Tuesday, December 7, 2010

The Reason I Chose My Husband

Ada pertanyaan yang menggelitik dari seorang temanku yang sudah ditanyakannya dua kali padaku. Kenapa aku memilih Adi sebagai suamiku? Menurut temanku, aku bisa mendapatkan yang "jauh lebih" daripada Adi, "lebih" menurut kriteria temanku.

Sebenarnya dia juga bukan pria yang sempurna, karena menurutku memang nggak ada yang sempurna di dunia ini. Terdengar klise, tapi memang itu benar.


Aku dan Adi pertama kali jadian tahun 2004, 6 bulan setelah aku putus dari pacarku sebelumnya dan 3 bulan setelah dia putus dari pacarnya. Waktu aku putus dari pacarku yang terakhir, aku sangat sakit hati, karena waktu itu adalah pertama kalinya aku menganggap serius hubunganku. 


Sejak jadian di tahun 2004 sampai akhirnya menikah di tahun 2009, kami sudah mengalami sangat banyak sekali pertengkaran. Tapi kami nggak pernah putus, cuma sekali sekitar tahun 2006-2007, dan hanya bertahan 4 jam. 


Seringkali aku merasa nggak tahan dengan dia setiap kali bertengkar (mungkin dia juga begitu), tapi entah kenapa aku nggak bisa lepas dari dia.
Yang aku suka dari dia adalah dia berjiwa pemimpin (bisa dilihat dari pengalaman organisasinya sebagai ketua Pecinta Alam, presiden BEM dan berbagai jabatan ketua lainnya), dia juga yang menulariku kesenangan berorganisasi. Aku mulai aktif di keorganisasian memang sejak kuliah.


Selain itu, dia tipe laki2 yang nggak suka banyak omong dan banyak teori, dia lebih suka langsung dikerjakan/dipraktekkan. Jadi dia nggak pernah suka mengungkapkan rasa sayang lewat kata2, tapi langsung ditunjukkan. Bukan dengan perbuatan romantis yang disengaja, tapi lebih ke arah, dia selalu ada untuk aku waktu aku ada masalah, minimal dia selalu memberikan solusi.


Dia juga tipe orang yang selalu berpikir positif dan berani mengambil risiko. Dalam hal ini dia berbakat dalam bisnis. Dan dia selalu berusaha sungguh2, bahkan waktu dia masih kuliah.


Memang kelemahan2 dia juga banyak. Dia orang yang keras, kurang bersih, pelupa dan tidak teratur. Tapi alhamdulillah terutama sejak menikah (tinggal bersama), kekerasannya mulai berkurang, karena aku selalu mengajaknya bercanda. Sejak menikah, aku juga sedikit2 membiasakan untuk menjadi lebih bersih dan teratur.

Tapi aku sendiri juga punya kelemahan, seperti: aku orang yang ragu2, takut ambil risiko, kurang bisa optimis, kurang dewasa. Tapi lama kelamaan aku juga mulai tertulas pola pikirnya. Aku rasa memang itulah tujuan pernikahan, mencari persamaan visi misi dan tujuan, dan saling melengkapi dan saling memperbaiki untuk mencapai tujuan tersebut.


Sejak jadian tanggal 4 Mei 2004 dan kemudian menikah tanggal 4 Oktober 2009, kami sudah melewati berbagai perjalanan, baik yang menyenangkan maupun tidak. Semua perjalanan itu menjadi suatu pelajaran bagi kami untuk terus berkembang bersama. Dan aku bersyukur atas itu.

Alhamdulillahirabbil'alamin..

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review