Tuesday, June 5, 2012

Ayra's Birth Process

Sesuai janjiku, aku mau ceritakan detil proses kelahiran Ayra melalui operasi caesar (sectio caesaria/SC).

Metode kelahiran yang SC sudah direncanakan sejak kehamilan 4 bulan, sejak dr. Hari tahu kalau aku skoliosis di bagian lumbal. dr. Hari menjelaskan kalau tulang yang bengkok di bagian lumbal kemungkinan akan mengakibatkan tulang panggul nggak simetris sehingga menyulitkan bayi keluar lewat jalan lahir normal.

Meski demikian, sampai kehamilan usia 38 minggu lebih, dr. Hari nggak pernah kasih tanggal pasti operasinya. Itu yang bikin aku juga kadang jadi galau :D Sempat terpikir mau normal di akhir2 kehamilan, apalagi sebenarnya ada temanku yg skoliosis juga dengan lokasi dan derajat yang lebih parah dari aku, bisa melahirkan normal. Tapi belakangan setelah Ayra lahir, aku baru sadar, mungkin dr. Hari juga nggak mau ambil risiko kalau nanti dg persalinan normal ternyata ada hambatan. Karena sebelumnya aku pernah keguguran dan ada riwayat endometriosis, jadi bisa dibilang kalau Ayra ini bayi mahal, meski sebenarnya proses pembuahannya juga alami aja :D
Sedangkan bapakku juga mengkhawatirkan kalau pakai proses normal dan bayi susah keluar, nanti malah kehabisan oksigen di jalan lahir. FYI, bapakku juga dokter, meski dokter mata :D

Soo...aku pasrah lah untuk operasi, apapun caranya yang penting bayiku bisa lahir selamat dan lancar.

Awalnya aku juga nggak tau prosedur melahirkan di RS, terutama untuk yang SC terencana seperti aku ini. Setelah telepon ke dua RS, aku jadi punya gambaran. Untuk di RS pertama, SC bisa didaftarkan terlebih dahulu. Cuma untuk kepastiannya harus menunggu konfirmasi dari dokter yang bersangkutan dan ketersediaan kamar operasi di RS tsb. Sedangkan di RS Husada Utama, nggak bisa daftar operasinya dulu.
Tapi di kedua RS ini sama nggak bisa booking kamar rawat inapnya. Semua info ini baru aku dapatkan pada H-2 dan H-1.

Jadi aku MRS tanggal 15 Mei 2012 jam 19.00, tapi baru masuk kamar jam 21.00. Kemudian dilakukan pemeriksaan lab, pasang infus, pemeriksaan doppler dan cukur bulu pubis untuk persiapan operasi keesokan harinya.
Operasi dimulai tepat jam 7 pagi. Karena dari awal aku minta untuk dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), jadi bius yang digunakan adalah bius lumbal. Bagian bawah tubuh aja yang dimatirasakan, sedangkan dada ke atas, masih terasa.
Suami masuk kamar operasi belakangan, jadi aku nggak tau kapan tepatnya dia masuk karena aku sudah sibuk sendiri.


Di meja operasi, aku tiduran telentang dengan tangan kiri dipasang infus dan tangan kanan dipasang semacam tensimeter untuk memantau tekanan darahku. Kemudian di dadaku dipasang alat lagi, aku nggak tau namanya :D
Di bagian bawah dada dipasang semacam tirai, jadi aku nggak bisa melihat ke bagian bawah tubuhku. Selain itu aku juga dipasang selang oksigen di hidung. Semua proses itu berjalan dengan sangat cepat. Ya aku juga sudah tau bahwa untuk proses SC dengan IMD memang harus dilakukan cepat untuk menghindari biusnya mempengaruhi bayi. 


Dengan semua alat terpasang di tubuh dan kita masih sadar, rasanya gimana? Rasanya sangat melayang...deg2an? nggak terlalu, tapi lebih ke arah powerless, nggak berdaya. Apalagi yang bikin nggak nyaman adalah adanya selang oksigen di hidung di saat kita masih bisa napas sendiri. Rasanya seperti naik sepeda motor yang sangat kencang dan tanpa helm, tapi ini oksigen fresh ya..jadi lebih kerasa banget, bikin nggak bisa napas :D


Setelah semua peralatan terpasang, dr. Hari masuk, menyapa aku (dan aku jawab dg lemah krn nggak bisa napas). Salah satu perawat membacakan panduan operasinya, kemudian dr. Hari membaca basmalah dan bilang ke aku, "mulai ya operasinya". Kira-kira 10 menit kemudian aku merasakan ada yang menekan di bagian bawah payudara atau sekitar diafragma. Rasanya seperti ada organ dalam tubuhku yang ditarik keluar, disedot keluar. Nggak sakit, tapi rasanya ketarik semua. Nggak lama kemudian, terdengarlah suara tangis Ayra yang superrr kencaaang! Saat itu, aku meneteskan air mata, nggak ada kata2 yang keluar seperti aku rencanakan, misalnya alhamdulillah, allahuakbar atau apalah...
Saat itu, suamiku memegang kepalaku, tapi aku nggak bisa melihat wajahnya (atau nggak konsen juga utk liat wajahnya).


Saat itu aku nggak tau proses selanjutnya, tapi dari video hasil rekaman suamiku, ternyata Ayra dibersihkan sedikit, dokter anak dijelaskan kelengkapan fisiknya dan diukur berat dan panjang badannya ke suamiku.
Setelah itu, Ayra diletakkan di dadaku oleh dokter anaknya, yang belum pernah aku temui sama sekali (tapi beliau ini dokter pilihanku, atas rekomendasi bapakku dari rekomendasi temannya yang juga dokter anak).
Sementara dr. Hari masih memperbaiki bagian bawah sana, dr. Hartoyo (dokter anakku) membimbing kami melakukan proses IMD dan menjelaskan setiap prosesnya. Aku cuma diam aja, bahkan sampai dr. Hartoyo bilang, ibunya jangan diam aja, ayo diajak bicara. Tapi aku tetap diam, cuma memeluk Ayra. Rasanya aneh juga, mau bicara dengan seseorang yang baru aku temui pertama kalinya dan dia nangis super kencang, selagi aku juga masih lemas karena efek biusnya.


Proses IMD itu cuma berjalan sekitar 20 menit, karena Ayra menggigil kedinginan. Jadi Ayra cuma sampai memegang putingku aja, tapi belum sampai memasukkan ke mulutnya. Setelah itu Ayra diambil, aku sudah selesai operasinya, aku dibawa ke Recovery Room. Sampai di RR, aku ketemu lagi dengan Ayra di box bayinya dan juga ada suamiku. Di situlah suamiku meng-adzani Ayra. Aku? Masih tetap lemas dan speechless.
Nggak lama kemudian, perawat membawa Ayra dan suamiku mengikutinya. Aku masih tetap di RR, dan perawat menyuruhku untuk istirahat dulu. Sebenarnya aku sudah pingin ketemu Ayra lagi, tapi perawat bilang istirahat dulu, kumpulkan tenaga untuk menyusui nanti.

Sekitar 2 jam kemudian (aku masih nggak aware dengan waktu), aku didorong menuju kamarku. Di kamar sudah ada bapak, suami, budhe dan tentu aja Ayra... Lagi-lagi aku masih belum seberapa 'sadar' siapa aja yang ada di kamarku, ini bahkan terjadi sampai kira2 seminggu kemudian (cerita detilnya aku tulis berikutnya yaa...)


Yang jelas, aku sangat bersyukur dan legaaaa sekali semua proses berjalan lancar. Alhamdulillah..

2 comments:

IreneParamita said...

Andin, mau tanya,
aku juga ada skoliosis di daerah lumbal, dan lagi hamil 28 minggu,

dokter spog ku juga nyaranin melahirkan SC,

yg aku takut, katanya pembiusan melalui suntikan pada tulang belakang (anestesia spinal) untuk operasi dilakukan sedikit lebih sulit dari wanita hamil tanpa skoliosis.

malah aku pernah baca blognya orang lain yg juga skoliosis n melahirkan sc, pas pembiusan sampe gemeteran gitu saking susahnya.

kalo pengalaman andin sendiri gimana?

andin said...

hai mbak...

Sebenernya ini operasi keduaku, mbak, yg pertama utk angkat kista endometriosis. Itu juga pake anestesi lumbal. Kista ini yg nyebabin keguguran di hamil pertamaku. Pas operasi pertama ini, aku malah ga bilang ke dr. Hari kalo aku skoliosis, mbak. Yg nyuntikin anestesinya sih dokter anestesi ya...tapi alhamdulillah lancar semua :)
Gitu juga pas operasi SC (kali ini dr. Hari sudah tau), ga ada masalah kok.
Yg dimaksud gemeteran, siapanya, mbak? dokternya atau pasiennya? Mestinya dokter kalo udh spesialis anestesi udah ahli lah yaa...
Rasanya emang agak nggak nyaman pas disuntiknya, mbak, bukan sakit ya...ada semacam rasa nggak enak aja, geli nggak enak gitu..hihiihii...
Hope it helps :)

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review