Sunday, March 9, 2014

Seminar Toge tentang Gadget: Kawan atau Lawan





Hari ini aku mengikuti seminar dengan pembicara Om Ge. Mumpung masih segar di ingatan, langsung aku tulis yaa...

Jadi sebenarnya gadget itu baik atau jahat sih untuk anak?

Dimulai dengan slide pertama om Ge, bahwa biasanya gadget digunakan ortu sebagai sarana untuk mendiamkan anaknya. Jadi kalau anaknya rewel, atau minta diajak main sedangkan ortunya sedang sibuk, dikeluarkanlah gadget supaya anak bisa asyik main atau bisa duduk diam. Inilah yg disebut om Ge sebagai "shut-up game"....demi supaya anak jadi diam.
Padahal memang anak usia 2-5 tahun secara alamiah memang selalu butuh bergerak. Nanti setiap kali ortu butuh anak diam, dikeluarkanlah gadget itu. Lama kelamaan anak akan belajar, bahwa untuk bisa main gadget, dia harus rewel dulu atau bikin ulah dulu...pokoknya bikin sesuatu yang "mengganggu" ortunya. Inilah yang kemudian dilihat ortu sebagai "kecanduan" gadget.
Padahal gadget adalah sebuah alat, sifatnya netral. Bisa jadi baik atau buruk tergantung penggunanya.

Jadi gimana dong supaya penggunaan gadget nggak menjadi buruk untuk anak?
Berikan gadget bukan untuk shut-up game. Berikan gadget sebagai salah satu bentuk kesepakatan dengan anak, sebagai upah atas upaya yang sudah dia lakukan. Upaya atau kesepakatannya apa saja?
Kesepakatannya bisa apa saja tergantung situasi dan kondisi.
Contohnya: anak mau diajak ke seminar parenting, tentu anak akan dicuekkin selama seminar karena ortu butuh mendengarkan materi. Di sini gadget bisa berperan dalam kesepakatan, misalnya: "Ayra mau main gadget? Kalau ya, nanti di seminar, mama dengerin materi, Ayra duduk sambil main gadget sampai selesai seminar ya" atau semacamnya.
Atau di situasi lain, "Ayra mau main gadget? kalau ya, sekarang Ayra ganti baju dulu, nanti bisa main gadget 15 menit ya".
Kalimat kesepakatannya harus SMART alias specific, measurable, achievable, relevant, time-bound.

Jangan lupa, karena anak masih menggunakan bahasa enak, sedangkan ortu menggunakan bahasa perlu, jadi kita harus merubah mindset kita dulu.
Bahasa enak maksudnya anak2 melakukan sesuatu karena menurut dia enak. Sedangkan ortu menggunakan bahasa perlu karena ortu melakukan sesuatu karena perlu. Kenapa demikian? Karena anak memang belum bisa mikir. Dia nggak berpikir apa yang diperlukan untuk dirinya, tapi dia melakukan karena hal itu enak. Jadi kalau mau meminta anak melakukan sesuatu, buatlah hal tersebut menjadi enak menurut anak.
Misalkan tentang sekolah, kalau anak sudah merasa sekolah sebagai sesuatu yang nggak enak, dia nggak akan mau melakukannya. Misalkan setiap mau berangkat sekolah, ibunya bangunin pagi2 dengan terburu2 dan tanpa senyuman. Padahal kalau hari libur, ibunya membangunkannya dengan senyum dan ramah. Anak akan melihat pola ini, dia jadi merasakan bahwa setiap kali mau sekolah ibu akan terburu2 dan tidak senyum, jadi dia akan menghubungkan kalau sekolah berarti paginya ibu akan marah2 dulu. Pada akhirnya anak akan nggak suka sekolah.
Dan sebagainya.

Kalau mengikuti ruasdito dari awal, sebenarnya lebih mudah. Karena semakin besar anak, dia akan semakin mampu untuk menolak secara fisik. Sehingga untuk mengelola anak, semakin butuh effort yang lebih.
Dan meski saya mengenal ruasdito sejak Ayra umur 2 bulan, tapi saya merasa ruasdito Ayra nggak berjalan dengan lancar. Tapi semoga saya bisa menerapkannya dengan konsisten, meski banyak yang "kasih gratisan" :)

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review