Wednesday, May 8, 2013

Healthy Life Habit

Kenapa aku keukeuh belajar bikin makanan (MPASI) Ayra sendiri?
Alasannya sudah sangat sering didengar, tapi mungkin jarang dimaknai dalam. Agar Ayra memulai hidupnya dengan kebiasaan sehat, termasuk masalah pola makan.

Aku sendiri adalah produk dari orang tua yang bekerja, khususnya ibu bekerja yang sangat sibuk. Orang tuaku nggak pernah membolehkan aku ikut masak sewaktu aku kecil, mengakibatkan aku sangat tidak suka memasak. Tujuannya baik, ingin melindungi aku dari bahaya di dapur.
Dulu mamaku punya pembantu yang sangat loyal, jadi setiap hari kami dimasakkan lauk. So, ya...kami makan masakan rumahan. Semakin tahun, semakin sulit mencari pembantu yang loyal. Apalagi sejak mama meninggal, semua urusan rumah tangga menjadi tanggung jawabku.

Kembali ke masa sekarang, semakin banyak makanan cepat saji, yang semua orang pun tahu, tidak sehat: tinggi garam dan tinggi lemak!
Bukan hanya makanan cepat saji, jangan mengira makanan murah yang dijual di pinggir jalan itu sehat. Belum tentu...coba cek kebersihannya, pakai air apa dia mencuci sayurannya, bahan2nya? Cek minyak goreng yang dipakai, sudah dipakai berapa puluh kali, sampai warnanya menghitam begitu?

Masalah makanan di Indonesia, mungkin berbeda dengan di negara maju. Tapi ada kecenderungan Indonesia mengikuti ke arah sana, which is penyakit2 yang berkaitan dengan pola makan, seperti obesitas, diabetes, dll.
Apalagi ada pandangan umum di masyarakat Indonesia, bahwa balita yang gemuk itu sehat. Maka banyak orang tua menginginkan anaknya gemuk, alasannya bayi gemuk itu lucu, menggemaskan. Memang iya lucu dan menggemaskan, tapi nggak perlu lah menghalalkan segala cara untuk bikin anak jadi terlihat gemuk. Banyak faktor yang mempengaruhi kegemukan, termasuk genetis bentuk tubuh ortunya.

Maka seringkali aku gemas kalau dengar seseorang yang mengeluh anaknya nggak gemuk (padahal anaknya sehat). Dalam hati selalu berpikir, waktu bayi diminta gemuk, nanti masuk masa remaja diminta jadi kurus. Orang tua yang nggak konsisten. Mengajarkan pola makan yang nggak sehat (asalkan bisa gemuk) sejak bayi, kemudian saat dewasa mengeluh lagi karena kegemukan. Ya tentu saja nggak bisa diulang lagi dong ya...kan ortunya sendiri yang mengajarkan pola makan nggak benar. *ini nggak termasuk yang memang secara genetis bertubuh besar ya* 

Memang sulit mengubah kebiasaan kita, aku misalnya, terbiasa makan banyak, tapi nggak bisa masak. Apa akibatnya? Aku makan apapun yang bisa aku dapatkan atau aku beli, apapun itu.
Maka dari itu, aku SANGAT KEUKEUH untuk belajar memasak, at least untuk Ayra. 
Sejauh ini, makanan dewasa di rumahku masih pakai katering, tapi makanan Ayra selalu bikin sendiri. Rencana selanjutnya adalah kami semua bisa makan masakan rumah.

Alasan itu pula yang bikin aku KEUKEUH belajar bikin Ayra's first birthday cake!
Untuk alasan yang emosional, aku ingin Ayra makan kue ultah pertamanya dari buatan tanganku sendiri. Meski mengingat Ayra bukan tipe "love at the first taste", butuh 10x makan menu baru untuk membuat Ayra suka menu tersebut.

Tantangan lainnya adalah mengubah kebiasaan lidah kami akan rasa masakan yang terlalu berasa, asin yang berasa asin (meski nggak terlalu tinggi garam seperti di fast food) atau manis yang berasa manis. Tentu saja mengubah kebiasaan kami yang dewasa ini tidak mudah.

Satu hal lagi yang menguatkanku, aku ingin mengenalkan pola hidup sehat untuk Ayra sejak hari pertama kelahirannya. Selain itu, aku ingin kami yang dewasa bisa terus sehat, membimbing dan mendampingi Ayra (dan adiknya kelak) sampai dewasa. Amin...


Healthy is not just about you and yourself, but it also will effect your loved ones  

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review