Thursday, December 9, 2010

My Career

Aku baru saja mendapat sms dari seorang teman. Dia baru saja lulus S2 dan dia mengatakan betapa sulitnya mendapatkan pekerjaan. Dia bahkan mau bekerja dengan gelar S1nya saja. Sebenarnya dia pernah bekerja di sebuah RS swasta besar di kota kami. Tapi kemudian resign dengan alasan ikut suami dan melanjutkan S2. Setelah lulus S2, dia sempat bekerja di sebuah klinik, tapi hanya bertahan beberapa saat.

Sebenarnya bukan hanya temanku ini saja, menurutku yang mempunyai masalah seperti ini. Aku pikir kebanyakan dewasa muda di Indonesia, terutama mungkin di kota besar, mempunyai masalah seperti ini. Kebingungan menentukan karirnya (bukan pekerjaan). Beda lho pekerjaan dan karir. Pekerjaan adalah milik perusahaan, karir milik setiap individu. Aku jadi berpikir, mungkin saja perjalananku bisa menjadi wacana bagi yang lain.

Setelah lulus S1, aku sempat bekerja di tim pendampingan puskesmas (milik dosenku). Tapi karena mama meminta aku untuk melanjutkan S2 (karena menurut mama, aku masih terlalu muda untuk bekerja, lulus S1 aku umur 21 tahun), akhirnya aku asal2an daftar S2, tapi aku pilih yang memang aku suka, yaitu MARS (Magister Administrasi Rumah Sakit). Meskipun MARS mempunyai kesan eksklusif dan sulit, aku cuek aja.Ternyata aku lolos, dan diharuskan untuk magang di RS selama 1 tahun. Tentu saja aku harus mundur dari pekerjaan pertamaku.

Magang di RS ini banyak pengalaman yang aku peroleh. Inilah pengalaman pertamaku di dunia kerja, dimana nggak semua orang yang terlihat "manis" itu benar2 "manis". Di sinilah aku mulai bersentuhan dengan "like and dislike", "budaya yang salah", padahal ini instansi yang membawa nama agama. 

Setelah selesai magang 1 tahun, aku sempat kosong selama 3 bulan, kemudian aku bekerja di RS swasta (bersaudara dengan yang pertama). Tapi aku menganggap pekerjaan kali ini sangat serius. Namun lagi2 aku harus kecewa, karena banyak pengalaman "pahit" juga yang aku alami di sini. Salah satunya adalah pengalaman ini. Padahal waktu itu aku juga masih kuliah S2 dan mamaku sakit, hingga akhirnya meninggal.


Setelah lulus S2, aku sempat bertahan di sana selama 3 bulan, kemudian aku mengundurkan diri. Ternyata namaku semakin buruk di sana, aku dianggap sebagai orang yang nggak tahu diri, dll. Alasan utamaku resign adalah aku nggak sanggup lagi bekerja di lingkungan seperti itu, meski aku nggak bilang alasan sesungguhnya ini saat resign.

Iseng2 aku sms temanku di kantor konsultan dan aku disuruh memasukkan lamaran. Jadi aku keluar dari RS pada bulan Desember 2009 dan aku sudah mulai kerja sebagai konsultan di Januari 2010.


Berbagai pertimbangan sudah aku bicarakan dengan suamiku. Suamiku tahu aku lebih suka ke arah pendidikan, entah itu sebagai pendidik, konsultan, dan sejenisnya. Sebagai konsultan, tentu saja aku diwajibkan untuk terus meng-upgrade ilmu. Meskipun kelemahan pekerjaan ini adalah jam kerjanya sampai malam, tapi aku pikir itu terbayar dengan fleksibilitas waktu kerjanya. Di kantor ini, kami bisa lebih fleksibel mengatur jadwal apabila memang ada kebutuhan lain, asalkan proyeknya tetap berjalan.


Kesimpulan yang aku dapat sampai saat ini adalah: kita harus tahu apa yang kita mau. Jenis karir seperti apa yang kita mau. Dan apa yang menjadi kriteria utamanya. Misalkan kriteria utamaku adalah di bidang yang sesuai dengan ilmuku dan waktu yang fleksibel. Kalau kriteria utamanya adalah uang, mungkin pilihan bekerja di kantor konsultan ini kurang menarik. Banyak juga temanku S1 yang bekerja di bank, asuransi atau lembaga pendidikan bahasa inggris. Mungkin teman2ku mempunyai prioritas yang lain, misalkan gaji: "Asalkan gajinya besar, pekerjaan apapun nggak masalah". Jadi menurutku, pilihlah apa kriteria utama yang harus ada di karirmu. Kemudian jalani karir pilihanmu sepenuh hati, karena nggak ada pekerjaan yang sempurna.


Once again, life is about choices, right?

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review