Tuesday, August 23, 2011

Parents' Name, Parents' Fame

Kemarin malam aku kontrol ke obsgyn, untuk lepas perban dan memulai suntikan terapinya. Dijadwalkan jam 18, aku dan suamiku sampai sana jam 18.10. Ternyata yang antri sudah 12 orang, jadi aku nomor 13. Kemudian ruang tunggu sudah penuh. Karena memang biasanya yang antri di obgsyn adalah pasangan suami istri, bahkan ada yang membawa anak2nya, sampai babysitternya segala (meskipun jarang). Jadi kalau antrian 12 orang, berarti di ruang tunggu minimal ada 24 orang. Petugas resepsionisnya juga bilang bahwa dr. Hari baru saja datang. Jadi antriannya benar2 baru dimulai. Pfiiuhh...


Jadilah aku dan suamiku berpisah, karena nggak ada kursi kosong yang bersampingan. Tahu2 aku melihat teman SMA-ku dan istrinya keluar dari ruang praktek dokternya. Aku bingung, perasaan tadi aku nggak melihat dia ikut antri. Ternyata sesampainya di rumah, suamiku bilang bahwa temanku tadi memang nggak ikut antrian. Jadi dia langsung dipanggil oleh dokternya. FYI, temanku ini juga anak seorang dokter. Ibunya juga teman mamaku dulu. Bahkan ibunya masih tetap baik sama aku, kalau aku sakit beliau juga yang menangani.


Singkat cerita, aku jadi membayangkan dulu aku juga seperti itu. Karena aku anak pasangan dokter, jadi aku selalu pakai jalur khusus kalau menyangkut soal kesehatan. Aku cuma tahu beres dan tinggal menjalaninya saja. 


Dari dulu sebenarnya aku menghindari menggunakan akses ortu, dalam hal apapun, aku nggak mau membawa2 nama ortu. Cuma memang kalau waktu aku sakit (dua kali opname demam berdarah), aku pasrah aja dengan keputusan ortu.


Kali ini sejak mamaku meninggal, aku sudah mulai lepas dengan hal seperti itu. Kecuali pada saat terdesak, seperti waktu bapakku opname, mau nggak mau aku menghubungi kenalan2 mama untuk meminta bantuan. Karena memang pelayanan di RS pemerintah, sangatlah lama karena memang banyaknya pasien dan juga banyaknya dokter yang masih pendidikan (PPDS).


Aku jadi ingat pertanyaan salah seorang teman kerjaku, dia juga sudah menikah, tapi secara agama. Dia bertanya kalau aku ke dokter obsgyn, apakah mengajak bapakku juga? Aku bilang pertamanya dulu aja waktu pertama kali tahu hamil dan ada kista endometriosisnya. Setelah itu cuma aku dan suamiku. Dia bilang kenapa nggak sama bapakku sekalian? Lucu juga aku mendengarnya, memang aku dan suamiku masih tinggal di rumah ortuku. Tapi meskipun begitu seharusnya kita tidak lagi memberatkan ortu sejak kita menikah.

Untungnya dokter obsgyn-ku kenal aku juga sebagai staf WJP Consultation, meskipun beliau juga kenal ortuku. Tapi kami nggak pernah membahas tentang ortuku, beliau malah seringnya menanyakan mengenai pekerjaanku (agak minder juga sih, karena sebenarnya beliau adalah asesor ISO, malah jauh lebih berpengalaman dengan manajemen pelayanan kesehatan).


Yang jelas, setiap orang mempunyai keputusan sendiri2 mengenai hal ini. Sedangkan aku, lebih memilih untuk tidak perlu menggembar-gemborkan siapa ortuku. Malah kalau bisa, "menggembar-gemborkan" namaku sendiri alias membuat namaku lebih "berarti" di bidangku.

written on Monday, 6 December 2010
originally from this blog

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review