Monday, May 7, 2012

Hubby Support in Pregnancy

Topik kali ini spesifik niihh....tentang dukungan suami selama kehamilan. Sebelumnya, aku mau menggambarkan seperti apa suamiku :D

Waktu pacaran, suami adalah tipikal laki-laki yang keras (termasuk soal kuliah dan kerja), punya pendirian kuat, leader-type (pernah jadi presiden BEM, ketua Pecinta Alam, dan ketua2 lainnya) daann nggak bisa ngomong romantis. Sebenernya aku sendiri sih juga nggak seberapa suka dengan yang sok romantis, tapi sebagai perempuan, wajarlah kalau aku juga pingin "digombalin" sedikit :D 

Kalimat "aku sayang kamu" dan sejenisnya mungkin sudah biasa dikatakan oleh pasangan2 lain, tapi nggak begitu dengan suamiku (waktu itu). Apalagi di awal pacaran, aku bener2 nunjukkin kalo nggak suka diromatisin *kena batunya deh*
Aku sendiri punya karakter yang sangat jauuuh berbeda. Aku sangat ramai kalau bersama teman2, suka becanda, manja dan cenderung childish.

Fast forward, 5,5 tahun pacaran, akhirnya kami menikah. Banyak cobaan dan suamiku membuktikan rasa sayangnya. Mulai dari aku opname, mamaku opname sampai meninggal, suamiku selalu mendampingi aku. Bukan hanya mendampingi, dia benar2 memperlakukan orang tuaku seperti orangtuanya sendiri.
Setelah menikah, aku masih belum mau hamil karena menurutku emosiku masih belum stabil atas meninggalnya mama dan mungkin keegoisanku (aku masih mau mencari beasiswa waktu itu). Suamiku tetep setuju aja, itulah yang aku suka, dia selalu dukung apapun yang positif untuk aku. 7 bulan setelah menikah dan nggak ada tanda2 positif untuk beasiswa, akhirnya aku setuju untuk hamil. Sebulan setelah lepas kontrasepsi cowok, aku langsung hamil. Sayangnya sampai usia kandungan 9 minggu, aku keguguran. Baca ceritanya di sini

Perjalanan panjang setelah itu (baca di sini dan sini), suamiku terus memberikan dukungannya. Nggak dengan cara berlebihan, dia cuma selalu ada buat aku (bukan secara fisik selama 24 jam yaa) dan  masih tetap kasih tau aku kalau aku salah, nggak cuma membesar2kan hatiku aja.


Dengan karakternya yang "cuek" dan serba apa adanya, ada ketakutan juga kalau2 dia ikut mitos yang beredar di masyarakat. Oya salah satu perbedaan kami adalah dia nggak suka baca, sedangkan aku adalah book lover. Jadi aku khawatir, dia mengikuti mitos yang berkembang di masyarakat tanpa tahu dasar ilmiahnya, sedangkan aku sendiri juga nggak punya pengetahuan apapun about being new mom.


Jadi aku mulai searching, browsing di internet (babycenter.com, whattoexpect.com dan theurbanmama.com) selain juga mulai aktif di twitter (follow @aimi_asi, @ID_AyahASI, @mamaperah). Mulai aktif tambah pengetahuan sih sekitar hamil 4-5 bulanan.
Nah suami ini tipikal yang nggak bisa dipaksa. Kalau bukan keinginannya sendiri, meski aku nangis gulung2, dia nggak akan mau melakukannya. Tapi sekarang aku tau triknya, ya memang nggak boleh dipaksa. Paparkan suami sedikit demi sedikit tentang pengetahuan yang kita dapatkan.


Contohnya soal menyusui, dulu dia berpendapat menyusui itu hal yang alami, nggak perlu dipelajari (mindset kebanyakan orang nih, yang berpotensi menggagalkan ASI eksklusif). Memang menyusui itu hal yang alami, tapi tentu aja tetap butuh persiapan. Contohnya seperti kita mau masuk SMP atau SMA, itu hal yang alami (asalkan ada dana), tapi mau masuk sekolah yang mana itu kan butuh persiapan juga, baik finansial maupun pilihan2 sekolahnya. Akhirnya sedikit demi sedikit, aku paparkan dia dg topik menyusui, sedikit2 aja dan dengan nada yang santai.
Alhamdulillah dia sekarang sudah paham mengenai pentingnya ASI. Dulu mana mau dia follow twitter-nya @ID_AyahASI, karena dia malas banyak omong tanpa ada tindakan. Tapi sedikit2 aku bacakan isi twitter-nya atau aku ketawa2 sendiri, trus dia mulai tertarik deh...


Terakhir hari minggu kemarin, aku berniat ikut Seminar Imunisasi yang diadakan AIMI Jatim. Tapi juga ga memaksakan diri krn aku sudah hamil 37 minggu, nggak mungkin nyetir sendiri ke tempat sejauh itu. Alhamdulillah dengan kesadarannya sendiri, suamiku bilang pingin ikut seminarnya (bukan sekadar nganterin lho yaa..). Itu karena sebelumnya aku paparkan dengan artikel di majalah mengenai jenis2 imunisasi dan pemahaman yang salah di masyarakat tentang imunisasi.


Dalam waktu dekat, aku sudah mempersiapkan suamiku untuk memperjuangkan IMD dan rawat gabung saat persalinan di RS nanti. Karena nggak menutup kemungkinan, saat aku masuk di proses persalinan, aku nggak bisa "ngeyel" sendiri. InsyaAllah...

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review