Friday, February 24, 2012

27th Week of Pregnancy of Baby A

0 comments


   

Hari ini aku melakukan pemeriksaan USG 4D di rumah sakit tempat bapakku kerja. Rumah sakit umum, aku juga kurang nyaman sebenarnya, tapi di situ bisa gratis..hehehhe....

Hasilnya, baby A is really a baby girl! Dan yang terpenting adalah dia sehat dan semuanya normal. Semoga terus sehat sampai kelahirannya dan seterusnya.

Sedangkan kondisi plasenta, masih tetap sama, plasenta previa. Jadi memang aku harus berhati2 supaya jangan sampai terjadi bleeding.

Hal lain, kakiku sakit sejak 2 minggu lalu. Awalnya karena capek, tapi kemudian spertinya ada salah pijat, jadi semakin bengkak di kaki kiri saja.

Wednesday, February 22, 2012

The Price of Motherhood

0 comments
Salah satu topik yang menjadi pemikiranku selama aku hamil adalah akan jadi apa aku setelah melahirkan nanti? Working mom, Stay-at-home mom (SAHM) atau Work-at-home mom (WAHM)?

Proses ini rasanya seperti proses pencarian jati diri tahap kedua. Berikut ini beberapa buku yang langsung aku beli dan baca:





Dari buku tersebut, aku menggarisbawahi: apapun keputusannya atau statusnya, menjadi ibu adalah suatu tugas mulia, baik Working Mom, SAHM maupun WAHM. Oleh karena itu, apapun keputusannya, harus dijalani sebaik-baiknya dan dengan ikhlas. Semuanya kembali lagi untuk tujuan hidup yang sama yaitu memperoleh ridlo dan surgaNya.

Wednesday, February 15, 2012

Breastfeeding Mommy-to-be

0 comments
Sejak kehamilan usia 4 bulan, aku mulai aktif mencari tau tentang informasi yang berkaitan dengan masa kehamilan maupun paska melahirkan. Yang termasuk paska melahirkan antara lain, seluk beluk menyusui (yang aku benar2 buta tentangnya) tapi juga mematahkan mana mitos, mana fakta. Selain itu juga aku mulai memikirkan dan menggali informasi mengenai kehidupan seorang ibu muda dengan seorang anak. Suamiku sangat mendukung hal ini, karena dia sangat paham bahwa aku nggak pernah tau mengenai itu semua dan lagi aku sudah nggak ada mama yang bisa mendampingiku selama kehamilan dan melahirkan. Untungnya suamiku bukan tipe yang menganggap bahwa itu semua alami, jadi nggak perlu dipelajari pasti bisa sendiri. Aku sudah membuktikannya pada beberapa teman2 perempuanku. 
Waktu aku mengajak beberapa orang temanku yang sedang hamil atau yang so into motherhood, responnya juga semacam itu, nggak perlulah mengambil kelas edukasi, karena itu semua alami, bisa sendiri tanpa dipelajari.

Entah mereka benar2 sudah menguasai hal tersebut atau tidak, yang jelas setelah aku mengikuti satu kelas edukasi topik Common Challenge yang diadakan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), aku semakin banyak mengetahui bahwa banyak kondisi2 di masyarakat yang sebenarnya hanya mitos. Karena kelas yang aku ikuti adalah Tantangan dalam Menyusui (Common Challenge) jadi yang dibahas seputar permasalahan dalam menyusui, misalnya puting lecet, payudara bengkak, produksi ASI sedikit atau malah berlebihan, dll. Kita diberi informasi mengenai apa tindakan yang harus kita lakukan terkait hal tersebut. Seringkali ibu berhenti menyusui karena puting lecet, padahal sebenarnya tidak perlu berhenti, karena akan menghentikan produksi ASI. Langkah yang harus diambil adalah memperbaik perlekatan penyusuan bayi (posisi menyusu bayi). Aku baru tau posisi yang benar untuk menyusui (meski sedikit karena akan dibahas pada kelas Persiapan Menyusui Prenatal).


Untuk menjadi ibu ASI eksklusif (minimal 6 bulan, bisa sampai 2 tahun atau lebih), memang benar2 dibutuhkan persiapan. Persiapan mental ibu (ibu harus selalu dalam kondisi bahagia dan relaks, tidak stres), dukungan suami, keluarga dan lingkungan sekitar, dll. Nggak jarang komentar2 orang sekitar (yang emang ga paham) malah justru bikin mental ibunya tambah down, misalnya "putingnya lagi bengkak gitu, ASInya harus dibuang tuh!", "ASI yang disimpan itu ga bagus, pasti berubah jadi darah, basi, dll".


Helloo...ASI ga bisa basi kalau penanganannya bagus (ini juga ada tata caranya yang dibahas di kelas edukasi AIMI). Yah masih banyak lagi komentar2 yang sebenernya silly, tapi lumayan bikin gemes ibu yang ndengerinnya.


Dengan banyaknya manfaat kelas ini, aku sudah daftar jadi member AIMI dan sekarang berniat volunteering di AIMI. Semoga suami setuju dan jadwalnya juga bisa enak.

Monday, February 6, 2012

Easier to be said than to be done, but it's possible

0 comments
Everything is easier to be said than to be done. That's life. It's all about choices and how we stick on it and also being flexible at the same time.

Aku nih ngomong apa sih? Hehehe... Semakin hari semakin terasa nyata betapa hidup penuh ketidakpastian. Dan pada saat yang bersamaan, kita sudah tau tentang teori kehidupan, yang mengharuskan kita membuat rencana, selalu berusaha (ikhtiar) dan selalu berpasrah diri (ikhlas terhadap semua keputusan Allah). We just do the best, and Allah do the rest.

Sejak kehamilan masuk trimester 2, aku mulai memikirkan apa yang ingin aku lakukan setelah melahirkan nanti. Aku nggak mau meninggalkan anakku full dengan pembantu. Tapi menjadi full time mom juga belum bisa membuat hatiku sreg. Masih ada pertimbangan bagaimana aktualisasi diriku nanti, apa gunanya gelar S2-ku, memenuhi harapan orang tua, dsb.

Opsi kedua, aku menjadi entrepreneur dalam bidang S2-ku, dengan menjadi freelance consultant atau writer. Atau bahkan mendirikan perusahaan sendiri seperti tempatku bekerja sekarang. Belum juga aku menetapkan pilihan, ada tawaran untuk mengajar di salah satu STIKES swasta di Surabaya. Letaknya juga nggak terlalu jauh dari rumahku. Hanya saja dulu bapakku masih keberatan dengan ini, karena statusnya yang swasta (ortu masih PNS-minded).
Karena aku masih ingin mewujudkan harapan ortu, maka dilema lah aku sekarang.

Seperti yang sudah aku tahu secara teori, manusia harus selalu ikhtiar + doa  ikhlas. Kalau merasa sudah berusaha dan berdoa, sekarang saatnya ikhlas. Seperti yang aku baca di Qunatum Ikhlas, begitu juga dari buku Berkomunikasi dengan Janin di Dalam Kandungan, semua menekankan pentingnya perasaan yang positif atau kondisi otak dalam gelombang Alfa.

Jadilah aku membuat quote kalimat di awal :) 

Ps. Di tengah penulisan postingan ini, tiba2 bosku datang. Aku tarik nafas panjang, mengucapkan bismillah dan berdoa supaya aku mendapatkan satu titik terang menuju solusinya. Alhamdulillah tanggapan bosku baik, beliau menyerahkan ke aku mengenai dosen tetap atau bukan, asalkan aku kuat merangkap di 2 tempat.
That's it! Dengan kondisi seperti aku sekarang, aku juga meragukan kekuatan fisikku, maksudnya aku berusaha menghemat2 tenagaku dan kesehatanku. 
Jadi rencanaku, besok aku akan memastikan lagi jadwal mengajar di sana. Kalau memang waktunya menyita banyak, aku akan memilih untuk menjadi dosen lepas saja.
Bismillah....semua pasti ada jalannya :)

Thursday, February 2, 2012

24th Week of Pregnancy

0 comments
Last night I did my Obsgyn monthly check-up. Semuanya baik, alhamdulillah, air ketuban cukup banyak, detak jantung bayi juga bagus, pertumbuhan bayi juga bagus.
Cuma ada 1 hal yang dikatakan dokterku, ari2nya di bawah. Hah? Aku bingung, harusnya di mana emangnya? Hehehe...dodol banget yah? First time mom :)


Dokterku menjelaskan, seharusnya ari2nya berada di bagian atas rahim, atau biasa disebut fundus uteri. Tapi dokterku nggak mengatakan apa2 lagi, kecuali larangan untuk berhubungan suami istri :D
Sampai di rumah, aku browsing mengenai hal itu. Ternyata ari2 di bawah itu bisa disebut juga placenta previa. 
Artikel lengkap ada di sini
Dampaknya kalau di kehamilan usia 8 bulan ke atas, maka kemungkinan ari2 akan menutup jalan lahir, sehingga harus lahir dengan operasi sectio. Karena aku juga skoliosis, maka dari awal memang kemungkinan besar, aku juga sectio.


Tapi kalau di usia kehamilan seperti aku ini, maka yang dikhawatirkan adalah perdarahan. Alhamdulillah aku nggak pernah mengalami flek ataupun light bleeding. Kalau kata bapakku, kemungkinan aku bukan placenta previa yang sampai menutup jalan lahir. Tapi cuma berada di bagian bawah.


Sehari setelah periksa, aku banyak baca2 lagi, dan semakin membuatku khawatir beraktivitas. Tapi bismillah, aku hilangkan semua pikiran dan perasaan negatif itu, tapi dengan tetap menjaga badanku. Suamiku juga jadi lebih perhatian, meski bukan yang secara fisik, tapi dia jadi lebih care. Aku sendiri nggak mau memanfaatkan ini sebagai alasan untuk bermanja2 dengan suami, minta apa2 yang harus dituruti suami.


Aku sering bilang ke bayiku, sehat terus ya, nak..meskipun aku belum tahu apakah dia benar2 bisa menerima komunikasiku. Jadilah aku membeli buku ini:


Dengan metode hypnobirthing, (katanya) semua ibu hamil bisa berkomunikasi dengan bayi di dalam kandungannya. Aku baru aja belinya, jadi belum aku baca apalagi dipraktekkan :D


Untuk buku kedua ini, sudah aku beli sejak usia kandungan 4 bulan lebih, karena aku merasa sangat2 buta dengan kehamilan dan pernak perniknya. Apalagi aku anak pertama, dan mamaku juga sudah meninggal. Aku butuh gambaran lengkap setelah kelahiran anakku, apa saja yang perlu dipersiapkan, gimana proses kehidupan, psikologis dan sosial orang tua, terutama sang calon bunda.
Buku ini sangat bagus menurutku, karena penulisnya lulusan psikologi, jadi topik bahasannya nggak terlalu medis. Aku sudah pernah membaca buku kehamilan dari sisi medis. Jadi yang aku butuhkan justru dari sisi psikologis dan sosialnya.
 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review