Monday, January 10, 2011

Sorry..we're not perfect either..

Aku menuliskan ini bukan dengan niatan untuk membuka aib keluarga kami, ataupun suamiku. Aku menuliskan ini sebagai catatan kami, juga sebagai bukti bahwa kami pasangan biasa. Aku nggak ingin sok terlihat selalu romantis, karena kami juga bukan pasangan sempurna.

Sebenarnya aku sudah tahu karakter suamiku sejak kami pacaran 6,5 tahun yang lalu. Suamiku berkarakter keras (yang sedikit demi sedikit bisa aku ubah), bahkan semua teman kuliahku heran waktu kami jadian. Karena karakterku jauh berbeda dengan dia, aku sangat ramai dan senang bercanda.

Tahun2 awal pacaran, kami sangat sering bertengkar. Tipe marahku adalah mudah marah, tapi mudah juga melupakannya. Sedangkan dia kebalikanku. Dia nggak mudah marah, tapi sekalinya marah, sangat susah untuk membuatnya kembali seperti semula. Jadi di awal2 pacaran, selalu aku yang "mendekatinya" untuk membuatnya luluh. Dan itupun nggak mudah.

Tapi entah kenapa, kami hanya putus satu kali selama masa pacaran 5,5 tahun. Dan itupun hanya 4 jam, kemudian kami jadian kembali. Jujur saja, kami pernah mengalami masa jenuh saat bertengkar.

Bahkan 1 minggu sebelum menikah, kami juga masih sempat2nya bertengkar. Waktu itu bertengkar lewat telepon sampai jam 3 pagi, aku sampai berpikiran ingin mundur dari pernikahan itu. Tapi otakku buntu karena tinggal 1 minggu lagi. Ternyata sorenya aku langsung jatuh sakit, german measles. Seminggu penuh badanku merah, bengkak dan panas. Padahal sudah menjelang pernikahan. Mungkin dia juga merasa bertanggungjawab, akhirnya dia mengantar aku ke dokter, merawat aku di rumah, sampai H-2 pernikahan aku sudah membaik.

Dia jarang sekali mengucapkan kata maaf, aku tahu dia memang bukan tipe yang bisa berkata2, tapi lebih pada perbuatan. Tapi aku pun manusia biasa, yang kadang butuh pengakuan secara verbal.
Jadi pada saat marah, aku selalu merasa apa yang aku lakukan diluar masa pertengkaran kami, lenyap begitu saja. Semua kata2 yang diucapkan pada saat marah, sangat menyakitkan. Pada saat2 seperti itu, aku selalu berpikir, kalau memang aku nggak ada baiknya di mata dia, kenapa dia masih tetap mempertahankan aku? Bahkan pernah dia menggunakan kata2 kasar (yang selalu aku tolak dan aku memperingatkannya untuk nggak bicara seperti itu lagi) dan juga menyakiti dirinya sendiri, misalnya meninju tembok dengan tangannya dan membenturkan gelas tupperware ke kepalanya (alasannya saking sebalnya dengan aku).

Tapi kelemahanku adalah nanti pada saat dia sudah membaik dengan sendirinya, aku pun dengan mudah memaafkannya. Itu pun yang terjadi setelah kami menikah. Memang kondisinya jadi berbeda, karena sekarang kami tinggal serumah. Mau nggak mau, kami pasti bertemu. 

Itu juga yang terjadi kemarin malam. Awalnya kami baik2 saja. Dia sedang nggak enak badan, jadi meskipun hari minggu, kami nggak kemana2. Malamnya kami sepakat untuk keluar sebentar untuk membeli sweater untuk dia. Sepulangnya, dia pamit mau ke warnet sebentar. Aku sudah mengingatkannya untuk jangan pulang malam2 karena dia masih sakit.
Ternyata 1 jam berlalu dia belum pulang juga. Aku sms, ternyata dia masih bertemu dengan kakak teman dekatnya. Teman dekatnya ini, sebut saja Arya, adalah teman SMA suamiku. Aku juga sudah lama diperkenalkan ke dia.

Ada satu kejadian yang membuat aku kurang suka dengan Arya ini. Dia dulu sering bermasalah dengan pacar2nya, sampai2 dia membuat statement bahwa cewek kota besar memang menyusahkan, keras kepala, dan lain yang jelek2. Bahkan suamiku waktu bertengkar dengan aku, sampai2 membawa2 statement itu. Itu sudah terekam di otakku.

Kemudian Arya menghilang dari kehidupan kami. Tiba2 ada kabar dia sudah menikah dengan cewek Jakarta. Pertamanya aku biasa saja. Aku memang nggak ada dendam atau apapun ke dia. Tapi belakangan ini dia sering kontak suamiku lagi. Bahkan yang membuat aku bertengkar dengan suamiku adalah dia meminjam kartu kredit suamiku untuk membelikan Blackberry istrinya. Aku baru tahu setelah itu terjadi. Aku sebenarnya marah karena:
  1. Suamiku nggak bilang aku sebelumnya (tapi kata suamiku, dia sudah pernah bilang ke aku, mungkin aku yang nggak dengar. Tapi aku benar2 merasa nggak pernah diberitahu oleh suamiku)
  2. Aku jadi semakin kecewa setelah tahu pinjamnya untuk beli Blackberry. Menurutku itu benar2 bukan suatu kebutuhan yang primer. Aku aja nggak punya Blackberry! Alasan suamiku Blackberry itu untuk pekerjaan Arya, tapi sayangnya istrinya nggak pengertian sehingga minta tukar. Istrinya yang pake BB baru, sedangkan Arya pake yang lama. Aku nggak peduli dengan itu.
Jadilah kami bertengkar karena dua sudut pandang yang berbeda. Suamiku berniat menolong temannya. Tapi aku merasa nggak dihargai karena tanpa sepengetahuanku, apalagi untuk kebutuhan BB!

Sayangnya suamiku juga kukuh dengan pendiriannya, bahwa yang dia lakukan itu nggak salah, dia cuma mau menolong temannya. Sedangkan aku menilai suamiku dan temannya sama2 salah. Kenapa juga temannya nggak berpikir atau merasa malu dengan permintaan itu? Aku juga sebal dengan suamiku karena terlalu percaya dengan orang. Dan aku nggak mau itu terulang lagi.


Semalam aku menawarkan opsi untu berpisah sementara. Karena aku merasa dia nggak butuh aku, dan melihat sikapnya semalam, aku merasa dengan adanya aku cuma membuat dia menderita.


Sampai saat aku menulis blog ini, aku dan suamiku masih diam2an. Aku tahu dalam ajaran agamaku bagaimana kedudukan suami dan istri. Istri harus menurut pada suaminya, sepanjang bukan mengajak ke kemusyrikan. Tapi aku juga berharap suami dan istri bisa saling menghargai, bekerja sebagai satu tim. Bukan semena2 mengikuti salah satu pihak. Bukankah nggak mustahil seorang suami juga bisa melakukan kesalahan?


Aku nggak tahu bagaimana ini akan berakhir. Semoga Allah memberikan jalan yang terbaik bagi kami, apapun itu...

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review