Easier to be said than to be done, but it's possible

Everything is easier to be said than to be done. That's life. It's all about choices and how we stick on it and also being flexible at the same time.

Aku nih ngomong apa sih? Hehehe... Semakin hari semakin terasa nyata betapa hidup penuh ketidakpastian. Dan pada saat yang bersamaan, kita sudah tau tentang teori kehidupan, yang mengharuskan kita membuat rencana, selalu berusaha (ikhtiar) dan selalu berpasrah diri (ikhlas terhadap semua keputusan Allah). We just do the best, and Allah do the rest.

Sejak kehamilan masuk trimester 2, aku mulai memikirkan apa yang ingin aku lakukan setelah melahirkan nanti. Aku nggak mau meninggalkan anakku full dengan pembantu. Tapi menjadi full time mom juga belum bisa membuat hatiku sreg. Masih ada pertimbangan bagaimana aktualisasi diriku nanti, apa gunanya gelar S2-ku, memenuhi harapan orang tua, dsb.

Opsi kedua, aku menjadi entrepreneur dalam bidang S2-ku, dengan menjadi freelance consultant atau writer. Atau bahkan mendirikan perusahaan sendiri seperti tempatku bekerja sekarang. Belum juga aku menetapkan pilihan, ada tawaran untuk mengajar di salah satu STIKES swasta di Surabaya. Letaknya juga nggak terlalu jauh dari rumahku. Hanya saja dulu bapakku masih keberatan dengan ini, karena statusnya yang swasta (ortu masih PNS-minded).
Karena aku masih ingin mewujudkan harapan ortu, maka dilema lah aku sekarang.

Seperti yang sudah aku tahu secara teori, manusia harus selalu ikhtiar + doa  ikhlas. Kalau merasa sudah berusaha dan berdoa, sekarang saatnya ikhlas. Seperti yang aku baca di Qunatum Ikhlas, begitu juga dari buku Berkomunikasi dengan Janin di Dalam Kandungan, semua menekankan pentingnya perasaan yang positif atau kondisi otak dalam gelombang Alfa.

Jadilah aku membuat quote kalimat di awal :) 

Ps. Di tengah penulisan postingan ini, tiba2 bosku datang. Aku tarik nafas panjang, mengucapkan bismillah dan berdoa supaya aku mendapatkan satu titik terang menuju solusinya. Alhamdulillah tanggapan bosku baik, beliau menyerahkan ke aku mengenai dosen tetap atau bukan, asalkan aku kuat merangkap di 2 tempat.
That's it! Dengan kondisi seperti aku sekarang, aku juga meragukan kekuatan fisikku, maksudnya aku berusaha menghemat2 tenagaku dan kesehatanku. 
Jadi rencanaku, besok aku akan memastikan lagi jadwal mengajar di sana. Kalau memang waktunya menyita banyak, aku akan memilih untuk menjadi dosen lepas saja.
Bismillah....semua pasti ada jalannya :)

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives