Thursday, November 28, 2013

Respect doctors, educate ourselves!

3 comments
Belakangan ini berita di media massa sedang dipenuhi oleh kasus dokter yang dijatuhi hukuman tahanan, diperlakukan layaknya penjahat atas kasus meninggalnya pasien paska melahirkan. Hasil visum menunjukkan meninggal karena emboli. Saya tidak akan membahas mengenai istilah kedokteran itu, karena saya bukan dokter. Begitu banyak reaksi dari kasus ini, hingga puncaknya (mungkin?) terjadi hari Rabu tanggal 27 November 2013. IDI menghimbau untuk melakukan tafakur bagi dokter. Dokter dihimbau untuk tidak melakukan pelayanan medis kepada pasien, kecuali dalam keadaan darurat dan bagi pasien miskin (Jamkesmas, Jamkesda, dll). 

Hari Mogok Nasional ini juga direspon berbagai macam sikap oleh masyarakat, ada yang mendukung, ada yang biasa saja, ada juga yang mengecam bahkan menyumpah2i :(
Maka ijinkan saya menuliskan opini saya terkait momentum ini...

Although I'm not a doctor, I truly understand how hard it is to be a doctor. Sejak pendidikannya, kalau tidak merasakannya sendiri -or at least, melihatnya sendiri- sangat berat. Jauh berbeda dg S1 lainnya.
Pendidikan S1nya ditempuh 5,5 tahun dg 1,5 th terakhir banyak tidak tidurnya. Saya bilang banyak tidak tidurnya adalah seperti ini:
Contoh: Senin pagi kuliah mulai jam 07.00 sampai jam 15.00 kemudian langsung jaga di RS sampai jam 6 keesokan harinya alias hari Selasa. Dan hari Selasa itu pula langsung lanjut kuliah jam 07.00 sampai jam 15.00. Jadi hari Senin itu dia tidak pulang ke rumah. Dan seingat saya, adik saya pada stase tertentu, jaganya dua hari sekali. Yang artinya, sehari pulang ke rumah, sehari tidak pulang. Pulang pun dia cuma bisa beberapa jam di rumah. Itu belum dg tugas2nya ya...

Berat di sini juga bukan dalam hal durasi pendidikannya, malah menurut saya, 5,5 tahun itu kurang untuk ilmu yang segitu banyaknya. Sekadar contoh saja, untuk di semester 1, dia harus menghafalkan anatomi tubuh manusia, dimana untuk bagian paha saja, for instance, ada banyak nama otot, yang bagian depan dan bagian belakang sudah beda nama. Belok sedikit sudah beda lagi namanya. Itu baru bagian paha saja dan otot saja.
Saya tidak mendeskreditkan profesi lain ya, but they fix a living human being. Kebanyakan profesi lain kan "bermain2" dengan benda mati kan? Kalaupun dengan manusia, hanya luarnya saja, tidak berkaitan dengan nyawa. 
Analogi lain adalah: kalau kita memperbaiki sebuah mobil, kita harus mematikan mesinnya dulu kan...tapi "memperbaiki" manusia, apa bisa "dimatikan" dulu? Oh well, ya ada yang namanya anestesi, tapi itu tidak seperti mematikan mesin secara keseluruhan kan?

Kesalahan lain di masyarakat adalah terlalu men-dewa-kan dokter. Dokter dituntut bisa semuanya, harus bisa menyembuhkan, tidak boleh melakukan kesalahan. Bayangkan saja, dulu saya waktu periksa hamil, dalam satu malam ada sekitar 30 pasien yang antri. Katakanlah 1 pasien diperiksa 20 menit, itu sudah 600 menit alias 10 jam. Bayangkan apa dokter nggak lapar? Nggak butuh ke kamar kecil, dsb? Kalau kita kerja 10 jam, menghadapi berbagai macam pasien dalam 1 malam, masih bisakah kita tersenyum? Itu baru periksa kehamilan yang biasa ya...bukan kasus emergency. Setelah praktek biasa, dokter juga harus sewaktu-waktu siap dipanggil jika ada kasus emergency, kapanpun, tidak peduli dia sudah tidur belum hari itu, sudah makan atau belum, dsb. Yang pasien minta adalah cepat dilayani!

Saya bukan dokter, saya juga tidak membela dokter. Tapi saya ingin memaparkan kondisi yang mungkin kenyataan. Dengan kondisi kenyataan seperti itu, masih pantaskah kita selalu minta "disuapin"? Menuntut dokter yang menjelaskan semua. Bayangkan bagaimana menjelaskan semua istilah medis yg mereka pelajari selama hampir 6 tahun hanya dalam waktu 30 menit? Sehingga menurut saya sbg orang awam, kita pun harus pintar, kita harus terus mengupgrade ilmu kita, belajar terus, toh itu untuk badan kita sendiri kan? Shg pada saat konsul dengan dokter, kita bisa berdiskusi. Sehingga dalam waktu yang terbatas, kita bisa mendapatkan informasi se-optimal mungkin.

Saya rasa sudah sepantasnya kita menghargai profesi dokter. Bukan men-dewa-kan. Tapi hargai.
Risiko pekerjaan mereka berat, tanggung jawab thd nyawa manusia. Padahal semua reaksi bisa berbeda2 pada setiap orang meski dg kasus yg sama.

IMO, yg terjadi belakangan ini adalah adanya ketimpangan pengetahuan dan miskomunikasi. Dan ya, lagi-lagi karena kondisi masyarakat kita yang mayoritas berpendidikan rendah. Untuk itu, perlu adanya kerjasama dengan profesi lain untuk mengedukasi masyarakat. Kita tidak bisa mengubah semuanya dalam waktu sekejap. Tapi paling tidak, mulai dari diri kita sendiri, terutama anda yang membaca tulisan saya ini. Anda pastilah orang yang mampu membuka internet, mempunyai sumber daya untuk menambah pengetahuan. Tugas anda juga untuk mengedukasi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Di sisi lain, saya rasa wartawan media massa pun harus membekali diri dg pengetahuan kesehatan. Risih sekali membaca artikel yg tidak masuk akal, hanya berdasarkan opini sekelompok masyarakat.

It's just my opinion..
Respect doctors, educate ourselves!

Friday, November 8, 2013

Chasing Stars, Pursuing Dreams

0 comments
Setiap orang punya mimpi, tujuan hidup, keinginan, dan lain sebagainya. Begitu banyak keinginan. Sama seperti sebuah rumah sakit, seharusnya manusia pun mempunyai visi yang jelas tentang masa depannya. Setelah ada visi, kemudian disusun misi, sasaran strategis dan program2 kerja. Ada juga yang disebut rencana strategis (renstra) dan business plan sebagai panduan manajemen menjalankan semua program2nya untuk mencapai tujuannya. Panduan2 ini untuk selalu mengingatkan manajemen agar langkah2 yang diambil tidak melenceng dari tujuan organisasi yang ingin dicapai.

Sekarang, di level individu, apakah kita mempunyai visi yang jelas? Paling tidak untuk 10 tahun ke depan?
Saya pun sulit untuk menjawabnya. Proses perencanaan saya tidak ideal, entah adakah di level individu bisa melakukan proses ini secara ideal. Yang saya maksud tidak ideal adalah saya tidak langsung menetapkan satu visi yang jelas di awal (entah setelah lulus S1 atau titik awal yang lain). Saya melakukannya sambil berjalan. Saya mengambil beberapa hal yang menarik dan sesuai bidang saya. Saya dari awal, entah mengapa, tertarik dengan bidang manajemen rumah sakit. Dimulai dengan pengambilan minat pada saat S1, kemudian S2 ambil di bidang manajemen RS. Tidak disengaja memang, saya cuma suka saja.
Dan memang setelah saya ambil, saya tidak menyesalinya, saya suka. Padahal sebelum memutuskan bidang itu, saya tahu orang2 yang terlibat di dalamnya adalah orang2 yang terkenal eksklusif, terkenal sulit, terkenal sibuk, dsb.
Dan ternyata saya bisa, dan saya suka.

Proses ini terus berjalan sampai saya masuk bekerja di RS dan kemudian di perusahaan konsultan manajemen RS. Sembari proses ini berjalan, saya terus belajar mengenal diri saya sendiri. Saya sadar saya lebih suka bekerja sendiri, karena bisa lebih fleksibel mengatur waktu, mood dan kemampuan saya sendiri. Saya kurang suka bekerja secara tim, terutama rapat2 yang tidak jelas isinya. Jujur saja, itu yang membuat saya tidak melamar menjadi PNS. 

Di setiap proses itu, tentu saja seringkali muncul pilihan2 lain, yang membuat saya berada di persimpangan jalan. Harus memilih, membuat keputusan. Dan proses ini tidak berhenti setelah saya menikah. Dan pilihan2 yang datang juga semakin kompleks, karena setiap pilihan membawa konsekuensi, tidak hanya ke saya tapi juga ke anak, suami dan keluarga saya.

Memang belakangan ini saya merasa sudah jauh lebih dewasa, lebih tenang dalam membuat keputusan. Tentu saja keputusan yang disetujui oleh suami.

Saat ini pun adalah salah satunya. Beberapa minggu lalu saya sudah memutuskan untuk mengikuti kelas bahasa Inggris (sebagai salah satu langkah saya mencapai tujuan hidup saya), setelah memikirkan dengan hati, merencanakan beban kerja saya, saya meminta ijin kepada atasan konsultan, dan alhamdulillah dengan mudahnya beliau mengijinkan. Saya menganggap ini merupakan petunjuk dari Allah bahwa jalan yang saya pilih ini adalah benar dan terbaik untuk saat ini. 
Saya merasa hati saya tenang, tidak memaksakan kehendak, dan semuanya mengalir saja dengan lancar. 
Sampai hari ini, ada tawaran untuk mengikuti pelatihan sertifikasi dosen tepat pada tanggal yang sama dengan hari mulainya les, selama 10 hari full day.
Bingung? Jelas. Bimbang? Tentu. Bahkan beberapa orang menyatakan seharusnya saya memprioritaskan pelatihan tsb. Memang saya pun tidak pernah menceritakan tujuan saya mengikuti kelas bahasa Inggris kepada siapapun, kecuali suami. Suami pun ragu, ada keinginan untuk saya mengikuti pelatihan tsb. 
Saya kembalikan ke hati saya. Saya percaya Allah akan memilihkan yang terbaik untuk saya. 

Let the heart feeling the way, and the head leading the way.

Saya percaya keputusan yang berasal dari hati yang bersih, berpanduan pada rencana hidup saya dan kemudian berserah diri pada Allah, maka itulah keputusan yang terbaik.
Tidak ada keputusan yang benar untuk semua orang. Yang ada adalah keputusan terbaik saat itu yang konsekuensinya bisa diterima.
Which one is that? I still should consult with my Creator..

Nb. Tambahan setelah datang ke acara gathering kantor konsultan di rumah bos...
Saat itu pak bos menceritakan, bahwa ada 3 keputusan sulit dalam hidupnya. Yang pertama tahun 1982, saat beliau harus menentukan pilihan menjadi anggota DPR RI (Pusat) atau menjadi dosen Unair. Saat itu, beliau memilih menjadi dosen Unair, sehingga sempat dimarahi oleh Gubernur saat itu karena mengundurkan diri dari DPR RI.
Yang kedua tahun 1989, saat beliau harus menentukan pilihan melanjutkan S2 ke Amerika (dan meninggalkan praktek dokternya saat itu yang tergolong top, karena dalam 1 tahun bisa menghasilkan 1 mobil baru setiap tahunnya) atau tetap praktek sebagai dokter saja dan melepaskan kesempatan beasiswa ke Amerika. Saat itu, beliau memilih beasiswa. Di sini, beliau sempat mengucapkan satu kalimat yang cukup "menohok": "dosen kalau tidak terus meng-upgrade ilmunya dan menggunakan otaknya, dosen tidak lebih dari seorang tukang ketik".
Yang ketiga, saat ini, saat beliau pensiun, beliau ditawari menjadi pimpinan salah satu PTS terkemuka di Jatim dan meninggalkan Unair, atau tetap di Unair seperti saat ini. Dan beliau memilih tetap di Unair.

Dari cerita beliau, saya yakin jalan hidup dan rejeki kita sudah diatur Yang Kuasa. Kita cuma perlu meniatkan yang baik, berusaha sebaik mungkin, that's it...let Allah do the rest :)

Monday, November 4, 2013

Breastfeeding Campaign

0 comments
Sejak gabung sbg pengurus AIMI Jatim 18 bulan yg lalu dan terutama sejak jadi admin FB Grup AIMI Pusat, sangat banyak pengetahuan yg aku dapatkan ttg menyusui. AIMI terlihat "membenci" susu formula (sufor)? Tidak, kami tidak memerangi sufor. We just against its marketing methods.

