Saturday, October 2, 2010

Selamat Jalan, Dekcil 2..

Sampai dua hari yang lalu semua terasa berjalan sempurna, dan aku berusaha untuk menjalani yang terbaik. Tapi mungkin Allah berkehendak lain. Jumat pagi tanggal 1 Oktober 2010, saat aku berganti pakaian untuk kerja, tiba2 aku merasa ada yang merembes dari bawah sana. Rasanya seperti mens. Aku periksa, dan memang benar, itu darah segar. Meskipun sedikit, aku mulai panik. Tapi aku berusaha tenang. Siapa tau itu memang gejala yang wajar pada kehamilan. Aku telpon suami dan menceritakannya. Kemudian aku telpon dokter obsgyn-ku. 
Kata dokterku, kalau darahnya sedikit, aku cukup istirahat dan malamnya diperiksa. Tapi kalau banyak, diperintah langsung ke RS. Mengingat aku hamil dengan kondisi adanya kista endometriosis, sepertinya wajar kalau aku berpikiran negatif.
Malamnya, aku diantar suami, bapak dan adik, periksa ke dokter. Setelah dilakukan USG luar dan USG transvaginal, diketahui bahwa janinku tidak berkembang, malah justru mengecil. Kaget dan sedih, pasti.
Setelah itu dijelaskan bahwa kista endometriosis mengeluarkan toksin, nah toksin ini yang menyebabkan janinku nggak bisa tumbuh. Selain itu ditemukan lagi 1 myoma baru. Jadi total ada 2 myoma dan 1 kista endometriosis, meski aku belum tahu dimana saja letaknya. Yang pasti letaknya akan mempengaruhi perkembanganku selanjutnya. Aku belum berani memikirkannya.
Saat itu juga dokter menyarankan untuk dikuret, aku langsung setuju, karena memang pendarahanku nggak berhenti, meski keluarnya sedikit2.
Jadi dipastikan besok paginya jam 7 aku harus kuret di RS Darmo.
Malam sebelumnya aku nangis2, stres dan bingung, tapi juga capek dengan semua perasaanku yang kacau balau itu. Akhirnya Sabtu tanggal 2 Oktober 2010 jam 6 pagi kami berangkat dari rumah. Aku sudah nggak punya perasaan dan pikiran apa2 lagi. Ini kehamilan pertamaku dan ada semua macam kondisi ini. Wish my mom were here..
Aku diterima di tempat penerimaan pasien operasi. Setelah menunggu sekitar 15 menit dan mengganti pakaian dengan pakaian operasi (alias telanjang bulat, hanya menggunakan selembar pakaian operasi), aku masuk ke kamar operasi. Rasanya dinggiiiinn sekali...selain itu aku mungkin juga takut (seumur hidup baru kali ini masuk kamar operasi, as a patient, of course), sampai2 waktu aku disuruh tiduran di meja gynec, badanku bergoyang gemetar. Benar2 gemetar, sampai2 terlihat dengan jelas, bahkan aku sendiri tidak bisa mengontrol tubuhku sendiri.
Aku berusaha menarik nafas panjang, tapi tetap saja badanku gemetar. Dengan posisi tiduran, kakiku mengangkang ke atas, kedua tangan direntangkan ke samping, rasanya powerless...
Setelah obat bius dimasukkan, aku mulai merasa agak tenang dan tanpa terasa sudah tertidur.
Mungkin sekitar 15 menit rasanya aku tertidur mati, kemudian aku merasakan tidur yang nyaman. Ternyata waktu aku dibangunkan oleh perawat, aku sudah berada di ruang pulih sadar (recovery room). Waktu sudah menunjukkan jam 8.45. Berarti aku tertidur sekitar 1 jam.
Tapi alhamdulillah aku merasa lega, sudah melewati satu tahap yang mengerikan. Entah tahap apa lagi yang ada di depanku.
Aku masih belum berani untuk berpikir ke depan.
Yang jelas, sampai di rumah, setelah makan dan memulihkan kekuatanku, suamiku bilang jaringan yang dikuret dibawa pulang. Tentu saja jaringan itu adalah Dekcil 2, meskipun dia belum berbentuk manusia apalagi bernyawa. Tapi tetap saja aku merasa dia adalah calon janinku dulu. Akhirnya kami menguburkannya di halaman depan rumah kami.
Selamat jalan, Dekcil 2...

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review