Respect doctors, educate ourselves!

Belakangan ini berita di media massa sedang dipenuhi oleh kasus dokter yang dijatuhi hukuman tahanan, diperlakukan layaknya penjahat atas kasus meninggalnya pasien paska melahirkan. Hasil visum menunjukkan meninggal karena emboli. Saya tidak akan membahas mengenai istilah kedokteran itu, karena saya bukan dokter. Begitu banyak reaksi dari kasus ini, hingga puncaknya (mungkin?) terjadi hari Rabu tanggal 27 November 2013. IDI menghimbau untuk melakukan tafakur bagi dokter. Dokter dihimbau untuk tidak melakukan pelayanan medis kepada pasien, kecuali dalam keadaan darurat dan bagi pasien miskin (Jamkesmas, Jamkesda, dll). 

Hari Mogok Nasional ini juga direspon berbagai macam sikap oleh masyarakat, ada yang mendukung, ada yang biasa saja, ada juga yang mengecam bahkan menyumpah2i :(
Maka ijinkan saya menuliskan opini saya terkait momentum ini...

Although I'm not a doctor, I truly understand how hard it is to be a doctor. Sejak pendidikannya, kalau tidak merasakannya sendiri -or at least, melihatnya sendiri- sangat berat. Jauh berbeda dg S1 lainnya.
Pendidikan S1nya ditempuh 5,5 tahun dg 1,5 th terakhir banyak tidak tidurnya. Saya bilang banyak tidak tidurnya adalah seperti ini:
Contoh: Senin pagi kuliah mulai jam 07.00 sampai jam 15.00 kemudian langsung jaga di RS sampai jam 6 keesokan harinya alias hari Selasa. Dan hari Selasa itu pula langsung lanjut kuliah jam 07.00 sampai jam 15.00. Jadi hari Senin itu dia tidak pulang ke rumah. Dan seingat saya, adik saya pada stase tertentu, jaganya dua hari sekali. Yang artinya, sehari pulang ke rumah, sehari tidak pulang. Pulang pun dia cuma bisa beberapa jam di rumah. Itu belum dg tugas2nya ya...

Berat di sini juga bukan dalam hal durasi pendidikannya, malah menurut saya, 5,5 tahun itu kurang untuk ilmu yang segitu banyaknya. Sekadar contoh saja, untuk di semester 1, dia harus menghafalkan anatomi tubuh manusia, dimana untuk bagian paha saja, for instance, ada banyak nama otot, yang bagian depan dan bagian belakang sudah beda nama. Belok sedikit sudah beda lagi namanya. Itu baru bagian paha saja dan otot saja.
Saya tidak mendeskreditkan profesi lain ya, but they fix a living human being. Kebanyakan profesi lain kan "bermain2" dengan benda mati kan? Kalaupun dengan manusia, hanya luarnya saja, tidak berkaitan dengan nyawa. 
Analogi lain adalah: kalau kita memperbaiki sebuah mobil, kita harus mematikan mesinnya dulu kan...tapi "memperbaiki" manusia, apa bisa "dimatikan" dulu? Oh well, ya ada yang namanya anestesi, tapi itu tidak seperti mematikan mesin secara keseluruhan kan?

Kesalahan lain di masyarakat adalah terlalu men-dewa-kan dokter. Dokter dituntut bisa semuanya, harus bisa menyembuhkan, tidak boleh melakukan kesalahan. Bayangkan saja, dulu saya waktu periksa hamil, dalam satu malam ada sekitar 30 pasien yang antri. Katakanlah 1 pasien diperiksa 20 menit, itu sudah 600 menit alias 10 jam. Bayangkan apa dokter nggak lapar? Nggak butuh ke kamar kecil, dsb? Kalau kita kerja 10 jam, menghadapi berbagai macam pasien dalam 1 malam, masih bisakah kita tersenyum? Itu baru periksa kehamilan yang biasa ya...bukan kasus emergency. Setelah praktek biasa, dokter juga harus sewaktu-waktu siap dipanggil jika ada kasus emergency, kapanpun, tidak peduli dia sudah tidur belum hari itu, sudah makan atau belum, dsb. Yang pasien minta adalah cepat dilayani!

Saya bukan dokter, saya juga tidak membela dokter. Tapi saya ingin memaparkan kondisi yang mungkin kenyataan. Dengan kondisi kenyataan seperti itu, masih pantaskah kita selalu minta "disuapin"? Menuntut dokter yang menjelaskan semua. Bayangkan bagaimana menjelaskan semua istilah medis yg mereka pelajari selama hampir 6 tahun hanya dalam waktu 30 menit? Sehingga menurut saya sbg orang awam, kita pun harus pintar, kita harus terus mengupgrade ilmu kita, belajar terus, toh itu untuk badan kita sendiri kan? Shg pada saat konsul dengan dokter, kita bisa berdiskusi. Sehingga dalam waktu yang terbatas, kita bisa mendapatkan informasi se-optimal mungkin.

Saya rasa sudah sepantasnya kita menghargai profesi dokter. Bukan men-dewa-kan. Tapi hargai.
Risiko pekerjaan mereka berat, tanggung jawab thd nyawa manusia. Padahal semua reaksi bisa berbeda2 pada setiap orang meski dg kasus yg sama.

IMO, yg terjadi belakangan ini adalah adanya ketimpangan pengetahuan dan miskomunikasi. Dan ya, lagi-lagi karena kondisi masyarakat kita yang mayoritas berpendidikan rendah. Untuk itu, perlu adanya kerjasama dengan profesi lain untuk mengedukasi masyarakat. Kita tidak bisa mengubah semuanya dalam waktu sekejap. Tapi paling tidak, mulai dari diri kita sendiri, terutama anda yang membaca tulisan saya ini. Anda pastilah orang yang mampu membuka internet, mempunyai sumber daya untuk menambah pengetahuan. Tugas anda juga untuk mengedukasi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Di sisi lain, saya rasa wartawan media massa pun harus membekali diri dg pengetahuan kesehatan. Risih sekali membaca artikel yg tidak masuk akal, hanya berdasarkan opini sekelompok masyarakat.

It's just my opinion..
Respect doctors, educate ourselves!
  1. Ijin menyimak & mengomentari ndin, Pada dasarnya semua yg kamu kemukakan itu adalah dokter yang mempunyai tanggung jawab, integritas, dan profesionalitas yang tinggi. Emang betul beberapa tubuh manusia mempunyai reaksi yang berbeda thd setiap tindakan & pengobatan yg diberikan dokter meskipun itu ada SOP, tapi qt musti ingat juga tidak semua dokter menjalankan prosedur yang ada, tidak semua dokter mampu menerapkan keilmuannya. Berdasarkan info yang kudapat pun ternyata dokter yang melakukan tindakan operasi itu adalah masih belum lulus, dan berani melakukan tindakan pembedahan tanpa pendampingan dokter senior, jelas dari situ sudah melanggar prosedur. Dengan adanya kasus seperti ini, minimal bisa menjadi pelajaran & membuka wawasan bahwa untuk menjadi dokter itu tidak main-main, sekolah dokter swasta yang sekarang makin membludak, terutama di Ibukota dengan membayar mahal sekolah dokter tanpa memperhatikan aspek uji potensi akademik itu juga perlu menjadi perhatian Dirjen Dikti agar kualitas output nya juga dapat dipertanggung jawabkan dan tidak mempengaruhi citra dokter yang sebenarnya, tidak mengotori dokter lain yang mempunyai nilai & kualitas yang bagus. Krn beberapa tahun belakangan ini ada anak pejabat yang masuk di FK Univ Negeri di Jatim, selama jaga di RS sebagai dokter muda dia tidak melakukannya, bahkan sampai membayar temannya untuk menggantikan jaga, kuliah juga sering tidak masuk, Nah jgn2 masuk jd FK pun juga pakai bayar.. lalu kalo ternyata ada 25% seperti itu bagaimana nasib orang2 sakit di Indonesia..

    ReplyDelete
  2. great mbk... coz i belief that nobody perfect, en in other hand, Alloh lah yg maha berkuasa atas segala sesuatu... hidup, mati, jodoh dan rizki.

    ReplyDelete

Designed by FlexyCreatives