Saturday, November 27, 2010

Surgery

Ini ceritaku mulai hari rabu. Aku masuk kantor setengah hari, aku ijin pulang jam 3 sore. Kemudian tidur sebentar. Jam 7 malam, aku makan malam dan bersiap2 untuk menuju RS.
Sampai di RS jam 8 malam lebih, aku langsung diarahkan ke kamar bersalin (VK) untuk penerimaan pasien rawat inap. Di VK dilakukan pendataan awal dan pencukuran bulu pubis. Adik, bapak dan suamiku menunggu di luar.

Jam 9 malam, aku sudah mulai masuk kamar. Jam 10 lebih, adik dan bapakku pulang. Jam 10 malam aku sudah mulai puasa, meskipun sebenarnya jam terakhir untuk makan adalah jam 12 malam (karena aku operasi jam 6 pagi, jadi harus puasa). Tapi ternyata aku sulit tidur sampai jam 12 malam baru aku bisa tidur.

Hari kamis jam 25 November 2010 jam 4 pagi aku sudah bangun, untuk BAB dan mandi, kemudian sholat subuh. Karena jam 5 pagi aku sudah harus ada di VK untuk persiapan operasi jam 6. Sesampainya di VK, aku langsung disuruh ganti baju operasi dan dipasang infus.
Jam 05.45 aku sudah disuruh masuk kamar operasi (OK). Di OK aku langsung ditidurkan di meja operasi dan dipasang kateter.
Pemasangan kateter dilakukan sebelum aku dibius, jadi kerasa banget nggak enaknya.
Setelah itu jam 6 kurang, dokter anestesi sudah mulai memperkenalkan diri. Dan berjanji bahwa suntik biusnya adalah bius spinal (tulang belakang) nggak akan sakit. Posisinya adalah aku miring ke kiri, dengan kaki ditekuk ke depan (aku memeluk kakiku). Dokter anestesi di belakangku mulai memberi alkohol di area tulang punggungku. Dan mulai menyuntikkan obat biusnya. Rasanya sangat nggak enak, karena ada cairan dingin yang masuk ke tulang belakang (padahal tulang belakangku juga skoliosis).


Setelah itu aku dikembalikan ke posisi telentang. Tapi karena kakiku sudah terasa berat, maka kakiku dibantu digerakkan oleh perawatnya. Setelah itu, dengan posisi telentang, kedua tangan juga ditelentangkan ke kiri-kanan. Tangan yang kiri diinfus dan yang kanan dipasang alat tensi otomatis. Setelah itu dipasang penyekat besi diantara dadaku sehingga aku nggak bisa melihat ke bagian perut ke bawah. Bagian bawah mualai dari bawah dada ke kaki sudah mulai menebal, mulai mati rasa. Tapi bagian atas masih sadar. Setelah itu aku disunik obat tidur lewat infus di tangan kanan. Waktu itu aku masih merasakan geli karena dr. Hari mulai mengoleskan betadine ke area operasi (meski aku nggak bisa melihatnya). 
Setelah itu, dokter anestesi meminta ijin memasang selang oksigen ke hidungku. Rasanya nggak enak, karena udara yang keluar dari selang terlalu dingin untuk aku hirup. Jadinya aku sempat bernapas lewat mulut. Tapi nggak lama kemudian, kesadaranku mulai menurun. Dan tiba2 gelap dan berganti suasana. Aku berada di suatu ruangan yang berwarna putih kekuningan. Tapi ruang itu kosong tanpa ada pembatas sekat atau apapun. Waktu itu aku masih bisa berpikir (atau merasa?) "Ya Allah seperti inikah jalannya? Aku pasrah. La haula wala quwata illa billah. Laa illahailallah"


Setelah itu, aku nggak ingat apa2 lagi. Aku mulai sadar di ruang pemulihan. Waktu itu banyak perawat yang berada di sekitarku. Aku juga sempat melihat direktur RS (karena RS itu adalah RS klienku, maka beliau mengenalku), beliau berkata "oalah ini Andin to...makanya kok dikerubungi orang banyak". Aku nggak kuat menjawab apa2, aku cuma tersenyum.

Jam 08.30 aku ingat perawat memindahkan tubuhku di kamar perawatanku. Setelah itu aku tertidur lagi. selanjutnya...

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review