Tuesday, August 30, 2011

Eid Mubaraak!

0 comments
Eid Mubaraak, everyone!

Meski aku mengikuti keputusan pemerintah, Idul Fitri dilaksanakan Rabu 31 Agustus 2011, tapi cukup banyak juga yang merayakannya hari ini: Selasa 30 Agustus 2011.

Sebenarnya tahun2 lalu juga seringkali seperti itu. Terutama untuk golongan Muhammadiyah. 
Pemerintah juga baru melaksanakan sidang isbath tadi malam atau Senin 29 Agustus 2011 jam 19.00 WIB.

Menurutku hal ini sangat membingungkan masyarakat awam, terutama seperti aku. Yang lebih membuat kesal adalah ada beberapa kabar yang simpang siur, terutama melalui BlackBerry Messenger Broadcast, yang mengabarkan bahwa Malaysia (yang notabene bertetangga secara geografis) merayakan Idul Fitri pada hari Selasa. Ada juga yang mengabarkan bahwa terlihat hilal di Jawa Barat pukul 22.00 WIB. Ada lagi yang menyebutkan bahwa pemerintah RI menyatakan permintaan maaf dan mengakui bahwa Idul Fitri seharusnya memang jatuh pada hari Selasa. Tentu saja ini membuat orang yang memilih merayakan Idul Fitri pada Rabu menjadi bingung, karena pada hari Selasa kami masih berpuasa.

Yang membuat semakin sebal adalah, beberapa orang meng-copy paste berita tersebut dan broadcast ke seluruh kontaknya. Seakan2 berita tersebut benar. Padahal aku tidak melihat berita tersebut di tv.

Dengan semakin canggihnya teknologi, begitu cepatnya berita tersebar, bahkan untuk berita yang belum jelas kebenarannya.
Aku pribadi, dari awal mengikuti hadist Rasulullah (yang aku tahu) bahwa sebaiknya pelaksanaan Idul Fitri mengikuti keputusan pemerintah, hal ini disebabkan karena hari raya Idul Fitri merupakan ibadah secara masyarakat, yang mempunyai dampak pada masyarakat luas.
Kalaupun negara lain memutuskan berbeda dengan negara kita,mungkin saja posisi geografis juga mempengaruhi penampakan hilal. Wallahu'alam bisshawab.


My lil sis and me :)

Me and my father

My lil sis and her brother-in-law a.k.a. my hubby

My hubby and me
Anyway, selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1432H. Taqobalallahu minna wa minkum, semoga Allah menerima semua amal ibadah kita selama Ramadhan, dan kita dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan. Amiin ya Rabbal'alamin..

Thursday, August 25, 2011

Busy day yesterday

0 comments
Hooookaay! Soo....yesterday was fun, and busy! 

Aku mengerjakan proyeksi keuangan (belakangan memang lebih banyak mengerjakan ini, which is actually I was allergic to it..ha!). FYI, aku memang alergi dengan keuangan/akuntansi/hal2 yang berbau ekonomi sejak dulu. Waktu sekolah dan kuliah, untungnya nilaiku nggak pernah jelek, meski juga nggak terlalu bagus, yang penting masuk syarat kelulusan. Sekarang karena pekerjaan, mau nggak mau aku harus menghadapinya. Setelah beratus-ratus kali mengerjakannya (dan tentu saja bimbingan dari seniorku), akhirnyaaa...aku sedikit paham (aku nggak mau terlalu pede untuk mengatakannya). It was exciting ketika aku menemukan apa yang perlu diperbaiki, darimana angka2 itu berasal, dsb. At least, aku sudah menemukan 'perasaan suka' itu.

Itu juga yang menyebabkan aku pulang terlambat kemarin, karena 'keasyikan'nya dan otakku mulai bekerja menjelang sore, beberapa jam sebelum jam pulang kantor. Ditambah lagi seniorku mau mendampingi aku (well, I'm not proud of it of course, cause it'll seems that I couldn't work by myself).

Pas lagi seru2nya berkutat dengan proyeksi keuangan, aku baru sadar kalau belum meminta pembantuku untuk membuat masakan yang dibekukan. Ha! Another business I've got to do!
Selain itu, adikku bbm kalau dia buka bersama dengan teman KKN-nya (which is a boy and they're only two of them, if you know what I mean). Okay, aku nggak keberatan dengan itu, sudah saatnya dia mengenal laki2 (meski mungkin termasuk terlambat). 

Tapiii......jam 21.30 dia belum pulang, bbm juga nggak dibalas. My own little sister who has never been dating in her whole life, suddenly turned into wild girl? Aku langsung terbayang masa SMA-ku, when I was so rebellious, I dated many guys, changed guys every other months, fought with my mom a lot (but not drugs, smoke and drunk...alhamdulillah).
I'm not proud with my past, though my past is what formed me into who I am now. Learned through the hard way, I guess.
Back to my sister, aku benar2 berharap dia nggak mengulangi kesalahan yang sama.

Wednesday, August 24, 2011

Hijab Fashion

0 comments
Alhamdulillah aku bisa merealisasikan niatku untuk membayar zakat maal. Dalam bulan Ramadan ini, aku mendapatkan berkah material cukup banyak, salah satunya adalah hasil proyek RS yang aku tangani.

Aku juga menemukan satu cara "melepaskan" doa kita agar perasaan kita lebh ringan. Aku menuliskannya di kertas dan membakarnya. Sebenarnya aku ingin mengirimkannya tanpa alamat, seakan2 mengirim surat kepada Allah. Dengan begitu kita akan merasa "pesanan" doa kita sudah terkirim, seperti kita membeli barang di online shop, sekarang kita tinggal menunggu "pesanan" kita datang. InsyaAllah...

