Wednesday, June 6, 2012

Baby Blues Syndrome: How I Deal with It

Baby blues syndrome, pasti sudah sering kita dengar kan? Begitu juga aku, sejak sebelum hamil sudah sering dengar istilah itu. Saat hamil sekitar 7-8 bulan semakin sering baca2 yang berkaitan dengan psikologis ibu baru, termasuk juga baby blues ini.

Jadi ceritaku dimulai dari sejak aku dan Ayra rawat gabung di RS (yang memang atas permintaanku, sebagai salah satu langkah ASI eksklusif). Karena rawat gabung, semua aktivitas Ayra dilakukan di kamarku oleh aku dan suami. Ayra cuma diambil perawat dua kali saat mandi pagi dan sore, juga kalau pup (yang mana pup-nya newborn masih sangat jarang).

Oya selama hari Rabu paska operasi, aku masih pakai infus dan kateter, jadi otomatis, aku nggak bisa duduk ataupun jalan. Kamis-nya infus dan kateter sudah dilepas, karena dr. Hari lihat perkembanganku sudaa baik. Meski Rabu itu aku masih di tempat tidur seharian, tapi aku sudah disarankan untuk belajar menyusui. Dan ternyataaa...menyusui itu sakit lhoo...ini yang nggak ada di literatur manapun.


Karena aku sudah banyak baca, aku tahu bahwa sampai hari ketiga kelahiran, ASI yang dikeluarkan sangat sedikit (yang namanya kolostrum) sehingga kadang nggak bisa dilihat mata. Dan memang, ASI-ku kelihatannya nggak keluar, tapi aku nggak panik, karena aku sudah tahu. Perawat2 di RS Husada Utama juga sangat suportif, justru yang nggak suportif adalah salah satu tamu yang datang jenguk. Beliau seorang dokter, tapi belum2 sudah bilang ASI-ku belum keluar, siap2 ditambahkan sufor aja. Padahal itu masih hari ke-2... Hellooo...kemana aja sih, buu...ga pernah update ilmu ASI yaaa? Bete deh..


Waktu yang sama, juga datang temanku dari AIMI, untuk sekalian cek pelekatanku. Karena aku memang bilang, kok terasa sakit ya...terutama di payudara kiri. Apalagi Ayra terasa nggak suka nyusu di payudara kiri.
Setelah di-cek temanku AIMI juga beberapa perawat RS (karena sampai hari terakhir di RS, aku masih mengeluh sakit), posisi dan pelekatanku sudah benar.


Jum'at siang aku sudah diperbolehkan pulang bersama Ayra...alhamdulillah.. Meski Ayra terlihat sedikit kuning, aku juga sudah tahu bahwa 80% bayi sehat memang mengalami kuning (jaundice/icterus) pada beberapa minggu pertama kelahirannya. Tapi beberapa dokter anak nggak mau ambil risiko, jadilah bayi2 kuning tersebut di-fototerapi. Sebenarnya ada ukuran indikator jumlah bilirubin yang masih dianggap aman (silakan baca di sini).



Nah alhamdulillah karena dokter anakku pro ASI, jadi beliau membolehkan Ayra pulang dengan syarat terus dijemur 30 menit setiap hari dan harus disusui setiap 2-3 jam. Aku sangaaat senang dan berjanji akan menyehatkan Ayra. Senin depannya harus kontrol lagi ke dokter anak tsb.


Sabtu pagi tiba2 salah satu pembantuku pulang, dan minggu pagi pembantu yang baru bekerja 1 minggu juga ikut pulang. Jadilah di rumah nggak ada pembantu sama sekali. Pengalaman tanpa pembantu dulu2 nggak masalah, tapi kali ini ada bayi kecil, yang aku sendiri masih harus adaptasi. Tentu aja di awal aku sudah bilang bahwa aku nggak bisa mengerjakan pekerjaan rumah lagi seperti dulu (menyapu, mengepel, cuci & setrika baju), kecuali untuk kamarku sendiri.

Sampai hari Senin suamiku masih ada di rumah. Karena Senin kami juga harus kontrol ke dokter anak. Selain itu kami juga memutuskan tepat hari ke 7nya yaitu hari Rabu, kami akan mengaakan aqiqoh-nya Ayra. Jadi hanya ada waktu dua hari sebelum Rabu. 
Jadwal tidur, bangun, menyusu, pipis, dan pup Ayra nggak bisa ditebak. Ditambah lagi selama hari kerja, aku harus stand by kalau ada telpon, tamu atau rantang yang datang ke rumah. Padahal sebelum ada Ayra, aku adalah tipikal orang yang terorganisir. Misalnya, selalu nyapu & ngepel kamar sebelum aku mandi. Tapi setelah ada Ayra, nggak bisa lagi. Mau nunggu Ayra selesai mandi (karena mandinya di kamar, jadi supaya sekalian dibersihkan kalau ada air2 yang tumpah), tapi setelah mandi ternyata Ayra nangis. Harus disusuin dulu, padahal aku juga belum mandi. Yahh..hal2 kecil seperti itu tapi terjadi dalam intensitas tinggi bikin aku lama kelamaan stres juga.


Menyusui juga masih menyakitkan buat aku, Ayra sendiri terlihat masih belajar menyusu, nggak selalu dalam sekali posisi dia bisa nyaman untuk menyusu. Bahkan hari kedua putingku sempat lecet, tapi aku masih tetap semangat menyusui supaya Ayra bisa cepat sehat.


Puncaknya pada hari Rabu, pelaksanaan aqiqoh Ayra berjalan lancar, alhamdulillah. Tapi selama acara itu, kepalaku terasa sangaaat pusing. Sejak hari itu, aku ngerasa sangat nggak enak, nggak mau ditinggal sendirian dengan Ayra, minimal ada orang lain di rumah. Bahkan pernah berharap Ayra tidur terus supaya aku nggak perlu menyusui. Tapi nggak menyusui pun ternyata menyakitkan buat aku. Ya karena produksi ASI sudah banyak jadi kalau nggak dikeluarkan payudara malah akan terasa sakit, yang lebih parah malah jadi mastitis...naudzubillah..


Perasaan nggak enak ini terus aku rasakan sampai hari Minggu atau sekitar hari ke 10 paska melahirkan. Selama hari Rabu sampai Minggu (yang terasa sangat lama buat aku), aku selalu merengek ke suami untuk nggak masuk kerja, selalu sms suami setiap jam untuk hal2 yang nggak penting. Dan ujung2nya aku bilang jujur bahwa perasaanku nggak enak dan kemungkinan kena baby blues. Pembicaraan ke suami nggak terlalu berat, nggak terlalu maksa dia untuk ngertiin aku. Karena dia sendiri pulang kerja sudah jam 5 sore, kadang lebih malam. Belum lagi untuk urusan warnetnya.


Dari beberapa sumber yang aku baca, solusi untuk menghadapi baby blues antara lain: bicara dengan orang lain, hindari sebisa mungkin untuk sendirian, adakan waktu untuk relaks (dengan menitipkan bayi sementara ke orang lain), kalau dalam 2 minggu belum hilang, disarankan mengunjungi psikiater atau bicara dengan dokter obsgyn.
Solusi2 itu nggak ada yang bisa aku lakukan selain bicara dengan orang lain. Yaitu suamiku dan adikku.
Akhirnya suamiku sedikit demi sedikit mengerti dan mengijinkan aku unuk ikut pergi bersama dia dan Ayra keluar rumah (tujuan pertama adalah ikut suami ke dokter gigi!). Hari itu adalah hari Minggu dan Ayra baru genap berusia 10 hari. Malamnya, aku minta makan malam di luar, di resto dekat rumah. 

Solusi yang berhasil di aku:
  1. Cerita dengan orang terdekat, kalau aku: adikku & suamiku
  2. Minta dukungan suami, misalnya meminta persetujuan suami untuk pergi ke tempat yang disukai
  3. Lakukan hal yang disukai dan bisa dilakukan sendirian di sela2 kesibukan baru sebagai ibu, kalau aku: menyempatkan diri untuk nulis blog dan baca komik
  4. Istirahat setiap kali bayi tidur
  5. Ingat2 lagi hal2 yang harus disyukuri, kalau bisa tulis di social media, jadi nggak cuma sekadar bayangan
  6. Berinteraksi dengan sesama ibu muda yang punya perilaku positif (karena ada beberapa ibu muda yang sukanya membanding2kan dg anaknya kemudian membangga2kan anaknya sendiri, ini yang nggak akan membantu)

Sementara ini dulu yang berhasil aku jalani...I'll update it if I have something new :)

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review