Saturday, November 20, 2010

Fury Friday

Harus aku akui, kemarin (jum'at) bukanlah hari yang cukup menyenangkan. Aku kasih nilai 5 dalam skala 1-10. 

Sebenarnya aku berencana untuk periksa lab sebelum berangkat ke kantor. Rencananya aku periksa di lab di RS tempat suamiku kerja. Jadi paginya dia berangkat kerja sambil membawa surat rujukannya. Ternyata dia mengabarkan kalau untuk pemeriksaan itu, aku harus puasa minimal 10 jam. Jadi tentu saja nggak bisa aku lakukan pagi itu, karena aku sudah sarapan. Jadi petugas lab menyarankan untuk periksa lab keesokan harinya. Nah, aku pikir periksa lab bisa dilakukan kemarin, dan hasilnya bisa keluar malamnya. Jadi kan malamnya aku bisa langsung ke dokter obsgyn-ku lagi untuk penjadwalan operasi.

Di tengah kebingungan itu, salah satu teman kerjaku menyarankan untuk sms dokter obsgyn-ku aja untuk menanyakan apakah perlu puasa. Baru dijawab setelah jum'atan, jawabnya nggak perlu. Langsung aja aku telpon suamiku. Tapi sayangnya petugas lab-nya tetep keukeuh bahwa aku harus puasa kalau melakukan pemeriksaan itu. Aku jadi agak stres, jadi aku telpon ke lab2 lain untuk menanyakan. Tapi kurang jelas. Jadi aku langsung ke RS suamiku untuk ambil kertasnya dan langsung menuju dua lab lainnya. Tapi ternyata jawabannya sama semua. Aku jadi bingung, apa mungkin dokterku lupa pemeriksaan apa aja yang harus aku jalani?
Jadi aku kesana kemari sampai jam 15 dan baru makan siang setelah itu. Capek mental dan fisik. Bahkan salah satu teman kerjaku juga mengatakan demikian, aku terlihat stres dan terdengar marah waktu menelepon lab.

Bukan hanya itu, sejak paginya, suamiku tiba2 berubah jadi diam. Aku tau sifatnya. Itu berarti dia merasa kecewa atau marah sama aku. Yang bisa aku duga, dia marah soal pemilihan tempat aku operasi nanti, karena itu terkait dengan biayanya. Jadi sejak kemarin aku terus menerus memikirkan apa penyebab dia marah, kenapa dia marah dan apa hikmah dibalik marahnya. Selain itu pikiranku juga mulai memikirkan hal2 negatif lainnya, seperti dia suka dengan teman kerjanya (yang aku tau memang dia agak mengaguminya), kemudian dilanjutkan dengan apa tindakan yang akan dilakukannya kalau perasaan sukanya berkembang. Aku jadi membandingkannya dengan kasus lamaku, meski aku berada di posisi wanitanya. Aku jadi berpikir apakah ini lingkaran setan? Dulu ada suami orang yang suka aku, sampai2 istrinya marah2 ke aku. Apakah ini harus berlanjut dengan keluargaku juga? Astaghfirullahaladzim...naudzubillah min dzalik..

Akhirnya pagi ini aku merasa benar2 capek dan menyerah. Apalagi tadi malam aku mimpi suamiku meninggalkan aku, dan ada laki2 lain yang menerima aku. Rasanya sangat nggak enak. Jadi pagi ini aku udah pasrah, aku periksa ke lab, dan menjalani semua prosedurnya. Meskipun suamiku masih tetap saja bersikap diam, nggak seperti biasanya. Aku pasrah, aku terlalu capek untuk bereaksi.

Ada satu hal yang untungnya masih tertanam di otakku, bahwa nggak ada kebahagiaan yang abadi, begitu juga nggak ada penderitaan yang abadi. No absolute happiness, no absolute misery. Aku cuma harus menjadi kuat untuk melalui ini semua, karena ini semua pasti ada akhirnya, dan pasti berganti dengan suatu kebahagiaan.


Ya Allah sudah kuserahkan semua padaMu, terserah padaMu sekarang...

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review