Saturday, July 27, 2013

Toddler Car Seat

1 comments
Baru aja aku beli toddler car seat untuk Ayra, setelah baby (infant) car seat-nya udah nggak muat. Car seat memang ada beberapa kategori:
  1. Combination baby & child car seat (group 0+ - 1): biasanya harganya paling mahal karena bisa digunakan sejak lahir sampai berat anak maksimal 13 kg. Tapi nggak berlaku di Ayra, karena sejak umur 13m, meski beratnya belum 13kg, tapi Ayra sudah nggak nyaman duduk di situ.
  2. Forward facing car seat (group 1)
  3. Highback booster car seat with harness (group 1-2-3)
  4. Highback booster car seat without harness (group 2-3)
Lebih lengkapnya baca di sini.

Untuk infant car seat, alhamdulillah Ayra dapat kado waktu lahirannya. Kenapa aku keukeuh pake car seat, padahal mungkin di Indonesia belum familiar penggunaan car seat untuk anak? Alasan utamanya simpel, karena aku biasa kemana2 nyetir sendiri, jadi aku membayangkan harus pergi berdua sama Ayra dan nyetir sendiri. Kalau aku nyetir, kalau nggak ada car seat, Ayra taruh mana dong? Nggak mungkin dipangku kan? Nggak mungkin ditidurkan di kursi juga (pasti nggelinding)....

Semakin hari aku semakin paham bahwa di luar negeri sudah diwajibkan memiliki car seat pada saat melahirkan anak. Alasannya adalah safety!
Dan memang, karena Ayra sudah terbiasa duduk sendiri di car seat, jadi sekarang Ayra umur 14m (dimana teman2 sebayanya kalau duduk di mobil pasti ga bisa diam) mau duduk sendiri di car seat. Memang umur segini kan lagi banyak2nya aktivitas, berdiri, merambat, dll. Bisa bayangin kalau di dalam mobil anak juga banyak aktivitas gitu? Belum sampai kecelakaan, kalau kita nge-rem mendadak aja, mungkin anak bisa jatuh atau malah terlempar.

Jadiii.....siang ini alhamdulillah aku menemukan toddler car seat merk Cocolatte Omniguard yang review-nya bagus. Harganya juga sesuai dengan kenyamanannya. Bisa 2 posisi juga.
Untuk review merk2 lain, silakan di sini yaa.

Happy hunting toddler car seat!

Thursday, July 25, 2013

Rute Asuh-Didik ala Toge (Ruasdito)

1 comments
Mungkin selama ini sudah sering baca istilah ruasdito di blog ini, tapi nggak pernah tahu, apa sih ruasdito itu? Dan kenapa aku pakai ruasdito?

Seperti biasa, karena aku adalah orang yang suka teori dulu, baru praktek, maka sejak Ayra umur 2-3 bulan, aku mulai mencari2 pengetahuan tentang ilmu parenting. Karena waktu itu aku aktif di twitter, sampailah pada milis ParenThink. Silakan cari @ParenThink, @sigologtoge

Kenapa aku pakai ini? Karena setelah aku baca, ruasdito ini masuk akal. Silakan lihat2 foto di bawah yaa..
Orang tua secara otomatis naluriah pasti ingin melindungi anaknya, memenuhi semua kebutuhannya (dan keinginannya), membuat dia nyaman, dsb. Itu otomatis. Kalau di istilah omGe, itu yang disebut sebagai faspel (fasilitas pelindung) atau bemper. Dan seperti bemper mobil, fungsinya menjaga supaya mobil nggak beret kan? Biarpun bemper yang penyok2..

Tapi ortu kan nggak mungkin 24 jam mendampingi anaknya, apalagi seiring pertumbuhan anaknya yang semakin banyak aktivitas. Maka sebaiknya ortu mengajarkan anak untuk berpikir, mengajarkan anak untuk jadi dewasa. Itulah yag disebut sebagai fasbel (fasilitas belajar).

Awalnya aku juga nggak rela, aku masih ingin melindungi anakku. Apalagi aku punya histori, merasa nggak dekat dengan mamaku, hanya 4-5 tahun terakhir sebelum beliau meninggal, aku merasa dekat. Rasanya sangat berat menghadapi dunia luar sendirian, sangat terasa buat aku. Selama ini semua selalu "dilindungi" dan "disediakan" mama, dalam artian bukan secara fisik ya...karena secara fisik, aku dibebaskan mengikuti kegiatan apapun.

Tapi sejak Ayra berumur 5-6 bulan, aku mulai merasa, badanku nggak kuat kalau harus "melayani" Ayra terus menerus. Pasti aku butuh bantuan orang lain. Orang lain pun nggak bisa setiap saat bisa melindungi Ayra. Jadi, aku memutuskan, ya aku setuju dengan pemikiran omGe. Setuju dengan ruasdito-nya, Ayra harus berlatih menjadi dewasa.

Dan perjalanan ruasdito-ku dan Ayra pun dimulai....











Wednesday, July 24, 2013

Perkembangan Ruasdito Ayra (14m)

2 comments
Sampai hari ini, Ayra sudah aku perkenalkan dengan teknik pilih dan dagang. Karena Ayra termasuk telat (meski ga banyak), jadi pakai dua teknik itu langsung. Tugasku ini yang bisa mengkondisikan jadi kondisi yang layak belajar.

Kenapa agak telat? Karena Ayra sudah bisa memaksakan kehendaknya. Sudah punya keinginan yang "harus" dipenuhi. Dan saya terlambat melatihnya untuk pelajaran memilih.
Ayra sudah bisa pilih enak vs. ga enak. Sekarang tinggal enak vs enak dan ga enak vs. ga enak.

Beberapa cerita keberhasilanku yaa..
Yang pertama tentang makan. Energi memintaku sudah jauuuhh berkurang. Aku nggak pernah memaksakan keinginanku lagi. Dan alhamdulillah malah Ayra jadi banyak makan...bukan sekali makan dalam porsi besar yah...tapi sering makan, porsinya terserah dia saat itu. Efek lain adalah aku bisa jadi lebih nyantai. Ya benar, memberi saja, percaya saja. Aku percaya Ayra nggak akan membiarkan dirinya kelaparan. Memang untuk topik ini, aku belum bisa berbangga diri menyatakan aku berhasil. Tapi paling nggak, sudah ada perubahan positif :) ini juga mengajarkan Ayra untuk mengenali rasa laparnya.

Yang kedua tentang tidur malam. Beberapa malam belakangan ini, Ayra selalu berulah kalau mau tidur malam. Padahal sudah jelas dia sudah ngantuk, tapi setiap kali habis nenen, dia berusaha bangun lagi, berguling2 di kasur, meski matanya sudah merem. Suatu waktu, aku kasih pilihan ke Ayra: mau bobok sekarang sama mama atau mainan dulu dan mama kerja. Ayra nggak pilih, jadi aku yang pilihkan: Ayra mainan (di box-nya) dan aku keluar kamar melanjutkan kerjaanku. Beberapa saat Ayra diam aja, tapi sekitar 10 menit dia mulai merengek. Aku masuk, aku susuin lagi, dan nggak ada 5 menit, Ayra sudah tidur lelap. Keesokan2nya, Ayra nggak pakai berulah lagi waktu mau tidur malam, kecuali kalau mau tidur, trus diajak main lagi sama papanya atau tantenya. Kalau sudah begitu ya kondisinya nggak layak belajar.

Yang ketiga, tentang mengembalikan barang2 yang dipakai mainan. Emang sudah fase alaminya ya, usia 13-14 bulan senang mengeksplorasi lingkungan, termasuk juga ambilin barang2 di rumah untuk diamati. Nah biasanya setelah diambil, diamati, dibawa kesana kemari, barangnya langsung aja ditaruh di lantai kalau sudah bosan. Dan aku selalu yang mengembalikan semuanya. Capeekk.... Ini berarti sudah saatnya Ayra belajar mengembalikan barang. Setelah memahami rute belajar alaminya Ayra, akhirnya Ayra berhasil mengembalikan barang2nya sendiri...yaayyy!

Oh ya, template alami Ayra adalah benefit-loko.
Rute belajar alaminya adalah: berpikir-melihat-melakukan.
Template dan rute belajar alami setiap anak berbeda dan sudah bawaan lahir alias sudah cetakan :)

Memberi saja, percaya saja. And this journey still going on...