Selain itu, kampanye menyusui di negara maju dengan negara miskin atau berkembang berbeda muatannya :)

Ini alasannya (sumber: Lianita P. - Konselor Laktasi AIMI Pusat):

1. Di Indonesia, angka kematian bayi tinggi krn pemberian asupan yang tidak benar (ASI dan MPASI). Dalam hal ini, termasuk pemberian sufor yg tidak sesuai dengan panduan yg benar. Kenapa di Indo mungkin kampanye menyusui lbh aktif ketimbang di negara maju? Krn di Indonesia kita marching dengan angka kematian bayi/balita yg tinggi krn praktek pemberian asupan yg tidak tepat. Masalahnya, lebih dr 60% masyarakat hidup dengan akses thd air bersih yg buruk, kalau golongan ini tdk diedukasi dengan manfaat ASI dan menyusui, maka angka kematian bayi angka semakin tinggi krn diare. Kita punya target MDGs tahun 2015 dan sampai sekarang angka ini belum kita penuhi. nah, angka kematian bayi dan balita ini di negara kita jd masalah kompleks krn apa: nakes kurang, edukasi masyarakat kurang, dana negara utk jaminan kesehatan kurang. jadi fungsi preventif hrs lebih dikedepankan daripada fungsi kuratif

Benar ada kategori sufor berdasarkan bahan dasar dan usia. Kategori sufor itu dibuat berdasarkan kebutuhannya kan (lihat pedoman penggunaan sufor sesuai panduan WHO).

Permasalahannya adalah: apakah penggunaan sufor di Indonesia sudah sesuai dengan pedoman WHO? Belum :) ASI kurang, berikan sufor, tanpa melihat bagaimana proses ibu menyusui. Kurang berat badan, berikan sufor, tanpa dilihat bagaimana proses menyusui (dan asupan makanan jika sudah MPASI), sesudah disapih berikan sufor (padahal di negara maju, bayi setelah 2 tahun tdk lg diberikan sufor, tapi diberikan susu segar/UHT/pasterusiasi  jika masih konsumsi susu).

2. Aspek lain yg juga penting, krn kita marching dengan angka kematian bayi dan gizi buruk bayi, sebetulnya ada protokol medis yang harus dilakukan oleh nakes jika mereka menjumpai kasus bayi yang punya masalah asupan, yaitu dilihat dulu bagaimana ibunya menyusui, dibantu dulu, baru diberikan formula bila ada indikasi medisnya. Nah, masalahnya nakes banyak yang langsung suggest formula ketika si bayi punya masalah dengan asupan. Itu yang mesti kita luruskan jg. Banyak nakes paham ttg manfaat ASI, tapi tidak tahu bagaimana cara membantu ibu menyusui.

3. As much as sufor bisa jadi alternatif pengganti, when needed, tidak bisa dikesampingkan bahwa sudah banyak riset ilmiah yg menjelaskan resiko sufor. Di banyak negara, lembaga resmi kesehatan bahkan sudah melisting berbagai resikonya. Nah, resiko ini yg harus diedukasikan ke nakes dan juga masyarakat agar pemberian sufor bisa proporsional tujuan dan manfaatnya. Di sini, banyak yg menganggap ASI dan sufor sama saja, padahal tidak.

4. At the same time, kita bertarung dengan promosi sufor di media yang lebih banyak dipercaya daripada protokol yang sebenarnya. Dan karakter masyarakat kita yang masih mudah terpengaruh pada promosi membentuk pola pikir masyarakat bahwa ASI bisa digantikan oleh sufor (for WHATEVER reasons). padahal bukan whatever reasons ya, but CERTAIN reasons :)  Di negara Barat yg sudah mengikuti kode WHO, tidak ada promosi sufor di media. Masyarakat mendapatkan informasi dari sumber yg terpercaya tanpa intevensi pesan komersial (baik dr media, dr nakes, dsb). Sehingga informasi yg didapat sifatnya proporsional.

FYI, angka menyusui ASIX di Belanda tidak lebih tinggi dari di Indonesia. But why they don't bother that much? Karena mereka tidak punya masalah akses ke air bersih, tidak punya masalah tingginya angka kematian bayi balita krn diare, tidak punya masalah tingkat edukasi masyarakat yg rendah, tidak punya angka gizi buruk bayi balita yg tinggi seperti kita, mereka punya skema penjaminan kesehatan masyarakat terutama untuk bayi dan balita, punya jumlah nakes yang proporsional dengan jumlah penduduk, tidak menghadapi promosi sufor yg di luar kode WHO. Kita? Our numbers are just the opposite of theirs Sehingga di negara maju, kampanye menyusui lebih bersifat ajakan dan gentle reminder, krn mereka tidak berlomba dengan buruknya angka2 di atas  

Sementara kita? Angka kematian bayi balita tinggi, angka gizi buruk tinggi, tingkat pendidikan masyarakat rendah, tidak ada jaminan kesehatan masyarakat, promosi sufor masih melanggar kode WHO, nakes dan faskes masih sering dimanfaatkan utk promosi sufor, banyak sufor yg diproduksi di negara dunia ketiga di luar fungsinya, dan sebagainya. 
Ini juga kenapa support group menyusui di negara maju lebih bersifat support group murni, krn sifatnya murni mendukung. Karena mereka yg ikut serta di dalamnya adalah orang2 yg sudah paham manfaatnya dan "hanya" butuh dukungan. Sementara di Indonesia perannya harus lebih dari sekedar support group, tetapi harus menjalankan fungsi edukASI karena masih harus berlomba dengan kondisi2 di atas. 

Last, but not least, dari website WHO:
Officially, the World Health Organization (WHO) designates formula milk as THE LAST CHOICE in infant-feeding: Its first choice is breastmilk from the mother; second choice is the mother own milk given via cup; third choice is breast milk from a milk bank or wet nurse and, finally, in fourth place, formula milk.
Nah, pertanyaannnya: Berapa persen nakes dan masyarakat yg paham ttg hal ini di Indonesia? 
:)

Friday, November 1, 2013

Tamparan untuk Mahasiswa (dan Dosen) dari Made Andi

0 comments
Ini cara saya menggampar mahasiswa saya :)

  1. Kamu ingin dapat beasiswa S2 ke luar negeri nanti? Pastikan IP di atas 3 dan TOEFL di atas 500! Merasa tidak pinter? BELAJAR!
  2. Empat atau lima tahun lagi kamu bisa sekolah S2 di luar negeri dengan beasiswa. Itu kalau kamu tidak cuma twitteran saja sampai lulus nanti.
  3. Kamu tidak akan bisa S2 di luar negeri karena akan ditolak profesor kalau nulis email formal saja tidak bisa. Alay itu tidak keren, tidak usah bangga!
  4. Tidak usah tanya tips cara menghubungi professor di luar negeri kalau kirim email ke dosen sendiri saja kamu belum bisa. Hey, ganti dulu akun niennna_catique@gmail.com itu!
  5. Tidak usah ikut meledek Vicky, kamu saja tidak tahu kapan harus pakai tanda tanya, tanda seru, tanda titik, spasi, huruf besar, huruf kecil di email kok!
  6. Mana bisa diterima di perusahaan multinasional biarpun IP tinggi kalau nulis email saja lupa salam pembuka dan penutup :)
  7. Sok mengkritik kebijakan UN segala, dari cara menulis email saja kelihatannya kamu tidak lulus Bahasa Indonesia kok. Tidak usah gaya!
  8. Bayangkan kalau kamu harus menulis email ke pimpinan sebuah perusahaan besar. Apa gaya bahasa email kamu yang sekarang itu sudah sesuai? Jangan-jangan bosnya tertawa!
  9. Apapun bidang ilmu kamu, akhirnya kamu akan berhubungan dg MANUSIA yang beda umur dan latar belakangnya. Belajar komunikasi yang baik. Jangan bangga jadi alay!
  10. Bangga bisa software dan gunakan alat-alat canggih? Suatu saat kamu harus yakinkan MANUSIA akan skill itu. Belajar komunikasi dengan bahasa manusia biasa!
  11. Kamu orang teknik dan hanya peduli skil teknis? Kamu salah besar! Nanti kamu akan jual skil itu pada MANUSIA, bukan pada mesin!
  12. Kamu kira orang teknik hanya ngobrol sama mesin dan alat? Kamu harus yakinkan pengambil kebijakan suatu saat nanti dan mereka itu manusia. Belajar ngomong sama manusia!
  13. Malas basa-basi sama orang yang tidak dikenal? Enam tahun lagi kamu diutus kantor untuk presentasi sama klien yang tidak kamu kenal. Belajar!
  14. Malas belajar bikin presentasi? Lima thn lagi bos kamu datang dengan segepok bahan, “saya tunggu file presentasinya besok!”
  15. Kamu orang sosial dan malas belajar hal-hal kecil di komputer? Lima tahun lagi bos kamu datang bertanya “cara membesarkan huruf di Ms Word dengan shortcut gimana ya?’ Mau nyengir?
  16. Mahasiswa senior, jangan bangga bisa membully Mahasiswa baru, tujuh tahun lagi kamu diinterview sama dia saat pindah kerja ke perusahaan yang lebih bagus :)
  17. Mahasiswa senior, keren rasanya ditakuti Mahasiswa baru? JANGAN! Urusan kalian nanti bersaing sama orang-orang ASEAN dan Dunia. Bisa bikin mereka takut tidak?
  18. Bangga bisa demo untuk mengundurkan jadwal ujian karena kamu tidak siap? Kamu itu mahasiswa negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara, masa’ urusannya cetek-cetek begitu sih?!
  19. Tidak usah lah sok hebat demo nyuruh SBY berani sama Amerika kalau kamu diskusi sama mahasiswa Singapura saja tergagap-gagap :)
  20. Tidak perlu lah teriak-teriak “jangan tergantung pada barat” jika kamu belum bisa tidur kalau tidak ada BB dekat bantal :)
  21. Tentara kita tidak takut sama tentara Malaysia kalau kamu bisa kalahkan mahasiswa Malaysia debat ilmiah dlm forum di Amerika!
  22. Tidak perlu beretorika menentang korupsi kalau kamu masih nitip absen sama teman saat demo antikorupsi!
  23. Boleh kampanye “jangan tergantung pada barat” tapi jangan kampanye di Twitter, Facebook, BBM, Path dan Email! Memangnya itu buatan Madiun?!
  24. Kalau file laporan praktikum masih ngopi dari kakak kelas dan hanya ganti tanggal, tidak usah teriak anti korupsi ya Boss!
  25. Minder karena merasa dari kampung, tidak kaya, tidak gaul? Lima tahun lagi kamu bisa S2 di negara maju karena IP, TOEFL dan kemampuan kepemimpinan. Bukan karena kaya dan gaul!
  26. Pejabat kadang membuat kebijakan tanpa riset serius. Sama seperti mahasiswa yang membuat tugas dalam semalam hanya modal Wikipedia :)
  27. DPR kadang studi banding untuk jalan-jalan doang. Sama seperti mahasiswa yang tidak serius saat kunjungan ke industri lalu nyontek laporan sama temannya :)
  28. Pejabat kadang menggelapkan uang rakyat. Sama seperti mahasiswa yang melihat bahan di internet lalu disalin di papernya tanpa menyebutkan sumbernya.
  29. Alah, pakai mengkritik kebijakan pemerintah segala, bikin paper saja ngopi file dari senior dan ubah judul, pendahuluan sama font-nya :D
  30. Gimana mau membela kedaulatan bangsa kalau waktu menerima kunjungan mahasiswa asing saja kamu tidak bisa ngomong saat diskusi. Mau pakai bambu runcing? :)
  31. Kalau kamu berteriak “jangan mau ditindas oleh asing”, coba buktikan. Ikuti forum ASEAN atau Dunia dan buktikan di situ kamu bisa bersuara dan didengar!
NB. Kata-kata saya di atas memang SADIS. Maafkan jika ada yang tersinggung. FYI, saya juga banyak kesalahan saat mahasiswa. Pesan ini sebuah refleksi, sebagian dari pengalaman nyata dan berharap mahasiswa saya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Matur nuwun

Sumber: http://madeandi.com/2013/10/17/sekali-sekali-mahasiswa-memang-perlu-digampar/#comment-11181
 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review