Talk about online shop, gimana kabar online shop-ku? Well karena gencarnya orang yang berwirausaha, dan juga sedang booming-nya berhijab fashionably, begitu banyak orang di Indonesia (terutama Jakarta) yang membuka clothing line sendiri untuk hijab fashion. Ditunjang dengan fotografi yang bagus dan tutorial penggunaan shawl yang berani (tentu saja mereka juga cantik2). Jadi, harus diakui bahwa online shop-ku sekarang benar2 berperan hanya sebagai toko, yang artinya bisa disamakan dengan online shop lain.
Jujur, aku belum tahu.. Karena aku suka bidang ini, tapi untuk all out, aku masih belum berani dan juga aku masih bekerja sebagai konsultan manajemen RS di sebuah perusahaan.

Melihat booming-nya fashionable hijab di tanah air, aku ikut senang karena itu berarti kita nggak kalah dengan negara muslim lainnya, misalnya Malaysia. Bahkan sudah bermunculan hijabers community di kota-kota besar, salah satunya Surabaya. Sempat terpikir untuk bergabung, tapi lagi2 aku berpikir aku bukan tipe perempuan yang suka kumpul2 arisan atau acara2 cewek lainnya. Lagipula mereka jadi terlihat sama, terlalu mengikuti mode. Bahkan ada komentar yang sedikit "negatif", bahwa kegiatan mereka yang sarat "mempercantik diri".
Aku pribadi nggak berpikir sejauh itu, aku memang cuma kurang suka dengan kegiatan yang too girly like that. They're beautiful, but they're uniformed. CMIIW.

Tuesday, August 23, 2011

Confession of Mine

0 comments
Yes, I made some terrible mistakes in my past. Here are the list:
  1. I was not a good daughter for my mom for my whole life until she passed away. I fought with her almost all the time. If you want to read, click here.
  2. I was not a good daughter for my father either, but now I realize and try my best to be his best daughter.
  3. I messed around with some guys both for fun or seriously. And the last one was the worst case I've ever had. I regret it with my whole heart for this past two years. Even though he started first. My mistake was/is I wasn't able to be firm, I couldn't act right. But then this mistake affected my whole element in my life: family, friends, boyfriend, workforce. I didn't know if it was gonna be like this. It gave me a huge massive humility, embarrassment and all that decrease my value as a young woman. I yelled in my heart that it wasn't my fault. But then, after two years, my regret and my guilty feeling didn't disappear. More or less, part of it was my mistake.
And for this Ramadhan, my second Ramadhan after my marriage, after my "returned-insanity", after I grown-up and responsible, I'd love to apologize for all my mistakes.

I admit that I was naive, I was stubborn, I was selfish, I was arrogant and anything you could say. All I could say is I didn't mean to hurt anybody, I didn't know the effects, I didn't know how an adult should think and act.


So, from the deepest from my heart, I apologize for all my terrible mistakes. May Allah forgive all of our sins, and we could welcome Ramadhan with pure hearts.


xoxo,

andin  


written on Friday, 29 July 2011
originally from this blog

Job Trip to Papua

0 comments
Aku harus menuliskan semua pengalamanku di Bintuni sebelum aku lupa semua detil pengalamanku. Because it's a great experience for me!

DEPARTURE

Aku berangkat sesuai jadwal awalku yaitu hari Selasa tanggal 15 Maret 2011 jam 23.00 WIB. Aku sampai di bandara Juanda jam 21.30 WIB untuk check in terlebih dahulu. Untunglah aku datang jauh lebih awal, karena ternyata namaku tidak ada di daftar penumpang. Oya, seluruh transportasi dan akomodasi selama perjalanan menuju Bintuni ditanggung oleh British Petroleum (BP), perusahaan yang akan membantu pembangunan RS Bintuni dalam hal manajemennya. Itu sebabnya BP mengontrak kami sebagai konsultan manajemen RS.

Kembali ke masalah tadi, jadi kalau nama tidak ada dalam daftar, tentu saja tidak bisa ikut berangkat, apapun itu baik pesawat maupun boat (dari Babo-Bintuni). Jadi rute perjalananku adalah Surabaya - Biak - Babo - Bintuni.
Sebenarnya aku panik, tapi aku berusaha tenang. Aku kontak seorang penanggungjawab proyek ini di kantorku. Singkat cerita, namaku berhasil dimasukkan malam itu juga.
Setelah berpamit2an dengan keluargaku, dengan berat hati aku meninggalkan mereka. Rasanya sangat berat apalagi kami tahu kami tidak akan bertemu selama 1,5 bulan. Seumur hidupku belum pernah aku berpisah dari keluargaku lebih dari 1 minggu.

Pesawat take off jam 23.15 WIB. Sampai di Biak jam 05.00 WIT. Selisih waktu 2 jam antara Surabaya dan Papua. Di pesawat aku nggak bisa tidur sama sekali karena dingin dan masih merasa nervous. Ini perjalananku pertama kali yang harus menggunakan pesawat perusahaan (bukan komersil) dan banyak peraturan yang harus dipatuhi.

Di Biak, aku langsung melihat jadwal penerbangan ke Babo. Karena pesawat ke Babo lebih kecil, cuma menggunakan pesawat baling2 dengan jumlah seat sekitar 20, jadi ada beberapa kali penerbangan Biak - Babo. Ternyata aku dapat jadwal yang siang yaitu jam 10.00 WIT. Itu berarti sampai di Babo jam 11.30 WIT dan boat menuju Bintuni sudah tidak ada. Boat Babo - Bintuni juga hanya ada hari Senin, Rabu dan Jum'at dengan jadwal jam tertentu (hal ini lagi2 karena aku menggunakan boat khusus BP, bukan boat komersil). Sampai di bandara Babo, ada masalah lagi. Aku terhambat di Security karena aku tidak membawa Site Entrance. Sempat terhambat sekitar 30 menit karena aku kurang paham logat bicara orang Papua.

Lagi2 alhamdulillah aku berhasil menghubungkan contact person di BP dengan security tadi. Alhamdulillah lagi ternyata ada seorang petinggi BP juga yang mau ke Bintuni, sehingga aku dititipkan oleh seorang koordinator security bandara kepada petinggi tersebut.

Jadi aku sampai Bintu hari Rabu 16 Maret 2011 jam 14.30 WIT. Ini adalah rekor perjalanan tercepat di antara teman2ku. Bahkan contact person BP juga kaget setelah tahu aku sudah berada di Bintuni.

WEEK 1
Minggu pertama di Bintuni, aku masih sangat excited dan sangat semangat. Tidak bosan2nya aku melihat pemandangan yang asing buat aku. 
Ini rumah dinas tempat tinggal selama di Bintuni
Night at Bintuni's downtown










WEEK 2

 
Salah satu pelabuhan di Bintuni
Pada minggu kedua ini aku sempat stres, karena merasa asing dengan budaya kerjanya (yang terlalu santai), bosan dengan aktivitas yang itu-itu saja (satu2nya hiburan ya mencari makan malam). Selain itu, rumah dinasku sempat mengalami korslet, jadi tidak ada listrik sama sekali. Dan nggak tanggung2, ini terjadi selama 4 hari! Jadi kalau malam, kami menggunakan emergency lamp. Satu2nya hiburan kami di malam hari adalah dengan keluar mencari makan malam.

Other side of Bintuni Bay
Oya di Bintuni ini listrik dari PLN cuma ada dari jam 18.00 WIT sampai dengan jam 05.30 WIT. Di luar itu biasanya menggunakan genset, tapi juga kalau pas BBM tidak ada, genset juga nggak bisa nyala.

Mengalami hal yang jauh berbeda dalam jangka waktu yang cukup lama, membuatku stres juga.




WEEK 3

Minggu ketiga, aku mulai belajar untuk sabar dan ikhlas. Merasa bete ataupun nggak sabar ingin cepat2 pulang, nggak membantu apapun, malah semakin membuat kepalaku pusing. Meski mood-ku masih naik turun. 
Pada akhir minggu ketiga ini, tepatnya tanggal 6 April 2011, temanku yang datang sebelum aku, akan kembali ke Surabaya. Satu sisi, aku merasa sedih karena nggak ada teman seperjuanganku lagi. Di kondisi yang sangat beda ini, kami jadi sangat sering curhat membicarakan apapun. Namun di sisi lain aku senang, karena itu berarti aku sudah separuh jalan alias 3 minggu sudah terlewati.
Sayangnya air sedang keruh karena sering hujan


Di Toarai, salah satu tempat wisata di Bintuni












WEEK 4

Setelah mbak Via pulang, seharusnya teman berikutnya datang. Kalau sesuai jadwal, seharusnya aku cuma sendirian 3 hari. Tapi ternyata karena masalah boat yang tidak ada ke Bintuni, maka temanku baru datang Senin, 11 April 2011. Jadi aku sendirian 4 hari. Dua hari pertama aku masih ditemani seorang anggota tim pendirian RS yang menginap di rumah dinasku. Hari ke3 dan 4 aku benar2 sendirian. Nggak ada yang aku takutkan, karena dari dulu aku cenderung individualis alias mengerjakan semua sendirian. Tapi malam hari ke 4, tiba2 hujan sangat deras, nggak pernah terjadi sebelumnya selama aku di Bintuni. Waktu itu hujan deras disertai angin kencang, yang bahkan anginnya pun sampai terdengar, ditambah suara petir yang sampai menggetarkan rumahku. Ini bukan imajinasiku atau mencontek cerita di film apapun, ini benar2 terjadi.

Kuburan di Bintuni dibuat menyerupai rumah, lengkap dengan pintu dan jendelanya
Hujan deras itu terjadi 30 menit, sebelum kemudian lampu mati juga selama sekitar 45 menit. Darimana aku tahu? Karena sejak hujan deras mulaai turun, aku sudah punya feeling bahwa hujan akan turun lama. Jadi aku bersiap2 untuk sekalian tidur di kamar. Setelah itu aku langsung telpon suamiku. Terus telepon sampai sekitar 1 jam total. 

Rasanya takut sekali! Di tengah belantara seperti itu, hujan deras ditambah mati lampu!

Keesokan harinya, temanku datang. Rasanya senang sekali, karena itu berarti aku sudah mau pulang! Meski sebenarnya masih 2 minggu lagi. Sejak minggu kedua (yang sangat stres itu), aku lebih mudah berpikir positif terhadap semua hal.

WEEK 5
Awal minggu ini aku semangat karena target pekerjaanku sudah menumpuk. Dan kali ini aku yang bertugas sebagai guide untuk temanku
Sayangnya pada akhirnya karena waktu yang tersisa begitu sedikit, akhirnya sebagian besar aku juga yang mengerjakan dengan satu orang anggota tim.
Di akhir minggu ke5 ini aku juga lagi2 sempat stres, karena belum ada kepastian mengenai jadwal kepulanganku. Hal ini juga yang membuat aku sempat bertengkar dengan suamiku, tapi cuma beberapa jam saja, kemudian sudah baikan lagi lewat telepon juga. Lucu deh...


WEEK 6 
Akhirnya aku belajar sesuatu: aku menjalankan semuanya dengan ikhlas dan perasaan yang stabil. Kalau pada saat gundah, jangan terlalu dipikirkan. Begitu pula, pada saat senang, juga tidak perlu diperlihatkan secara berlebihan (alias euphoria). 

Hingga akhirnya aku dipastikan pulang sesuai jadwal yaitu Senin 25 April 2011 off dari Bintuni menuju Babo dan menginap 2 malam. Perjalanan Bintuni-Babo menggunakan boat kali ini juga merupakan pengalaman yang berbeda buat aku. Karena berangkatnya mundur dari jadwal (karena menunggu seseorang 'penting' dari BP), jadi kami baru off dari Bintuni jam 14.30 WIT. Ternyata angin dan ombang sedang kencang. Dan karena boat kali ini dengan rute Bintuni-Tangguh LNG-Babo, sehingga di laut lepas menuju Tangguh, ombaknya sangat ganas.
Bayangkan permainan Kora-Kora di Dufan, tapi ini arah kiri-kanan. Kalau menurut temanku sebelumnya memang ombaknya keras, jadi selama perjalanan memang terasa seperti dibanting ke atas-bawah. Tapi yang giliranku ini memang selain atas-bawah, tapi juga kiri-kanan dengan kemiringan 45 derajat. Karena air yang begitu tinggi, maka semua jendela harus ditutup untuk mencegah air masuk. 

So, bayangkan naik Kora-Kora di dalam oven! Panaaasss banget!
Jadi selain menahan mabuk (karena 'digoyang' sedemikian rupa), aku juga harus berpegangan kencang ke kursi depanku. Oya FYI, di sana maghrib jam 18.30 WIT, jadi memang siangnya lebih panjang. Baru gelap sekitar jam 18 WIT.
So...bisa dibayangkan perjalanan "Kora2 dalam oven"-ku itu dilakukan jam 16.00 WIT.

Sampai di Babo jam 17.30 WIT, harus langsung check in dulu dan langsung menuju kamar. 
Kamar2 di Babo basecamp
Seharusnya pada saat berangkat aku juga transit di Babo 2 malam, tapi karena perjalanan berangkatku "sangat istimewa", so I skip that part :p
Di basecamp ini, peraturan sangat ketat. Contohnya jam makan adalah jam 05.30-07.00 WIT (sarapan), jam 11.00-13.00 (makan siang) dan jam 18.30-19.30 (makan malam). Jadwal itu berlaku untuk semua tanpa terkecuali. Jadi kalau kita tertinggal, maka siap2 untuk kelaparan. Sebenarnya ada lagi yaitu jam 09.00-09.30 (coffee break) dan satu lagi, tapi aku lupa jamnya.
Semua sudah terjamin di sini, ada laundry 1 day service juga. Tapi aku agak bosan di sini (untungnya cuma 1 hari 2 malam aja di sini), karena aku nggak ada teman, jadi takut untuk muter2. Pernah aku nekat muter2 di lingkungan basecamp, belum2 sudah diliatin orang2, bahkan ada yang sampai mengajak kenalan.

ARRIVAL
Pada hari Selasa 26 April 2011, aku harus mengecek flight manifest setelah jam 17.00 WIT untuk memastikan apakah namaku tercantum dalam jadwal terbang keesokan harinya. Seneeeenngg banget waktu lihat namaku di papan pengumuman itu.

Jadi keesokan harinya, hari Rabu 27 April 2011 aku bangun pagi, siap2 semuanya, mempersiapkan koperku, sarapan lalu kembali untuk mengambil barangku. 
Di dalam ruang tunggu Biak
Pemandangan di Biak
Perasaanku campur aduk, tegang (karena belum pernah melewati rute ini), senang (karena dalam hitungan jam aku akan bertemu keluargaku) dan siap2 secara fisik naik turun (meski nggak seberat waktu berangkat).
Pesawat dari Babo take off jam 10.00 WIT sampai di Biak jam 11.00 WIT. Dijadwalkan berangkat dari Biak jam 13.00 WIT dan sampai di Surabaya jam 14.00 WIB. Ternyata molor, jadi sampai di Surabaya jam 16.00 WIB. Ternyata suamiku sudah menunggu di airport Juanda sejak jam 14 WIB kurang. 


He's soooo...excited to have me home! Dia terlihat begitu senang waktu menunggu aku mengambil koper. Dia juga menyiapkan bunga di mobil. Dia langsung mencium keningku di airport di depan orang banyak.
Surprise welcome flowers from my hubby
Reaksiku? Hhhhmm....ngerasa aneh! Pada saat normal aja, dia nggak pernah seperti itu. Apalagi ini 1,5 bulan aku terbiasa hidup tanpa manja2an, jadinya ngerasa asing dengan sikap romantis.
Tapi nggak butuh waktu lama, malamnya aku sudah mulai bisa menerima sikapnya.
Sampai di rumah, bapakku juga terlihat senang sampai2 bapakku cium pipiku. Setelah ngobrol2 sebentar, aku naik ke kamarku. Di kamar, suamiku langsung memelukku cukup lama dan kencang. Waktu dilepaskan, aku lihat hidungnya sedikit memerah. Dia menangis! Hehe...lucu juga melihat suamiku seperti itu...

Adik & suamiku menikmati kepiting oleh2ku dari Babo 
Alhamdulillah ya Allah, aku sudah kembali dengan selamat ke keluargaku. Aku juga bersyukur atas pengalaman ini, satu tahapan berbeda yang cukup mengubah pandangan hidupku :)
 
 
 
 
written on Thursday, 28 April 2011
originally from this blog 

Comments

0 comments
Beberapa hari menjelang keberangkatanku ke Bintuni, sudah cukup banyak teman dan relasi yang tahu hal ini. Berikut ini beberapa respon yang aku dapatkan terkait hal tersebut:
  1. 1,5 bulan? Lama sekali? Trus suami gimana? Suami diajak? ---> biasanya teman2 perempuan yang seumuranku dan sudah menikah, atau minimal punya pasangan serius
  2. Oh cuma 1,5 bulan? Sebentar yaa.. ---> rata2 yang komentar seperti ini adalah dokter, karena mereka juga pernah PTT di pelosok lebih dari 1 tahun.
  3. Wah hebat ya, andin, dipercaya untuk menjadi konsultan di sana 1,5 bulan ---> dokter obsgyn-ku
  4. Asyik ya, ndin, kerjaanmu! Bisa keliling2, dibayar pula ---> seorang sahabat waktu SMA
  5. Oh, kamu masih kerja di WJP (mantan dosenku dan sekarang menjadi bosku)? ---> dengan nada yang seakan2 pekerjaan ini bukan pekerjaan yang mapan ---> beberapa teman kuliah S1
Sedangkan komentar suamiku mengenai tugas ini adalah tugas ini bagus untuk perkembanganmu, baik karir maupun perkembangan kepribadianmu.

Jujur aja, memang terasa berat meninggalkan keluarga selama 1,5 bulan. Mungkin kalau aku sudah punya anak, aku nggak pakai pikir panjang, sudah kutolak tugas itu.

But I'm sure Allah wants to show me something and wants me to learn something from this assignment.

written on Monday, 7 March 2011
originally from this blog

Self Evaluation

0 comments
Memang nggak baik untuk membanding-bandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain, apalagi yang membuat kita menjadi iri atau nggak bersyukur. Karena banyak yang kehidupannya jauh di bawah kita.

Tapi tulisan kali ini lebih bertujuan untuk me-review hidupku sendiri. Saat ini aku berumur 26 tahun. Usia yang bisa dibilang usia dewasa muda, yang sedang kuat-kuatnya, yang bersemangat, tapi juga sudah lebih bisa berlogika dibandingkan remaja.


Aku merasa sudah menjadi dewasa muda sejak aku menikah, di usia 25 tahun 3 bulan, pada Oktober 2009. Segalanya terasa berbeda, meskipun belum berubah total. Setelah menikah, aku merasa aku jauh lebih dewasa, tapi masih cenderung bersenang-senang sebagai pasangan baru. Yeah, I got euphoria as a new couple. Kemudian aku masih berpikiran sebagai single-adult, aku masih merencanakan apa yang ingin aku lakukan untuk diriku sendiri. Awal tahun 2010, aku masih berencana untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tentu saja sudah dengan ijin suamiku. Aku masih ingin mencapai cita-cita lamaku, tapi aku tahu bahwa waktuku nggak sebebas dulu. Suamiku mengijinkan aku berburu beasiswa hanya sampai tahun ini saja, karena tentu saja akan mempengaruhi planning kami untuk punya anak.

Jadi aku merencanakan untuk melamar beasiswa yang di negara2 Eropa, dengan pertimbangan master degree di sana cukup 1 tahun. Sehingga rencanaku, aku bisa mulai kuliah lagi bulan September 2010, sehingga bisa selesai pada 2011. Namun ternyata sampai bulan Mei 2010, belum ada satupun hasil positif dari perburuanku itu. Jadi pada bulan Juni 2010, aku memutuskan untuk melepas impianku itu tahun 2010. Mungkin aku bisa melanjutkannya beberapa tahun lagi berupa short course atau sertifikat saja.


Bulan Juli 2010, aku dan suamiku sepakat untuk memulai program hamil. Bulan September 2010 aku dinyatakan hamil, dan cerita selanjutnya di sini.


Sekarang di awal 2011, aku mempunyai keraguan atas keputusanku itu. Apakah Allah menguji aku atas kesombonganku? Aku nggak mendapatkan apapun yang menjadi keinginanku, misalnya beasiswa dan anak. Meskipun aku nggak menyesali semua yang sudah terjadi. Karena banyak pelajaran yang sudah aku dapat dari perjalananku sepanjang 2010.


Aku ingin me-review kehidupan beberapa temanku. Ada beberapa jenis, yaitu:

  1. Teman-teman yang sejak lulus S1, sudah langsung mencari kerja apapun (beda bidang dengan pendidikan kuliah), kemudian menikah dan punya anak.
  2. Teman-teman yang melanjutkan kuliah S2 beberapa saat setelah lulus S1
  3. Teman-teman yang terus berusaha untuk menjadi PNS, kemudian baru menikah dan punya anak
  4. Teman-teman yang setelah lulus "agak hilang dari peredaran", kemudian mendapat beasiswa ke luar negeri, menikah dan mulai "update dengan dunia luar lagi"
  5. Teman-teman yang sampai saat ini masih terus mencari-cari identitas diri dan berpindah-pindah pekerjaan
  6. Teman-teman yang setelah menikah, memutuskan untuk menjadi full time mother.
Aku memang bukan seseorang yang menonjol, bahkan kadang aku masih merasa minder dengan diriku sendiri. Tapi entah kenapa, aku terus yakin dengan jalur karir-ku ini. Apalagi dengan keluarga (bapak, adik, suami dan almh.mama) yang selalu mendukung aku. Mereka nggak pernah "memaksa" aku untuk memilih jalur tertentu. Sempat aku berpikir untuk berfokus pada keluarga, terutama keluarga kecil-ku nantinya. Tapi sepertinya aku nggak bisa untuk menjadi full time mom. Sepertinya aku akan tetap mempunyai karir sendiri di luar rumah, dan tetap berkomitmen pada keluargaku. Persentase dan bentuknya seperti apa, Allah yang akan menjawabnya...

written on Sunday, 2 January 2011
originally from this blog 

My Dream, My Goal, My Reality

0 comments
Many people live their life as it flows. I think, some part is true, but some is wrong. In my opinion, we have to have a goal, what we want to pursue in life. Although, we mustn't make it as an ambition, which only makes us depressed. Do our best and enjoy the rest. Do as we planned, enjoy the process and be grateful whatever the result is. It is easy to be said, than to be done, I know.

