Post Curretage Day 1

What do I suppose to feel? How do I suppose to act? 
Semua orang berkata, sabar, ini adalah jalan terbaik, ada rencana Tuhan yang lebih baik nantinya, everything happens for a reason...
Aku tahu!!
Aku nggak mau bersikap sedih, meratapi nasib, menyalahkan siapapun atau menyalahkan keadaan, mencari apa yang salah, kenapa ini terjadi. Aku tahu, semua ini ada hikmahnya. Aku tahu!
Tapi aku juga nggak mau bersikap seakan2 kuat, seakan2 semuanya baik2 saja, bahwa aku baik2 saja, bahwa aku adalah orang yang sabar dan ikhlas menjalani ini semua, bahwa aku salah seorang umat yang percaya akan kehendakNya. Aku tahu itu semua! Tapi aku nggak mau sok seperti itu, karena aku cuma seorang manusia biasa.
Aku memang nggak sedih sangat, sampai2 meratapi nasib. Tapi bukan berarti aku nggak sedih kehilangan calon janinku yang 4 minggu terakhir sudah aku ajak ngobrol, aku ajak dia mengenal kehidupan calon ibunya, bagaimana aku mulai sadar bahwa aku memasuki tahap selanjutnya, bahwa aku akan memiliki seseorang untuk aku rawat dan aku bimbing, sadar bahwa aku akan memiliki sebuah tanggungjawab baru yang besar.
Setiap kali aku mengungkapkan perasaanku atau kekhawatiranku ke suamiku, aku takut dia akan merasa aku seperti mengeluh. Tapi kalau aku bersikap biasa, itu bohong kalau aku mengaku nggak ada perasaan yang berubah.

Sampai saat ini pikiran dan hatiku masih ingin aku kosongkan. Aku bahkan nggak punya keinginan untuk rencana karirku ke depan, nggak usah terlalu jauh, aku bahkan nggak ingin memikirkan apa yang harus aku lakukan atau putuskan dengan pekerjaanku, yang notabene long-hours dan banyak tugas luar.

Satu lagi yang membuat aku sedih adalah besok, tanggal 4 Oktober 2010 adalah first anniversary pernikahan kami. Apalagi yang aku harapkan?? Suamiku mungkin terlalu banyak yang dipikirkannya terkait rencana operasiku juga. Sementara aku, nggak ada lagi yang bisa aku lakukan.
 
Entahlah...

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives