Chasing Stars, Pursuing Dreams

Setiap orang punya mimpi, tujuan hidup, keinginan, dan lain sebagainya. Begitu banyak keinginan. Sama seperti sebuah rumah sakit, seharusnya manusia pun mempunyai visi yang jelas tentang masa depannya. Setelah ada visi, kemudian disusun misi, sasaran strategis dan program2 kerja. Ada juga yang disebut rencana strategis (renstra) dan business plan sebagai panduan manajemen menjalankan semua program2nya untuk mencapai tujuannya. Panduan2 ini untuk selalu mengingatkan manajemen agar langkah2 yang diambil tidak melenceng dari tujuan organisasi yang ingin dicapai.

Sekarang, di level individu, apakah kita mempunyai visi yang jelas? Paling tidak untuk 10 tahun ke depan?
Saya pun sulit untuk menjawabnya. Proses perencanaan saya tidak ideal, entah adakah di level individu bisa melakukan proses ini secara ideal. Yang saya maksud tidak ideal adalah saya tidak langsung menetapkan satu visi yang jelas di awal (entah setelah lulus S1 atau titik awal yang lain). Saya melakukannya sambil berjalan. Saya mengambil beberapa hal yang menarik dan sesuai bidang saya. Saya dari awal, entah mengapa, tertarik dengan bidang manajemen rumah sakit. Dimulai dengan pengambilan minat pada saat S1, kemudian S2 ambil di bidang manajemen RS. Tidak disengaja memang, saya cuma suka saja.
Dan memang setelah saya ambil, saya tidak menyesalinya, saya suka. Padahal sebelum memutuskan bidang itu, saya tahu orang2 yang terlibat di dalamnya adalah orang2 yang terkenal eksklusif, terkenal sulit, terkenal sibuk, dsb.
Dan ternyata saya bisa, dan saya suka.

Proses ini terus berjalan sampai saya masuk bekerja di RS dan kemudian di perusahaan konsultan manajemen RS. Sembari proses ini berjalan, saya terus belajar mengenal diri saya sendiri. Saya sadar saya lebih suka bekerja sendiri, karena bisa lebih fleksibel mengatur waktu, mood dan kemampuan saya sendiri. Saya kurang suka bekerja secara tim, terutama rapat2 yang tidak jelas isinya. Jujur saja, itu yang membuat saya tidak melamar menjadi PNS. 

Di setiap proses itu, tentu saja seringkali muncul pilihan2 lain, yang membuat saya berada di persimpangan jalan. Harus memilih, membuat keputusan. Dan proses ini tidak berhenti setelah saya menikah. Dan pilihan2 yang datang juga semakin kompleks, karena setiap pilihan membawa konsekuensi, tidak hanya ke saya tapi juga ke anak, suami dan keluarga saya.

Memang belakangan ini saya merasa sudah jauh lebih dewasa, lebih tenang dalam membuat keputusan. Tentu saja keputusan yang disetujui oleh suami.

Saat ini pun adalah salah satunya. Beberapa minggu lalu saya sudah memutuskan untuk mengikuti kelas bahasa Inggris (sebagai salah satu langkah saya mencapai tujuan hidup saya), setelah memikirkan dengan hati, merencanakan beban kerja saya, saya meminta ijin kepada atasan konsultan, dan alhamdulillah dengan mudahnya beliau mengijinkan. Saya menganggap ini merupakan petunjuk dari Allah bahwa jalan yang saya pilih ini adalah benar dan terbaik untuk saat ini. 
Saya merasa hati saya tenang, tidak memaksakan kehendak, dan semuanya mengalir saja dengan lancar. 
Sampai hari ini, ada tawaran untuk mengikuti pelatihan sertifikasi dosen tepat pada tanggal yang sama dengan hari mulainya les, selama 10 hari full day.
Bingung? Jelas. Bimbang? Tentu. Bahkan beberapa orang menyatakan seharusnya saya memprioritaskan pelatihan tsb. Memang saya pun tidak pernah menceritakan tujuan saya mengikuti kelas bahasa Inggris kepada siapapun, kecuali suami. Suami pun ragu, ada keinginan untuk saya mengikuti pelatihan tsb. 
Saya kembalikan ke hati saya. Saya percaya Allah akan memilihkan yang terbaik untuk saya. 

Let the heart feeling the way, and the head leading the way.

Saya percaya keputusan yang berasal dari hati yang bersih, berpanduan pada rencana hidup saya dan kemudian berserah diri pada Allah, maka itulah keputusan yang terbaik.
Tidak ada keputusan yang benar untuk semua orang. Yang ada adalah keputusan terbaik saat itu yang konsekuensinya bisa diterima.
Which one is that? I still should consult with my Creator..

Nb. Tambahan setelah datang ke acara gathering kantor konsultan di rumah bos...
Saat itu pak bos menceritakan, bahwa ada 3 keputusan sulit dalam hidupnya. Yang pertama tahun 1982, saat beliau harus menentukan pilihan menjadi anggota DPR RI (Pusat) atau menjadi dosen Unair. Saat itu, beliau memilih menjadi dosen Unair, sehingga sempat dimarahi oleh Gubernur saat itu karena mengundurkan diri dari DPR RI.
Yang kedua tahun 1989, saat beliau harus menentukan pilihan melanjutkan S2 ke Amerika (dan meninggalkan praktek dokternya saat itu yang tergolong top, karena dalam 1 tahun bisa menghasilkan 1 mobil baru setiap tahunnya) atau tetap praktek sebagai dokter saja dan melepaskan kesempatan beasiswa ke Amerika. Saat itu, beliau memilih beasiswa. Di sini, beliau sempat mengucapkan satu kalimat yang cukup "menohok": "dosen kalau tidak terus meng-upgrade ilmunya dan menggunakan otaknya, dosen tidak lebih dari seorang tukang ketik".
Yang ketiga, saat ini, saat beliau pensiun, beliau ditawari menjadi pimpinan salah satu PTS terkemuka di Jatim dan meninggalkan Unair, atau tetap di Unair seperti saat ini. Dan beliau memilih tetap di Unair.

Dari cerita beliau, saya yakin jalan hidup dan rejeki kita sudah diatur Yang Kuasa. Kita cuma perlu meniatkan yang baik, berusaha sebaik mungkin, that's it...let Allah do the rest :)

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives