Comfortably Confident

Alhamdulillahirabbil'alaminn...nggak henti2nya aku mengucap syukur atas segala hal yang telah diberikan oleh Allah.
Yang terpenting dari segalanya adalah kedamaian hati dan perasaan.

Mulai senin kemarin aku kembali ke pekerjaan kantor. Mulai menerima pengumpulan kuesioner dari surveyor2ku sampai mengecek kelengkapan kuesioner sebelum di-entry ke SPSS. Sempat ada masalah sedikit, yaitu ada satu pertanyaan yang menurutku nggak perlu terisi semua, hanya yang dibutukan oleh responden saja, namun kata teman2 kerjaku, pertanyaan itu harus terjawab semua. 

Sebenarnya aku sudah merasa cukup yakin dan sedikit keukeuh dengan pendapatku, karena aku tahu tujuan dari pertanyaan itu dan masuk di logikaku. Begitu pula teman2ku juga yakin dengan pendapat mereka, karena menurut pengalaman mereka menangani survey, pertanyaan sejenis itu harus diisi lengkap, apapun alasannya.

Itulah yang menurutku membedakan aku dengan mereka. Aku dituntut untuk menggunakan logikaku, pengetahuanku dan otakku, nggak sekadar menuruti apa kata bos, tanpa tahu logika di balik itu. Tapi tetap saja aku ada perasaan khawatir, karena memang ini pengalaman pertamaku bertanggungjawab atas sebuah survey. Jadi kemarin aku berusaha untuk diam dan tenang saja. Aku berniat mengklarifikasi dengan bos-ku. Kalaupun aku salah, aku terima sebagai suatu pelajaran berharga.

Kenapa aku sempat ragu juga? Karena ada seorang temanku yang surveinya disuruh mengulangi karena ada kesalahan (terlepas dari kesalahan apa dan siapa itu semua), tapi akibatnya dia disuruh survei lagi. Itu artinya mengulangi segalanya dari awal lagi. Aku nggak pingin seperti itu.

Alhamdulillah ternyata aku benar, pertanyaan itu nggak perlu terisi semua.

How's my love life? Yes, we made love two days ago, and it was comfortable for me :)

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives