Misty Monday

Hari ini aku bersemangat untuk kerja, meskipun aku agak ragu dengan apa yang akan aku kerjakan hari ini. Karena aku hanya masuk kerja 2 hari minggu lalu. Aku berhasil berangkat lebih awal dari rumah, mampir ke bank untuk menabung, kemudian baru ke kantor.
Sayangnya di kantor masih sepi sesampainya aku di sana, bahkan saat itu listrik mati. Nggak tanggung2, listrik mati selama dua jam lebih, sampai jam 12.30. Otomatis, aku nggak bisa mengerjakan apa2. 

Kedua big boss-ku baru datang setelah maghrib. My biggest boss sempat menanyakan kabar bapakku. Kemudian kami mengadakan rapat untuk membahas sebuah proyek baru yang kemungkinan akan melibatkan sebagian besar staf. Proyek ini melibatkan sebuah RS swasta di Mojokerto. Aku ingin sekali bisa memegang suatu tanggungjawab dalam proyek ini, karena saat ini aku cuma memegang 1 proyek saja. Bukan berarti aku ingin menjadi seperti para bos-ku itu yang super sibuk, aku cuma merasa aku masih mampu memegang proyek lagi, asalkan nggak meninggalkan keluarga terlalu lama secara geografis. Di sisi lain, aku sendiri merasa nggak yakin para bos-ku itu akan mempercayakan sebuah tanggungjawab lagi. Bukan karena kinerjaku yang jelek, tapi lebih karena masalah kesehatanku.

Tadi aku sudah mendiskusikannya dengan suamiku. Dia mendukung aku untuk mengemukakan keinginanku. Apapun jawaban atau respon bosku, itu urusan nanti. Selain itu aku juga menceritakan kegalauan hatiku, mengenai pikiran atau perasaanku terhadap bapak. Aku merasa bersalah kalau2 sakitnya bapak itu karena memikirkan aku. Ya terdengar GR, tapi aku nggak bisa menghilangkan rasa bersalahku itu. Suamiku meyakinkan aku bahwa bapak sakit bukan karena aku. 

Semoga itu semua benar. Semoga bapak nggak terlalu memikirkan apapun yang bisa merugikan dirinya sendiri. 

Satu hal lagi yang aku bicarakan dengan suamiku, nggak bertele2 seperti biasanya, aku langsung mengungkapkan bahwa aku agak sedikit takut dengan hasil pemeriksaan dokter obsgyn nanti. Suamiku cuma bilang kita sudah berusaha semaksimal mungkin, tinggal menunggu hasilnya saja. Apapun hasilnya semoga diberi yang terbaik oleh Allah. Sudah itu saja. Aku juga nggak mau memperpanjang ketakutanku ini. Aku pasrahkan hasilnya sama Allah. Dalam hati aku juga berkata, maafkan aku ya Allah, aku ini cuma manusia biasa, yang tetap saja mempunyai rasa takut dan khawatir, meskipun aku sudah berusaha ikhlas. Semoga Allah memaklumi kelemahanku.

Ya Allah, lindungilah kami sekeluarga baik dari gangguan setan maupun cobaan dalam bentuk apapun yang di luar kemampuan kami. Bimbinglah kami untuk selalu berada di jalanMu. Amin ya Robbal 'alamiin..

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives