Sunday, July 29, 2012

Motherhood

0 comments
Sebagai perempuan, kita (atau aku aja?) nggak pernah mendapatkan pelajaran lengkap tentang menjadi seorang ibu. Setelah punya anak sendiri, aku baru menyadarinya. Dan juga menyadari bahwa nggak akan pernah ada pelajaran lengkap menjadi seorang ibu, karena nggak ada satu tipe ibu yang sempurna atau cocok untuk semua tipe anak. Karena anak diciptakan dengan berbagai macam karakter dan kepribadian, maka ibu pun akan menyesuaikan diri dengan anaknya.

Nenek dari pihak mamaku adalah seorang bidan. Para perempuan dari keluarga mamaku semuanya bekerja lebih banyak di bidang swasta dan wirausaha. Sedangkan perempuan dari keluarga bapakku hampir semuanya adalah PNS dan beberapa di perusahaan swasta. Semakin sekarang semakin banyak perempuan bekerja yang resign setelah mempunyai anak dan dilanjutkan dengan berwirausaha.

Ini juga yang membuat aku jadi galau tingkat khayangan. Setiap kali lihat Ayra menyusu dengan lahap, matanya yang berbinar2 setiap kali lihat saya atau sambil tersenyum, rasanya aku pingin menghentikan semua kegiatanku cuma buat dia. Dia tahu kalau sudah dekat dengan dadaku, dia senang sekali, berceloteh dan ketawa2.
Bukan cuma menyusui aja, waktu memandikan pun, dia terlihat senang, ketawa2. Mungkin dia belum tahu istilah "mamanya", tapi aku rasa dia bisa merasakan bahwa akulah orang yang paling banyak menyentuh dia dan sentuhanku selalu membuatnya nyaman. Sehingga bisa dipastikan sebagian besar tangisannya langsung diam kalau sudah aku sentuh.
Inilah hasil dari 10 minggu bersama Ayra, nggak pernah se-jam pun aku meninggalkannya. Bahkan sudah 2x rapat, aku bawa Ayra.

Aku nggak rela dia kehilangan rasa bahagianya. Karena aku tahu sumber bahagia seorang anak dimulai dari ibunya. Meski setelah besar, anak banyak beraktivitas di luar, tapi hanya ibu lah tempat yang selalu menerima dia apa adanya. Kenapa aku yakin bilang seperti ini? Karena aku juga seorang anak dari seorang ibu. Lebih2 aku adalah anak yang dulu sangat nakal, baru dekat dengan mamaku "hanya" 5 tahun terakhir sebelum mamaku meninggal. Rasanya? menyesal luar biasa!
Aku merasa waktuku sangat kurang dengan mama. Ya..mamaku seorang dokter yang bekerja di 2 RS, dosen di FK dan sebagai pembicara di seminar2. Mamaku sangat sibuk, berbanding terbalik dengan bapakku. Bapakku memang seorang yang lebih pendiam.

Kalau aku mau ikut tradisi, mestinya aku ya terus kerja aja. Tapi kan kondisinya beda. Mamaku sibuk kerja salah satunya karena nggak mau anak2nya merasakan kekurangan seperti mama waktu kecil, sedangkan bapakku orangnya pasif. Sekarang alhamdulillah suamiku orang yang aktif, dia kerja di RS, juga punya 2 warnet dan 1 jasa persewaan LCD proyektor. Jangan salah, hasil di warnet lebih besar daripada gaji PNS.

Selain itu, banyak hal lain yang memang membedakan aku dan mamaku. Jadilah aku mengambil kesimpulan, memang nggak ada satu tipe ibu sempurna yang cocok untuk semua tipe anak.

Back to the topic, kegalauanku sejak hamil adalah apa yang aku inginkan. Jelas aku nggak betah diam di rumah, kalaupun aku nggak kerja, pastilah aku akan keluar2 yang justru menghabiskan uang. Di sisi lain, aku bukan tipe perempuan yang mengulurkan tangan meminta gaji suami. Gaji suamiku nggak pernah aku pegang, karena aku juga lemah dalam pengaturan keuangan. Tapi semua keperluan rumah tangga sudah langsung dipenuhi suami. 
Jadi yang menjadi masalahku adalah tipe pekerjaan seperti apa yang aku inginkan? 
Bikin usaha sendiri, jadi karyawan aja atau gimana?
Saat ini aku kerja sebagai salah satu konsultan di perusahaan jasa konsultansi dan baru2 aja ditawari sebagai tenaga pengajar di sebuah PTS.

Yang jelas, saat ini aku sudah memutuskan, apapun pilihan pekerjaanku nanti, prioritasku adalah sbb:
  1. Skala pengurusan Ayra oleh aku dibanding ART adalah 70:30
  2. Sebisa mungkin Ayra selalu ikut aku dengan tetap memprioritaskan kesehatan dan keamanannya 
Jadi untuk saat ini aku menjalani yang sudah ada dulu, which is aku akan kembali kerja setelah masa cutiku habis, sambil melihat apakah bisa menyesuaikan dengan kehidupanku sebagai ibu dan perkembangan Ayra.


Nggak selalu ibu yang full di rumah berhasil mendidik anaknya menjadi sehat dan cerdas, dan juga nggak selalu ibu yang sibuk bekerja gagal mendidik anaknya sehingga menjadi anak yang nakal.

Sunday, July 22, 2012

My 28th birthday and Ayra's 2 months old

0 comments
woooww...sudah lama banget aku nggak update blog ini..emang aku masih cuti, tapi ngurus bayi sendiri itu ternyata lumayan merepotkan yaaa...literally sendiri! nggak ada bantuan dari ortu (krn mamaku sudah meninggal dan mertua di luar kota) dan ART (meski 2 minggu terakhir sudah ada yang khusus untuk pegang Ayra setelah aku balik kerja).

Aku mau update perkembangan Ayra yaa...
Soo..tanggal 10 Juli 2012 kemarin Ayra imunisasi BCG. Sudah aku niati untuk berangkat sendirian naik taxi. Suami nyusul kalau sudah mau masuk ke ruang dokter, karena hari itu pas hari Selasa, jadi dia harus kerja dulu. Seperti biasa, sebelumnya pasti ditimbang berat badannya dan diukur panjang badannya. 
Ayra usia 7 minggu beratnya 5kg dan panjang 57cm! Pantesan udah kerasa berat...alhamdulillah...

Proses suntik imunisasi BCG ini di lengan kanan atas (yang ortu kita jaman dulu pasti menimbulkan bekas). Kalau jaman dulu katanya kalau nggak berbekas artinya nggak berhasil imunisasinya. Tapi itu nggak betul, sejak jamanku sudah nggak berbekas lagi kok ;)
Suntikan BCG dilakukan intra derma alias di bawah kulit dan sengaja dibuat sampai muncul timbul dipermukaan kulit (kalo orang Jawa bilang melentung). Pastinya sakit doong...ternyata dokternya sudah biasa yaa..jadi pas disuntik, Ayra disusuin, untuk mengurangi rasa sakitnya. BCG ini vaksin dengan kuman yang dilemahkan jadi bekas suntikan nggak boleh kena air, sabun atau alkohol supaya kumannya nggak mati. Setelah imunisasi ini Ayra agak rewel dengan cara banyak minta menyusu.

Selanjutnya hari Senin tanggal 16 Juli 2012 pas ulang tahunku yang ke 28, Ayra imunisasi DPaT, Hib, Polio dan Rotavirus. Aku bayangin this would be a great one, karena aku bisa keluar berdua Ayra. Skenarionya masih sama dengan sebelumnya, dengan harapan sepulang dari RS bisa mampir ke mana sebentar dengan suami.
Oya saat itu Ayra umur 2 bulan dengan berat 5,3kg dan panjang 58cm....dalam waktu 6 hari Ayra naik 300gram...alhamdulillah...
Aku sudah tahu kalau vaksin DPT bikin panas, makanya aku minta yang nggak panas dengan harga lebih mahal yaitu DPaT. Meski dokter sudah memperingatkan kalau "nggak panas" bukan berarti tanpa panas sama sekali, cuma panasnya dikurangi. Malamnya Ayra lemeesss banget.. Tapi ternyata keesokan harinya Ayra panas hebat sampai 38,3 derajat Celcius yang merupakan batas panas bayi yang harus diberi penurun panas. Alhasil Ayra diberikan obat drop penurun panas.

Sesaat setelah pulang dari RS
Sejak saat itu Ayra suka ngajakin begadang lagi deh...padahal 2 minggu sebelumnya ritme tidurnya sudah "menyenangkan", terakhir minum jam 12 bangun lagi jam 4 pagi. Tapi sejak panas itu, Ayra bangun sepanjang malam untuk menyusu meski sampai ketiduran. Kalau ditaruh, bangun lagi dan nyusu lagi.
Hari itu, suami cuma mengucapkan selamat ultah jam 4 pagi setelah sholat subuh. Alhasil hari ultahku terlewat begitu saja...kecuali malam harinya suami belikan rainbow cake pesananku. Sederhanaaaa banget...tapi aku juga nggak bete atau ngeluh karena ngeliat Ayra lemes banget malam itu. Padahal tahun2 sebelumnya aku selalu minta ada yang spesial di hari ultahku.
Aku berubah di ulang tahunku yang ke 28 secara alami tanpa paksaan. Aku sadar bahwa Ayra lebih penting daripada semua itu.
 
Happy 28th birthday to myself and happy 2 months old my little baby Ayra :*





 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review