Self Evaluation

Memang nggak baik untuk membanding-bandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain, apalagi yang membuat kita menjadi iri atau nggak bersyukur. Karena banyak yang kehidupannya jauh di bawah kita.

Tapi tulisan kali ini lebih bertujuan untuk me-review hidupku sendiri. Saat ini aku berumur 26 tahun. Usia yang bisa dibilang usia dewasa muda, yang sedang kuat-kuatnya, yang bersemangat, tapi juga sudah lebih bisa berlogika dibandingkan remaja.


Aku merasa sudah menjadi dewasa muda sejak aku menikah, di usia 25 tahun 3 bulan, pada Oktober 2009. Segalanya terasa berbeda, meskipun belum berubah total. Setelah menikah, aku merasa aku jauh lebih dewasa, tapi masih cenderung bersenang-senang sebagai pasangan baru. Yeah, I got euphoria as a new couple. Kemudian aku masih berpikiran sebagai single-adult, aku masih merencanakan apa yang ingin aku lakukan untuk diriku sendiri. Awal tahun 2010, aku masih berencana untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tentu saja sudah dengan ijin suamiku. Aku masih ingin mencapai cita-cita lamaku, tapi aku tahu bahwa waktuku nggak sebebas dulu. Suamiku mengijinkan aku berburu beasiswa hanya sampai tahun ini saja, karena tentu saja akan mempengaruhi planning kami untuk punya anak.

Jadi aku merencanakan untuk melamar beasiswa yang di negara2 Eropa, dengan pertimbangan master degree di sana cukup 1 tahun. Sehingga rencanaku, aku bisa mulai kuliah lagi bulan September 2010, sehingga bisa selesai pada 2011. Namun ternyata sampai bulan Mei 2010, belum ada satupun hasil positif dari perburuanku itu. Jadi pada bulan Juni 2010, aku memutuskan untuk melepas impianku itu tahun 2010. Mungkin aku bisa melanjutkannya beberapa tahun lagi berupa short course atau sertifikat saja.


Bulan Juli 2010, aku dan suamiku sepakat untuk memulai program hamil. Bulan September 2010 aku dinyatakan hamil, dan cerita selanjutnya di sini.


Sekarang di awal 2011, aku mempunyai keraguan atas keputusanku itu. Apakah Allah menguji aku atas kesombonganku? Aku nggak mendapatkan apapun yang menjadi keinginanku, misalnya beasiswa dan anak. Meskipun aku nggak menyesali semua yang sudah terjadi. Karena banyak pelajaran yang sudah aku dapat dari perjalananku sepanjang 2010.


Aku ingin me-review kehidupan beberapa temanku. Ada beberapa jenis, yaitu:

  1. Teman-teman yang sejak lulus S1, sudah langsung mencari kerja apapun (beda bidang dengan pendidikan kuliah), kemudian menikah dan punya anak.
  2. Teman-teman yang melanjutkan kuliah S2 beberapa saat setelah lulus S1
  3. Teman-teman yang terus berusaha untuk menjadi PNS, kemudian baru menikah dan punya anak
  4. Teman-teman yang setelah lulus "agak hilang dari peredaran", kemudian mendapat beasiswa ke luar negeri, menikah dan mulai "update dengan dunia luar lagi"
  5. Teman-teman yang sampai saat ini masih terus mencari-cari identitas diri dan berpindah-pindah pekerjaan
  6. Teman-teman yang setelah menikah, memutuskan untuk menjadi full time mother.
Aku memang bukan seseorang yang menonjol, bahkan kadang aku masih merasa minder dengan diriku sendiri. Tapi entah kenapa, aku terus yakin dengan jalur karir-ku ini. Apalagi dengan keluarga (bapak, adik, suami dan almh.mama) yang selalu mendukung aku. Mereka nggak pernah "memaksa" aku untuk memilih jalur tertentu. Sempat aku berpikir untuk berfokus pada keluarga, terutama keluarga kecil-ku nantinya. Tapi sepertinya aku nggak bisa untuk menjadi full time mom. Sepertinya aku akan tetap mempunyai karir sendiri di luar rumah, dan tetap berkomitmen pada keluargaku. Persentase dan bentuknya seperti apa, Allah yang akan menjawabnya...

written on Sunday, 2 January 2011
originally from this blog 

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives