Saturday, March 22, 2014

Update Ayra (22m): Toilet Training dan Ruasdito

0 comments
Si bayi (22m) lagi seneng2nya nyanyi...she sings almost all the time, even when she's being breastfed.
Yang lucu adalah setiap kali mau nyusu, dia dorong badanku supaya tiduran... "ma tiduran ma..."
Trus waktu nenen, dia bilang "mimik mama ada dua, yang kiri, yang kanan....(trus dia nyanyi) kiriii..kanan...kulihat saja banyak pohon cemaraa..aa.."
Ada lagi obrolan di sela2 dia nyusu..
Mama: enak susunya, ya?
Ayra: iya enak
M: Ayra suka?
A: Suka
M: rasanya apa? manis?
A: iya manis
M: asin?
A: mm..ndak..

Progress lain adalah tentang toilet training Ayra. Cerita tentang toilet training Ayra sebelumnya ada di sini. Singkat cerita sekitar 1 bulan lalu, Ayra tiba2 panas tinggi sampai 39,8 dercel, tanpa ada batpil ataupun diare. Hari pertama langsung aku bawa ke IGD, karena sudah sangat lemas. Meski secara teori aku tahu bahwa sakit panas pada hari pertama nggak bisa diapa2kan. Sudah diberi penurun panas, tapi panasnya cuma turun sampai di kisaran 38,1-38,3. Hari pertama minum penurun panas 4x, hari kedua minum 3x, hari ketiga aku bawa ke dokter anaknya, dr. Hartoyo.


Oleh dsa-nya, Ayra diperiksa secara fisik, dan kecurigaan mengarah ke ISK. Disuruh melakukan pemeriksaan lab urine lengkap dan kultur. Tapi susaaah banget ngumpulin pipisnya. Hingga akhirnya 1 minggu terakhir ini, aku merasakan dia ada perkembangan dengan TTnya. Dia berhasil nahan pipisnya, sehingga celana dalamnya tetap kering. Tapiii...ternyata Ayra menahan pipis setiap kali dia pakai CD, dia nggak bisa pipis di kamar mandi, meski sudah diajak ke kamar mandi setiap 1 jam dan dia sudah seringkali lihat aku pipis juga. Jadi pernah pakai CD selama 3 jam, ya selama itu pula dia nggak pipis. Padahal dipegang bladdernya oleh adikku, katanya penuh. Begitu dipakein clodi, dalam 1 jam sudah pesing banget.

Aku menyimpulkan bahwa Ayra belum siap untuk TT. Akhirnya sudah 1 minggu ini Ayra pakai popok lagi.
Baca di sini untuk bahaya toilet training dini

Another progress is about Ayra's ruasdito. Setelah mengikuti seminar om Ge terakhir, aku jadi bersemangat lagi untuk menerapkan ruasdito secara konsisten. Memang nggak bisa terus menerus, karena banyak faspel di rumah, seperti akung dan papanya. Begitu ada mereka, langsunglah banyak gratisan. Ayra jadi manja.

Padahal kalau cuma berdua sama aku, she's really a nice girl. Enak banget mengelolanya.
Contohnya semalam waktu mau tidur malam, waktu nungguin aku sholat, dia bongkar kotak yang isinya bandana2 dan karet rambutnya. Selesai sholat, males dong ya kalau aku yang harus beresin semua perbuatan Ayra, aku tanya Ayra "Ayra mau bobok sama mama? Kalau ya, dimasukkan dulu semua pita2nya ke dalam kotak".
Awalnya dia masih mau mainan (kotaknya dijadikan pijakan), aku tinggal tiduran di kasur. Begitu lihat aku tiduran, dia bilang "mimik mama".
Aku jawab lagi "kalau mau mimik mama, dimasukkan dulu semua pitanya ke dalam kotak ya".. dan dia langsung melakukannya, bahkan sampai karet2 yang kecil pun dia masukkan, dia raba semua bagian karpet untuk cari karet yang kecil2 itu. She needs to learn that everything that she does has consequences. She needs to learn about difficult situation unlike me, I was so protected by my parents. 

Cerita lainnya adalah ketika aku pergi berdua dengan Ayra. Nggak ada itu namanya nangis2 di jalan, caper, dsb. She sits on her carseat, sings all her songs all the way and sleeps when she's sleepy. Kalaupun ada dialog, ya cuma sekadar ngobrol, bukan untuk berstrategi. Beda banget dong kalau ada papanyaa :)))

mungkin dia memang bisa merasakan, kalau sama papa, bisa minta gratisan dan selalu diturutin :D
Kalau sama aku, kalau di mobil cuma berdua, dia tahu nggak akan bisa minta yang aneh2. Ya aku sendiri sejak Ayra lahir memang sering pergi berdua dengan Ayra, dan dulu memang minta apa2, dan nggak bisa aku turuti karena memang cuma ada aku di mobil dan aku sedang nyetir.
Dulu pernah ada akung & tantenya di mobil, dan dia minta aneh2 hanya untuk berstrategi. Karena direspon positif oleh akungnya, jadilah dia menangis sepanjang jalan. Dan ya, terpaksa aku berhenti di pinggir jalan, dan akungnya yang nyetir :D





Sunday, March 9, 2014

Seminar Toge tentang Gadget: Kawan atau Lawan

0 comments




Hari ini aku mengikuti seminar dengan pembicara Om Ge. Mumpung masih segar di ingatan, langsung aku tulis yaa...

Jadi sebenarnya gadget itu baik atau jahat sih untuk anak?

Dimulai dengan slide pertama om Ge, bahwa biasanya gadget digunakan ortu sebagai sarana untuk mendiamkan anaknya. Jadi kalau anaknya rewel, atau minta diajak main sedangkan ortunya sedang sibuk, dikeluarkanlah gadget supaya anak bisa asyik main atau bisa duduk diam. Inilah yg disebut om Ge sebagai "shut-up game"....demi supaya anak jadi diam.
Padahal memang anak usia 2-5 tahun secara alamiah memang selalu butuh bergerak. Nanti setiap kali ortu butuh anak diam, dikeluarkanlah gadget itu. Lama kelamaan anak akan belajar, bahwa untuk bisa main gadget, dia harus rewel dulu atau bikin ulah dulu...pokoknya bikin sesuatu yang "mengganggu" ortunya. Inilah yang kemudian dilihat ortu sebagai "kecanduan" gadget.
Padahal gadget adalah sebuah alat, sifatnya netral. Bisa jadi baik atau buruk tergantung penggunanya.

Jadi gimana dong supaya penggunaan gadget nggak menjadi buruk untuk anak?
Berikan gadget bukan untuk shut-up game. Berikan gadget sebagai salah satu bentuk kesepakatan dengan anak, sebagai upah atas upaya yang sudah dia lakukan. Upaya atau kesepakatannya apa saja?
Kesepakatannya bisa apa saja tergantung situasi dan kondisi.
Contohnya: anak mau diajak ke seminar parenting, tentu anak akan dicuekkin selama seminar karena ortu butuh mendengarkan materi. Di sini gadget bisa berperan dalam kesepakatan, misalnya: "Ayra mau main gadget? Kalau ya, nanti di seminar, mama dengerin materi, Ayra duduk sambil main gadget sampai selesai seminar ya" atau semacamnya.
Atau di situasi lain, "Ayra mau main gadget? kalau ya, sekarang Ayra ganti baju dulu, nanti bisa main gadget 15 menit ya".
Kalimat kesepakatannya harus SMART alias specific, measurable, achievable, relevant, time-bound.

Jangan lupa, karena anak masih menggunakan bahasa enak, sedangkan ortu menggunakan bahasa perlu, jadi kita harus merubah mindset kita dulu.
Bahasa enak maksudnya anak2 melakukan sesuatu karena menurut dia enak. Sedangkan ortu menggunakan bahasa perlu karena ortu melakukan sesuatu karena perlu. Kenapa demikian? Karena anak memang belum bisa mikir. Dia nggak berpikir apa yang diperlukan untuk dirinya, tapi dia melakukan karena hal itu enak. Jadi kalau mau meminta anak melakukan sesuatu, buatlah hal tersebut menjadi enak menurut anak.
Misalkan tentang sekolah, kalau anak sudah merasa sekolah sebagai sesuatu yang nggak enak, dia nggak akan mau melakukannya. Misalkan setiap mau berangkat sekolah, ibunya bangunin pagi2 dengan terburu2 dan tanpa senyuman. Padahal kalau hari libur, ibunya membangunkannya dengan senyum dan ramah. Anak akan melihat pola ini, dia jadi merasakan bahwa setiap kali mau sekolah ibu akan terburu2 dan tidak senyum, jadi dia akan menghubungkan kalau sekolah berarti paginya ibu akan marah2 dulu. Pada akhirnya anak akan nggak suka sekolah.
Dan sebagainya.

Kalau mengikuti ruasdito dari awal, sebenarnya lebih mudah. Karena semakin besar anak, dia akan semakin mampu untuk menolak secara fisik. Sehingga untuk mengelola anak, semakin butuh effort yang lebih.
Dan meski saya mengenal ruasdito sejak Ayra umur 2 bulan, tapi saya merasa ruasdito Ayra nggak berjalan dengan lancar. Tapi semoga saya bisa menerapkannya dengan konsisten, meski banyak yang "kasih gratisan" :)
 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review