My Breastfeeding Journey: The First Year

Sejak menikah pada Oktober 2009, aku memang menunda kehamilan karena saat itu aku belum merasa tenang secara psikologis karena kehilangan mama pada April 2009 atau 6 bulan sebelum aku menikah.
Sekitar Juli 2010, aku sudah merasa ingin punya anak. Sebulan kemudian aku hamil, tapi rupanya Allah berkehendak lain. Oktober 2010, tepat 1 tahun pernikahan kami, aku harus kuret karena janinnya kalah oleh kista endometriosis, yang ternyata aku idap. Kemudian November 2010, aku menjalani operasi pengangkatan kista, dan harus diterapi agar kista tidak tumbuh lagi selama 3 bulan. Selama masa pengobatan, aku tidak boleh hamil dulu. Selengkapnya baca di sini.

Alhamdulillah aku berhasil hamil pada Oktober 2011, tepat 2 tahun pernikahan kami.
Memang Allah memberikan yang terbaik, aku siap secara mental. Aku mempelajari semua hal tentang kehamilan, hingga pada bulan ke 4 kehamilan, aku merasa belum tahu apa2 tentang menyusui. Seorang sahabatku, Tika, mereferensikan aku untuk browsing tentang Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Sampai saat ini, aku sangat berterimakasih akan hal ini. Karena Tika-lah, aku bisa terlibat banyak dengan AIMI.

Hingga akhirnya, aku browsing segala hal tentang menyusui dan AIMI. Aku mengikuti semua kelas edukASI persiapan menyusui AIMI (prenatal, postnatal dan common challenge) pada usia kehamilan 6-7 bulan. Sejak aku browsing2, aku tahu dari pengalaman orang lain bahwa lingkungan sangat berpengaruh, terutama keluarga yang tinggal 1 rumah.

Awalnya aku menceritakan semua pada suami. Tapi suami seperti kebanyakan orang lainnya, merasa tidak perlu mengikuti kelas persiapan menyusui, karena menurutnya (seperti banyak orang lain), menyusui adalah hal yang alami, pasti bisa sendiri. Tapi aku punya keinginan yang kuat. Selain karena aku tipe orang yang memang harus tahu teorinya dulu, juga karena mamaku sudah meninggal, aku nggak punya tempat untuk bertanya sehari2.

Perjalananku bukan tanpa halangan. Aku harus sering2 bercerita pada suami, bagaimana pengalaman orang lain yang gagal menyusui, dsb. Hingga akhirnya dia mendukung aku. Namun demikian, dia tetap gengsi untuk mengikuti kelas tsb. FYI, kelas persiapan tsb memang sebaiknya diikuti suami-istri.
Alhasil, cuma aku yang mengikuti kelas ini, tapi suami yang mengantar jemput aku (katanya itu bentuk dukungannya...hihihi).

Selain suami, aku juga terus mengedukASI bapakku (karena aku masih tinggal serumah dengan bapak dan adik perempuanku). Bapak ini seorang dokter mata. Tapi meski dokter, masih banyak juga mitos2 yang beliau katakan, seperti: "ASI-mu nggak ada gizinya karena kurang makan sayur/daging". Untungnya bapak nggak pernah memaksa untuk MPASI dini seperti kebiasaan orang dulu. FYI, aku sendiri hanya disusui 3 bulan saja, selanjutnya sufor, sedangkan adikku selama 6 bulan.

Pada usia kehamilan 8 bulan, aku mulai survei RS. Karena aku tahu, RS juga salah satu faktor penentu keberhasilan menyusui. Nggak bosan2nya, aku selalu bercerita pada suami, mengedukASI dia tentang pentingnya memilih RS yang (agak) pro ASI, mengijinkan IMD dan rawat gabung.
FYI, suami adalah tipe orang yang nggak suka kebanyakan teori, nggak banyak omong, maunya langsung action. Jadi kadang kalau aku banyak bercerita tentang hasil browsing-ku, dia berpikir aku terlalu teoritis.
Begitu juga saat aku mencari breastpump. Aku memang membeli yang banyak cocok digunakan orang, yang harganya memang lumayan, mencapai angka 1 juta. Belum lagi, botol2 kaca penyimpan ASIP dan cooler bag, nursing cover, bantal menyusui, serta baju dan bra menyusui. Suami langsung mengkerutkan dahi. Tapi lagi2 karena aku keras kepala (dan pakai uangku sendiri), dia nggak bisa apa2. Belakangan aku membuktikan bahwa usaha dan investASI-ku di awal memang bermanfaat, malah jatuhnya lebih hemat dibanding kalau misal anak menggunakan sufor.

Pada 16 Mei 2012, aku melahirkan Ayra dengan proses SC, melakukan IMD (tapi cuma sekitar 30 menit) dan rawat gabung. ASI-ku baru "terlihat" keluar hari ke 3. Suami dan bapak sudah mendukung, ternyata malah ada seorang tamu yang membuat down. Beliau seorang dokter juga, dan sudah sepuh. Beliau menjenguk pada hari ke2 melahirkan, memencet2 PD-ku dan mengatakan kalau ASI-ku belum keluar, dikasih sufor saja dulu (ke perawat).

Perjalanan menyusuiku pun dimulai. Tanpa adanya pembantu sama sekali (karena tiba2 keluar tepat saat aku masih di RS), kalau pagi-sore cuma aku dan Ayra berdua. Sempat mengalami baby blues juga karena stres dengan pola tidur yang kacau, badan capek semua daaan...rasa sakit saat menyusui... Sampai aku mengalami demam karena puting lecet. Semua aku ceritakan ke suami.
Semua posisi dan pelekatan Ayra sudah benar, nggak ada tongue-tie, jadi memang nyeri ini karena masih adaptasi dengan proses menyusui. Nggak pernah terbayang sebelumnya..

Saat Ayra berusia 3 bulan, cutiku habis dan masih belum ada pembantu. Aku membawa Ayra ke kantor setiap hari, hingga akhirnya Ayra nursing strike karena perubahan situasi ini. Aku sendiri stres, karena memang nggak ada yang bisa dititipi Ayra. Akhirnya aku bersepakat dengan suami kalau aku akan bekerja part time di kantor konsultan ini. Kami berdua stres karena Ayra masih ASIX, jadi kalau menolak menyusu, dia makan apa?

Untungnya kami kuat iman, dan NS-pun berlalu. Jujur saja, suami sangat membantu perjalanan menyusui ini. Aku nggak bisa membayangkan kalau suami nggak mendukung. Untungnya lagi bapakku nggak terlalu ikut campur dengan keputusan2ku.

Perjalanan menyusui Ayra usia 5-12 bulan relatif lancar menurutku. Dan aku pikir itu semua karena persiapan di awal. Sudah sering aku dengar atau baca tentang orang2 yang gagal menyusui karena kurangnya pengetahuan tentang menyusui, nggak mempersiapkan keluarga untuk pro ASI, dsb. Hanya karena alasan menyusui itu hal yang natural, nggak perlu dipelajari. Sayang sekali... :(

Perjalanan menyusuiku masih panjang, insyaAllah aku ingin mengantarkan Ayra sampai S3 ASI (2 tahun). Saat ini, aku sangat menikmati momen2 menyusui.
Awalnya aku  cuma ingin mengetahui cara menyusui yg benar krn aku sudah tidak punya ibu lagi.
Awalnya terasa berat, mengalami puting lecet, dsb.
Awalnya aku cuma mau memberikan hak anak aku yaitu ASI.
Tapi sekarang, 14 bulan kemudian, aku menikmati setiap momen menyusui...memandang anakku yg berada di pelukan aku, melihat betapa semangatnya dia, seakan2 itu makanan paling lezat buatnya, mata yg mulai meredup sayu menikmati itu semua hingga akhirnya tertidur.
Sekarang, dia sudah bisa menjawab pertanyaanku saat menyusu, "susunya enak?"... Langsung melepas PD-ku dan menjawab "enak.."

Ternyata menyusui juga merupakan relaxing therapy buat aku..


This is my breastfeeding story, what's yours?

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives