Fighting then Frozen

Dua hari ini aku agak malas menuliskan kegiatanku di blog ini. Bukan apa2, aku jadi berpikir, mungkin sudah saatnya aku berhenti menuliskan kegiatan dan perasaan harianku, karena belakangan ini perasaanku sudah relatif stabil (before I had a roller-coaster feelings towards my health). Aku ingin tulisan di blog ini membawa manfaat bagi pembacanya, bukan sekadar catatan harianku.
Hal ini perlu aku syukuri tentu saja, alhamdulillah...

Hari minggu lalu aku sempat bertengkar dengan suamiku. Alasannya sepele, dia mau pinjam mobilku (karena ada acara di tempat kerjanya), tapi aku keberatan karena aku baru saja mencucinya. Eh respon suamiku langsung marah, aku sendiri nggak ngerasa salah, karena aku sebal dengan kebiasaannya yang nggak rapi dan nggak teratur. Kebiasaannya itu membuat semua barang2nya di kamar maupun di mobil, harus aku yang membenahi atau minimal aku menyuruh suamiku untuk membenahi, itupun susah sekali baru dikerjakan.

Singkat cerita, kami diam2an selama hari minggu dan senin. Sebenarnya dia nggak diam sih, masih bercanda2 dengan adikku, tapi aku yang diam. Karena sejak awal bertengkar, aku ngerasa malas dengan pertengkaran kami. Karena (seperti biasa) siapapun yang salah, selalu aku yang "mendekati" duluan. Aku malas. Jadilah aku diam saja.

Aku pasrah dengan kondisi ini, karena aku sudah capek untuk bingung atau berusaha. Jadinya aku cuma mengerjakan kewajibanku ke suamiku, seperti menyiapkan sarapan, membersihkan kamar, dll. 

Aku sempat berpikir untuk berkonsultasi secara agama Islam, jadi aku browsing mengenai konsultasi agama. Aku malah membaca pertanyaan2 dari keluarga2 lain yang mempunyai masalah lebih berat daripada aku. Dan aku juga membaca jawaban2 konsultasi itu. Yang aku garisbawahi adalah semua permasalahan itu merupakan suatu ujian, yang bila dapat diselesaikan dan dilewati akan menambah pahala sang istri. Tidak serta merta mencari jalan pintas seperti perceraian. Dari situlah aku menyadari bahwa inipun merupakan salah satu ujian, meskipun kecil. Jadilah perasaanku lebih tenang, meskipun aku masih banyak diam dengan suamiku.

Senin malam, suamiku mulai "mendekati" aku. Aku tahu ego suamiku sebagai laki2 sangat tinggi, jadi dia "mendekati" aku dengan cara menanyakan soal HP atau hal2 yang nggak penting. Kemudian cara bicaranya sudah mulai manja. Sebenarnya lucu juga, tapi aku menahan diri. 

Sebenarnya aku ikhlas menerima suamiku apa adanya, asalkan nggak berkata kasar. Jadinya aku sudah mengikhlaskan masalah itu. Akhirnya kami sudah berbaikan hari selasa pagi, dan aku sudah mulai "lepas" hari selasa malam. Semoga ada pelajaran yang diambil oleh suamiku.
Alhamdulillahirabbil'alamiin..

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives