Sunday, September 8, 2013

Perkembangan Ruasdito Ayra (15m)

Setelah mendapat kabar bahwa ART lama nggak balik, aku sempat kecewa dan stres. Selain karena bilangnya hanya H-2 dari tangga seharusnya dia balik, juga mungkin karena aku belum lulus tahap kecewa. Beberapa hari aku menenangkan hati, alhamdulillah aku nggak se-bete biasanya. Dan aku mulai menanyakan ke hatiku, solusi apa yang harus diambil. Setelah menimbang2, aku yakin memutuskan daycare. Keputusan itu nggak datang tiba2, karena suami dan bapakku kurang setuju dg opsi itu. Sambil survei daycare yg ada di daerah tempat tinggalku, aku semakin memantapkan hati. Siapa bilang aku sendiri juga tega? Aku juga nggak tega taruh Ayra di daycare, diasuh oleh orang yg benar2 belum kita kenal. Sempat kepikiran juga, apa yg akan dilakukan nanny2nya kalau Ayra rewel, lapar atau ngantuk? Apa bisa Ayra tidur di tempat yg sangat asing buat dia? Dan segudang pertanyaan lain.
Tapi memang benar kok, let the heart feeling the way, and the head will be leading the way..

Semua itu terjadi 2 minggu sebelum aku mulai ngajar pagi. Memang yang menjadi situasi sulit adalah karena sejak awal September 2013, aku mulai mengajar jam 07.00-12.00 setiap Selasa dan Kamis. Kalau untuk pekerjaan di kantor konsultan, insyaAllah bisa diatur waktunya. Secara perlahan memantapkan hati dan mulai "mengiklankan" ke Ayra bahwa dia akan mulai sekolah (aku menyebut dia di daycare sebagai sekolah) 2x seminggu.

Sempat free trial 1x selama 2 jam aku tinggal, Ayra terlihat enjoy. Kemudian datanglah bulan September. Selasa pertama di bulan September, Ayra diantar papanya jam 07.00, pulangnya jam 12.00 aku yang jemput. Rabu tiba2 mendadak aku ada rapat dan urusan mulai siang jam 13.00 sampai jam 20.00, Ayra dititipkan dc setelah kesepakatan dg papanya bisa jemput jam 17.00. Dan juga Kamis Ayra di dc mulai pagi sampai siang. Ayra selama 3 hari diantar ke dc maupun selama di dc, tidak pernah rewel. Hanya saja Kamis malam, Ayra menunjukan perubahan perilaku, menjadi sedikit2 menangis, bahkan pada saat main sekalipun.

Saat seperti ini, alhamdulillah aku sedang kompak hati-kepala, aku bisa menerapkan ruasdito. Aku merasakan perilaku Ayra ini strategi, sehingga aku abai lahbat perilakunya, bukan orangnya. Perilaku strategi Ayra ini juga sempat dirasakan oleh bapak dan adikku, mereka bilang capek dan Ayra nggak asik diajak main. Aku paham ini karena perubahan situasi dan kondisi di rumah. Ini situasi sulit untuk Ayra, tapi aku rasakan bisa dijadikan situasi belajar juga untuk Ayra.

Jadi sejak Kamis malam sampai hari Minggu ini, aku mencurahkan waktuku sepenuhnya untuk perkembangan psikologis Ayra. Setelah aku nyalem di milis dan minta saran, om Ge memaparkan kemungkinan Ayra sudah naik kelas. Sehingga melihat aku sebagai kuno. Alhasil 2 hari terakhir ini aku coba menerapkan pola dagang tunai dan kredit serta teknik milih, alhamdulillah Ayra bisa dikelola dengan lebih enak. Yayyy!

Contoh: karena "kekacauan" rutinitasnya Ayra, Jumat sore dia nggak mau tidur, sehingga Jumat malam jam 20.00 dia sudah tidur. Itu menyebabkan jam 02.00 dini hari Sabtu, Ayra sudah bangun dan ajak main. Sekitar 30 menit dia main sendiri dan berusaha bangunin aku dan suami. Di situ aku kasih pilihan, Ayra mau mainan tapi sendiri atau bobok lagi sama mama. Nggak pake lama, dia mau nenen lagi dan bobok.

Contoh lainnya yang pakai teknik dagang banyak banget dalam 2 hari ini, salah satunya: Sabtu malam kebalikan Jumat malam, karena sudah tidur siang lama, malamnya Ayra masih segar jam 22.00. Ayra masih mau main di kamar eyangnya, padahal kami semua mau siap2 tidur. Sehingga aku pakai teknik dagang: Ayra mau mainan sama papa di kamar atas? Kalau ya, ayo naik dulu dan ganti baju ya. Di situ aku juga ngiklanin berdasarkan pola belajar alami Ayra (berpikir-melihat-melakukan), aku mendeskripsikan mainan sama papa seperti apa aja. Dan yang awalnya Ayra menolak sambil marah/maksa main di kamar eyangnya, nggak pakai adu menang, Ayra setuju naik ke kamar kami.

Aku sadar ini adalah masa adaptasi dan transisi. Ayra yang kehilangan mbaknya yg sudah 10 bulan selalu menemani dia, terlihat sayang sama Ayra, ternyata nggak bisa balik. Ayra harus sekolah 2x seminggu di daycare. Dan itu semua tentu merubah kondisi keluarga kami yg sudah stabil 10 bulan terakhir.

Perjalanan kami masih akan terus berlanjut. Penerapan ruasdito ini tidak hanya bermanfaat untuk Ayra, tapi juga aku. Aku jadi belajar untuk "memberi saja, percaya saja", belajar kecewa, belajar kompak hati-kepala.






1 comments:

Unknown said...

Boleh share ini daycarenya dimana ya?
saya sedang cari daycare juga di surabaya timur.

terimakasih

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review