Thursday, September 13, 2012

She Never Asked to be Born

Heya!

Sudah lama aku nggak post lagi di blog ini. Bukan apa2, tapi aku benar2 nggak sempat. Pembantu nggak balik paska lebaran, plus aku sudah mulai kerja. Beruntunglah aku punya kantor yang fleksibel, sehingga membolehkan aku untuk membawa Ayra ke kantor.

Rencana awal adalah bawa Ayra mulai masuk kantor jam 10 sampai jam 14, kemudian aku pulangin untuk dimandikan, sambil nunggu suami pulang jam 16, kemudian aku balik kantor lagi. Itu teorinya. Prakteknya? Luar biasa susah!

Bukan susah apanya, tapi namanya bayi itu benar2 unpredictable. Hari pertama bawa Ayra, bisa ditepati rencanakuu itu, meski aku nggak bisa optimal kerjanya. Semakin lama semakin susah, selain karena aku juga semakin capek karena urus rumah juga, naik-turunin barang2 Ayra setiap harinya, tapi juga Ayra kadang bisa diajak kompromi, kadang nangis nggak karuan di kantor. Pernah baru datang buka laptop, Ayra rewel, disusuin nggak mau, digendong juga masih rewel. Otomatis cuma setengah jam aja, aku langsung balik pulang. Karena aku sendiri jadi sungkan kalau suara tangisnya Ayra ganggu teman2 lain yang kerja.

Kemudian lagi, setiap Selasa jam 07.40-11.10 aku mengajar kuliah Prodi S1 Administrasi RS. Sesuai dengan minatku juga. Ayra tinggal di rumah dengan suamiku. Dia ijin masuk siang sampai malam, meski sebenarnya jabatan struktural seperti dia seharusnya masuk pagi. Tapi gimana lagi.

Tambah lagi lah urusanku: bikin modul kuliah yang akan dipakai setiap Selasa. Kejar tayang pastinya!

Capek? Pasti! Aku sudah mengeluh sampai akhirnya sekarang juga kehabisan tenaga untuk mengeluh. Bertengkar dengan suami? Sudah pernah juga. Masalahnya memang kami berdua sama2 sibuk. Dia sibuk sebagai kepala departemen baru, yang tugasnya semakin banyak. Sedangkan aku sibuk mengatur keseimbangan urusan Ayra-kerjaan-rumah.

Nggak pernah terbayang sebelumnya bakal seperti ini. Mungkin orang lain nggak seribet ini karena masih ada eyang2nya yang bisa dititipin cucunya. Tapi aku nggak. Selain bapakku masih aktif kerja, beliau juga nggak berani pegang bayi yang masih kecil. Adikku? Apalagi...
Mamaku sudah meninggal dan mertuaku di luar kota.

Tapi aku pun sebenarnya nggak rela kalau Ayra diasuh orang lain, apalagi pembantu. Setiap kali liat wajahnya waktu nyusu, keliatan sekali dia sangat senang, antusias dan berbagai macam ekspresi yang nggak bisa diungkapkan kata2. She really needs me dan aku juga sadar dia belum bisa hidup tanpa aku.

Mengingat betapa "kacau"nya hidupku sekarang, nggak tertata lagi seperti dulu, aku selalu kagum betapa bayi kecil ini mampu "mengguncang" duniaku. Setiap kali aku mengeluh atau marah2 sama suami, aku sadar bahwa itu berarti aku nggak mensyukuri kehadiran Ayra. Padahal dia nggak salah apa2, dia bahkan nggak minta untuk dilahirkan. She never asked to be born.

Aku belum tahu posisi pekerjaan apa yang paling tepat buat aku saat ini. Semua masih berproses, masih mencari sebuah keseimbangan baru dalam keluarga kami. Doakan kami dapat melaluinya dengan indah. Amiinn...

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review