Sunday, February 17, 2013

Book Review: Menikah untuk Bahagia


Sebelum memulai review buku ini, saya mau membuat pengakuan "dosa" : saya nggak pernah memikirkan tentang pernikahan dengan serius sebelumnya, how marriage works, sebelum anak saya -Ayra- lahir.  Sejak Ayra lahir 9 bulan yang lalu, saya mengurus dia sendiri, tanpa bantuan babysitter dan saya juga bekerja -thankfully my boss allowed me to be part-timer. Jadi sebagian besar Ayra diasuh oleh saya dan suami, hanya kadang saja dititipkan ke eyangnya.
Sejak  memiliki Ayra, hubungan pernikahan saya bisa dikatakan mengalami turbulensi, dikarenakan semua energi saya habis untuk urus anak, rumah dan pekerjaan. Sampai di suatu titik, saya merasa asing dengan suami saya. Bukan membencinya, tapi juga nggak ada desire. Jarang sekali kami ngobrol atau santai berdua. Rasanya hubungan kami cuma sebagai room-mate.
Entah apakah semua new mommy begitu..atau cuma saya saja yang benar2 bodoh dalam hal motherhood/marriage life. Hingga suatu saat saya menemukan akun twitter @noveldy, seorang konselor pernikahan. Saya cuma follow pasif aja. Hingga beberapa minggu yang lalu beliau me-launching bukunya "Menikah untuk Bahagia: Formula Cinta Membangun Surga di Rumah".
Jujur saja, saya gengsi untuk beli buku semacam ini, about marriage, kok kesannya pernikahan saya bermasalah. Tapi dalam hati saya, memang ada yang (mulai) salah kok. Oke, jadi saya beli secara online (teteup...nggak mau ketahuan orang lain :p ).
Buku Menikah untuk Bahagia (MUB) ini terdiri dari 5 bagian (Diamond of Love): Tujuan, Mindset, Knowledge and Skill, Komitmen dan Berserah. Rumusnya menggunakan Diamond of Love, dimulai dengan pengetahuan proses terbentuknya sebuah berlian (diamond). Bahan dasar terbentuknya berlian adalah karbon yang mengalami tekanan yg sangat kuat di perut bumi, sekitar 5 giga pascal. FYI, 5 giga pascal setara dengan 725.188,689 psi. Untuk perbandingan, tekanan angin ban mobil itu sekita 32 psi. Sudah terbayang berapa besar tekanannya? Karbon ini juga mengalami pemanasan sekita 1.200 derajat celcius. Paduan tekanan yg sangat kuat, suhu sangat tinggi, serta proses yang mencapai jutaan sampai milliaran tahun, akhirnya menghasilkan kristal yg sangat keras dan padat.
Ternyata itu belum cukup. Untuk bisa berkilau, kristal tersebut harus dipotong dan dibuang di bagian tertentu oleh ahlinya, yang tahu betul bagian mana yang harus dipotong dan berapa besar sudt pemotongannya. Terakhir, barulah berlian itu dipoles untuk mengeluarkan kilau terbaiknya.
Prinsip ini tadi juga berlaku dalam kehidupan pernikahan. Untuk bisa mendapatkan kualitas kehidupan yang berkilau, indah, solid dan bernilai, kita harus mau melewati proses yang sama. Kita akan melewati tekanan yang sangat besar serta panasnya suasana hati dan emosi yang terjadi dalam prosesnya. Kita juga harus rela dipotong dan dibuang bagian yang tidak perlu, yaitu hal-hal negatif dari diri kita. Dan terakhir kita harus mau untuk memoles diri dengan terus meningkatkan kualitas diri.
Dalam setiap bagian, terdapat banyak sub-bagian yang menjelaskan berbagai hal/proses dalam pernikahan. Salah satu yang "mengena" di saya yaitu "Antara Kucing Anggora, Banteng Matador dan Zombie". Kucing anggora merupakan analogi pasangan yang baru menikah, menyenangkan, lemah lembut, pokoknya loveable deh. Setelah beberapa tahun menikah, ada yang berubah jadi banteng matador (galak, pemarah, agresif, tidak peduli perasaan orang lain dan mudah tersinggung), ada juga yang berubah menjadi zombie (dingin, tidak punya tujuan, apatis dan tidak peduli). Kenapa bisa berubah seperti itu? Sebenarnya "tanpa disadari" kitalah yang menyebabkan pasangan kita berubah seperti itu. Cara kita merespons pasangan dan cara kita bersikap ternyata bisa mengubah pasangan kita. Tanpa disadari, karena sikap kita ini membuat pasangan kita menjadi kurang menghargai kita. Pasangan kita melihat kita tidak layak untuk didengar. dia tidak percaya dengan apa yang kita katakan. Yang terlihat akhirnya  pasangan kita seperti merendahkan dan meremehkan kita. Dia pun berubah menjadi banteng matador.
Bisa juga yang terjadi sebaliknya. Tanpa disadari, justru sikap kita yang cenderung merendahkan atau meremehkan psangan kita. Mungkin dari ucapan, bahasa tubuh, tatapan mata, semua bisa mematikan perasaan pasangan kita. Tanpa disadari, kita sudah menjadi pembunuh berdarah dingin bagi pasangan kita. Hasilnya, dia pun menjadi zombie. Dalam kasus saya, sepertinya inilah yang terjadi, saya menciptakan pasangan saya seperti zombie.
Ada satu bab lagi yang menurut saya "jleb" banget. Sebagian besar kita bersemangat untuk meningkatkan pengetahuan yang menunjang karir kita, seperti mengikuti training, seminar di luar kota, mengikuti sertifikasi, membeli buku mahal dan membayar membership mahal untuk bergabung di asosiasi yang menunjang karir kita. Tapi mungkin sedikit sekali yang mau "dengan sadar" untuk terus meng-upgrade ilmu tentang pernikahan, seperti membeli buku tentang pernikahan, mengikuti seminar, dsb. Well, at least, saya begitu. Karena mungkin bagi sebagian besar orang timur, masalah pernikahan adalah hal tabu untuk dibicarakan, itu merupakan suatu hal natural yang nggak perlu dipelajari. Tapi dari buku ini saya mengerti banyak hal tentang pernikahan.
Seorang anak tumbuh dan berkembang tergantung dari orang tuanya, dari kualitas hubungan orang tuanya. Menurut saya, buku ini sangat penting untuk dibaca, baik yang masih single, sudah menikah ataupun bercerai (karena ada bab juga untuk yang sudah bercerai).
Kebahagiaan pernikahan tidak diantar malaikat di atas nampan emas ke hadapan anda. You have to fight for it!
Yuk, sama2 belajar membangun pernikahan yang sehat, indah dan bahagia :)
Penulis: Indra dan Nunik Noveldy; Harga: Rp 64.000,-

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review