Sunday, September 12, 2010

I'm pregnant!

Sebenarnya aku sudah punya feeling, kalau aku akan hamil. Tapi aku takut untuk kecewa. Jadi waktu aku terlambat mens, aku masih agak khawatir -dan sedikit phobia- untuk melakukan tes. 
7 hari terlambat (30 Agustus 2010), aku melakukan testpack -tanpa sepengetahuan siapapun- dan hasilnya negatif. Or at least aku hanya melihat satu garis pink dan satu garis nggak meyakinkan. Kecewa? Pasti...
Aku agak stres hari itu, but in the end of the day, aku berusaha untuk ikhlas. Hari itu aku merasa, apapun yang aku rencanakan sebelumnya, seperti rencana untuk mencari scholarship dan get pregnant, gagal semua. Aku merasa selama ini mungkin ada satu kelemahanku. Aku terlalu pede, yang mungkin di mata sebagian orang terlihat seperti arogan. Aku berusaha untuk ikhlas, dan berusaha untuk mengontrol arogansi-ku.
Hari berjalan, aku masih belum mens. Hingga akhirnya pada akhir bulan Agustus, aku bilang sama suami mengenai keterlambatan haidku dan aku akan melakukan testpack lagi kalau dia sudah menyuruhku.
Akhirnya hari sabtu tanggal 4 September 2010, sebelum sahur, aku melakukan testpack lagi dan hasilnya positif! Alhamdulillah...aku senang sekali, excited sampai-sampai aku nggak bisa tidur lagi setelah sahur. Paginya adikku bilang ke bapakku -aku masih bingung gimana caranya bilang ke bapakku soal ini, karena kami bukan keluarga yang terbuka sejak dulu.
Malam harinya kami keluar untuk makan malam, dan kami membahas tentang ini secara terbuka. Alhamdulillah...
Entah karena pengaruh hormon atau apa, aku dan suami terlibat pertengkaran kecil mengenai kapan aku harus ke dokter dan dokter siapa yang kami pilih. Suami menyarankan dokter di RS tempatnya bekerja karena memang mendapat fasilitas tersebut, sedangkan aku ingin mencari dokter yang terbaik yang sesuai dengan kemampuan kami dan cocok dengan aku (karena berdasarkan hasil browsing, memilih dokter obsgyn itu berbeda-beda, tergantung selera si ibu hamilnya). Sedangkan untuk periksa di dokter pilihan suami, kami harus menunggu 4 hari lagi, karena jadwal praktek dokter tersebut di RS tersebut. Sedangkan aku ingin cepat-cepat memastikan kehamilanku ini. 
Singkat cerita, akhirnya aku mengalah. Aku terima bahwa aku sudah seharusnya menurut kata suami, lagipula apa salahnya aku coba dulu.
Lama sekali rasanya menunggu hari Rabu tanggal 8 September 2010. Akhirnya hari itu datang juga. Setelah menunggu beberapa saat, kami masuk ke ruang periksa dan dilakukan USG. Dokternya menyatakan bahwa aku postif hamil 6 minggu, bahkan ditunjukkan gambar janinnya. Subhanallah...
Namun, dokternya mengabarkan kabar buruk juga, bahwa ada myoma (tumor) di rahimku. Untuk memastikan diagnosis itu, diminta dilakukan pemeriksaan dalam. Perasaanku sudah kacau sekali, ini kehamilan pertamaku dan periksa pertamaku ke dokter, tapi kenapa hasilnya seperti ini.
Setelah pemeriksaan dalam, dokter memberitahukan bahwa ada myoma berukuran 4x5 cm di rahimku. Bukan ukuran yang kecil! Myoma ini kemungkinannya kecil untuk menyusut secara ukuran. Bahkan dia akan berebut makanan dengan janinku. Aku stres mendengarnya. Aku sudah nggak berminat untuk bertanya2 lebih jauh lagi tentang kehamilanku. Waktu itu aku merasa ini cobaan yang sangat berat, sehingga aku cepat2 keluar RS dan menuju mobil. Tangisku langsung tumpah di dalam mobil, sehingga suamiku nggak tega untuk membiarkan aku pulang sendiri. Jadi dia ikut pulang sama aku. Sepanjang perjalanan aku terus menangis, bahkan sampai rumah pun, aku bertemu adik dan bapakku, aku nggak menyembunyikan wajah sembabku. 
Aku bingung harus merasa apa. Aku merasa kosong, nggak tau harus marah atau kecewa sama siapa.
Akhirnya aku masuk kamarku, nggak lama diikuti suamiku. Beberapa saat aku masih menangis. Rasanya saat itu aku sangat butuh mamaku. Karena emosiku yang kacau itu, aku merasa sia-sia puasaku, jadi aku batalkan puasaku, padahal kurang 1 jam lagi berbuka.
Di kamar, aku bilang suamiku bahwa aku harus periksa lagi ke dokter lain, dan harus hari ini juga, karena keesokan harinya sudah libur menjelang Idul Fitri, aku nggak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan second opinion. Suamiku langsung setuju, dan dia langsung menelepon RSnya untuk meminta no telpon prakteknya dr. Hari Paraton, SpOG. Beliau adalah teman lama orang tuaku. 
Ternyata sebenarnya hari itu dr. Hari tidak praktek, tapi karena suamiku mendesak, akhirnya bisa dijadwalkan hari itu juga. Alhamdulillah semua dimudahkan.
Ternyata di bawah, bapakku juga menelpon teman obsgyn yang satu RS dengan bapakku. Menurut teman bapakku itu, myoma sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan karena sudah banyak kasus seperti itu di Surabaya, dan kebanyakan juga berhasil dengan kehamilannya.
Aku sendiri juga browsing di internet. 
Singkat cerita, setelah periksa di dr. Hari melalui USG, beliau juga menyatakan aku hamil 6 minggu, namun tidak yakin dengan gambaran myoma yang disebut dokter sebelumnya. Akhirnya dilakukan pemeriksaan USG melalui vagina. Sebenarnya aku takut, tapi aku pikir demi calon bayiku, aku harus berani.
Alhamdulillah...ternyata itu adalah kista endometriosis, bukan myoma. Meski memang ada myoma, tapi dengan ukuran lebih kecil dan menurut dr. Hari, tidak perlu dikhawatirkan. Sedangkan kista endometriosis adalah sejumlah darah menstruasi yang terperangkap hingga membentuk suatu kantong (kista). Nah kista inilah yang diperingatkan oleh dr. Hari untuk berhati2. Karena sifatnya yang seperti kantong, jangan sampai pecah karena membahayakan janinnya. Kista ini tidak bersifat seperti myoma yang berebut makanan dengan janinnya. Aku disarankan untuk berhati2 terutama pada 12 minggu pertama. Sehingga menyebabkan aku tidak bisa ikut mudik ke Jember bersama suami.
Dr. Hari juga sangat heran, bahwa aku tidak merasakan sakit sewaktu mens, karena sudah pasti oarang yang terkena endometriosis akan merasakan sakit yang luar biasa pada saat haid. Memang biasanya aku sakit pada hari pertama atau kedua, tapi aku pikir itu biasa pada umumnya orang menstruasi.
Alhamdulillah..aku merasa lebih lega dan optimis mendengar penjelasan dr. Hari. Mungkin juga karena beliau memang sudah senior dan pembawaannya yang menenangkan ;)
Aku diberi obat penguat kandungan dan asam folat yang harus aku minum setiap hari.
Sekarang aku mengartikan ini semua sebagai bentuk kasih sayang dari Allah. Allah memberikan anugrah untuk aku dan keluargaku, tapi karena Allah tahu sifatku yang hiperaktif dan responsif terhadap semua - biasanya aku akan loncat2 atau berkaitan dengan fisik kalau aku sedang senang. Mungkin dengan adanya kista endometriosis ini, Allah mau memberikan "rem" untuk aku agar menjadi orang yang lebih tenang, yang kalau sedih, nggak terlalu stres dan kalau senang, nggak euphoria.
Apapun itu, sekarang aku mensyukuri anugrah yang diberikan oleh Allah dan berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya. Semoga Allah juga menjaga kami berdua dan keluarga, diberi kelancaran hingga waktu persalinan nanti. Amin ya Robbal 'alamiinn..

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review