder sendiri karena karakteristikku tidak mencerminkan kata elegan dan bersahaja...hahaha... Tapi suamiku bilang aku pantas dengan sebutan itu karena menurut dia, aku akan jadi seorang ibu yang perhatian, sama seperti yang aku lakukan ke dia (waktu dia bilang gitu, rasanya terharu :) )
Tapi aku kurang suka dengan panggilan Ayah (pasangan Bunda), aku suka panggilan Abi, tapi sayangnya dari jauh terdengar sama dengan nama suami, nanti dikira anak kami memanggil bapaknya dengan namanya...hehehe..
Sebenarnya nama panggilan yang netral di lingkungan kami adalah Mama Papa. Tapi aku memanggil almarhumah ibuku dengan Mama. Aku masih merasa ragu dengan itu..
Waktu aku terakhir mendiskusikannya dengan suamiku, dia lebih memilih Ayah dibanding Abi. Kalau untuk panggilan yang aman, dia lebih pilih Papa Mama. Hhmm...aku masih harus memantapkan hati dulu, mana yang lebih nyaman buat aku :)

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives