Thursday, December 26, 2013

Update Ayra (19m2w)

0 comments
Sudah lama aku nggak cerita tentang perkembangan Ayra :)
5 minggu terakhir ini aku memang agak sibuk karena ambil les intensif jam 17-19 setiap hari. Paginya aku masih ngajar di STIKES sebanyak 2-3x per minggu dan kadang ditambah rapat. Untungnya pekerjaan yang di kantor konsultan agak longgar. Dan lagi, bosku sudah mengijinkan aku untuk tidak datang selama 5 minggu itu :)

Ayra sudah punya nanny sendiri, yang datang weekdays selama 8 jam/hari. Jadi sudah nggak di daycare lagi. Yang pasti lebih terjamin karena lingkungannya sudah bisa aku antisipasi, bisa lebih fokus dan yang pasti lebih murah daripada di daycare :D

Oya sejak 3 hari terakhir ini, Ayra mulai toilet training, tapi secara bertahap. Cuma pas bangun aja dan pagi-siang. Kalau pas tidur dan pergi2 masih pake clodi/diapers :D
Nggak ditarget apa2 siih.....








Wednesday, December 25, 2013

MoneyTalk: Financial Planning

0 comments
kenapa kita perlu financial planning ? Tentu supaya kita lebih maksimal dalam mempersiapkan kebutuhan finansial kita. Trus, kenapa ga cari income yang lebih banyak aja ?? Yaaa, memang pada intinya, cara untuk memenuhi kebutuhan finansial kita pastinya adalah mengupayakan income yang lebih besar dari hari ke hari ya.. Semua orang juga pengen. Namun, ternyata income yang lebih besar pun belum tentu lho jadi jaminan kalau kita bisa hidup makmur dan berkecukupan.

Kenapa ? Karena ada yang bilang, income yang besar juga diikuti expense (pengeluaran) yang besar pula. Ini lebih disebabkan karena manusia tuh kan pada dasarnya makhluk dengan keinginan tanpa batas hehehe..

Kalau ada uang lebih, kenapa kita ga boleh pake uang itu untuk sesuatu yang menurut kita, kita pantas dapetin kan ? Handphone baru, mobil baru, dsb. Bahkan orang dengan gaji besar belum tentu lho punya sisa uang yang besar juga di akhir bulan. Jadi benernya bukan pada berapa banyak yang kita hasilkan, namun berapa banyak yang bisa kita sisihkan untuk disimpan.

Dengan financial planning, kita jadi bisa lebih bebas shopping atau berlibur tanpa rasa bersalah, karena memang semua sudah ada anggarannya. Jadi menambah penghasilan (income) itu beda dengan financial planning. Dan financial planning bisa dilakukan sendiri kok kalau punya ilmunya, nggak selalu harus dibantu financial planner profesional :)

Thursday, November 28, 2013

Respect doctors, educate ourselves!

3 comments
Belakangan ini berita di media massa sedang dipenuhi oleh kasus dokter yang dijatuhi hukuman tahanan, diperlakukan layaknya penjahat atas kasus meninggalnya pasien paska melahirkan. Hasil visum menunjukkan meninggal karena emboli. Saya tidak akan membahas mengenai istilah kedokteran itu, karena saya bukan dokter. Begitu banyak reaksi dari kasus ini, hingga puncaknya (mungkin?) terjadi hari Rabu tanggal 27 November 2013. IDI menghimbau untuk melakukan tafakur bagi dokter. Dokter dihimbau untuk tidak melakukan pelayanan medis kepada pasien, kecuali dalam keadaan darurat dan bagi pasien miskin (Jamkesmas, Jamkesda, dll). 

Hari Mogok Nasional ini juga direspon berbagai macam sikap oleh masyarakat, ada yang mendukung, ada yang biasa saja, ada juga yang mengecam bahkan menyumpah2i :(
Maka ijinkan saya menuliskan opini saya terkait momentum ini...

Although I'm not a doctor, I truly understand how hard it is to be a doctor. Sejak pendidikannya, kalau tidak merasakannya sendiri -or at least, melihatnya sendiri- sangat berat. Jauh berbeda dg S1 lainnya.
Pendidikan S1nya ditempuh 5,5 tahun dg 1,5 th terakhir banyak tidak tidurnya. Saya bilang banyak tidak tidurnya adalah seperti ini:
Contoh: Senin pagi kuliah mulai jam 07.00 sampai jam 15.00 kemudian langsung jaga di RS sampai jam 6 keesokan harinya alias hari Selasa. Dan hari Selasa itu pula langsung lanjut kuliah jam 07.00 sampai jam 15.00. Jadi hari Senin itu dia tidak pulang ke rumah. Dan seingat saya, adik saya pada stase tertentu, jaganya dua hari sekali. Yang artinya, sehari pulang ke rumah, sehari tidak pulang. Pulang pun dia cuma bisa beberapa jam di rumah. Itu belum dg tugas2nya ya...

Berat di sini juga bukan dalam hal durasi pendidikannya, malah menurut saya, 5,5 tahun itu kurang untuk ilmu yang segitu banyaknya. Sekadar contoh saja, untuk di semester 1, dia harus menghafalkan anatomi tubuh manusia, dimana untuk bagian paha saja, for instance, ada banyak nama otot, yang bagian depan dan bagian belakang sudah beda nama. Belok sedikit sudah beda lagi namanya. Itu baru bagian paha saja dan otot saja.
Saya tidak mendeskreditkan profesi lain ya, but they fix a living human being. Kebanyakan profesi lain kan "bermain2" dengan benda mati kan? Kalaupun dengan manusia, hanya luarnya saja, tidak berkaitan dengan nyawa. 
Analogi lain adalah: kalau kita memperbaiki sebuah mobil, kita harus mematikan mesinnya dulu kan...tapi "memperbaiki" manusia, apa bisa "dimatikan" dulu? Oh well, ya ada yang namanya anestesi, tapi itu tidak seperti mematikan mesin secara keseluruhan kan?

Kesalahan lain di masyarakat adalah terlalu men-dewa-kan dokter. Dokter dituntut bisa semuanya, harus bisa menyembuhkan, tidak boleh melakukan kesalahan. Bayangkan saja, dulu saya waktu periksa hamil, dalam satu malam ada sekitar 30 pasien yang antri. Katakanlah 1 pasien diperiksa 20 menit, itu sudah 600 menit alias 10 jam. Bayangkan apa dokter nggak lapar? Nggak butuh ke kamar kecil, dsb? Kalau kita kerja 10 jam, menghadapi berbagai macam pasien dalam 1 malam, masih bisakah kita tersenyum? Itu baru periksa kehamilan yang biasa ya...bukan kasus emergency. Setelah praktek biasa, dokter juga harus sewaktu-waktu siap dipanggil jika ada kasus emergency, kapanpun, tidak peduli dia sudah tidur belum hari itu, sudah makan atau belum, dsb. Yang pasien minta adalah cepat dilayani!

Saya bukan dokter, saya juga tidak membela dokter. Tapi saya ingin memaparkan kondisi yang mungkin kenyataan. Dengan kondisi kenyataan seperti itu, masih pantaskah kita selalu minta "disuapin"? Menuntut dokter yang menjelaskan semua. Bayangkan bagaimana menjelaskan semua istilah medis yg mereka pelajari selama hampir 6 tahun hanya dalam waktu 30 menit? Sehingga menurut saya sbg orang awam, kita pun harus pintar, kita harus terus mengupgrade ilmu kita, belajar terus, toh itu untuk badan kita sendiri kan? Shg pada saat konsul dengan dokter, kita bisa berdiskusi. Sehingga dalam waktu yang terbatas, kita bisa mendapatkan informasi se-optimal mungkin.

Saya rasa sudah sepantasnya kita menghargai profesi dokter. Bukan men-dewa-kan. Tapi hargai.
Risiko pekerjaan mereka berat, tanggung jawab thd nyawa manusia. Padahal semua reaksi bisa berbeda2 pada setiap orang meski dg kasus yg sama.

IMO, yg terjadi belakangan ini adalah adanya ketimpangan pengetahuan dan miskomunikasi. Dan ya, lagi-lagi karena kondisi masyarakat kita yang mayoritas berpendidikan rendah. Untuk itu, perlu adanya kerjasama dengan profesi lain untuk mengedukasi masyarakat. Kita tidak bisa mengubah semuanya dalam waktu sekejap. Tapi paling tidak, mulai dari diri kita sendiri, terutama anda yang membaca tulisan saya ini. Anda pastilah orang yang mampu membuka internet, mempunyai sumber daya untuk menambah pengetahuan. Tugas anda juga untuk mengedukasi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Di sisi lain, saya rasa wartawan media massa pun harus membekali diri dg pengetahuan kesehatan. Risih sekali membaca artikel yg tidak masuk akal, hanya berdasarkan opini sekelompok masyarakat.

It's just my opinion..
Respect doctors, educate ourselves!

Friday, November 8, 2013

Chasing Stars, Pursuing Dreams

0 comments
Setiap orang punya mimpi, tujuan hidup, keinginan, dan lain sebagainya. Begitu banyak keinginan. Sama seperti sebuah rumah sakit, seharusnya manusia pun mempunyai visi yang jelas tentang masa depannya. Setelah ada visi, kemudian disusun misi, sasaran strategis dan program2 kerja. Ada juga yang disebut rencana strategis (renstra) dan business plan sebagai panduan manajemen menjalankan semua program2nya untuk mencapai tujuannya. Panduan2 ini untuk selalu mengingatkan manajemen agar langkah2 yang diambil tidak melenceng dari tujuan organisasi yang ingin dicapai.

Sekarang, di level individu, apakah kita mempunyai visi yang jelas? Paling tidak untuk 10 tahun ke depan?
Saya pun sulit untuk menjawabnya. Proses perencanaan saya tidak ideal, entah adakah di level individu bisa melakukan proses ini secara ideal. Yang saya maksud tidak ideal adalah saya tidak langsung menetapkan satu visi yang jelas di awal (entah setelah lulus S1 atau titik awal yang lain). Saya melakukannya sambil berjalan. Saya mengambil beberapa hal yang menarik dan sesuai bidang saya. Saya dari awal, entah mengapa, tertarik dengan bidang manajemen rumah sakit. Dimulai dengan pengambilan minat pada saat S1, kemudian S2 ambil di bidang manajemen RS. Tidak disengaja memang, saya cuma suka saja.
Dan memang setelah saya ambil, saya tidak menyesalinya, saya suka. Padahal sebelum memutuskan bidang itu, saya tahu orang2 yang terlibat di dalamnya adalah orang2 yang terkenal eksklusif, terkenal sulit, terkenal sibuk, dsb.
Dan ternyata saya bisa, dan saya suka.

Proses ini terus berjalan sampai saya masuk bekerja di RS dan kemudian di perusahaan konsultan manajemen RS. Sembari proses ini berjalan, saya terus belajar mengenal diri saya sendiri. Saya sadar saya lebih suka bekerja sendiri, karena bisa lebih fleksibel mengatur waktu, mood dan kemampuan saya sendiri. Saya kurang suka bekerja secara tim, terutama rapat2 yang tidak jelas isinya. Jujur saja, itu yang membuat saya tidak melamar menjadi PNS. 

Di setiap proses itu, tentu saja seringkali muncul pilihan2 lain, yang membuat saya berada di persimpangan jalan. Harus memilih, membuat keputusan. Dan proses ini tidak berhenti setelah saya menikah. Dan pilihan2 yang datang juga semakin kompleks, karena setiap pilihan membawa konsekuensi, tidak hanya ke saya tapi juga ke anak, suami dan keluarga saya.

Memang belakangan ini saya merasa sudah jauh lebih dewasa, lebih tenang dalam membuat keputusan. Tentu saja keputusan yang disetujui oleh suami.

Saat ini pun adalah salah satunya. Beberapa minggu lalu saya sudah memutuskan untuk mengikuti kelas bahasa Inggris (sebagai salah satu langkah saya mencapai tujuan hidup saya), setelah memikirkan dengan hati, merencanakan beban kerja saya, saya meminta ijin kepada atasan konsultan, dan alhamdulillah dengan mudahnya beliau mengijinkan. Saya menganggap ini merupakan petunjuk dari Allah bahwa jalan yang saya pilih ini adalah benar dan terbaik untuk saat ini. 
Saya merasa hati saya tenang, tidak memaksakan kehendak, dan semuanya mengalir saja dengan lancar. 
Sampai hari ini, ada tawaran untuk mengikuti pelatihan sertifikasi dosen tepat pada tanggal yang sama dengan hari mulainya les, selama 10 hari full day.
Bingung? Jelas. Bimbang? Tentu. Bahkan beberapa orang menyatakan seharusnya saya memprioritaskan pelatihan tsb. Memang saya pun tidak pernah menceritakan tujuan saya mengikuti kelas bahasa Inggris kepada siapapun, kecuali suami. Suami pun ragu, ada keinginan untuk saya mengikuti pelatihan tsb. 
Saya kembalikan ke hati saya. Saya percaya Allah akan memilihkan yang terbaik untuk saya. 

Let the heart feeling the way, and the head leading the way.

Saya percaya keputusan yang berasal dari hati yang bersih, berpanduan pada rencana hidup saya dan kemudian berserah diri pada Allah, maka itulah keputusan yang terbaik.
Tidak ada keputusan yang benar untuk semua orang. Yang ada adalah keputusan terbaik saat itu yang konsekuensinya bisa diterima.
Which one is that? I still should consult with my Creator..

Nb. Tambahan setelah datang ke acara gathering kantor konsultan di rumah bos...
Saat itu pak bos menceritakan, bahwa ada 3 keputusan sulit dalam hidupnya. Yang pertama tahun 1982, saat beliau harus menentukan pilihan menjadi anggota DPR RI (Pusat) atau menjadi dosen Unair. Saat itu, beliau memilih menjadi dosen Unair, sehingga sempat dimarahi oleh Gubernur saat itu karena mengundurkan diri dari DPR RI.
Yang kedua tahun 1989, saat beliau harus menentukan pilihan melanjutkan S2 ke Amerika (dan meninggalkan praktek dokternya saat itu yang tergolong top, karena dalam 1 tahun bisa menghasilkan 1 mobil baru setiap tahunnya) atau tetap praktek sebagai dokter saja dan melepaskan kesempatan beasiswa ke Amerika. Saat itu, beliau memilih beasiswa. Di sini, beliau sempat mengucapkan satu kalimat yang cukup "menohok": "dosen kalau tidak terus meng-upgrade ilmunya dan menggunakan otaknya, dosen tidak lebih dari seorang tukang ketik".
Yang ketiga, saat ini, saat beliau pensiun, beliau ditawari menjadi pimpinan salah satu PTS terkemuka di Jatim dan meninggalkan Unair, atau tetap di Unair seperti saat ini. Dan beliau memilih tetap di Unair.

Dari cerita beliau, saya yakin jalan hidup dan rejeki kita sudah diatur Yang Kuasa. Kita cuma perlu meniatkan yang baik, berusaha sebaik mungkin, that's it...let Allah do the rest :)

Monday, November 4, 2013

Breastfeeding Campaign

0 comments
Sejak gabung sbg pengurus AIMI Jatim 18 bulan yg lalu dan terutama sejak jadi admin FB Grup AIMI Pusat, sangat banyak pengetahuan yg aku dapatkan ttg menyusui. AIMI terlihat "membenci" susu formula (sufor)? Tidak, kami tidak memerangi sufor. We just against its marketing methods.

Selain itu, kampanye menyusui di negara maju dengan negara miskin atau berkembang berbeda muatannya :)

Ini alasannya (sumber: Lianita P. - Konselor Laktasi AIMI Pusat):

1. Di Indonesia, angka kematian bayi tinggi krn pemberian asupan yang tidak benar (ASI dan MPASI). Dalam hal ini, termasuk pemberian sufor yg tidak sesuai dengan panduan yg benar. Kenapa di Indo mungkin kampanye menyusui lbh aktif ketimbang di negara maju? Krn di Indonesia kita marching dengan angka kematian bayi/balita yg tinggi krn praktek pemberian asupan yg tidak tepat. Masalahnya, lebih dr 60% masyarakat hidup dengan akses thd air bersih yg buruk, kalau golongan ini tdk diedukasi dengan manfaat ASI dan menyusui, maka angka kematian bayi angka semakin tinggi krn diare. Kita punya target MDGs tahun 2015 dan sampai sekarang angka ini belum kita penuhi. nah, angka kematian bayi dan balita ini di negara kita jd masalah kompleks krn apa: nakes kurang, edukasi masyarakat kurang, dana negara utk jaminan kesehatan kurang. jadi fungsi preventif hrs lebih dikedepankan daripada fungsi kuratif

Benar ada kategori sufor berdasarkan bahan dasar dan usia. Kategori sufor itu dibuat berdasarkan kebutuhannya kan (lihat pedoman penggunaan sufor sesuai panduan WHO).

Permasalahannya adalah: apakah penggunaan sufor di Indonesia sudah sesuai dengan pedoman WHO? Belum :) ASI kurang, berikan sufor, tanpa melihat bagaimana proses ibu menyusui. Kurang berat badan, berikan sufor, tanpa dilihat bagaimana proses menyusui (dan asupan makanan jika sudah MPASI), sesudah disapih berikan sufor (padahal di negara maju, bayi setelah 2 tahun tdk lg diberikan sufor, tapi diberikan susu segar/UHT/pasterusiasi  jika masih konsumsi susu).

2. Aspek lain yg juga penting, krn kita marching dengan angka kematian bayi dan gizi buruk bayi, sebetulnya ada protokol medis yang harus dilakukan oleh nakes jika mereka menjumpai kasus bayi yang punya masalah asupan, yaitu dilihat dulu bagaimana ibunya menyusui, dibantu dulu, baru diberikan formula bila ada indikasi medisnya. Nah, masalahnya nakes banyak yang langsung suggest formula ketika si bayi punya masalah dengan asupan. Itu yang mesti kita luruskan jg. Banyak nakes paham ttg manfaat ASI, tapi tidak tahu bagaimana cara membantu ibu menyusui.

3. As much as sufor bisa jadi alternatif pengganti, when needed, tidak bisa dikesampingkan bahwa sudah banyak riset ilmiah yg menjelaskan resiko sufor. Di banyak negara, lembaga resmi kesehatan bahkan sudah melisting berbagai resikonya. Nah, resiko ini yg harus diedukasikan ke nakes dan juga masyarakat agar pemberian sufor bisa proporsional tujuan dan manfaatnya. Di sini, banyak yg menganggap ASI dan sufor sama saja, padahal tidak.

4. At the same time, kita bertarung dengan promosi sufor di media yang lebih banyak dipercaya daripada protokol yang sebenarnya. Dan karakter masyarakat kita yang masih mudah terpengaruh pada promosi membentuk pola pikir masyarakat bahwa ASI bisa digantikan oleh sufor (for WHATEVER reasons). padahal bukan whatever reasons ya, but CERTAIN reasons :)  Di negara Barat yg sudah mengikuti kode WHO, tidak ada promosi sufor di media. Masyarakat mendapatkan informasi dari sumber yg terpercaya tanpa intevensi pesan komersial (baik dr media, dr nakes, dsb). Sehingga informasi yg didapat sifatnya proporsional.

FYI, angka menyusui ASIX di Belanda tidak lebih tinggi dari di Indonesia. But why they don't bother that much? Karena mereka tidak punya masalah akses ke air bersih, tidak punya masalah tingginya angka kematian bayi balita krn diare, tidak punya masalah tingkat edukasi masyarakat yg rendah, tidak punya angka gizi buruk bayi balita yg tinggi seperti kita, mereka punya skema penjaminan kesehatan masyarakat terutama untuk bayi dan balita, punya jumlah nakes yang proporsional dengan jumlah penduduk, tidak menghadapi promosi sufor yg di luar kode WHO. Kita? Our numbers are just the opposite of theirs Sehingga di negara maju, kampanye menyusui lebih bersifat ajakan dan gentle reminder, krn mereka tidak berlomba dengan buruknya angka2 di atas  

Sementara kita? Angka kematian bayi balita tinggi, angka gizi buruk tinggi, tingkat pendidikan masyarakat rendah, tidak ada jaminan kesehatan masyarakat, promosi sufor masih melanggar kode WHO, nakes dan faskes masih sering dimanfaatkan utk promosi sufor, banyak sufor yg diproduksi di negara dunia ketiga di luar fungsinya, dan sebagainya. 
Ini juga kenapa support group menyusui di negara maju lebih bersifat support group murni, krn sifatnya murni mendukung. Karena mereka yg ikut serta di dalamnya adalah orang2 yg sudah paham manfaatnya dan "hanya" butuh dukungan. Sementara di Indonesia perannya harus lebih dari sekedar support group, tetapi harus menjalankan fungsi edukASI karena masih harus berlomba dengan kondisi2 di atas. 

Last, but not least, dari website WHO:
Officially, the World Health Organization (WHO) designates formula milk as THE LAST CHOICE in infant-feeding: Its first choice is breastmilk from the mother; second choice is the mother own milk given via cup; third choice is breast milk from a milk bank or wet nurse and, finally, in fourth place, formula milk.
Nah, pertanyaannnya: Berapa persen nakes dan masyarakat yg paham ttg hal ini di Indonesia? 
:)

Friday, November 1, 2013

Tamparan untuk Mahasiswa (dan Dosen) dari Made Andi

0 comments
Ini cara saya menggampar mahasiswa saya :)

  1. Kamu ingin dapat beasiswa S2 ke luar negeri nanti? Pastikan IP di atas 3 dan TOEFL di atas 500! Merasa tidak pinter? BELAJAR!
  2. Empat atau lima tahun lagi kamu bisa sekolah S2 di luar negeri dengan beasiswa. Itu kalau kamu tidak cuma twitteran saja sampai lulus nanti.
  3. Kamu tidak akan bisa S2 di luar negeri karena akan ditolak profesor kalau nulis email formal saja tidak bisa. Alay itu tidak keren, tidak usah bangga!
  4. Tidak usah tanya tips cara menghubungi professor di luar negeri kalau kirim email ke dosen sendiri saja kamu belum bisa. Hey, ganti dulu akun niennna_catique@gmail.com itu!
  5. Tidak usah ikut meledek Vicky, kamu saja tidak tahu kapan harus pakai tanda tanya, tanda seru, tanda titik, spasi, huruf besar, huruf kecil di email kok!
  6. Mana bisa diterima di perusahaan multinasional biarpun IP tinggi kalau nulis email saja lupa salam pembuka dan penutup :)
  7. Sok mengkritik kebijakan UN segala, dari cara menulis email saja kelihatannya kamu tidak lulus Bahasa Indonesia kok. Tidak usah gaya!
  8. Bayangkan kalau kamu harus menulis email ke pimpinan sebuah perusahaan besar. Apa gaya bahasa email kamu yang sekarang itu sudah sesuai? Jangan-jangan bosnya tertawa!
  9. Apapun bidang ilmu kamu, akhirnya kamu akan berhubungan dg MANUSIA yang beda umur dan latar belakangnya. Belajar komunikasi yang baik. Jangan bangga jadi alay!
  10. Bangga bisa software dan gunakan alat-alat canggih? Suatu saat kamu harus yakinkan MANUSIA akan skill itu. Belajar komunikasi dengan bahasa manusia biasa!
  11. Kamu orang teknik dan hanya peduli skil teknis? Kamu salah besar! Nanti kamu akan jual skil itu pada MANUSIA, bukan pada mesin!
  12. Kamu kira orang teknik hanya ngobrol sama mesin dan alat? Kamu harus yakinkan pengambil kebijakan suatu saat nanti dan mereka itu manusia. Belajar ngomong sama manusia!
  13. Malas basa-basi sama orang yang tidak dikenal? Enam tahun lagi kamu diutus kantor untuk presentasi sama klien yang tidak kamu kenal. Belajar!
  14. Malas belajar bikin presentasi? Lima thn lagi bos kamu datang dengan segepok bahan, “saya tunggu file presentasinya besok!”
  15. Kamu orang sosial dan malas belajar hal-hal kecil di komputer? Lima tahun lagi bos kamu datang bertanya “cara membesarkan huruf di Ms Word dengan shortcut gimana ya?’ Mau nyengir?
  16. Mahasiswa senior, jangan bangga bisa membully Mahasiswa baru, tujuh tahun lagi kamu diinterview sama dia saat pindah kerja ke perusahaan yang lebih bagus :)
  17. Mahasiswa senior, keren rasanya ditakuti Mahasiswa baru? JANGAN! Urusan kalian nanti bersaing sama orang-orang ASEAN dan Dunia. Bisa bikin mereka takut tidak?
  18. Bangga bisa demo untuk mengundurkan jadwal ujian karena kamu tidak siap? Kamu itu mahasiswa negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara, masa’ urusannya cetek-cetek begitu sih?!
  19. Tidak usah lah sok hebat demo nyuruh SBY berani sama Amerika kalau kamu diskusi sama mahasiswa Singapura saja tergagap-gagap :)
  20. Tidak perlu lah teriak-teriak “jangan tergantung pada barat” jika kamu belum bisa tidur kalau tidak ada BB dekat bantal :)
  21. Tentara kita tidak takut sama tentara Malaysia kalau kamu bisa kalahkan mahasiswa Malaysia debat ilmiah dlm forum di Amerika!
  22. Tidak perlu beretorika menentang korupsi kalau kamu masih nitip absen sama teman saat demo antikorupsi!
  23. Boleh kampanye “jangan tergantung pada barat” tapi jangan kampanye di Twitter, Facebook, BBM, Path dan Email! Memangnya itu buatan Madiun?!
  24. Kalau file laporan praktikum masih ngopi dari kakak kelas dan hanya ganti tanggal, tidak usah teriak anti korupsi ya Boss!
  25. Minder karena merasa dari kampung, tidak kaya, tidak gaul? Lima tahun lagi kamu bisa S2 di negara maju karena IP, TOEFL dan kemampuan kepemimpinan. Bukan karena kaya dan gaul!
  26. Pejabat kadang membuat kebijakan tanpa riset serius. Sama seperti mahasiswa yang membuat tugas dalam semalam hanya modal Wikipedia :)
  27. DPR kadang studi banding untuk jalan-jalan doang. Sama seperti mahasiswa yang tidak serius saat kunjungan ke industri lalu nyontek laporan sama temannya :)
  28. Pejabat kadang menggelapkan uang rakyat. Sama seperti mahasiswa yang melihat bahan di internet lalu disalin di papernya tanpa menyebutkan sumbernya.
  29. Alah, pakai mengkritik kebijakan pemerintah segala, bikin paper saja ngopi file dari senior dan ubah judul, pendahuluan sama font-nya :D
  30. Gimana mau membela kedaulatan bangsa kalau waktu menerima kunjungan mahasiswa asing saja kamu tidak bisa ngomong saat diskusi. Mau pakai bambu runcing? :)
  31. Kalau kamu berteriak “jangan mau ditindas oleh asing”, coba buktikan. Ikuti forum ASEAN atau Dunia dan buktikan di situ kamu bisa bersuara dan didengar!
NB. Kata-kata saya di atas memang SADIS. Maafkan jika ada yang tersinggung. FYI, saya juga banyak kesalahan saat mahasiswa. Pesan ini sebuah refleksi, sebagian dari pengalaman nyata dan berharap mahasiswa saya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Matur nuwun

Sumber: http://madeandi.com/2013/10/17/sekali-sekali-mahasiswa-memang-perlu-digampar/#comment-11181

Monday, October 21, 2013

Masa Transisi dalam Hidup Manusia

0 comments
sepanjang perjalanan hidup manusia, ada 3 (tiga) masa transisi yg scr alamiah akan dilalui n berisi tgs utk hadapi halang-rintang. #katatoge
tgs halang-rintang itu dimaksudkan sbg alat periksa apakah si manusia sdh layak masuk ke tahap belajar di kehidupan yg berikutnya. #katatoge
halang-rintang pertama ada di masa transisi dr bayi ke anak2 yg biasa tjd di kisaran usia 3-6 thn n berisi tgs utk blajar mandiri. #katatoge
itu knp anak2 di kisaran usia 3-6 thn (kdg sdh ON sejak usia 2 taunan) mjd wajar (bahkan seharusnya) nampilin perilaku "sok gede". #katatoge
anak2 yg sdg berada di masa transisi pertama ini akan berontak (pasif/agresif) bila diperlakukan sbg kuda delman, walo sblmnya ok.
#katatoge
itu knp anak2 di usia itu perlu dikenalkan-diajak-dikelola utk belajar bersepakat spy tgs alaminya utk belajar mandiri dpt tuntas. #katatoge
halang-rintang kedua ada di masa transisi dr anak2 ke dwasa yg biasa disebut sbg masa remaja n berisi tgs belajar utk layak dwasa.
#katatoge
halang-rintang kedua biasa tjd di kisaran usia 12-15 th n bs lanjut sampai kisaran usia 18 th (bila blm tuntas atau perlu revisi).
#katatoge
halang-rintang kedua ini tdk lg ditandai perilaku "sok gede", spt yg pertama, krn kali ini tandanya adalah perilaku "sok penting".
#katatoge
itu knp mjd wajar (bahkan seharusnya) bila anak2 di kisaran usia ini nampilin diri utk jd sosok yg punya andil (memberi pengaruh).
#katatoge
utk itulah sgup buat kputusan mndiri bdasar timbangan risiko jd target yg perlu tuntas sbelum usia 13 th (transisi anak ke dwasa). #katatoge
halang-rintang ketiga ada di masa transisi dr dwasa ke lansia yg biasa dsebut sbg "puber ke-2" n berisi tgs belajar utk siap mati. #katatoge
halang-rintang ketiga bs tjd sblm memasuki usia 60 th (tergolong "kebelet") tp jg bs tjd setelah usia 60 th (tergolong "kasihan").
#katatoge
halang-rintang ketiga ini ditandai oleh perilaku "sok kuat" shg wajar (bahkan seharusnya) klo mrk nampilin diri sbg "muda-enerjik" #katatoge
masa transisi dr dwasa ke lansia perlu mulai disiapkan sejak masuk usia 55 th dg cara evaluasi diri utk periksa apa yg blm tuntas.
#katatoge
jd, rentang wkt antara usia 55-60 th bs dipakai utk menjalani prog remidial klo ada kesanggupan2 berkait kedewasaan yg blm tuntas.
#katatoge
masa transisi dr dwasa ke lansia dpt disebut berlangsung aman nyaman bila si manusia mampu menilai diri n hidupnya sbg "sdh baik".
#katatoge
kriteria/ukuran yg dpt digunakan utk menilai diri n hidupnya "sdh baik" adalah (a) puas dg apa yg sdh dilakukan di sepanjang hidup.
#katatoge
kriteria/ukuran berikutnya utk menilai bhw diri n hidupnya "sdh baik" adalah (b) puas dg apa yg sdh diperoleh/dialami selama hidup. #katatoge
kriteria/ukuran terakhir utk menilai bhw diri n hidupnya "sdh baik" adalah (c) puas dg kenyamanan hidup yg dimilikinya pd saat itu.
#katatoge

Saturday, October 19, 2013

Perkembangan Ayra (16m)....dan Ortunya!

0 comments
Alhamdulillaaahh.....1 bulan tanpa ART lama, Ayra di daycare 2-3x seminggu, sudah merasa nyaman. Hebat juga bocah kecil ini, adaptasinya cepat. Tetap saja, aku pakai mantra "percaya saja, memberi saja" dan tetap ngiklanin ke Ayra.
Minggu2 terakhir di daycare, Ayra sudah bisa bobok 1,5-2 jam di sana. 

Nah karena beberapa pertimbangan, aku dan suami memutuskan untuk menggunakan jasa nanny harian. Sudah 2 hari ini, Ayra sama nanny-nya dan alhamdulillah langsung cocok. Ayra bisa tidur spt biasa di rumah, rutinitasnya nggak terganggu samsek.


Sebenarnya penerapan ruasdito ini nggak hanya untuk Ayra, tapi juga aku. Ada impian lama yang muncul lagi 1 bulan terakhir dan alhamdulillah direstui suami untuk diwujudkan. Untuk mewujudkan impian ini, butuh usaha dan kerja keras, dan mungkin saja berbulan2 atau bertahun2. Dan usaha mencapai impian ini pun membawa konsekuensi, yaitu aku harus lebih sering meninggalkan Ayra, atau paling tidak aku punya pekerjaan yang lebih banyak untuk aku kerjakan. Itu sebabnya kami memutuskan untuk memakai nanny. 
Selain itu, sebenarnya perkembangan ruasdito Ayra berjalan lambat. Alasannya lebih karena ke-error-anku sendiri.Karena untuk memantapkan hati terkait impianku dan konsekuensi2nya, aku sempat nggak kompak antara hati dan kepala :D
Butuh waktu 2 minggu lebih untuk memantapkannya, itu juga karena 1 bulan terakhir pekerjaanku sangat padat.

Selain konsekuensi ke Ayra, sebenarnya impian ini juga akan berdampak pada bapakku. Memang sampai saat ini aku belum punya solusinya. Tapi aku yakin Allah akan memberikan jalan yang terbaik tepat pada saatNya :)

Keyakinan itu bertambah kuat ketika bapak sakit kemarin. Tiba2 sejak subuh, bapak muntah2 dan vertigo. Dalam 2 jam muntah 10x. Memaknai fakta sebagai berkah. Untung saja, bapak sakit saat pekerjaanku di konsultan sudah mulai longgar dan pekerjaanku sbg dosen masih bisa ditinggalkan sementara. Untung juga, saat repot urus bapak di RS spt ini, Ayra sudah dapat nanny, yang baru masuk sehari sebelumnya dan langsung cocok. Memang semua Allah yang mengatur.
Kadang memang sempat muncul keraguan apa bisa aku melakukan atau menjalaninya. Tapi waktu yang membuktikan kalau aku bisa karena Allah yang sudah menyiapkan segalanya :)

Oh ya, Ayra masih di tahap memilih ga enak vs. ga enak; enak vs. enak dan tahap dagang. Untuk tahap dagang ini, akunya masih agak lemot dg harga yang bisa aku ajukan :p
Ayra sudah mulai paham tentang bersepakat, meski hanya dari gerakannya. Kalau aku sudah mengajukan tawaran, trus aku tanya "oke?" atau "sepakat?", dia angkat tangannya untuk toss sama aku...hehee...meski kadang dia mengingkari kesepakatan :))

Selain itu, hasil dari daycare, Ayra sudah bisa merangkak dan mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Inggris, seperti "bye-bye" dan "no..no..no". Tapi karena dominan masih dari kami, ya masih dominan bahasa Indonesia. Akupun nggak pernah berniat ajarin Ayra bahasa Inggris dulu.

Ayra sudah bisa bernyanyi "Burung Kakaktua", "Helly" dan "Cicak". Untuk kosakatanya sudah banyak. Kadang aku bilang "ayo Ayra makannya cepetan, nanti mama tinggal lho", kemudian dia jawab "tinggal dua". Maksudnya nyanyi burung kakaktua yang bagian "giginya tinggal dua".
Sewaktu ke supermarket juga ada hal yang mengejutkan, Ayra tiba2 ambil deodorant merk R*xona yang bukan roll-on, dan bilang "kelek..kelek" (maksudnya ketiak). Suami yang tahu pertama kali, pertamanya dia nggak paham, tapi setelah itu Ayra mempraktekkan cara pakainya. Padahal deodorant-ku bukan merk itu dan bentuk roll-on.

Untuk perkembangan jalannya, masih terlambat. Tapi 1 bulan terakhir ini, Ayra sudah lancar turun kasur sendiri. Bahkan di tengah2 menyusu pun, kalau dia belum mau tidur, tiba2 dia turun sendiri. Padahal akunya sudah liyer-liyer. Jadi sering juga kejadian, akunya sudah tidur, Ayra turun sendiri dan acak2 lemarinya. Kemudian dia naik lagi, tanpa aku sadar, langsung nyusu dan tidur di sebelahku. Begitu aku bangun, kagetlah aku karena kamar sudah berantakan :))))

She's just amazing! The best gift Allah ever given to me...alhamdulillah!

Sunday, September 8, 2013

Perkembangan Ruasdito Ayra (15m)

1 comments
Setelah mendapat kabar bahwa ART lama nggak balik, aku sempat kecewa dan stres. Selain karena bilangnya hanya H-2 dari tangga seharusnya dia balik, juga mungkin karena aku belum lulus tahap kecewa. Beberapa hari aku menenangkan hati, alhamdulillah aku nggak se-bete biasanya. Dan aku mulai menanyakan ke hatiku, solusi apa yang harus diambil. Setelah menimbang2, aku yakin memutuskan daycare. Keputusan itu nggak datang tiba2, karena suami dan bapakku kurang setuju dg opsi itu. Sambil survei daycare yg ada di daerah tempat tinggalku, aku semakin memantapkan hati. Siapa bilang aku sendiri juga tega? Aku juga nggak tega taruh Ayra di daycare, diasuh oleh orang yg benar2 belum kita kenal. Sempat kepikiran juga, apa yg akan dilakukan nanny2nya kalau Ayra rewel, lapar atau ngantuk? Apa bisa Ayra tidur di tempat yg sangat asing buat dia? Dan segudang pertanyaan lain.
Tapi memang benar kok, let the heart feeling the way, and the head will be leading the way..

Semua itu terjadi 2 minggu sebelum aku mulai ngajar pagi. Memang yang menjadi situasi sulit adalah karena sejak awal September 2013, aku mulai mengajar jam 07.00-12.00 setiap Selasa dan Kamis. Kalau untuk pekerjaan di kantor konsultan, insyaAllah bisa diatur waktunya. Secara perlahan memantapkan hati dan mulai "mengiklankan" ke Ayra bahwa dia akan mulai sekolah (aku menyebut dia di daycare sebagai sekolah) 2x seminggu.

Sempat free trial 1x selama 2 jam aku tinggal, Ayra terlihat enjoy. Kemudian datanglah bulan September. Selasa pertama di bulan September, Ayra diantar papanya jam 07.00, pulangnya jam 12.00 aku yang jemput. Rabu tiba2 mendadak aku ada rapat dan urusan mulai siang jam 13.00 sampai jam 20.00, Ayra dititipkan dc setelah kesepakatan dg papanya bisa jemput jam 17.00. Dan juga Kamis Ayra di dc mulai pagi sampai siang. Ayra selama 3 hari diantar ke dc maupun selama di dc, tidak pernah rewel. Hanya saja Kamis malam, Ayra menunjukan perubahan perilaku, menjadi sedikit2 menangis, bahkan pada saat main sekalipun.

Saat seperti ini, alhamdulillah aku sedang kompak hati-kepala, aku bisa menerapkan ruasdito. Aku merasakan perilaku Ayra ini strategi, sehingga aku abai lahbat perilakunya, bukan orangnya. Perilaku strategi Ayra ini juga sempat dirasakan oleh bapak dan adikku, mereka bilang capek dan Ayra nggak asik diajak main. Aku paham ini karena perubahan situasi dan kondisi di rumah. Ini situasi sulit untuk Ayra, tapi aku rasakan bisa dijadikan situasi belajar juga untuk Ayra.

Jadi sejak Kamis malam sampai hari Minggu ini, aku mencurahkan waktuku sepenuhnya untuk perkembangan psikologis Ayra. Setelah aku nyalem di milis dan minta saran, om Ge memaparkan kemungkinan Ayra sudah naik kelas. Sehingga melihat aku sebagai kuno. Alhasil 2 hari terakhir ini aku coba menerapkan pola dagang tunai dan kredit serta teknik milih, alhamdulillah Ayra bisa dikelola dengan lebih enak. Yayyy!

Contoh: karena "kekacauan" rutinitasnya Ayra, Jumat sore dia nggak mau tidur, sehingga Jumat malam jam 20.00 dia sudah tidur. Itu menyebabkan jam 02.00 dini hari Sabtu, Ayra sudah bangun dan ajak main. Sekitar 30 menit dia main sendiri dan berusaha bangunin aku dan suami. Di situ aku kasih pilihan, Ayra mau mainan tapi sendiri atau bobok lagi sama mama. Nggak pake lama, dia mau nenen lagi dan bobok.

Contoh lainnya yang pakai teknik dagang banyak banget dalam 2 hari ini, salah satunya: Sabtu malam kebalikan Jumat malam, karena sudah tidur siang lama, malamnya Ayra masih segar jam 22.00. Ayra masih mau main di kamar eyangnya, padahal kami semua mau siap2 tidur. Sehingga aku pakai teknik dagang: Ayra mau mainan sama papa di kamar atas? Kalau ya, ayo naik dulu dan ganti baju ya. Di situ aku juga ngiklanin berdasarkan pola belajar alami Ayra (berpikir-melihat-melakukan), aku mendeskripsikan mainan sama papa seperti apa aja. Dan yang awalnya Ayra menolak sambil marah/maksa main di kamar eyangnya, nggak pakai adu menang, Ayra setuju naik ke kamar kami.

Aku sadar ini adalah masa adaptasi dan transisi. Ayra yang kehilangan mbaknya yg sudah 10 bulan selalu menemani dia, terlihat sayang sama Ayra, ternyata nggak bisa balik. Ayra harus sekolah 2x seminggu di daycare. Dan itu semua tentu merubah kondisi keluarga kami yg sudah stabil 10 bulan terakhir.

Perjalanan kami masih akan terus berlanjut. Penerapan ruasdito ini tidak hanya bermanfaat untuk Ayra, tapi juga aku. Aku jadi belajar untuk "memberi saja, percaya saja", belajar kecewa, belajar kompak hati-kepala.






Friday, September 6, 2013

[TriedNTested] Chocolate Butter Cookies

0 comments
Bahan Kue Kering Chocolate Butter Cookies :

  • 600 gr tepung terigu protein sedang
  • 400 gr mentega
  • 300 gr gula halus
  • 250 gr kacang mete / kacang tanah, sangrai dan cincang (utk isi)--> aku pake almond
  • 100 gr coklat bubuk --> aku pake cooking chocolate
  • 50 gr tepung maizena
  • 2 btr kuning telur
  • 60 ml susu kental manis coklat
  • 1/2 sdt soda kue
Cara Membuat Kue Kering Chocolate Butter Cookies :
  1. Kocok mentega, susu kental manis coklat, kuning telur, dan gula halus selama 2 menit hingga lembut menggunakan mixer. Sisihkan.
  2. Campur dan ayak tepung terigu, tepung maizena, coklat bubuk, dan soda kue.
  3. Masukkan campuran tepung terigu ke dalam campuran mentega, aduk menggunakan sendok kayu atau spatula hingga rata. Kemudian tambahkan kacang mete cincang, aduk rata kembali hingga menjadi adonan yang menyatu.
  4. Ambil 1 sendok makan adonan, letakkan di atas loyang beroles margarin. Tekan-tekan permukaan adonan. Lakukan hal yang sama hingga semua adonan habis.
  5. Panggang adonan ke dalam oven dengan temperature 150 C selama 30 menit, hingga cookies matang.
  6. Masukkan chocolate butter cookies ke dalam toples kedap udara, atau menurut selera. Dan segera sajikan.

Thursday, August 29, 2013

[Recipe] Kentang Panggang isi Kornet

0 comments

Kentang Panggang Isi Kornet

Kentang adalah salah satu bahan makanan yang hasil olahannya banyak disukai oleh anak2. Hidangan dengan bahan dasar kentangkali ini selain dapat dijadikan menu sarapan anak-anak juga dapat dijadikan bekal sekolah.
Bahan-bahan :
  • 500 gr Kentang
  • Daun bawang secukupnya iris tipis
  • 1 sdm margarin
  • 100 gr kornet kalengan
  • 1 sdt garam halus
  • merica bubuk secukupnya (sesuaikan selera anak)
Cara membuat :
  1. Cuci kentang, panggang dalam oven/microwave sampai matang, potong 1/4 bagian atasnya kupas kulitnya, sisihkan. Kerok bagian atas yg dipotong tadi sehingga kentang berbentuk mangkuk.
  2. Campur hasil dari proses pengerokan dengan 1/4 bagian hasil potongan, haluskan.
  3. Panaskan margarin, tumis daun bawang, masukkan garam, merica dan kornet, masak sampai matang/kering.
  4. Campur adonan kentang yang dihaluskan dengan adonan kornet. Masukkan kembali kedalam “mangkuk kentang” sehingga bentuk kentang “kembali seperti semula”.
  5. Panggang kembali kentang sampai bagian atasnya kering. Hidangkan.
(untuk 5 porsi, 1 porsi = 140 kal)

[TriedNTested] Macaroni Schotel

0 comments

MAKARONI PANGGANG

Bahan-bahan :
  • 1 buah bawang bombay, cincang halus
  • 200 gram daging cincang
  • 200 gram macaroni, rebus dan tiriskan
  • 6 butir telur
  • 200 ml susu cair
  • 2 sendok makan margarin
  • 1/2 butir pala, haluskan
  • 150 gram keju parut
  • Garam dan lada secukupnya
Cara membuat :
  1. Panasakan margarin, tumis bawang bombay hingga harum
  2. Masukkan daging cincang, masak hingga berubah warna
  3. Campur daging cincang, macaroni rebus, susu cair, telur dan 50 gram keju parut, lada, pala dan garam, aduk rata
  4. Tuang ke dalam loyang yang sudah diolesi margarin
  5. Taburi bagian atas dengan taburan keju
  6. Panggang hingga matang

Saturday, August 24, 2013

[TriedNTested] Puding Roti Saus Vanila

0 comments
Bahan untuk Pudding Roti:
  • 3 buah telur
  • 1 cup gula putih (boleh ditambah atau dikurangkan sesuai selera, tapi 1 cup jadinya tidak terlalu manis)
  • 2 sdm brown sugar
  • 1/2 sdt bubuk kayumanis (ground cinnamon)
  • 1/4 cup mentega, lelehkan
  • 3 cups susu segar (boleh susu UHT atau susu pasteurisasi)
  • 10 lembar roti.  Saya gunakan wholemeal bread biar teksturnya tidak terlalu halus, tapi roti apa saja tidak masalah.
  • 1 cup kismis
  • 1 buah pisang ukuran besar (optional – kebetulan saya suka tambahkan pisang biar lebih enak)
  • Gula halus secukupnya
Cara Membuat Pudding Roti:
  1. Panaskan oven dengan temperatur 190 derajat C dan siapkan wadah tahan panas yang sudah diolesi mentega.
  2. Potong-potong roti dengan bentuk kotak. Sisihkan.
  3. Di dalam wadah yang besar (mixing bowl), campurkan telur, mentega, susu, gula, dan bubuk kayumanis. Cukup menggunakan whisk saja, tidak perlu dengan mixer. Setelah semua tercampur rata, masukkan roti, kismis, dan pisang (kalau suka).
  4. Aduk rata sampai seluruh roti tercampur dengan campuran telur dan susu. Lalu tuangkan ke wadah tahan panas yang sudah disiapkan.
  5. Panggang selama 50-55 menit sampai kecokelatan. Kalau baru 30 menit sudah terlihat cokelat, tutupi adonan dengan aluminum foil untuk menghindari gosong di bagian atas.
  6. Angkat dan biarkan dingin. Lalu taburkan gula bubuk di atasnya sebelum disajikan.

Bahan untuk Saus Vanila:
  • 1/2 cup brown sugar
  • 1 sdm tepung terigu
  • 1 telur
  • 2 sdm mentega, lelehkan
  • 1 1/4 cup susu
  • 1 sdm vanilla extract
  • bubuk kayumanis (ground cinnamon) seujung sendok
  • garam secukupnya
Cara Membuat Saus Vanila:
  1. Campur semua bahan, kecuali vanilla extract, ke dalam panci, lalu taruh di atas kompor.
  2. Aduk rata adonan di atas api sedang. Terus diaduk supaya tidak pecah. Mengaduk menggunakan whisk akan lebih mudah, tapi pastikan pancinya tidak berupa teflon ya, karena akan membuat pancinya rusak.
  3. Setelah agak mengental dan sudah lembut, tuangi vanilla extract dan aduk sampai agak kental. Cara mengetahuinya? Masukkan sendok aluminum ke dalam saus. Kalau sendok ter-cover dengan saus ketika diangkat, berarti sudah siap.
  4. Angkat dan sajikan sebagai side dish untuk menikmati puding roti yang sudah dibuat.

Sumber: theurbanmama

Wednesday, August 21, 2013

Daycare Review Surabaya Timur

15 comments
  1. Sayang Daycare
    Alamat: Pakuwon City L4 no. 1 (Graha RA) Surabaya
    Biaya full day: 150rb/hari;  800rb/minggu; 2,5juta/bulan
    Biaya half day: setengah dari harga full day
    Jam operasional: 7-17
    Fasilitasnya lengkap di sini. Ada dokter yg stand by juga.
    Tadi waktu aku survei ke sana, masih sepii...cuma ada 1 anak yg di daycare. Oya ini gedungnya ada klinik juga di lantai 1, lantai 2-nya preschool. Daycare di lantai 3, tapi bisa main2 juga di lantai 2. Untuk ukuran Surabaya, harganya masih cukup mahal yaa...tapi memang dari membandingkan dg daycare lain ya jauuuh bgt kualitasnya.
  2. Cordova Islamic School
    memprioritaskan daycare untuk yg sekolah di sini, jadi otomatis setelah umur 2 tahun ya.. Tapi tadi katanya sih boleh umum juga, tapi tetap bayar uang pangkal sebesar Rp 2jt. Kalau diteruskan PG A-B di sini, nggak perlu bayar uang pangkal lagi.
    Ini kontaknya yaa:
    Jl. Raya Dharmahusada Indah Blok B15 no. 27-29
    Surabaya
    Telp. 031-5924536/77171707
  3. TPA & KB Tunas Bahari (Univ. Hang Tuah)
    Biaya harian 20rb. Tapi sayangnya pengasuhnya cuma 2 orang. Kelebihannya memang lokasinya jadi satu dg fak.psikologi UHT, kata yang jaga tadi, mahasiswa psikologi juga sering membimbing perkembangannya. Tapi aku nggak tau kebenarannya yaa.. Mereka terima bayi kalo ga salah mulai umur 7-8 bulan gitu.
    Ini alamatnya:
    Gedung Growth Center
    Laboratorium Perkembangan dan Pendidikan
    Fak. Psikologi, Univ. Hang Tuah
    Jl. Arif Rahman Hakim 150 Sukolilo Surabaya 60111
    Telp: 5945864, 5945894, 5912877 ext. 527
    Senin-Jumat 08.00-15.00 WIB
  4. PAUD Cahaya Tazkia
    Biaya daycare 450rb/bulan, dapat makan dan sncak utk anak di atas 1 tahun. Tempatnya lumayan menarik, Ayra suka di situ. Mainannya juga baru2. Bagian bawah adalah KB dan TK, Ayra juga suka ditaruh di situ. Sayangnya, tadi daycare-nya sudah penuh, sudah sampai 40 anak!
    Alamat:
    Jl. Gebang Putih no. 10 Surabaya
    Telp. 031-5925972, 5945101
  5. Yayasan Hidayatullah
    Aku nggak dapat brosurnya, jadi aku nggak tahu alamat pastinya, tapi yg pasti ini di depan perumahan Pakuwon City (dulu Laguna Indah). Tapi tadi sempet masuk TPA-nya, aku kurang sreg, karena nggak bersih, perbandingan anak dan pengasuh juga nggak ideal.
    Telp. 031-5939749
 Semoga bermanfaat yaa..

Wednesday, August 14, 2013

Cerita Ruasdito selama Libur Lebaran

0 comments
Masih dalam masa libur lebaran sih sebenarnya ini...karena meski sudah mulai masuk kerja (seharusnya), tapi pembantu belum balik, dan aku minta ijin untuk nggak ke kantor dulu sampai pembantuku datang.

Lebaran kali ini, entah gimana, aku ngerasa enak banget, padahal sebelum2nya sudah stres duluan krn stp lebaran pembantu pasti mudik lama, dan entah balik atau nggak.
Karena aku jalaninnya pake mantra "memberi aja, percaya aja", semua jadi kerasa enak..nggak pake acara bete2an segala deh.
Nah "keenakan" hatiku ini rupanya menular juga ke Ayra, selama nggak ada pembantu Ayra menyenangkan, makan lancar jaya, rutinitas juga oke.


Begitu juga waktu mudik ke Jember, berangkat dan pulang, Ayra anteng di carseat-nya. Sesekali dia turun dari carseat kalo pas dia mau nyusu aja. Senengnya sudah bisa membedakan mana emosi, mana strategi. Jadi kalau Ayra pas berstrategi minta turun dari carseat, aku abaikan lahbat, dia diem sendiri juga daan...jadi bobok anteng di carseat. Enaknya aku bisa menikmati perjalanan di mobil :D

 

Acara di rumah mertua juga lancar jaya, paling nggak, kadar faspel-ku berkurang...hihihi..meski belum bisa dibilang hilang samsek. Kadang masih juga protektif, curiga mertua mau kasih makan aneh2 ke Ayra, dll..hehehe..


Saturday, July 27, 2013

Toddler Car Seat

1 comments
Baru aja aku beli toddler car seat untuk Ayra, setelah baby (infant) car seat-nya udah nggak muat. Car seat memang ada beberapa kategori:
  1. Combination baby & child car seat (group 0+ - 1): biasanya harganya paling mahal karena bisa digunakan sejak lahir sampai berat anak maksimal 13 kg. Tapi nggak berlaku di Ayra, karena sejak umur 13m, meski beratnya belum 13kg, tapi Ayra sudah nggak nyaman duduk di situ.
  2. Forward facing car seat (group 1)
  3. Highback booster car seat with harness (group 1-2-3)
  4. Highback booster car seat without harness (group 2-3)
Lebih lengkapnya baca di sini.

Untuk infant car seat, alhamdulillah Ayra dapat kado waktu lahirannya. Kenapa aku keukeuh pake car seat, padahal mungkin di Indonesia belum familiar penggunaan car seat untuk anak? Alasan utamanya simpel, karena aku biasa kemana2 nyetir sendiri, jadi aku membayangkan harus pergi berdua sama Ayra dan nyetir sendiri. Kalau aku nyetir, kalau nggak ada car seat, Ayra taruh mana dong? Nggak mungkin dipangku kan? Nggak mungkin ditidurkan di kursi juga (pasti nggelinding)....

Semakin hari aku semakin paham bahwa di luar negeri sudah diwajibkan memiliki car seat pada saat melahirkan anak. Alasannya adalah safety!
Dan memang, karena Ayra sudah terbiasa duduk sendiri di car seat, jadi sekarang Ayra umur 14m (dimana teman2 sebayanya kalau duduk di mobil pasti ga bisa diam) mau duduk sendiri di car seat. Memang umur segini kan lagi banyak2nya aktivitas, berdiri, merambat, dll. Bisa bayangin kalau di dalam mobil anak juga banyak aktivitas gitu? Belum sampai kecelakaan, kalau kita nge-rem mendadak aja, mungkin anak bisa jatuh atau malah terlempar.

Jadiii.....siang ini alhamdulillah aku menemukan toddler car seat merk Cocolatte Omniguard yang review-nya bagus. Harganya juga sesuai dengan kenyamanannya. Bisa 2 posisi juga.
Untuk review merk2 lain, silakan di sini yaa.

Happy hunting toddler car seat!

Thursday, July 25, 2013

Rute Asuh-Didik ala Toge (Ruasdito)

1 comments
Mungkin selama ini sudah sering baca istilah ruasdito di blog ini, tapi nggak pernah tahu, apa sih ruasdito itu? Dan kenapa aku pakai ruasdito?

Seperti biasa, karena aku adalah orang yang suka teori dulu, baru praktek, maka sejak Ayra umur 2-3 bulan, aku mulai mencari2 pengetahuan tentang ilmu parenting. Karena waktu itu aku aktif di twitter, sampailah pada milis ParenThink. Silakan cari @ParenThink, @sigologtoge

Kenapa aku pakai ini? Karena setelah aku baca, ruasdito ini masuk akal. Silakan lihat2 foto di bawah yaa..
Orang tua secara otomatis naluriah pasti ingin melindungi anaknya, memenuhi semua kebutuhannya (dan keinginannya), membuat dia nyaman, dsb. Itu otomatis. Kalau di istilah omGe, itu yang disebut sebagai faspel (fasilitas pelindung) atau bemper. Dan seperti bemper mobil, fungsinya menjaga supaya mobil nggak beret kan? Biarpun bemper yang penyok2..

Tapi ortu kan nggak mungkin 24 jam mendampingi anaknya, apalagi seiring pertumbuhan anaknya yang semakin banyak aktivitas. Maka sebaiknya ortu mengajarkan anak untuk berpikir, mengajarkan anak untuk jadi dewasa. Itulah yag disebut sebagai fasbel (fasilitas belajar).

Awalnya aku juga nggak rela, aku masih ingin melindungi anakku. Apalagi aku punya histori, merasa nggak dekat dengan mamaku, hanya 4-5 tahun terakhir sebelum beliau meninggal, aku merasa dekat. Rasanya sangat berat menghadapi dunia luar sendirian, sangat terasa buat aku. Selama ini semua selalu "dilindungi" dan "disediakan" mama, dalam artian bukan secara fisik ya...karena secara fisik, aku dibebaskan mengikuti kegiatan apapun.

Tapi sejak Ayra berumur 5-6 bulan, aku mulai merasa, badanku nggak kuat kalau harus "melayani" Ayra terus menerus. Pasti aku butuh bantuan orang lain. Orang lain pun nggak bisa setiap saat bisa melindungi Ayra. Jadi, aku memutuskan, ya aku setuju dengan pemikiran omGe. Setuju dengan ruasdito-nya, Ayra harus berlatih menjadi dewasa.

Dan perjalanan ruasdito-ku dan Ayra pun dimulai....











Wednesday, July 24, 2013

Perkembangan Ruasdito Ayra (14m)

2 comments
Sampai hari ini, Ayra sudah aku perkenalkan dengan teknik pilih dan dagang. Karena Ayra termasuk telat (meski ga banyak), jadi pakai dua teknik itu langsung. Tugasku ini yang bisa mengkondisikan jadi kondisi yang layak belajar.

Kenapa agak telat? Karena Ayra sudah bisa memaksakan kehendaknya. Sudah punya keinginan yang "harus" dipenuhi. Dan saya terlambat melatihnya untuk pelajaran memilih.
Ayra sudah bisa pilih enak vs. ga enak. Sekarang tinggal enak vs enak dan ga enak vs. ga enak.

Beberapa cerita keberhasilanku yaa..
Yang pertama tentang makan. Energi memintaku sudah jauuuhh berkurang. Aku nggak pernah memaksakan keinginanku lagi. Dan alhamdulillah malah Ayra jadi banyak makan...bukan sekali makan dalam porsi besar yah...tapi sering makan, porsinya terserah dia saat itu. Efek lain adalah aku bisa jadi lebih nyantai. Ya benar, memberi saja, percaya saja. Aku percaya Ayra nggak akan membiarkan dirinya kelaparan. Memang untuk topik ini, aku belum bisa berbangga diri menyatakan aku berhasil. Tapi paling nggak, sudah ada perubahan positif :) ini juga mengajarkan Ayra untuk mengenali rasa laparnya.

Yang kedua tentang tidur malam. Beberapa malam belakangan ini, Ayra selalu berulah kalau mau tidur malam. Padahal sudah jelas dia sudah ngantuk, tapi setiap kali habis nenen, dia berusaha bangun lagi, berguling2 di kasur, meski matanya sudah merem. Suatu waktu, aku kasih pilihan ke Ayra: mau bobok sekarang sama mama atau mainan dulu dan mama kerja. Ayra nggak pilih, jadi aku yang pilihkan: Ayra mainan (di box-nya) dan aku keluar kamar melanjutkan kerjaanku. Beberapa saat Ayra diam aja, tapi sekitar 10 menit dia mulai merengek. Aku masuk, aku susuin lagi, dan nggak ada 5 menit, Ayra sudah tidur lelap. Keesokan2nya, Ayra nggak pakai berulah lagi waktu mau tidur malam, kecuali kalau mau tidur, trus diajak main lagi sama papanya atau tantenya. Kalau sudah begitu ya kondisinya nggak layak belajar.

Yang ketiga, tentang mengembalikan barang2 yang dipakai mainan. Emang sudah fase alaminya ya, usia 13-14 bulan senang mengeksplorasi lingkungan, termasuk juga ambilin barang2 di rumah untuk diamati. Nah biasanya setelah diambil, diamati, dibawa kesana kemari, barangnya langsung aja ditaruh di lantai kalau sudah bosan. Dan aku selalu yang mengembalikan semuanya. Capeekk.... Ini berarti sudah saatnya Ayra belajar mengembalikan barang. Setelah memahami rute belajar alaminya Ayra, akhirnya Ayra berhasil mengembalikan barang2nya sendiri...yaayyy!

Oh ya, template alami Ayra adalah benefit-loko.
Rute belajar alaminya adalah: berpikir-melihat-melakukan.
Template dan rute belajar alami setiap anak berbeda dan sudah bawaan lahir alias sudah cetakan :)

Memberi saja, percaya saja. And this journey still going on...

Saturday, July 20, 2013

My Breastfeeding Journey: The First Year

0 comments
Sejak menikah pada Oktober 2009, aku memang menunda kehamilan karena saat itu aku belum merasa tenang secara psikologis karena kehilangan mama pada April 2009 atau 6 bulan sebelum aku menikah.
Sekitar Juli 2010, aku sudah merasa ingin punya anak. Sebulan kemudian aku hamil, tapi rupanya Allah berkehendak lain. Oktober 2010, tepat 1 tahun pernikahan kami, aku harus kuret karena janinnya kalah oleh kista endometriosis, yang ternyata aku idap. Kemudian November 2010, aku menjalani operasi pengangkatan kista, dan harus diterapi agar kista tidak tumbuh lagi selama 3 bulan. Selama masa pengobatan, aku tidak boleh hamil dulu. Selengkapnya baca di sini.

Alhamdulillah aku berhasil hamil pada Oktober 2011, tepat 2 tahun pernikahan kami.
Memang Allah memberikan yang terbaik, aku siap secara mental. Aku mempelajari semua hal tentang kehamilan, hingga pada bulan ke 4 kehamilan, aku merasa belum tahu apa2 tentang menyusui. Seorang sahabatku, Tika, mereferensikan aku untuk browsing tentang Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Sampai saat ini, aku sangat berterimakasih akan hal ini. Karena Tika-lah, aku bisa terlibat banyak dengan AIMI.

Hingga akhirnya, aku browsing segala hal tentang menyusui dan AIMI. Aku mengikuti semua kelas edukASI persiapan menyusui AIMI (prenatal, postnatal dan common challenge) pada usia kehamilan 6-7 bulan. Sejak aku browsing2, aku tahu dari pengalaman orang lain bahwa lingkungan sangat berpengaruh, terutama keluarga yang tinggal 1 rumah.

Awalnya aku menceritakan semua pada suami. Tapi suami seperti kebanyakan orang lainnya, merasa tidak perlu mengikuti kelas persiapan menyusui, karena menurutnya (seperti banyak orang lain), menyusui adalah hal yang alami, pasti bisa sendiri. Tapi aku punya keinginan yang kuat. Selain karena aku tipe orang yang memang harus tahu teorinya dulu, juga karena mamaku sudah meninggal, aku nggak punya tempat untuk bertanya sehari2.

Perjalananku bukan tanpa halangan. Aku harus sering2 bercerita pada suami, bagaimana pengalaman orang lain yang gagal menyusui, dsb. Hingga akhirnya dia mendukung aku. Namun demikian, dia tetap gengsi untuk mengikuti kelas tsb. FYI, kelas persiapan tsb memang sebaiknya diikuti suami-istri.
Alhasil, cuma aku yang mengikuti kelas ini, tapi suami yang mengantar jemput aku (katanya itu bentuk dukungannya...hihihi).

Selain suami, aku juga terus mengedukASI bapakku (karena aku masih tinggal serumah dengan bapak dan adik perempuanku). Bapak ini seorang dokter mata. Tapi meski dokter, masih banyak juga mitos2 yang beliau katakan, seperti: "ASI-mu nggak ada gizinya karena kurang makan sayur/daging". Untungnya bapak nggak pernah memaksa untuk MPASI dini seperti kebiasaan orang dulu. FYI, aku sendiri hanya disusui 3 bulan saja, selanjutnya sufor, sedangkan adikku selama 6 bulan.

Pada usia kehamilan 8 bulan, aku mulai survei RS. Karena aku tahu, RS juga salah satu faktor penentu keberhasilan menyusui. Nggak bosan2nya, aku selalu bercerita pada suami, mengedukASI dia tentang pentingnya memilih RS yang (agak) pro ASI, mengijinkan IMD dan rawat gabung.
FYI, suami adalah tipe orang yang nggak suka kebanyakan teori, nggak banyak omong, maunya langsung action. Jadi kadang kalau aku banyak bercerita tentang hasil browsing-ku, dia berpikir aku terlalu teoritis.
Begitu juga saat aku mencari breastpump. Aku memang membeli yang banyak cocok digunakan orang, yang harganya memang lumayan, mencapai angka 1 juta. Belum lagi, botol2 kaca penyimpan ASIP dan cooler bag, nursing cover, bantal menyusui, serta baju dan bra menyusui. Suami langsung mengkerutkan dahi. Tapi lagi2 karena aku keras kepala (dan pakai uangku sendiri), dia nggak bisa apa2. Belakangan aku membuktikan bahwa usaha dan investASI-ku di awal memang bermanfaat, malah jatuhnya lebih hemat dibanding kalau misal anak menggunakan sufor.

Pada 16 Mei 2012, aku melahirkan Ayra dengan proses SC, melakukan IMD (tapi cuma sekitar 30 menit) dan rawat gabung. ASI-ku baru "terlihat" keluar hari ke 3. Suami dan bapak sudah mendukung, ternyata malah ada seorang tamu yang membuat down. Beliau seorang dokter juga, dan sudah sepuh. Beliau menjenguk pada hari ke2 melahirkan, memencet2 PD-ku dan mengatakan kalau ASI-ku belum keluar, dikasih sufor saja dulu (ke perawat).

Perjalanan menyusuiku pun dimulai. Tanpa adanya pembantu sama sekali (karena tiba2 keluar tepat saat aku masih di RS), kalau pagi-sore cuma aku dan Ayra berdua. Sempat mengalami baby blues juga karena stres dengan pola tidur yang kacau, badan capek semua daaan...rasa sakit saat menyusui... Sampai aku mengalami demam karena puting lecet. Semua aku ceritakan ke suami.
Semua posisi dan pelekatan Ayra sudah benar, nggak ada tongue-tie, jadi memang nyeri ini karena masih adaptasi dengan proses menyusui. Nggak pernah terbayang sebelumnya..

Saat Ayra berusia 3 bulan, cutiku habis dan masih belum ada pembantu. Aku membawa Ayra ke kantor setiap hari, hingga akhirnya Ayra nursing strike karena perubahan situasi ini. Aku sendiri stres, karena memang nggak ada yang bisa dititipi Ayra. Akhirnya aku bersepakat dengan suami kalau aku akan bekerja part time di kantor konsultan ini. Kami berdua stres karena Ayra masih ASIX, jadi kalau menolak menyusu, dia makan apa?

Untungnya kami kuat iman, dan NS-pun berlalu. Jujur saja, suami sangat membantu perjalanan menyusui ini. Aku nggak bisa membayangkan kalau suami nggak mendukung. Untungnya lagi bapakku nggak terlalu ikut campur dengan keputusan2ku.

Perjalanan menyusui Ayra usia 5-12 bulan relatif lancar menurutku. Dan aku pikir itu semua karena persiapan di awal. Sudah sering aku dengar atau baca tentang orang2 yang gagal menyusui karena kurangnya pengetahuan tentang menyusui, nggak mempersiapkan keluarga untuk pro ASI, dsb. Hanya karena alasan menyusui itu hal yang natural, nggak perlu dipelajari. Sayang sekali... :(

Perjalanan menyusuiku masih panjang, insyaAllah aku ingin mengantarkan Ayra sampai S3 ASI (2 tahun). Saat ini, aku sangat menikmati momen2 menyusui.
Awalnya aku  cuma ingin mengetahui cara menyusui yg benar krn aku sudah tidak punya ibu lagi.
Awalnya terasa berat, mengalami puting lecet, dsb.
Awalnya aku cuma mau memberikan hak anak aku yaitu ASI.
Tapi sekarang, 14 bulan kemudian, aku menikmati setiap momen menyusui...memandang anakku yg berada di pelukan aku, melihat betapa semangatnya dia, seakan2 itu makanan paling lezat buatnya, mata yg mulai meredup sayu menikmati itu semua hingga akhirnya tertidur.
Sekarang, dia sudah bisa menjawab pertanyaanku saat menyusu, "susunya enak?"... Langsung melepas PD-ku dan menjawab "enak.."

Ternyata menyusui juga merupakan relaxing therapy buat aku..


This is my breastfeeding story, what's yours?

Wednesday, June 26, 2013

[Recipe] Kroket Salmon Keju

0 comments
Bahan
  • 500 gr kentang, kupas dan rebus hingga empuk, biarkan dingin
  • 2 kuning telur
  • 1 sdm tepung terigu
  • 100 gr keju cheddar, parut (keju dapat diganti jenisnya sesuai selera)
  • Garam
  • Lada putih
  • 2 buah putih telur
  • 300 gr tepung roti (tepung panir)
  • Minyak sayur untuk menggoreng
Isian
  • 2 buah ikan tuna kalengan, pisahkan minyaknya --> aku ganti salmon, karena adanya itu di kulkas
  • 1 sdm kecap manis
  • 3 buah bawang merah
  • 1 buah jeruk nipis
  • 3 buah cabe merah
  • Garam
  • Lada hitam
  1. Haluskan kentang hingga benar-benar halus. Campurkan dengan kuning telur, tepung terigu, keju parut, garam dan lada. Aduk hingga rata.
  2. Untuk isinya, tumis bawang merah, masukkan tuna, kecap manis, jeruk nipis, cabe merah, garam, dan gula.
  3. Ambil adonan kentang, isi dengan isian tuna, lalu bentuk lonjong atau sesuai selera.
  4. Celupkan kroket yang sudah dibentuk ke dalam putih telur, lalu gulingkan diatas tepung roti hingga seluruh permukaan kroket tertutup rata.

Tuesday, June 25, 2013

Happy Now!

0 comments
Beberapa hal yang patut aku syukuri saat ini.
  1. Aku memiliki keluarga yang utuh
  2. Aku memiliki seorang anak perempuan yang sehat dan sempurna
  3. Ayra jarang sekali sakit
  4. Ayra tidak pernah menyusahkan siapapun
  5. Ayra memiliki karakter yang ceria dan mudah tertawa
  6. Aku memiliki suami yang suka bekerja keras, tidak banyak omong/membual, tidak pernah mengeluh
  7. Aku memiliki bapak yang sehat di usianya yang ke-57
  8. Aku memiliki adik yang tahun ini akan lulus menjadi dokter umum
  9. Kami memiliki rizki yang cukup untuk kehidupan kami
  10. Aku memiliki pekerjaan yang sangat fleksibel dan sesuai dengan latar belakang pendidikanku
  11. Kami memiliki seorang pembantu yang baik
  12. Kami tinggal di sebuah perumahan yang nyaman dan aman
  13. Kami mampu melakukan travelling paling tidak setahun sekali
  14. Kami mampu membeli barang yang termasuk kebutuhan tersier
  15. Kami sanggup melaksanakan kegiatan sholat, sedekah dan zakat
  16. Aku memiliki mertua yang tidak pernah ikut campur kehidupan kami dan selalu terbuka atas kedatangan kami
  17. Aku memiliki almarhumah mama yang telah mendidik kami seperti sekarang

Rasanya lebih enak kalau.....
  1. Ayra makan sendiri
  2. Ayra makan semua makanan yang ada
  3. Ayra jalan dan berlari
  4. Berat badan Ayra 11kg
  5. Aku mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan hal2 yang seimbang untuk kesehatan fisik dan mentalku
  6. Kami mempunyai penghasilan yang cukup untuk pengeluaran, investasi dan tabungan kami setiap bulan

Wednesday, June 19, 2013

Bogor-Bandung 2013

0 comments
Inilah catatan perjalanan Ayra pertama kali menggunakan pesawat. Tujuan utama kami adalah Bogor, menghadiri acara pernikahan saudara sepupu, dimana bapakku menjadi saksi nikahnya.

Sabtu, 15 Juni 2013
08.15 WIB: Berangkat dari rumah menuju bandara Juanda
09.40 WIB: take off dari SUB. Ayra nggak mau nyusu pas take off, tapi 10 menit kemudian dia nyusu dan langsung tidur sampai landing di CGK
11.00 WIB: landing di CGK
11.00-13.00 WIB: ambil bagasi, pipis, ganti popok Ayra dan makan siang
13.00-15.00 WIB: perjalanan menuju hotel
15.00-17.30 WIB: istirahat, mandi, dulang Ayra
17.30-18.00 WIB: sholat maghrib, siap2
18.00-19.00 WIB: Perjalanan menuju rumah pengantin
19.00-21.30 WIB: midodareni
21.30-22.00 WIB: pulang ke hotel
22.00-22.30 WIB: ganti baju & bikin makanan Ayra di slow cooker
22.30-05.00 WIB: tidur (Ayra bangun jam 06.00)
ps. karena di hotel di Bogor nggak ada kulkas di kamar, jadi kami harus bolak balik ke dapur hotel utk nitipin & ambil frozen food-nya Ayra

Minggu, 16 Juni 2013
05.00-06.00 WIB: sholat subuh, bikin sarapan Ayra & nyiapin makan siangnya Ayra dari slow cooker
06.00-07.30 WIB: dulang Ayra, mandi, dandan
07.30-08.00 WIB: (kehabisan) sarapan di hotel
08.00 WIB: sampai di gedung resepsi
08.00-09.00 WIB: prosesi akad nikah
09.00-11.00 WIB: sarapan di gedung, alhamdulillah Ayra mau makanan dewasa: lontong cap gomeh!
10.00-11.00 WIB: Ayra tidur di stroller
11.00-13.00 WIB: prosesi resepsi
13.00-14.00 WIB: foto2
14.00-17.30 WIB: istirahat di hotel, masak makanan Ayra, mandi, Ayra bobok!
17.30 WIB: Ayra mandi
18.30-19.00 WIB: Ayra makan, tapi cuma masuk sedikit
19.00-20.00 WIB: nunggu jemputan
20.30 WIB: sampai di rumah yang punya hajatan
21.30 WIB: pulang ke hotel
22.00 WIB: masak makanan Ayra untuk besoknya

Senin, 17 Juni 2013
Ritual pagi tetap sama...
09.00 WIB: baru bisa beres semua dan off to Bandung
13.00 WIB: baru sampai Bandung, meleset dari jadwal :(
13.00-15.30 WIB: check in hotel, makan siang, dulang Ayra, mandi & istirahat
15.30-20.30 WIB: ke Trans Studio!!
20.30-21.00 WIB:


Semua catatan perjalanan ini terlihat longgar, padahal aslinya super duper hectic dan melelahkan...well I guess that's what you get when travelling with a baby in such short time...
Membawa anak batita rasanya memang membuat sibuk, apalagi Ayra belum bisa ngomong, belum bisa jalan. Apalagi dalam waktu yang begitu singkat. Total bersih kami sebenarnya hanya 3 hari saja, apalagi sebagian besar waktu dihabiskan di perjalanan, baik di mobil maupun di pesawat.

Kekhawatiran terbesarku adalah Ayra sakit karena kecapekan. Karena aku tahu anak seumur itu kalau kondisinya nggak enak, pasti males makan. Untungnya Ayra mau makanan yg lain selain yang punya dia.
Daaan....meski tidurnya banyak di mobil, pesawat atau stroller, Ayra nggak rewel sama sekali. Alhamdulillah...

Sepertinya catatan untuk aku sendiri adalah: travelling harus dengan waktu yang agak longgar dan fleksibel kalau mau bawa anak.

So, our next destination of travelling is...... just wait and see ;)

Thursday, June 13, 2013

First Tantrum and (Hopefully Last) Nursing Strike

2 comments
Ini adalah salah satu catatan penting perjalananku sebagai mama. Senin, 10 Juni 2013 lalu tidak kusangka akan terjadi satu peristiwa yang "traumatic" buat aku. Setelah 2 minggu yang menyenangkan karena rutinitas Ayra berhasil lancar jaya, aku pingin mulai mengajarkan tentang rasa lapar.

Pagi itu Ayra malas2an sarapan, seperti biasa, dia lepeh2 lagi makanannya. Nggak satu sendokpun yang masuk. Sebenarnya aku nggak marah. Aku bilang ke Ayra, "kalau nggak makan, nggak boleh nyusu ya" dan "makan dulu, baru mimik susu". Berulang2 aku ucapkan kalimat itu sambil berusahan dulang Ayra lagi. Tapi hasilnya nihil. Bahkan setelah aku tinggal sarapan pun, dia tetap nggak mau.
Rengekannya aku cuekin, aku lanjutkan mandikan dia. Mulailah dia nangis. Seharusnya setelah mandi adalah jadwalnya tidur. Nah untuk tidur, biasanya dia nyusu dulu. Aku bilang, "karena tadi Ayra nggak makan, jadi nggak bisa nyusu ya". Mulailah dia nangis agak keras sampai aku kesulitan pakaikan bajunya karena badannya dilengkung2kan. Aku berusaha untuk cuek, karena aku tau tangisannya strategi. Tapii...hati-kepalaku mulai nggak kompak, aku nggak tega. Apalagi liat Ayra terus nangis keras dan tiba2 bisa berdiri di crib-nya dengan kedua kakinya (padahal dia belum bisa berdiri sendiri tanpa bantuan mobilnya), aku menyerah. Aku langsung gendong dia dan langsung aku susuin sambil tiduran.

Ternyata, cuma 5 menit nyusu, dia langsung lepas nenennya. Aku tawarkan makan langsung aja, tapi kali ini yang dulang mbaknya, karena aku ada perlu keluar. Sampai di rumah, mbaknya bilang kalau makannya habis bersih dan sekarang Ayra ngantuk. Aku susuin lagi untuk menidurkannya. Dan episode nursing strike-pun mulai....

Ayra menolak menyusu, dan dia kesulitan tidur kalau tanpa nyusu, padahal dia sudah ngantuk sekali. Setelah nangis karena ngantuk selama kurleb 1 jam, akhirnya dia ketiduran karena capek. Sekitar dapat 1 jam tidur, aku usaha untuk menyusui dia lagi di tengah2 tidurnya. Biasanya meski lagi nggak sadar, dia mau nyusu lahap. Tapi kali ini dia malah bangun. Dan mulai nangis lagi. Alhasil dia nggak tidur lagi, melanjutkan kegiatannya sampai malam. Jam 20.00 dia sudah terlihat ngantuk.

Ternyata....dia masih nursing strike. Perjuangan aku dan suami menenangkan Ayra sampai jam 23.00. Perjuangan yang melelahkan emosiku. Sediiihh sekali melihat Ayra menolak menyusu. Sedih sekali melihat sinar di matanya nggak seceria biasanya. Aku sangat merasa bersalah. 
Sebenarnya Ayra masih mau main dengan aku, sudah ndusel2, sudah mendekatkan mulutnya ke PD-ku, tapi setiap kali aku buka bra-ku, dia langsung menjauh sambil nangis. Suamiku yang siangnya aku sms, akhirnya percaya setelah melihat sendiri. Suamiku ambil inisiatif untuk menidurkan Ayra dengan cara digendong, tapi Ayra masih menangis. Sesekali melihat aku, seperti pingin sama aku, tapi ada sesuatu yang menahan dia. Sedih banget!

Suamiku pun tau hal itu, melihat Ayra pingin bersama aku, tapi entah kenapa seperti ada yang menahannya. Nangis mulai jam 20.30 sampai jam 22.00 tanpa henti, tentu aku khawatir Ayra lapar lagi, haus, dll. Suami memberikan air putih di gelas kecil, dan ternyata Ayra minum dengan lahap. Padahal biasanya dia cuma minum beberapa teguk saja kalau air putih. Kali ini Ayra sampai tambah 3-5x!
Jam 22.45, aku memompa ASI lagi untuk kesekian kalinya di hari itu. Iseng, gelas kecilnya aku isi ASIP, dan Ayra pun tetap meminumnya dengan lahap. Kasihan sekali anakku!
Kemudian aku tawarkan ke Ayra "mau mimik susunya langsung, ya?" dan aku ambil Ayra dari gendongan suamiku, aku arahkan ke dadaku. Dan akhirnya dia mau ngenyot langsung dari PD-ku!
Gosh...rasanya senang sekali, terharu sampai aku secara spontan menangis tanpa suara. Begitu juga suamiku, dia meneteskan air matanya.

Selasa, 11 Juni 2013. Subuh aku masih menyusui Ayra, aku pikir NS telah berakhir. Tapi ternyata, sesi menyusui pagi setelah mandi dan setelah makan siang, masih diwarnai NS. Aku sedih lagi, nggak aku sangka bayi ini masih ingat kejadian kemarin. Begitu terlukanya kah hatinya? Aku merasa sangat bersalah. Tapi aku paksa, akhirnya dia mau lagi. Dua hari ini aku sangat error secara mental. Merasa bersalah, sedih dan panik campur jadi satu.

Rabu, 12 Juni 2012. Aku berusaha menenangkan diri, waktu makan siang dan sore Ayra bersama mbaknya, aku nonton film. Seharian itu pula aku bergaul lahir batin dengan Ayra. Sepagian setelah mandi, aku dan Ayra mainan di kasur. Berusaha mengembalikan keceriaannya, berusaha meyakinkan dia kalau aku sayang dia apapun keadaannya.
Aku terus konsultasi dengan OmGe by email dan seorang teman AIMI yang psikolog anak via whatsapp.
Aku sugesti Ayra terus menerus setiap sesi menyusui. Alhamdulillah Ayra sudah kembali seperti semula. Dan yang pasti dua hari ini, Ayra nggak menyusahkan saat sarapan pagi.

Ini pelajaran yang sangat berharga buat aku. Membuat aku berjanji pada diri sendiri akan belajar lebih baik tentang parenting. Karena aku sudah mengalami sendiri, saat aku ragu2 dengan pola asuh-didikku sendiri, Ayra-lah yang akan mengalami akibatnya. Melihat betapa sedihnya dia, kehilangan cahaya di matanya, membuatku sangat sedih. 

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review