Here's my plan and my goal for my career for the next 2-3 years:


  1. My long-term goal is to be a Healthcare Business Consultant (either a freelance or have my own consulting firm, it depends on my family situation)
  2. Because my next year (2011)'s priority is my health and having a baby, so my plan for the next year for my career is to gain more experience in healthcare business and do passive efforts, such as joining related society, write and submit to a related journal, etc.
  3. In the last 2011 until 2012, I plan to join National Society of Healthcare Business Consultant.
  4. In the 2012, I plan to take the test for Certified Healthcare Business Consultant.
Beside that, basically I also love fancy things, shopping and some kind of hedonism life. That's why I run an online shop recently. I also plan to have my own shop as my side job. 

Hopefully I can do as I planned, though it can developing as well as myself during the process. Allah knows the best...


written on Sunday, 26 December 2010
originally from this blog  

Fear of Leaving My Comfort Zone

0 comments
Sebenarnya masalah ini sudah muncul sejak sekitar akhir bulan Juli, sebelum aku hamil. Kantorku diminta untuk menjadi konsultan dalam pendirian sebuah RS pemerintah di Papua Barat yang sebagian besar dananya dibantu oleh British Petroleum. Sehingga ada dua pihak dalam hal ini, yaitu pihak pemerintah kabupaten Bintuni dan British Petroleum. Semua proses terkait proyek ini terkesan maju mundur, sampai akhirnya aku dinyatakan hamil bulan September, kemudian keguguran, dan operasi bulan Desember dan aku dianggap nggak bisa ikut proyek ini, meskipun aku sudah menghasilkan salah satu dokumen yang dibutuhkan dalam materi proyek itu. Tapi kemudian aku tiba2 dimasukkan lagi dalam tim yang berangkat ke Bintuni dan harus tinggal selama 1,5 bulan.

Ini beberapa hal yang memberatkan:


  1. Pemberangkatan yang memakan waktu total 2 hari karena harus transit di Babo dan Biak. Selain itu juga berangkatnya sendirian, tanpa teman, dengan jalur penerbangan khusus BP.
  2. Akses komunikasi begitu terbatas di sana, kecuali di kantor BP.
  3. Listrik juga menggunakan genset.
  4. Lingkungan di sana yang sangat asing buat aku
  5. Budaya masyarakat sekitar yang terdengar "liar".
  6. Lama tinggal 1,5 bulan membuat aku membayangkan apa yang aku lakukan saat waktu luang atau malam hari.
  7. Meninggalkan keluargaku

Ini beberapa hal yang meringankan:
  1. BP merupakan perusahaan internasional, tentunya semua keamanan sudah terjamin.
  2. Kalau aku berhasil melaluinya, tentu akan menjadi suatu kebanggaan tersendiri
  3. Aku bisa menganggap tugas ini seperti tugas PTT dokter di pedalaman
  4. Akan menjadi pengalaman yang berharga untuk perjalanan karirku
Jadi memang terlihat bahwa sebenarnya yang membuat aku nggak nyaman dengan proyek ini adalah "ketakutan"ku meninggalkan zona nyamanku. Tentu saja ini dengan asumsi nggak ada kendala kesehatanku.

Sekarang aku berusaha ikhlas, Allah yang akan memilihkan jalanku... 


written on Sunday, 26 December 2010
originally from this blog 

Parents' Name, Parents' Fame

0 comments
Kemarin malam aku kontrol ke obsgyn, untuk lepas perban dan memulai suntikan terapinya. Dijadwalkan jam 18, aku dan suamiku sampai sana jam 18.10. Ternyata yang antri sudah 12 orang, jadi aku nomor 13. Kemudian ruang tunggu sudah penuh. Karena memang biasanya yang antri di obgsyn adalah pasangan suami istri, bahkan ada yang membawa anak2nya, sampai babysitternya segala (meskipun jarang). Jadi kalau antrian 12 orang, berarti di ruang tunggu minimal ada 24 orang. Petugas resepsionisnya juga bilang bahwa dr. Hari baru saja datang. Jadi antriannya benar2 baru dimulai. Pfiiuhh...


Jadilah aku dan suamiku berpisah, karena nggak ada kursi kosong yang bersampingan. Tahu2 aku melihat teman SMA-ku dan istrinya keluar dari ruang praktek dokternya. Aku bingung, perasaan tadi aku nggak melihat dia ikut antri. Ternyata sesampainya di rumah, suamiku bilang bahwa temanku tadi memang nggak ikut antrian. Jadi dia langsung dipanggil oleh dokternya. FYI, temanku ini juga anak seorang dokter. Ibunya juga teman mamaku dulu. Bahkan ibunya masih tetap baik sama aku, kalau aku sakit beliau juga yang menangani.


Singkat cerita, aku jadi membayangkan dulu aku juga seperti itu. Karena aku anak pasangan dokter, jadi aku selalu pakai jalur khusus kalau menyangkut soal kesehatan. Aku cuma tahu beres dan tinggal menjalaninya saja. 


Dari dulu sebenarnya aku menghindari menggunakan akses ortu, dalam hal apapun, aku nggak mau membawa2 nama ortu. Cuma memang kalau waktu aku sakit (dua kali opname demam berdarah), aku pasrah aja dengan keputusan ortu.


Kali ini sejak mamaku meninggal, aku sudah mulai lepas dengan hal seperti itu. Kecuali pada saat terdesak, seperti waktu bapakku opname, mau nggak mau aku menghubungi kenalan2 mama untuk meminta bantuan. Karena memang pelayanan di RS pemerintah, sangatlah lama karena memang banyaknya pasien dan juga banyaknya dokter yang masih pendidikan (PPDS).


Aku jadi ingat pertanyaan salah seorang teman kerjaku, dia juga sudah menikah, tapi secara agama. Dia bertanya kalau aku ke dokter obsgyn, apakah mengajak bapakku juga? Aku bilang pertamanya dulu aja waktu pertama kali tahu hamil dan ada kista endometriosisnya. Setelah itu cuma aku dan suamiku. Dia bilang kenapa nggak sama bapakku sekalian? Lucu juga aku mendengarnya, memang aku dan suamiku masih tinggal di rumah ortuku. Tapi meskipun begitu seharusnya kita tidak lagi memberatkan ortu sejak kita menikah.

Untungnya dokter obsgyn-ku kenal aku juga sebagai staf WJP Consultation, meskipun beliau juga kenal ortuku. Tapi kami nggak pernah membahas tentang ortuku, beliau malah seringnya menanyakan mengenai pekerjaanku (agak minder juga sih, karena sebenarnya beliau adalah asesor ISO, malah jauh lebih berpengalaman dengan manajemen pelayanan kesehatan).


Yang jelas, setiap orang mempunyai keputusan sendiri2 mengenai hal ini. Sedangkan aku, lebih memilih untuk tidak perlu menggembar-gemborkan siapa ortuku. Malah kalau bisa, "menggembar-gemborkan" namaku sendiri alias membuat namaku lebih "berarti" di bidangku.

written on Monday, 6 December 2010
originally from this blog

Blog Merger

0 comments
Satu hal yang baru aku sadari: aku masih cukup termasuk naif, aku mengkotak2an semuanya, tidak ada grey area. Hope you understand what I mean :)

Sehingga pada satu titik, aku kesulitan lagi menemukan sesuatu yang murni, pure black or pure white; pure angel or pure evil.
Cukup dengan metafor, salah satu yang aku kotak2an adalah pembuatan blog :)) Saking senangnya aku dengan desain, aku buat beberapa blog. Ada yang untuk catatan sehari2 terkait pernikahanku, ada yang catatanku sebagai individual (klik di sini), ada juga untuk mama dan untuk passion-ku satu lagi: healthcare management. Karena yang terakhir benar2 profesional (ehem!), jadi sepertinya nggak bisa diapa2kan lagi.

Semakin lama aku semakin bingung memisahkan catatanku setelah menikah (alias blog-ku ini) dan yang sebagai individual. Sepertinya aku sendiri memang nggak bisa mengkotak2an kehidupanku sendiri, dan memang nggak seharusnya...haha...

As I grow up, I realize I have to perform as my whole characteristic. Aku harus tampil sebagai manusia yang utuh (okay...itu teoriku).

Singkat cerita, aku akan menggabungkan dua blog itu menjadi satu. Aku ambil beberapa catatan yang aku anggap penting dan memindahkannya ke blog ini.

Let's see...perhaps I'll turn this personal blog of mine with one more passion of mine: fashion!

Plain

0 comments
Ada dua hal yang mau aku ceritakan kali ini.

Pertama, mengenai hariku kemarin. Pagi hari aku masih agak kurang mood karena masih mens, seperti ceritaku kemarin. Aku usahakan untuk tetap tenang, meski perasaanku belum seberapa enak. Aku bingung harus seperti apa lagi.
Kemarin malam aku juga harus ke dokter obsgyn-ku lagi untuk periksa. Waktu pulang itu suamiku sempat bilang kalau mungkin bulan lalu dia yang kecapekan, jadi kemungkinan spermanya juga kurang bagus. Kemudian dia juga mengungkapkan (juga terlihat dari wajahnya) kalau dia senang lebaran tahun ini insyaAllah aku ikut pulang ke rumah mertua. Lebaran tahun lalu (lebaran pertama kami setelah menikah) aku nggak bisa ikut mudik, karena kehamilanku yang bermasalah.
Aku pikir, mungkin ini memang kehendak Allah, bahwa saat ini aku belum hamil lagi karena kalau memang aku hamil, aku kemungkinan nggak bisa ikut mudik lagi karena masih hamil muda.

Yang kedua, aku mau menceritakan how I am now. Sekarang aku mengurangi ambisi/obsesi/keinginan yang kuat menggebu2. Aku mengurangi kadar excitement-ku.
Tapi yang terutama adalah aku sangat mengurangi kebiasaanku untuk menganalisa semua hal yang terjadi. 
Apapun yang terjadi, itulah yang terbaik.


ps. sekarang aku sedang "sedikit" excited menjalani lebaran di rumah mertua, karena sepertinya tradisi keluarga kami berbeda dan yang pasti jumlah keluarga besarnya jauuh lebih banyak dibanding keluargaku dalam 1 kota.

Sunday, August 21, 2011

Bleed again

0 comments
Okay, so I don't need longer time to keep my curiosity. Last night I got the spot....yeah my menstrual cycle. Ini menstruasi keduaku setelah lepas dari efek Tapros, dan tanggalnya jauh dari menstruasi pertama bulan Juli lalu.

Yaa benar, posting-ku kemarin memang tentang hal ini. Sempat terlambat 6 hari, aku penasaran dan melakukan pregnancy testpack. Dan hasilnya negatif. Karena masih belum ada tanda2 menstruasi, aku masih berharap it was a false negative.

Sampai Sabtu malam jam 23.15, aku melihat bercak. Aku tahu ini adalah menstruasi karena perutku terasa nggak enak. How was my feeling? Semua perasaan bercampur, sedih, kecewa, marah (tanpa tahu harus marah ke siapa), capek dengan semua perasaan ini, ingin meninggalkan kenyataan ini, you name it. Semua pikiran buruk juga mendatangi, what if I'm sick again, there's something wrong with me, something's wrong with my fertility, etc.
Aku bahkan nggak bisa ngomong apapun dengan suamiku selain mengatakan kalau aku menstruasi. Dan seperti biasa, he's so supportive. Dia memang selalu menganggap nggak ada yang salah dengan keadaan kami. Sejak dulu dia selalu bilang memang kami pernah menunda punya anak, jadi memang wajar kalau sekarang kami belum punya anak (dibandingkan dengan teman2 kami).


Kemudian aku kembali terbangun hari Minggu dini hari (karena sudah terbiasa sahur), and....yess....there was blood.

Back to me again, I feel numb. Aku ingin melupakan semuanya, aku bahkan nggak bisa mendeskripsikan perasaanku. Dan aku juga tahu aku pernah merasakan ini. Aku pernah merasa down, desperate kemudian termotivasi lagi, merasa kuat lagi, berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi, kemudian down lagi, dan seterusnya.

Aku capek dengan ini semua. Mungkin aku bukan orang yang sabar dan ikhlas, mungkin juga aku orang yang lebih sabar dan ikhlas daripada beberapa orang lainnya.
Kehidupan ini bukan hanya berasal dari konflik internal saja, tetapi juga pengaruh lingkungan luar. Apa omongan orang luar tentang keadaan kami, apa yang akan mereka tanyakan kepadaku, apa komentar mereka di depanku (dan di belakangku), dan seterusnya.

Saat ini aku masih berada di rumah saja, tanpa paparan negatif dari dunia luar. Aku bisa melaluinya tanpa perasaan. Tapi bagaimana besok dan seterusnya?

I have no idea at all and I'm not going to think that out

Friday, August 19, 2011

Patience and Ikhlas

0 comments
Sorry for missing in while, nggak ada alasan spesifik. Aku sedang ingin lebih mendalami pengembangan internalku, menyeimbangkan perkembangan kedewasaanku, nggak mau terlalu banyak bercerita (takutnya, no action talk only), banyak pekerjaan di kantor, ingin lebih fokus beribadah di bulan Ramadhan ini, dan masih banyak lagi.

Seperti yang aku sampaikan, aku sangat menantikan Ramadhan tahun ini, berharap berkah dari Allah di bulan Ramadhan ini. Post-ku kali ini, maaf sekali, nggak aku ceritakan secara gamblang, karena aku ingin menceritakan segalanya setelah mendapat ridho dari Allah SWT.

Yang ingin aku tulis adalah, bahwa hari ini aku menyadari sesuatu. Tentang ikhlas dan sabar. Seperti diketahui, aku mendalami Quantum Ikhlas meski nggak sampai mengikuti pelatihannya. Baca review-nya di sini atau sini dan sini.

Aku belum bisa menceritakan the whole story, tapi alhamdulillah aku sudah mendapatkan jalan yang positif sekitar 50%, kemudian mendapatkan sinyal2 positif 25%. Sehingga total sudah 75%, hanya tinggal menunggu hasil yang positif, sehingga jadi genap 100%.
Sebagai manusia biasa, aku sangat penasaran dengan hasilnya, apakah bisa mencapai 100% atau tidak? Meskipun aku berusaha ikhlas dan sabar, tapi rasa penasaranku membuat aku menjadi nggak sabar. Seperti orang berpuasa, meski nggak ada orang yang melihat, tapi apabila dia makan, dia akan merasa dia telah melakukan kecurangan. Meski tentu saja nggak akan ada orang yang tahu. Oke mungkin ini bukan analogi yang tepat, karena kecurangan yang tadi mengakibatkan orang tersebut harus membayar hutang puasanya yang batal (meski nggak ada orang yang tahu).

Sedangkan kecuranganku "hanya" mengakibatkan berkurangnya tingkat ikhlas dan kesabaranku. Aku sendiri (dan Allah tentunya) bisa menilai seberapa ikhlas dan sabarnya aku saat ini.

Jadilah aku melakukan "kecurangan" itu, aku ingin mempercepat melihat hasilnya, meski aku tahu ini belum saatnya. Dan tentu saja, aku kecewa, karena seperti orang yang menunggu hasil ujian di internet, kalau memang belum tanggal pengumuman, meskipun kita menunggu di depan komputer 24/7, nggak akan ada hasilnya.

Ujungnya aku kecewa dan frustasi sendiri, meskipun bukan yang stres berat. Hingga akhirnya aku mencari2 cara untuk lebih rileks dalam hidup di internet. Kemudian aku menyadari, ternyata aku masih memikirkan yang negatif daripada yang positif!

Aku berfokus pada ketidaksabaranku dalam menanti yang 25% daripada mensyukuri dan berfokus pada 75% hal positif yang sudah menuju ke 100% positif! Aku masih melihat setengah gelas kosong daripada setengah gelas penuh!

Astaghfirullahaladzim...

Semoga kalian bisa mengerti dan mengambil hikmah dari yang aku alami, insyaAllah...
 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review