Pertengkaran


Memanglah benar bahwa kehidupan berumah tangga adalah kehidupan orang dewasa. Bahkan siapapun yang sudah berumah tangga, suka tidak suka, dipaksa untuk menjadi dewasa.


Hari ini aku dan suami bertengkar. Sebenarnya alasannya sepele, seperti masalah2 lainnya. Hanya saja kalau suamiku sudah merasa tidak dihargai, dia akan sangat meledak, meskipun menurutku aku tidak melakukan perbuatan yang tidak menghargainya.
Di sisi lain, setiap kali dia marah meledak seperti itu, aku selalu merasa nggak ada harganya di mata dia. Jadilah kami seperti lingkaran setan, kalau saja tidak ada yang terpaksa menghentikan pertengkaran kami, misalnya sudah masuk jam kantor, dll.
Tapi baru saja aku memikirkannya dari sudut pandang yang berbeda. Aku melihatnya dari sudut pandang suamiku.


Kami memang dari latar belakang keluarga yang berbeda, yang dulu sering aku anggap tidak masalah, karena kami saling mencintai, maka semua kondisi di luar kami berdua tidak akan mempengaruhi cinta kami *idealisme anak muda yang masih berpacaran*
Orangtuaku adalah dokter dan PNS murni, meski ada pakdheku yang juga pengusaha, namun cukup sukses di kota kami. Sedangkan orangtua suamiku adalah wirausaha murni dan berasal dari kota kecil. Aku sadar bahwa keluarga kami berbeda, bahkan dulu orangtua suamiku, sebelum kami menikah, sempat mempertanyakan hal itu kepada suamiku. Tapi suamiku -dan aku- meyakinkan bahwa keluargaku tidak memandang status sosial keluarga.
Dari perbedaan latar belakang sosial keluarga kami, tentulah berpengaruh juga pada pola kehidupan keluarga kami masing2.

Apalagi kami sekarang masih tinggal bersama keluargaku. Tentu saja dia yang paling merasakan keharusan untuk beradaptasi dengan suasana baru. Meski sebenarnya suamiku orang yang lebih fleksibel dibanding aku, secara dia sudah mulai kos sejak SMA, sedangkan aku sampai detik ini tidak pernah meninggalkan rumah keluargaku :D


Kembali ke masalahku hari ini, tiba2 aku melihat dari sudut pandang suamiku. Bagaimana kalau dia sebenarnya lama kelamaan merasakan perbedaan kehidupan keluarga kami dan dia sebenarnya berusaha keras untuk bisa memenuhi pola kehidupan kebiasaanku?
Bahwa dia sebenarnya berusaha untuk memenuhi semua keinginanku, meski tidak pernah aku ucapkan? Bahwa dia marah meledak merasa tidak dihargai adalah karena sikapku yang -secara tidak sadar- menunjukkan bahwa aku nggak butuh dia, sehingga dia semakin merasa tidak mampu?
Apalagi kaum laki-laki -mayoritas yang aku kenal- cenderung untuk tidak banyak bicara, tidak seperti kaum perempuan, alias aku. Sehingga semakin komplekslah perasaan suamiku. Mungkin dia berusaha sendiri tanpa pernah bilang ke aku, tapi di sisi lain, ada saat dimana dia tidak bisa menahannya karena pemicu dari sikapku juga.

Ya Allah...aku tidak pernah berpikir seperti ini sebelumnya. Tadi malam yang aku pikirkan hanyalah mengenai kehamilanku, dan kondisi  yang menyertainya. Dan aku ngambek karena suamiku tidak merespon sesuai yang aku harapkan. Memang aku menyalahkan hormon2 ini. Tapi setidaknya aku bisa berpikir jernih sekarang setelah melihat dari sudut pandangnya.

Ya Allah, jadikanlah kami keluarga yang selalu berada di jalanMu, untuk dapat terus menggapai ridhoMu, untuk dapat mencapai surgaMu. Apabila ada cobaan, maka kuatkanlah kami untuk mampu tetap berada di jalanMu. Amin ya Robbal 'alamin..

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives