Tuesday, August 23, 2011

Job Trip to Papua

Aku harus menuliskan semua pengalamanku di Bintuni sebelum aku lupa semua detil pengalamanku. Because it's a great experience for me!

DEPARTURE

Aku berangkat sesuai jadwal awalku yaitu hari Selasa tanggal 15 Maret 2011 jam 23.00 WIB. Aku sampai di bandara Juanda jam 21.30 WIB untuk check in terlebih dahulu. Untunglah aku datang jauh lebih awal, karena ternyata namaku tidak ada di daftar penumpang. Oya, seluruh transportasi dan akomodasi selama perjalanan menuju Bintuni ditanggung oleh British Petroleum (BP), perusahaan yang akan membantu pembangunan RS Bintuni dalam hal manajemennya. Itu sebabnya BP mengontrak kami sebagai konsultan manajemen RS.

Kembali ke masalah tadi, jadi kalau nama tidak ada dalam daftar, tentu saja tidak bisa ikut berangkat, apapun itu baik pesawat maupun boat (dari Babo-Bintuni). Jadi rute perjalananku adalah Surabaya - Biak - Babo - Bintuni.
Sebenarnya aku panik, tapi aku berusaha tenang. Aku kontak seorang penanggungjawab proyek ini di kantorku. Singkat cerita, namaku berhasil dimasukkan malam itu juga.
Setelah berpamit2an dengan keluargaku, dengan berat hati aku meninggalkan mereka. Rasanya sangat berat apalagi kami tahu kami tidak akan bertemu selama 1,5 bulan. Seumur hidupku belum pernah aku berpisah dari keluargaku lebih dari 1 minggu.

Pesawat take off jam 23.15 WIB. Sampai di Biak jam 05.00 WIT. Selisih waktu 2 jam antara Surabaya dan Papua. Di pesawat aku nggak bisa tidur sama sekali karena dingin dan masih merasa nervous. Ini perjalananku pertama kali yang harus menggunakan pesawat perusahaan (bukan komersil) dan banyak peraturan yang harus dipatuhi.

Di Biak, aku langsung melihat jadwal penerbangan ke Babo. Karena pesawat ke Babo lebih kecil, cuma menggunakan pesawat baling2 dengan jumlah seat sekitar 20, jadi ada beberapa kali penerbangan Biak - Babo. Ternyata aku dapat jadwal yang siang yaitu jam 10.00 WIT. Itu berarti sampai di Babo jam 11.30 WIT dan boat menuju Bintuni sudah tidak ada. Boat Babo - Bintuni juga hanya ada hari Senin, Rabu dan Jum'at dengan jadwal jam tertentu (hal ini lagi2 karena aku menggunakan boat khusus BP, bukan boat komersil). Sampai di bandara Babo, ada masalah lagi. Aku terhambat di Security karena aku tidak membawa Site Entrance. Sempat terhambat sekitar 30 menit karena aku kurang paham logat bicara orang Papua.

Lagi2 alhamdulillah aku berhasil menghubungkan contact person di BP dengan security tadi. Alhamdulillah lagi ternyata ada seorang petinggi BP juga yang mau ke Bintuni, sehingga aku dititipkan oleh seorang koordinator security bandara kepada petinggi tersebut.

Jadi aku sampai Bintu hari Rabu 16 Maret 2011 jam 14.30 WIT. Ini adalah rekor perjalanan tercepat di antara teman2ku. Bahkan contact person BP juga kaget setelah tahu aku sudah berada di Bintuni.

WEEK 1
Minggu pertama di Bintuni, aku masih sangat excited dan sangat semangat. Tidak bosan2nya aku melihat pemandangan yang asing buat aku. 
Ini rumah dinas tempat tinggal selama di Bintuni
Night at Bintuni's downtown










WEEK 2

 
Salah satu pelabuhan di Bintuni
Pada minggu kedua ini aku sempat stres, karena merasa asing dengan budaya kerjanya (yang terlalu santai), bosan dengan aktivitas yang itu-itu saja (satu2nya hiburan ya mencari makan malam). Selain itu, rumah dinasku sempat mengalami korslet, jadi tidak ada listrik sama sekali. Dan nggak tanggung2, ini terjadi selama 4 hari! Jadi kalau malam, kami menggunakan emergency lamp. Satu2nya hiburan kami di malam hari adalah dengan keluar mencari makan malam.

Other side of Bintuni Bay
Oya di Bintuni ini listrik dari PLN cuma ada dari jam 18.00 WIT sampai dengan jam 05.30 WIT. Di luar itu biasanya menggunakan genset, tapi juga kalau pas BBM tidak ada, genset juga nggak bisa nyala.

Mengalami hal yang jauh berbeda dalam jangka waktu yang cukup lama, membuatku stres juga.




WEEK 3

Minggu ketiga, aku mulai belajar untuk sabar dan ikhlas. Merasa bete ataupun nggak sabar ingin cepat2 pulang, nggak membantu apapun, malah semakin membuat kepalaku pusing. Meski mood-ku masih naik turun. 
Pada akhir minggu ketiga ini, tepatnya tanggal 6 April 2011, temanku yang datang sebelum aku, akan kembali ke Surabaya. Satu sisi, aku merasa sedih karena nggak ada teman seperjuanganku lagi. Di kondisi yang sangat beda ini, kami jadi sangat sering curhat membicarakan apapun. Namun di sisi lain aku senang, karena itu berarti aku sudah separuh jalan alias 3 minggu sudah terlewati.
Sayangnya air sedang keruh karena sering hujan


Di Toarai, salah satu tempat wisata di Bintuni












WEEK 4

Setelah mbak Via pulang, seharusnya teman berikutnya datang. Kalau sesuai jadwal, seharusnya aku cuma sendirian 3 hari. Tapi ternyata karena masalah boat yang tidak ada ke Bintuni, maka temanku baru datang Senin, 11 April 2011. Jadi aku sendirian 4 hari. Dua hari pertama aku masih ditemani seorang anggota tim pendirian RS yang menginap di rumah dinasku. Hari ke3 dan 4 aku benar2 sendirian. Nggak ada yang aku takutkan, karena dari dulu aku cenderung individualis alias mengerjakan semua sendirian. Tapi malam hari ke 4, tiba2 hujan sangat deras, nggak pernah terjadi sebelumnya selama aku di Bintuni. Waktu itu hujan deras disertai angin kencang, yang bahkan anginnya pun sampai terdengar, ditambah suara petir yang sampai menggetarkan rumahku. Ini bukan imajinasiku atau mencontek cerita di film apapun, ini benar2 terjadi.

Kuburan di Bintuni dibuat menyerupai rumah, lengkap dengan pintu dan jendelanya
Hujan deras itu terjadi 30 menit, sebelum kemudian lampu mati juga selama sekitar 45 menit. Darimana aku tahu? Karena sejak hujan deras mulaai turun, aku sudah punya feeling bahwa hujan akan turun lama. Jadi aku bersiap2 untuk sekalian tidur di kamar. Setelah itu aku langsung telpon suamiku. Terus telepon sampai sekitar 1 jam total. 

Rasanya takut sekali! Di tengah belantara seperti itu, hujan deras ditambah mati lampu!

Keesokan harinya, temanku datang. Rasanya senang sekali, karena itu berarti aku sudah mau pulang! Meski sebenarnya masih 2 minggu lagi. Sejak minggu kedua (yang sangat stres itu), aku lebih mudah berpikir positif terhadap semua hal.

WEEK 5
Awal minggu ini aku semangat karena target pekerjaanku sudah menumpuk. Dan kali ini aku yang bertugas sebagai guide untuk temanku
Sayangnya pada akhirnya karena waktu yang tersisa begitu sedikit, akhirnya sebagian besar aku juga yang mengerjakan dengan satu orang anggota tim.
Di akhir minggu ke5 ini aku juga lagi2 sempat stres, karena belum ada kepastian mengenai jadwal kepulanganku. Hal ini juga yang membuat aku sempat bertengkar dengan suamiku, tapi cuma beberapa jam saja, kemudian sudah baikan lagi lewat telepon juga. Lucu deh...


WEEK 6 
Akhirnya aku belajar sesuatu: aku menjalankan semuanya dengan ikhlas dan perasaan yang stabil. Kalau pada saat gundah, jangan terlalu dipikirkan. Begitu pula, pada saat senang, juga tidak perlu diperlihatkan secara berlebihan (alias euphoria). 

Hingga akhirnya aku dipastikan pulang sesuai jadwal yaitu Senin 25 April 2011 off dari Bintuni menuju Babo dan menginap 2 malam. Perjalanan Bintuni-Babo menggunakan boat kali ini juga merupakan pengalaman yang berbeda buat aku. Karena berangkatnya mundur dari jadwal (karena menunggu seseorang 'penting' dari BP), jadi kami baru off dari Bintuni jam 14.30 WIT. Ternyata angin dan ombang sedang kencang. Dan karena boat kali ini dengan rute Bintuni-Tangguh LNG-Babo, sehingga di laut lepas menuju Tangguh, ombaknya sangat ganas.
Bayangkan permainan Kora-Kora di Dufan, tapi ini arah kiri-kanan. Kalau menurut temanku sebelumnya memang ombaknya keras, jadi selama perjalanan memang terasa seperti dibanting ke atas-bawah. Tapi yang giliranku ini memang selain atas-bawah, tapi juga kiri-kanan dengan kemiringan 45 derajat. Karena air yang begitu tinggi, maka semua jendela harus ditutup untuk mencegah air masuk. 

So, bayangkan naik Kora-Kora di dalam oven! Panaaasss banget!
Jadi selain menahan mabuk (karena 'digoyang' sedemikian rupa), aku juga harus berpegangan kencang ke kursi depanku. Oya FYI, di sana maghrib jam 18.30 WIT, jadi memang siangnya lebih panjang. Baru gelap sekitar jam 18 WIT.
So...bisa dibayangkan perjalanan "Kora2 dalam oven"-ku itu dilakukan jam 16.00 WIT.

Sampai di Babo jam 17.30 WIT, harus langsung check in dulu dan langsung menuju kamar. 
Kamar2 di Babo basecamp
Seharusnya pada saat berangkat aku juga transit di Babo 2 malam, tapi karena perjalanan berangkatku "sangat istimewa", so I skip that part :p
Di basecamp ini, peraturan sangat ketat. Contohnya jam makan adalah jam 05.30-07.00 WIT (sarapan), jam 11.00-13.00 (makan siang) dan jam 18.30-19.30 (makan malam). Jadwal itu berlaku untuk semua tanpa terkecuali. Jadi kalau kita tertinggal, maka siap2 untuk kelaparan. Sebenarnya ada lagi yaitu jam 09.00-09.30 (coffee break) dan satu lagi, tapi aku lupa jamnya.
Semua sudah terjamin di sini, ada laundry 1 day service juga. Tapi aku agak bosan di sini (untungnya cuma 1 hari 2 malam aja di sini), karena aku nggak ada teman, jadi takut untuk muter2. Pernah aku nekat muter2 di lingkungan basecamp, belum2 sudah diliatin orang2, bahkan ada yang sampai mengajak kenalan.

ARRIVAL
Pada hari Selasa 26 April 2011, aku harus mengecek flight manifest setelah jam 17.00 WIT untuk memastikan apakah namaku tercantum dalam jadwal terbang keesokan harinya. Seneeeenngg banget waktu lihat namaku di papan pengumuman itu.

Jadi keesokan harinya, hari Rabu 27 April 2011 aku bangun pagi, siap2 semuanya, mempersiapkan koperku, sarapan lalu kembali untuk mengambil barangku. 
Di dalam ruang tunggu Biak
Pemandangan di Biak
Perasaanku campur aduk, tegang (karena belum pernah melewati rute ini), senang (karena dalam hitungan jam aku akan bertemu keluargaku) dan siap2 secara fisik naik turun (meski nggak seberat waktu berangkat).
Pesawat dari Babo take off jam 10.00 WIT sampai di Biak jam 11.00 WIT. Dijadwalkan berangkat dari Biak jam 13.00 WIT dan sampai di Surabaya jam 14.00 WIB. Ternyata molor, jadi sampai di Surabaya jam 16.00 WIB. Ternyata suamiku sudah menunggu di airport Juanda sejak jam 14 WIB kurang. 


He's soooo...excited to have me home! Dia terlihat begitu senang waktu menunggu aku mengambil koper. Dia juga menyiapkan bunga di mobil. Dia langsung mencium keningku di airport di depan orang banyak.
Surprise welcome flowers from my hubby
Reaksiku? Hhhhmm....ngerasa aneh! Pada saat normal aja, dia nggak pernah seperti itu. Apalagi ini 1,5 bulan aku terbiasa hidup tanpa manja2an, jadinya ngerasa asing dengan sikap romantis.
Tapi nggak butuh waktu lama, malamnya aku sudah mulai bisa menerima sikapnya.
Sampai di rumah, bapakku juga terlihat senang sampai2 bapakku cium pipiku. Setelah ngobrol2 sebentar, aku naik ke kamarku. Di kamar, suamiku langsung memelukku cukup lama dan kencang. Waktu dilepaskan, aku lihat hidungnya sedikit memerah. Dia menangis! Hehe...lucu juga melihat suamiku seperti itu...

Adik & suamiku menikmati kepiting oleh2ku dari Babo 
Alhamdulillah ya Allah, aku sudah kembali dengan selamat ke keluargaku. Aku juga bersyukur atas pengalaman ini, satu tahapan berbeda yang cukup mengubah pandangan hidupku :)
 
 
 
 
written on Thursday, 28 April 2011
originally from this blog 

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review