Friday, June 22, 2012

Attachment Parenting

0 comments
Hi all!

Sooo....posting terakhirku adalah tentang perkembangan Ayra. Daaann...setelah kontrol tanggal 16 kemarin, berat Ayra sekarang 3,9kg dan panjangnya 54cm. Alhamdulillaaahh.. Berat lahir 3,3kg dan panjang lahir 49cm.

Yang mau aku tulis sekarang adalah tentang Attachment Parenting. Buku ini aku beli karena ada hari tertentu Ayra nangis teruusss..yang bikin aku capek, dan lagi saran kebanyakan orang yang jenguk bahwa kalau nangis dibiarkan aja sampai berhenti sendiri, itu nggak manjur.

Aku pernah membiarkan Ayra nangis 1 jam, karena aku merasa sudah menyusui dia cukup lama. Ya Ayra nggak berhenti nangisnya, malah tambah keras. Yang mana jelas aja bikin dia tambah laper doong..

Cover buku itu cukup "provokatif", bahwa menggendong anak itu perlu. 
Ternyata Attachment Parenting sebenarnya bukan hal baru, bahkan sebenarnya itulah pola pengasuhan jaman dulu sebelum adanya barang2 berteknologi tinggi, seperti stroller, bouncer, dll untuk mengambil alih peran orang tua dalam pengasuhan anak.

Perangkat Attachment Parenting terdiri dari 7 perangkat Baby B:
  1. Bonding (keterikatan)
  2. Breastfeeding (menyusui)
  3. Babywearing (menggendong bayi)
  4. Balance (keseimbangan)
  5. Bedding close to baby (tidur berdekatan dengan bayi)
  6. Belief in the signal value of baby's cry (percaya pada nilai sinyal tangisan bayi)
  7. Beware of the baby trainers (waspada terhadap para pelatih bayi)


Pada intinya, AP mengajarkan para orang tua untuk mempercayai nalurinya. Bahwa bayi tidaklah manipulatif. Bayi menangis karena dia membutuhkan sesuatu, hanya dengan menangis dia berkomunikasi.

Bayangkan, seorang bayi kecil yang baru lahir, asing di dunia yang ramai dan dingin ini, nggak tau caranya untuk berkomunikasi. Bayi memerlukan kenyamanan seperti sebelumnya di dalam kandungan ibunya. Kalau orangtuanya nggak merespon tangisannya, bayi akan semakin merasa stres karena merasa caranya berkomunikasi nggak dihargai. Padahal tangisan itulah satu2nya cara komunikasi yang dia bisa.

Memang penerapan AP ini agak melelahkan, tapi hasilnya sangat layak untuk diperjuangkan. Bayi AP lebih ceria, jarang rewel, percaya diri dan patuh pada orang tua karena sejak bayi setiap tangisannya selalu direspon menyebabkan bayi percaya bahwa orang tuanya selalu ada untuknya, memberikan kenyamanan, dll.
Sedangkan manfaat untuk orang tua adalah memberikan rasa percaya diri bahwa dia tau apa yang diinginkan anaknya. Ortu AP juga jarang beradu argumen dengan anaknya karena ortu sudah tau pola pikir anaknya (istilahnya sudah selaras) dan anak juga akan selalu berusaha membahagiakan ortunya (karena sejak bayi dia merasakan kasih sayang ortu yang begitu nyata)

Apakah AP membuat bayi menjadi manja? Dari penelitian, ternyata nggak. Bayi AP akan bertumbuhkembang sesuai usianya. Dia akan mandiri pada tingkatnya sesuai usianya.

Sudah 3 hari ini aku menerapkan AP, capek memang, tapi nggak lebih capek dari biasanya karena sekarang Ayra dan aku sudah bisa selaras. Dia nggak pernah nangis keras lagi dan nggak pernah susah untuk didiamkan kalau nangis.

Love love baby Ayra :*

Friday, June 15, 2012

Baby Ayra's First Month

0 comments
Bulan pertama sejak kelahiran Ayra, sangat banyak yang terjadi.. Kadang semua terasa begitu lambat (terutama 2 minggu pertama waktu aku mengalami baby blues), tapi alhamdulillah setelah minggu ketiga aku sudah mulai bisa menikmati perubahan keadaan ini.
Seperti yang aku tulis di posting sebelumnya, aku sangat capek fisik. Akhirnya hari Minggu lalu, suami mencarikan tukang pijit yang bisa dipanggil ke rumah. 
Tentu aja nggak langsung sembuh dan kembali seperti semula, tapi lumayan membantu.

Sekitar 1 minggu terakhir ini, Ayra jadi lebih sensitif. Cepat kaget kalau dengar suara dan agak manja kalau pagi-siang, minta tidur di pangkuan.
Alhamdulillah aku sudah mulai bisa memahami karakter Ayra, lebih tepatnya sudah mulai menyatukan ritme kami berdua. Aku sadar perjalanan ini masih panjang, masih akan banyak perubahan2 yang akan terjadi. Dan aku juga tahu bahwa motherhood is a lifetime process, nggak akan pernah berhenti selama aku masih hidup.

Besok sabtu tanggal 16 Juni 2012, Ayra tepat 1 bulan. Itu artinya Ayra waktunya kontrol ke dokter anak dan imunisasi Hep B yang kedua.
Semoga semua sehat.. while I can't hardly wait to know her latest weight and length :)




Wednesday, June 6, 2012

Baby Blues Syndrome: How I Deal with It

0 comments
Baby blues syndrome, pasti sudah sering kita dengar kan? Begitu juga aku, sejak sebelum hamil sudah sering dengar istilah itu. Saat hamil sekitar 7-8 bulan semakin sering baca2 yang berkaitan dengan psikologis ibu baru, termasuk juga baby blues ini.

Jadi ceritaku dimulai dari sejak aku dan Ayra rawat gabung di RS (yang memang atas permintaanku, sebagai salah satu langkah ASI eksklusif). Karena rawat gabung, semua aktivitas Ayra dilakukan di kamarku oleh aku dan suami. Ayra cuma diambil perawat dua kali saat mandi pagi dan sore, juga kalau pup (yang mana pup-nya newborn masih sangat jarang).

Oya selama hari Rabu paska operasi, aku masih pakai infus dan kateter, jadi otomatis, aku nggak bisa duduk ataupun jalan. Kamis-nya infus dan kateter sudah dilepas, karena dr. Hari lihat perkembanganku sudaa baik. Meski Rabu itu aku masih di tempat tidur seharian, tapi aku sudah disarankan untuk belajar menyusui. Dan ternyataaa...menyusui itu sakit lhoo...ini yang nggak ada di literatur manapun.


Karena aku sudah banyak baca, aku tahu bahwa sampai hari ketiga kelahiran, ASI yang dikeluarkan sangat sedikit (yang namanya kolostrum) sehingga kadang nggak bisa dilihat mata. Dan memang, ASI-ku kelihatannya nggak keluar, tapi aku nggak panik, karena aku sudah tahu. Perawat2 di RS Husada Utama juga sangat suportif, justru yang nggak suportif adalah salah satu tamu yang datang jenguk. Beliau seorang dokter, tapi belum2 sudah bilang ASI-ku belum keluar, siap2 ditambahkan sufor aja. Padahal itu masih hari ke-2... Hellooo...kemana aja sih, buu...ga pernah update ilmu ASI yaaa? Bete deh..


Waktu yang sama, juga datang temanku dari AIMI, untuk sekalian cek pelekatanku. Karena aku memang bilang, kok terasa sakit ya...terutama di payudara kiri. Apalagi Ayra terasa nggak suka nyusu di payudara kiri.
Setelah di-cek temanku AIMI juga beberapa perawat RS (karena sampai hari terakhir di RS, aku masih mengeluh sakit), posisi dan pelekatanku sudah benar.


Jum'at siang aku sudah diperbolehkan pulang bersama Ayra...alhamdulillah.. Meski Ayra terlihat sedikit kuning, aku juga sudah tahu bahwa 80% bayi sehat memang mengalami kuning (jaundice/icterus) pada beberapa minggu pertama kelahirannya. Tapi beberapa dokter anak nggak mau ambil risiko, jadilah bayi2 kuning tersebut di-fototerapi. Sebenarnya ada ukuran indikator jumlah bilirubin yang masih dianggap aman (silakan baca di sini).



Nah alhamdulillah karena dokter anakku pro ASI, jadi beliau membolehkan Ayra pulang dengan syarat terus dijemur 30 menit setiap hari dan harus disusui setiap 2-3 jam. Aku sangaaat senang dan berjanji akan menyehatkan Ayra. Senin depannya harus kontrol lagi ke dokter anak tsb.


Sabtu pagi tiba2 salah satu pembantuku pulang, dan minggu pagi pembantu yang baru bekerja 1 minggu juga ikut pulang. Jadilah di rumah nggak ada pembantu sama sekali. Pengalaman tanpa pembantu dulu2 nggak masalah, tapi kali ini ada bayi kecil, yang aku sendiri masih harus adaptasi. Tentu aja di awal aku sudah bilang bahwa aku nggak bisa mengerjakan pekerjaan rumah lagi seperti dulu (menyapu, mengepel, cuci & setrika baju), kecuali untuk kamarku sendiri.

Sampai hari Senin suamiku masih ada di rumah. Karena Senin kami juga harus kontrol ke dokter anak. Selain itu kami juga memutuskan tepat hari ke 7nya yaitu hari Rabu, kami akan mengaakan aqiqoh-nya Ayra. Jadi hanya ada waktu dua hari sebelum Rabu. 
Jadwal tidur, bangun, menyusu, pipis, dan pup Ayra nggak bisa ditebak. Ditambah lagi selama hari kerja, aku harus stand by kalau ada telpon, tamu atau rantang yang datang ke rumah. Padahal sebelum ada Ayra, aku adalah tipikal orang yang terorganisir. Misalnya, selalu nyapu & ngepel kamar sebelum aku mandi. Tapi setelah ada Ayra, nggak bisa lagi. Mau nunggu Ayra selesai mandi (karena mandinya di kamar, jadi supaya sekalian dibersihkan kalau ada air2 yang tumpah), tapi setelah mandi ternyata Ayra nangis. Harus disusuin dulu, padahal aku juga belum mandi. Yahh..hal2 kecil seperti itu tapi terjadi dalam intensitas tinggi bikin aku lama kelamaan stres juga.


Menyusui juga masih menyakitkan buat aku, Ayra sendiri terlihat masih belajar menyusu, nggak selalu dalam sekali posisi dia bisa nyaman untuk menyusu. Bahkan hari kedua putingku sempat lecet, tapi aku masih tetap semangat menyusui supaya Ayra bisa cepat sehat.


Puncaknya pada hari Rabu, pelaksanaan aqiqoh Ayra berjalan lancar, alhamdulillah. Tapi selama acara itu, kepalaku terasa sangaaat pusing. Sejak hari itu, aku ngerasa sangat nggak enak, nggak mau ditinggal sendirian dengan Ayra, minimal ada orang lain di rumah. Bahkan pernah berharap Ayra tidur terus supaya aku nggak perlu menyusui. Tapi nggak menyusui pun ternyata menyakitkan buat aku. Ya karena produksi ASI sudah banyak jadi kalau nggak dikeluarkan payudara malah akan terasa sakit, yang lebih parah malah jadi mastitis...naudzubillah..


Perasaan nggak enak ini terus aku rasakan sampai hari Minggu atau sekitar hari ke 10 paska melahirkan. Selama hari Rabu sampai Minggu (yang terasa sangat lama buat aku), aku selalu merengek ke suami untuk nggak masuk kerja, selalu sms suami setiap jam untuk hal2 yang nggak penting. Dan ujung2nya aku bilang jujur bahwa perasaanku nggak enak dan kemungkinan kena baby blues. Pembicaraan ke suami nggak terlalu berat, nggak terlalu maksa dia untuk ngertiin aku. Karena dia sendiri pulang kerja sudah jam 5 sore, kadang lebih malam. Belum lagi untuk urusan warnetnya.


Dari beberapa sumber yang aku baca, solusi untuk menghadapi baby blues antara lain: bicara dengan orang lain, hindari sebisa mungkin untuk sendirian, adakan waktu untuk relaks (dengan menitipkan bayi sementara ke orang lain), kalau dalam 2 minggu belum hilang, disarankan mengunjungi psikiater atau bicara dengan dokter obsgyn.
Solusi2 itu nggak ada yang bisa aku lakukan selain bicara dengan orang lain. Yaitu suamiku dan adikku.
Akhirnya suamiku sedikit demi sedikit mengerti dan mengijinkan aku unuk ikut pergi bersama dia dan Ayra keluar rumah (tujuan pertama adalah ikut suami ke dokter gigi!). Hari itu adalah hari Minggu dan Ayra baru genap berusia 10 hari. Malamnya, aku minta makan malam di luar, di resto dekat rumah. 

Solusi yang berhasil di aku:
  1. Cerita dengan orang terdekat, kalau aku: adikku & suamiku
  2. Minta dukungan suami, misalnya meminta persetujuan suami untuk pergi ke tempat yang disukai
  3. Lakukan hal yang disukai dan bisa dilakukan sendirian di sela2 kesibukan baru sebagai ibu, kalau aku: menyempatkan diri untuk nulis blog dan baca komik
  4. Istirahat setiap kali bayi tidur
  5. Ingat2 lagi hal2 yang harus disyukuri, kalau bisa tulis di social media, jadi nggak cuma sekadar bayangan
  6. Berinteraksi dengan sesama ibu muda yang punya perilaku positif (karena ada beberapa ibu muda yang sukanya membanding2kan dg anaknya kemudian membangga2kan anaknya sendiri, ini yang nggak akan membantu)

Sementara ini dulu yang berhasil aku jalani...I'll update it if I have something new :)

Tuesday, June 5, 2012

Ayra's Birth Process

2 comments
Sesuai janjiku, aku mau ceritakan detil proses kelahiran Ayra melalui operasi caesar (sectio caesaria/SC).

Metode kelahiran yang SC sudah direncanakan sejak kehamilan 4 bulan, sejak dr. Hari tahu kalau aku skoliosis di bagian lumbal. dr. Hari menjelaskan kalau tulang yang bengkok di bagian lumbal kemungkinan akan mengakibatkan tulang panggul nggak simetris sehingga menyulitkan bayi keluar lewat jalan lahir normal.

Meski demikian, sampai kehamilan usia 38 minggu lebih, dr. Hari nggak pernah kasih tanggal pasti operasinya. Itu yang bikin aku juga kadang jadi galau :D Sempat terpikir mau normal di akhir2 kehamilan, apalagi sebenarnya ada temanku yg skoliosis juga dengan lokasi dan derajat yang lebih parah dari aku, bisa melahirkan normal. Tapi belakangan setelah Ayra lahir, aku baru sadar, mungkin dr. Hari juga nggak mau ambil risiko kalau nanti dg persalinan normal ternyata ada hambatan. Karena sebelumnya aku pernah keguguran dan ada riwayat endometriosis, jadi bisa dibilang kalau Ayra ini bayi mahal, meski sebenarnya proses pembuahannya juga alami aja :D
Sedangkan bapakku juga mengkhawatirkan kalau pakai proses normal dan bayi susah keluar, nanti malah kehabisan oksigen di jalan lahir. FYI, bapakku juga dokter, meski dokter mata :D

Soo...aku pasrah lah untuk operasi, apapun caranya yang penting bayiku bisa lahir selamat dan lancar.

Awalnya aku juga nggak tau prosedur melahirkan di RS, terutama untuk yang SC terencana seperti aku ini. Setelah telepon ke dua RS, aku jadi punya gambaran. Untuk di RS pertama, SC bisa didaftarkan terlebih dahulu. Cuma untuk kepastiannya harus menunggu konfirmasi dari dokter yang bersangkutan dan ketersediaan kamar operasi di RS tsb. Sedangkan di RS Husada Utama, nggak bisa daftar operasinya dulu.
Tapi di kedua RS ini sama nggak bisa booking kamar rawat inapnya. Semua info ini baru aku dapatkan pada H-2 dan H-1.

Jadi aku MRS tanggal 15 Mei 2012 jam 19.00, tapi baru masuk kamar jam 21.00. Kemudian dilakukan pemeriksaan lab, pasang infus, pemeriksaan doppler dan cukur bulu pubis untuk persiapan operasi keesokan harinya.
Operasi dimulai tepat jam 7 pagi. Karena dari awal aku minta untuk dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), jadi bius yang digunakan adalah bius lumbal. Bagian bawah tubuh aja yang dimatirasakan, sedangkan dada ke atas, masih terasa.
Suami masuk kamar operasi belakangan, jadi aku nggak tau kapan tepatnya dia masuk karena aku sudah sibuk sendiri.


Di meja operasi, aku tiduran telentang dengan tangan kiri dipasang infus dan tangan kanan dipasang semacam tensimeter untuk memantau tekanan darahku. Kemudian di dadaku dipasang alat lagi, aku nggak tau namanya :D
Di bagian bawah dada dipasang semacam tirai, jadi aku nggak bisa melihat ke bagian bawah tubuhku. Selain itu aku juga dipasang selang oksigen di hidung. Semua proses itu berjalan dengan sangat cepat. Ya aku juga sudah tau bahwa untuk proses SC dengan IMD memang harus dilakukan cepat untuk menghindari biusnya mempengaruhi bayi. 


Dengan semua alat terpasang di tubuh dan kita masih sadar, rasanya gimana? Rasanya sangat melayang...deg2an? nggak terlalu, tapi lebih ke arah powerless, nggak berdaya. Apalagi yang bikin nggak nyaman adalah adanya selang oksigen di hidung di saat kita masih bisa napas sendiri. Rasanya seperti naik sepeda motor yang sangat kencang dan tanpa helm, tapi ini oksigen fresh ya..jadi lebih kerasa banget, bikin nggak bisa napas :D


Setelah semua peralatan terpasang, dr. Hari masuk, menyapa aku (dan aku jawab dg lemah krn nggak bisa napas). Salah satu perawat membacakan panduan operasinya, kemudian dr. Hari membaca basmalah dan bilang ke aku, "mulai ya operasinya". Kira-kira 10 menit kemudian aku merasakan ada yang menekan di bagian bawah payudara atau sekitar diafragma. Rasanya seperti ada organ dalam tubuhku yang ditarik keluar, disedot keluar. Nggak sakit, tapi rasanya ketarik semua. Nggak lama kemudian, terdengarlah suara tangis Ayra yang superrr kencaaang! Saat itu, aku meneteskan air mata, nggak ada kata2 yang keluar seperti aku rencanakan, misalnya alhamdulillah, allahuakbar atau apalah...
Saat itu, suamiku memegang kepalaku, tapi aku nggak bisa melihat wajahnya (atau nggak konsen juga utk liat wajahnya).


Saat itu aku nggak tau proses selanjutnya, tapi dari video hasil rekaman suamiku, ternyata Ayra dibersihkan sedikit, dokter anak dijelaskan kelengkapan fisiknya dan diukur berat dan panjang badannya ke suamiku.
Setelah itu, Ayra diletakkan di dadaku oleh dokter anaknya, yang belum pernah aku temui sama sekali (tapi beliau ini dokter pilihanku, atas rekomendasi bapakku dari rekomendasi temannya yang juga dokter anak).
Sementara dr. Hari masih memperbaiki bagian bawah sana, dr. Hartoyo (dokter anakku) membimbing kami melakukan proses IMD dan menjelaskan setiap prosesnya. Aku cuma diam aja, bahkan sampai dr. Hartoyo bilang, ibunya jangan diam aja, ayo diajak bicara. Tapi aku tetap diam, cuma memeluk Ayra. Rasanya aneh juga, mau bicara dengan seseorang yang baru aku temui pertama kalinya dan dia nangis super kencang, selagi aku juga masih lemas karena efek biusnya.


Proses IMD itu cuma berjalan sekitar 20 menit, karena Ayra menggigil kedinginan. Jadi Ayra cuma sampai memegang putingku aja, tapi belum sampai memasukkan ke mulutnya. Setelah itu Ayra diambil, aku sudah selesai operasinya, aku dibawa ke Recovery Room. Sampai di RR, aku ketemu lagi dengan Ayra di box bayinya dan juga ada suamiku. Di situlah suamiku meng-adzani Ayra. Aku? Masih tetap lemas dan speechless.
Nggak lama kemudian, perawat membawa Ayra dan suamiku mengikutinya. Aku masih tetap di RR, dan perawat menyuruhku untuk istirahat dulu. Sebenarnya aku sudah pingin ketemu Ayra lagi, tapi perawat bilang istirahat dulu, kumpulkan tenaga untuk menyusui nanti.

Sekitar 2 jam kemudian (aku masih nggak aware dengan waktu), aku didorong menuju kamarku. Di kamar sudah ada bapak, suami, budhe dan tentu aja Ayra... Lagi-lagi aku masih belum seberapa 'sadar' siapa aja yang ada di kamarku, ini bahkan terjadi sampai kira2 seminggu kemudian (cerita detilnya aku tulis berikutnya yaa...)


Yang jelas, aku sangat bersyukur dan legaaaa sekali semua proses berjalan lancar. Alhamdulillah..

Friday, June 1, 2012

Ayra's Aqiqoh

0 comments
Alhamdulillah...sudah kami tunaikan kewajiban aqiqoh untuk Ayra tepat di hari ke7-nya, tanggal 23 Mei 2012. Dengan persiapan yang begitu singkat dan tanpa pembantu, alhamdulillah Allah telah melancarkan acara ini.
Meski selama acara, aku sangat capek dan kepalaku pusing karena masih adaptasi dengan ritme hidupnya Ayra :D



























 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review