Monday, October 11, 2010

Lots of Thoughts causing Heavy Headache


Hari ini pertama kali aku meniatkan diri untuk masuk kerja full day setelah kuret. Tapi sayang ternyata tubuh ini masih belum kuat. 
Jam 10an bapakku sms, menginformasikan ada lowongan dosen di almamaterku. Memang bapakku nggak bilang apa2, atau menyuruh aku mendaftar. Tapi aku merasa, mungkin bapakku pingin aku daftar.

Rasanya aku sedih sekali karena aku pingin bisa membuat bapak bangga sekali aja...tapi aku tahu kesempatanku kali ini sangat kecil, karena departemen yang aku tuju sudah mempunyai calon sendiri (who is my mentor at work). 
Ternyata perasaanku seperti itu sangat mempengaruhi aku.
Selain itu, ada saran dari temanku yang menyarankan untuk menggunakan pengobatan alternatif dan bahwa operasi akan mempunyai dampak buruk. Tentu saja itu juga membuat beban pikiran tersendiri buat aku.
Entah dari awal aku memang belum sehat banget, akhirnya aku mulai pusing sekitar jam 12. Setelah makan siang pun, pusingku nggak mereda. Setelah sholat ashar, aku mencoba tiduran di musholla, juga nggak membawa hasil. Akhirnya aku ijin pulang lebih cepat, jam 16.30 aku sudah sampai rumah.
Di perjalanan pulang, aku sempat meneteskan air mata lagi, karena aku sangat berharap nggak membuat bapakku kecewa lagi, karena aku merasa bapakku agak sedih juga setelah aku keguguran kemarin dan juga ada kista yang harus diangkat. Aku sendiri nggak terlalu terobsesi untuk mendaftar sebagai dosen, karena aku merasa kondisiku saat ini belum memungkinkan, baik kondisi eksternal maupun internal (baca: kesehatanku).

Alhamdulillah sampai di rumah, aku langsung ketemu bapakku. Aku langsung berbicara seolah tanpa beban, menjelaskan bahwa lowongannya hanya ada satu di fakultasku dan kemungkinan besar sudah ada calon kuatnya. Bapakku juga langsung menjawab "ooh..berarti memang udah di-plot untuk calonnya itu ya?" 
Aku sedikit menjelaskan. Setelah agak lega bicara dengan bapakku, aku pikir pusingku bisa hilang. Ternyata nggak hilang juga.
Setelah sholat Isya dan malamnya diajak makan di luar berdua sama suamiku, aku bicara banyak dengan suamiku. Tapi pusingnya tetap ada. Dia juga dengan sabar (meski kadang konyol) menasehati aku. Suamiku bilang bahwa pikiranku terlalu rumit, hal kecil bisa dipikirkan terlalu dalam. Aku sih bilang, memang minggu2 ini aku lebih banyak menggunakan perasaan alias lebih sensitif. Suamiku bilang bahwa bapak pasti juga sedih waktu aku keguguran, tapi bapak pasti juga nggak sampai stres seperti aku. Begitu juga dengan lowongan dosen itu, bapak pasti juga nggak akan kecewa yang sampai berlebihan. Karena menurut suamiku, bapakku bukan tipe seperti aku. Ya iya lah...mereka kan laki2...lebih pakai logika daripada perasaan :p

Aku sendiri merasa mungkin belum waktuku untuk mendaftar sebagai dosen. Hey...I'm still 26, right? Calon kuat alias mentorku ini sudah berusia 33 tahun dan ada kakak kelasku yang juga menjadi dosen di umurnya yang ke 29.

Alhamdulillah lagi, suamiku selalu mendukung aku. Dia tahu posisiku dan juga kondisiku. Aku sangat bersyukur dia tipe orang yang nggak mudah panik dan stres seperti aku, selalu bisa melihat sisi positifnya, beda juga sama aku :)
Setelah malam, aku minta diukur tekanan darahku oleh bapak, sambil ngobrol2. Ternyata aku pusing karena hipotensi alias tekanan darah rendah. 

Setelah minum kopi dan bicara banyak dengan bapakku, perasaanku sudah mulai lega.
Alhamdulillah...

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review