A Week After

Hari ini satu minggu yang lalu, aku menjalani kuret di RS. One of my most horrible day in my life. Bukan hanya prosesnya, tapi lebih pada apa yang aku rasakan dan aku pikirkan malam sebelumnya.

Aku merasa it was the end of my life. Well, mungkin terdengar over-dramatic, tapi heii..apa yang seharusnya aku rasakan saat aku mendengar bahwa janinku tidak tumbuh, kami harus menggugurkannya dan juga ada kista di rahimku yang berisiko membuat aku sulit untuk hamil, at least aku harus menjalani operasi pengangkatan kista dan diprogram untuk hamil? All in one night?
It was too much for me, then and now, I think.

Meskipun beberapa hari sesudahnya aku fokus untuk menyembuhkan tubuhku dulu, tapi pikiranku masih tetap menjalankan tugasnya, thinking all my worries.
Semua terjadi pada tanggal yang aku anggap istimewa. Tanggal 2 Oktober, hari aku kuret, adalah tanggal pernikahan mama dan bapak, juga tanggal pengajianku sebelum menikah. Tanggal 4 Oktober kemarin adalah ulang tahun pernikahanku yang pertama. Apa yang bisa aku harapkan lagi di ulang tahun pernikahanku yang pertama, saat tubuhku masih menyesuaikan diri paska kuret?
It supposed to be special.

Akhirnya hari ini, setelah melewati banyak proses menangis, bersedih, menyesali, khawatir, bingung menyalahkan siapa, khawatir akan masa depan, beberapa hari ini aku merasa aku tidak mau stres memikirkan hal itu, tapi juga tidak mau berharap berlebihan.
Aku nggak tahu lagi apa yang harus aku pikirkan. Aku menghindari semua kegiatan di hidupku, seperti kerja, menjalankan bisnis online-ku, keep in touch in social networking, etc.

Aku merasa kehilangan semangat hidup, bukan berarti aku menyesali aku hidup atau semacamnya. Aku cuma tidak punya semangat untuk aku terlihat lebih "hidup".

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives