Breastfeeding Campaign

Sejak gabung sbg pengurus AIMI Jatim 18 bulan yg lalu dan terutama sejak jadi admin FB Grup AIMI Pusat, sangat banyak pengetahuan yg aku dapatkan ttg menyusui. AIMI terlihat "membenci" susu formula (sufor)? Tidak, kami tidak memerangi sufor. We just against its marketing methods.

Selain itu, kampanye menyusui di negara maju dengan negara miskin atau berkembang berbeda muatannya :)

Ini alasannya (sumber: Lianita P. - Konselor Laktasi AIMI Pusat):

1. Di Indonesia, angka kematian bayi tinggi krn pemberian asupan yang tidak benar (ASI dan MPASI). Dalam hal ini, termasuk pemberian sufor yg tidak sesuai dengan panduan yg benar. Kenapa di Indo mungkin kampanye menyusui lbh aktif ketimbang di negara maju? Krn di Indonesia kita marching dengan angka kematian bayi/balita yg tinggi krn praktek pemberian asupan yg tidak tepat. Masalahnya, lebih dr 60% masyarakat hidup dengan akses thd air bersih yg buruk, kalau golongan ini tdk diedukasi dengan manfaat ASI dan menyusui, maka angka kematian bayi angka semakin tinggi krn diare. Kita punya target MDGs tahun 2015 dan sampai sekarang angka ini belum kita penuhi. nah, angka kematian bayi dan balita ini di negara kita jd masalah kompleks krn apa: nakes kurang, edukasi masyarakat kurang, dana negara utk jaminan kesehatan kurang. jadi fungsi preventif hrs lebih dikedepankan daripada fungsi kuratif

Benar ada kategori sufor berdasarkan bahan dasar dan usia. Kategori sufor itu dibuat berdasarkan kebutuhannya kan (lihat pedoman penggunaan sufor sesuai panduan WHO).

Permasalahannya adalah: apakah penggunaan sufor di Indonesia sudah sesuai dengan pedoman WHO? Belum :) ASI kurang, berikan sufor, tanpa melihat bagaimana proses ibu menyusui. Kurang berat badan, berikan sufor, tanpa dilihat bagaimana proses menyusui (dan asupan makanan jika sudah MPASI), sesudah disapih berikan sufor (padahal di negara maju, bayi setelah 2 tahun tdk lg diberikan sufor, tapi diberikan susu segar/UHT/pasterusiasi  jika masih konsumsi susu).

2. Aspek lain yg juga penting, krn kita marching dengan angka kematian bayi dan gizi buruk bayi, sebetulnya ada protokol medis yang harus dilakukan oleh nakes jika mereka menjumpai kasus bayi yang punya masalah asupan, yaitu dilihat dulu bagaimana ibunya menyusui, dibantu dulu, baru diberikan formula bila ada indikasi medisnya. Nah, masalahnya nakes banyak yang langsung suggest formula ketika si bayi punya masalah dengan asupan. Itu yang mesti kita luruskan jg. Banyak nakes paham ttg manfaat ASI, tapi tidak tahu bagaimana cara membantu ibu menyusui.

3. As much as sufor bisa jadi alternatif pengganti, when needed, tidak bisa dikesampingkan bahwa sudah banyak riset ilmiah yg menjelaskan resiko sufor. Di banyak negara, lembaga resmi kesehatan bahkan sudah melisting berbagai resikonya. Nah, resiko ini yg harus diedukasikan ke nakes dan juga masyarakat agar pemberian sufor bisa proporsional tujuan dan manfaatnya. Di sini, banyak yg menganggap ASI dan sufor sama saja, padahal tidak.

4. At the same time, kita bertarung dengan promosi sufor di media yang lebih banyak dipercaya daripada protokol yang sebenarnya. Dan karakter masyarakat kita yang masih mudah terpengaruh pada promosi membentuk pola pikir masyarakat bahwa ASI bisa digantikan oleh sufor (for WHATEVER reasons). padahal bukan whatever reasons ya, but CERTAIN reasons :)  Di negara Barat yg sudah mengikuti kode WHO, tidak ada promosi sufor di media. Masyarakat mendapatkan informasi dari sumber yg terpercaya tanpa intevensi pesan komersial (baik dr media, dr nakes, dsb). Sehingga informasi yg didapat sifatnya proporsional.

FYI, angka menyusui ASIX di Belanda tidak lebih tinggi dari di Indonesia. But why they don't bother that much? Karena mereka tidak punya masalah akses ke air bersih, tidak punya masalah tingginya angka kematian bayi balita krn diare, tidak punya masalah tingkat edukasi masyarakat yg rendah, tidak punya angka gizi buruk bayi balita yg tinggi seperti kita, mereka punya skema penjaminan kesehatan masyarakat terutama untuk bayi dan balita, punya jumlah nakes yang proporsional dengan jumlah penduduk, tidak menghadapi promosi sufor yg di luar kode WHO. Kita? Our numbers are just the opposite of theirs Sehingga di negara maju, kampanye menyusui lebih bersifat ajakan dan gentle reminder, krn mereka tidak berlomba dengan buruknya angka2 di atas  

Sementara kita? Angka kematian bayi balita tinggi, angka gizi buruk tinggi, tingkat pendidikan masyarakat rendah, tidak ada jaminan kesehatan masyarakat, promosi sufor masih melanggar kode WHO, nakes dan faskes masih sering dimanfaatkan utk promosi sufor, banyak sufor yg diproduksi di negara dunia ketiga di luar fungsinya, dan sebagainya. 
Ini juga kenapa support group menyusui di negara maju lebih bersifat support group murni, krn sifatnya murni mendukung. Karena mereka yg ikut serta di dalamnya adalah orang2 yg sudah paham manfaatnya dan "hanya" butuh dukungan. Sementara di Indonesia perannya harus lebih dari sekedar support group, tetapi harus menjalankan fungsi edukASI karena masih harus berlomba dengan kondisi2 di atas. 

Last, but not least, dari website WHO:
Officially, the World Health Organization (WHO) designates formula milk as THE LAST CHOICE in infant-feeding: Its first choice is breastmilk from the mother; second choice is the mother own milk given via cup; third choice is breast milk from a milk bank or wet nurse and, finally, in fourth place, formula milk.
Nah, pertanyaannnya: Berapa persen nakes dan masyarakat yg paham ttg hal ini di Indonesia? 
:)

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives