New Thought: It Is What It Is

Begitu mendapatkan pemahaman ini, aku ingin segera menuliskannya. Pemahaman apa?

Here's the story. Selama ini aku selalu berpikiran bahwa kondisiku saat ini (apapun itu) adalah konsekuensi atas perbuatan yang aku lakukan di masa lalu. Terutama bagian2 yang buruk atau musibah. Atau lebih tepatnya, karma atau hukuman dari Allah.
Mulai dari meninggalnya mamaku, aku merasa sangat menyesal, and so on. Aku merasa mungkin mama meninggal salah satu penyebabnya adalah karena kenakalanku dulu. Aku terus memikirkannya, mencari2 penyebab kenapa Allah mengambil mamaku begitu cepat. Mungkin karena ini, mungkin karena itu. Meskipun di sisi lain, aku percaya itu semua takdir Allah. Tapi aku terus bertanya2, kenapa mamaku? Kenapa bukan dia, dia atau dia? Yang menurut pandangan mataku, memiliki kehidupan yang tidak Islami, tidak sehat gaya hidupnya, dll.

Yang kedua, mengenai kesehatanku, seperti diketahui, aku pernah hamil, keguguran karena endometriosis, and so on. Aku berpikir menyalahkan diri atas perbuatan jelekku di masa lalu, menyesalinya, bertobat, mohon ampun kepada Allah. Tapi nggak berhenti di situ, aku terus menyesali diri. Aku mengingat2, apakah mungkin karena aku berkata sedikit kasar kepada A? Apakah karena aku diangga sombong oleh beberapa orang? Apakah karena aku tidak mau mendengarkan keluh kesah seseorang (yang menurutku terlalu sering mengeluh)?

Inilah yang kemudian sekarang aku pahami. Memang benar, kita harus menyesali semua perbuatan buruk di masa lalu karena manusia memang tidak luput dari salah. Kemudian memohon ampunan dari Allah dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Tapi setelah itu, let it go. 
Tidak semua kejadian memiliki alasan yang berhubungan dengan aku. Karena memang semua kejadian di dunia ini sudah diridhoi oleh Allah, baik itu berkah ataupun musibah. Keduanya diberikan Allah sebagai cobaan. Ya, kesenangan pun merupakan cobaan dari Allah, apakah kita bersyukur kepada Allah atas berkah itu atau malah bersenang2 melupakanNya. 


Merasa aneh? Nggak adil? Merasa bertanya2, lalu untuk apa kita diciptakan kalau seperti dipermainkan seperti itu? Dulu aku merasa seperti itu, tapi sedikit demi sedikit kita memang harus menerima bahwa memang kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Maka dulu pertanyaanku berlanjut, buat apa Allah menciptakan kita dengan tujuan seperti itu? Wallahu'alam bishawab. Hanya Allah yang mengetahui jawaban itu.


Back to the topic, setiap kejadian memang terjadi atas kehendakNya, kita memang bisa (bahkan diwajibkan) berusaha merubahnya, tapi tetap saja keputusan akhir berada di tangan Allah. It is what it is.

Jadi sekarang aku sedikit lebih kalem menghadapi kehidupan. Memang kadang aku masih terpancing emosi, seperti post-ku beberapa hari lalu. Memang manusia akan selalu seperti itu, iman manusia akan selalu naik turun. Itulah sebabnya diajarkan di Islam untuk selalu mengajak dalam kebaikan, saling mengingatkan, tapi bukan memaksakan :)

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives