Flexible Work: Working from Home

Sebenarnya topik ini sudah agak lama, tapi karena aku baru punya kesempatan untuk menulis..so, please forgive me :)

Beberapa bulan yang lalu, dunia digemparkan dengan CEO Yahoo! Marissa Mayer yang tidak menggunakan hak cuti melahirkannya. Marissa hanya mengambil 2 minggu cuti setelah melahirkan, kemudian mengambil kebijakan bagi seluruh karyawan Yahoo! untuk tidak bekerja dari rumah lagi.

Banyak wanita di Amerika yang mengkritik keputusan Marissa. Sebagian besar tidak setuju dengan keputusan itu, seakan-akan menunjukkan pada dunia, begitulah seharusnya seorang working mother.
Well, Marissa seorang CEO, dia bisa mempekerjakan nanny, maid, dia juga mempunyai suami dengan pekerjaan yang fleksibel. Sehingga suami bisa mengatur jadwal untuk membawa anaknya ke dokter/RS. Selain itu, Marissa mempersiapkan sebuah tempat di dekat ruang kerjanya untuk menjadi baby room, specially for her son. Jadi tidaklah mengherankan kalau Marissa tidak perlu lama2 mengambil cuti melahirkan kan?

Tapi apakah semua wanita mempunyai keistimewaan seperti itu? Itulah yang menjadi kritikan sebagian besar wanita di US.

Sejak ada berita Marissa Mayer, aku pribadi baru mengenal istilah "telecommute", flexible work dan working from home. Ternyata sejak sekitar 1 dekade silam, di negara barat sudah mulai menjamur para profesional wanita yang memilih bekerja dari rumah. Mereka mengatur jadwal untuk datang ke kantor dalam waktu tertentu. Banyak keuntungan yang didapat: menghemat waktu perjalanan, mengurangi polusi udara akibat kendaraan, meningkatkan produktivitas, menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga, mengurangi stres kerja, mengurangi turnover karyawan, dll.
Sedangkan Marissa mengklaim kerugian kalau tidak berada di kantor: mengurangi brainstorming ide antar karyawan yang mungkin saja menghasilkan ide bagus.

Kondisi setiap keluarga berbeda. Kondisiku sekarang, aku yang lebih banyak bekerja di rumah dan suami yang bekerja 8-16 di kantor. Kenapa? Alasannya ada beberapa:
  1. Sulit menemukan pembantu yang sesuai kriteria keluarga kami
  2. Mamaku sudah meninggal 6 bulan sebelum aku menikah, bapakku alhamdulillah masih kerja dan mertuaku di luar kota
  3. Saudara lain yang satu kota juga masih aktif bekerja semua (jadi tidak ada kemungkinan untuk dititipkan)
  4. Pekerjaan suami yang lebih banyak menghasilkan income, selain dari usaha sampingannya 
  5. Syukur alhamdulillah my employer allows me to work from home.
ps. poin no 2 & 3 --> aku pribadi memang nggak pernah berniat untuk menitipkan anakku ke siapapun. Dulu rencananya memang pakai 2 pembantu (1 untuk pekerjaan rumah dan 1 untuk khusus pegang Ayra). Kenapa? Sampai sekarang pun aku agak "gemes" dengan orang tua muda yang "seenaknya" menitipkan anaknya ke ortu/mertuanya. Karena menurutku menjadi ortu ya harus tanggung jawab terhadap tumbuh kembang anaknya dong, jangan mau enaknya aja, bikin2 terus, tapi nggak mau merawat anaknya... :D

Memang tidak semua orang mendapat keistimewaan seperti aku, bekerja di perusahaan yang membolehkan seperti ini. Tapi ini pun bukan tanpa konsekuensi. Pendapatan bulananku berkurang sangat jauh. Konsekuensi lain adalah aku harus sangat disiplin dengan diriku sendiri, manajemen waktu sangat penting.
Tapi dari pengalamanku sejauh ini (7 bulan bekerja dari rumah), aku merasa jauh lebih produktif seperti ini. Aku bisa mengurangi jauh lebih banyak waktu yang terbuang untuk ngobrol dengan teman lainnya. Dan ternyata, dengan waktu bekerja di rumah yang lebih sedikit (karena aku juga masih mengurus anak sendiri), aku bisa lebih efektif dan efisien dalam mengerjakan pekerjaan kantor. Satu pekerjaan yang sama bisa aku kerjakan dalam beberapa hari saja, dibandingkan kalau dikerjakan di kantor butuh waktu beberapa minggu. Karena jujur saja, dengan kondisi kantorku, lebih banyak gangguan. Kalau di rumah, aku bisa bekerja kapanpun aku mau dan bisa. Kalau ngantuk, tinggal tidur dulu, kemudian dilanjutkan lagi beberapa jam kemudian.

Yang jelas, aku sangat bersyukur diberi kepercayaan oleh atasan, bekerja dari rumah. Mereka mengijinkan aku tentu saja karena percaya bahwa produktivitasku tidak menurun kalau aku bekerja dari rumah. And I have to prove it :)


But of course, my company is also a growing company. Everything can change. Aku juga tidak tahu sampai kapan bisa begini. Selama aku bisa melakukannya, aku tentu akan melakukannya.
The future is still mystery. But I'm pretty confident that whatever I do now is not useless. It's gonna give me experience.

Tapi lagi2, tidak semua keluarga atau perempuan dihadapkan pada kondisi yang sama. Apapun itu, seorang perempuan diberkahi kemampuan untuk multitasking. Dan lebih dari itu, menjadi ibu adalah sebuah pekerjaan yang sangat mulia dan menyibukkan! 



http://www.usnews.com/opinion/articles/2013/03/15/telecommuting-can-boost-productivity-and-job-performance
http://www.npr.org/2013/02/27/173069965/presence-vs-productivity-how-managers-view-telecommuting
http://www.eweek.com/small-business/telecommuting-boosts-productivity-but-it-issues-persist-staples/
http://www.businessinsider.com/marissa-mayer-doubles-the-length-of-yahoos-paid-maternity-leave-gives-new-dads-eight-weeks-off-2013-4
http://articles.latimes.com/2012/oct/08/news/la-ol-marissa-mayer-end-pregnancy-discrimination-20121008
http://www.forbes.com/sites/learnvest/2012/07/19/the-pregnant-ceo-should-you-hate-marissa-mayer/2/
http://www.huffingtonpost.com/2013/04/19/marissa-mayer-work-from-home_n_3117352.html
http://www.bbc.co.uk/news/magazine-21588760
http://www.businessinsider.com/marissa-mayer-defends-her-work-from-home-ban-2013-4
  1. apapun pilihannya,semoga jd yg terbaik buat kita

    ReplyDelete
  2. Amiiin.... Benar, karena situasi setiap orang berbeda, jadi tidak ada pilihan yang benar untuk semua orang :)

    ReplyDelete

Designed by FlexyCreatives