Saturday, July 20, 2013

My Breastfeeding Journey: The First Year

0 comments
Sejak menikah pada Oktober 2009, aku memang menunda kehamilan karena saat itu aku belum merasa tenang secara psikologis karena kehilangan mama pada April 2009 atau 6 bulan sebelum aku menikah.
Sekitar Juli 2010, aku sudah merasa ingin punya anak. Sebulan kemudian aku hamil, tapi rupanya Allah berkehendak lain. Oktober 2010, tepat 1 tahun pernikahan kami, aku harus kuret karena janinnya kalah oleh kista endometriosis, yang ternyata aku idap. Kemudian November 2010, aku menjalani operasi pengangkatan kista, dan harus diterapi agar kista tidak tumbuh lagi selama 3 bulan. Selama masa pengobatan, aku tidak boleh hamil dulu. Selengkapnya baca di sini.

Alhamdulillah aku berhasil hamil pada Oktober 2011, tepat 2 tahun pernikahan kami.
Memang Allah memberikan yang terbaik, aku siap secara mental. Aku mempelajari semua hal tentang kehamilan, hingga pada bulan ke 4 kehamilan, aku merasa belum tahu apa2 tentang menyusui. Seorang sahabatku, Tika, mereferensikan aku untuk browsing tentang Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Sampai saat ini, aku sangat berterimakasih akan hal ini. Karena Tika-lah, aku bisa terlibat banyak dengan AIMI.

Hingga akhirnya, aku browsing segala hal tentang menyusui dan AIMI. Aku mengikuti semua kelas edukASI persiapan menyusui AIMI (prenatal, postnatal dan common challenge) pada usia kehamilan 6-7 bulan. Sejak aku browsing2, aku tahu dari pengalaman orang lain bahwa lingkungan sangat berpengaruh, terutama keluarga yang tinggal 1 rumah.

Awalnya aku menceritakan semua pada suami. Tapi suami seperti kebanyakan orang lainnya, merasa tidak perlu mengikuti kelas persiapan menyusui, karena menurutnya (seperti banyak orang lain), menyusui adalah hal yang alami, pasti bisa sendiri. Tapi aku punya keinginan yang kuat. Selain karena aku tipe orang yang memang harus tahu teorinya dulu, juga karena mamaku sudah meninggal, aku nggak punya tempat untuk bertanya sehari2.

Perjalananku bukan tanpa halangan. Aku harus sering2 bercerita pada suami, bagaimana pengalaman orang lain yang gagal menyusui, dsb. Hingga akhirnya dia mendukung aku. Namun demikian, dia tetap gengsi untuk mengikuti kelas tsb. FYI, kelas persiapan tsb memang sebaiknya diikuti suami-istri.
Alhasil, cuma aku yang mengikuti kelas ini, tapi suami yang mengantar jemput aku (katanya itu bentuk dukungannya...hihihi).

Selain suami, aku juga terus mengedukASI bapakku (karena aku masih tinggal serumah dengan bapak dan adik perempuanku). Bapak ini seorang dokter mata. Tapi meski dokter, masih banyak juga mitos2 yang beliau katakan, seperti: "ASI-mu nggak ada gizinya karena kurang makan sayur/daging". Untungnya bapak nggak pernah memaksa untuk MPASI dini seperti kebiasaan orang dulu. FYI, aku sendiri hanya disusui 3 bulan saja, selanjutnya sufor, sedangkan adikku selama 6 bulan.

Pada usia kehamilan 8 bulan, aku mulai survei RS. Karena aku tahu, RS juga salah satu faktor penentu keberhasilan menyusui. Nggak bosan2nya, aku selalu bercerita pada suami, mengedukASI dia tentang pentingnya memilih RS yang (agak) pro ASI, mengijinkan IMD dan rawat gabung.
FYI, suami adalah tipe orang yang nggak suka kebanyakan teori, nggak banyak omong, maunya langsung action. Jadi kadang kalau aku banyak bercerita tentang hasil browsing-ku, dia berpikir aku terlalu teoritis.
Begitu juga saat aku mencari breastpump. Aku memang membeli yang banyak cocok digunakan orang, yang harganya memang lumayan, mencapai angka 1 juta. Belum lagi, botol2 kaca penyimpan ASIP dan cooler bag, nursing cover, bantal menyusui, serta baju dan bra menyusui. Suami langsung mengkerutkan dahi. Tapi lagi2 karena aku keras kepala (dan pakai uangku sendiri), dia nggak bisa apa2. Belakangan aku membuktikan bahwa usaha dan investASI-ku di awal memang bermanfaat, malah jatuhnya lebih hemat dibanding kalau misal anak menggunakan sufor.

Pada 16 Mei 2012, aku melahirkan Ayra dengan proses SC, melakukan IMD (tapi cuma sekitar 30 menit) dan rawat gabung. ASI-ku baru "terlihat" keluar hari ke 3. Suami dan bapak sudah mendukung, ternyata malah ada seorang tamu yang membuat down. Beliau seorang dokter juga, dan sudah sepuh. Beliau menjenguk pada hari ke2 melahirkan, memencet2 PD-ku dan mengatakan kalau ASI-ku belum keluar, dikasih sufor saja dulu (ke perawat).

Perjalanan menyusuiku pun dimulai. Tanpa adanya pembantu sama sekali (karena tiba2 keluar tepat saat aku masih di RS), kalau pagi-sore cuma aku dan Ayra berdua. Sempat mengalami baby blues juga karena stres dengan pola tidur yang kacau, badan capek semua daaan...rasa sakit saat menyusui... Sampai aku mengalami demam karena puting lecet. Semua aku ceritakan ke suami.
Semua posisi dan pelekatan Ayra sudah benar, nggak ada tongue-tie, jadi memang nyeri ini karena masih adaptasi dengan proses menyusui. Nggak pernah terbayang sebelumnya..

Saat Ayra berusia 3 bulan, cutiku habis dan masih belum ada pembantu. Aku membawa Ayra ke kantor setiap hari, hingga akhirnya Ayra nursing strike karena perubahan situasi ini. Aku sendiri stres, karena memang nggak ada yang bisa dititipi Ayra. Akhirnya aku bersepakat dengan suami kalau aku akan bekerja part time di kantor konsultan ini. Kami berdua stres karena Ayra masih ASIX, jadi kalau menolak menyusu, dia makan apa?

Untungnya kami kuat iman, dan NS-pun berlalu. Jujur saja, suami sangat membantu perjalanan menyusui ini. Aku nggak bisa membayangkan kalau suami nggak mendukung. Untungnya lagi bapakku nggak terlalu ikut campur dengan keputusan2ku.

Perjalanan menyusui Ayra usia 5-12 bulan relatif lancar menurutku. Dan aku pikir itu semua karena persiapan di awal. Sudah sering aku dengar atau baca tentang orang2 yang gagal menyusui karena kurangnya pengetahuan tentang menyusui, nggak mempersiapkan keluarga untuk pro ASI, dsb. Hanya karena alasan menyusui itu hal yang natural, nggak perlu dipelajari. Sayang sekali... :(

Perjalanan menyusuiku masih panjang, insyaAllah aku ingin mengantarkan Ayra sampai S3 ASI (2 tahun). Saat ini, aku sangat menikmati momen2 menyusui.
Awalnya aku  cuma ingin mengetahui cara menyusui yg benar krn aku sudah tidak punya ibu lagi.
Awalnya terasa berat, mengalami puting lecet, dsb.
Awalnya aku cuma mau memberikan hak anak aku yaitu ASI.
Tapi sekarang, 14 bulan kemudian, aku menikmati setiap momen menyusui...memandang anakku yg berada di pelukan aku, melihat betapa semangatnya dia, seakan2 itu makanan paling lezat buatnya, mata yg mulai meredup sayu menikmati itu semua hingga akhirnya tertidur.
Sekarang, dia sudah bisa menjawab pertanyaanku saat menyusu, "susunya enak?"... Langsung melepas PD-ku dan menjawab "enak.."

Ternyata menyusui juga merupakan relaxing therapy buat aku..


This is my breastfeeding story, what's yours?
 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review