Thursday, November 27, 2014

Weaning with Love (again)

1 comments
Ini adalah lanjutan dari postingan yang ini. Minggu ini adalah minggu ketiga masuk keempat Ayra disapih.
Kejadian setelah saya menuliskan postingan terakhir, saya tuliskan di Facebook. Akan saya copy di bawah :)

Tanggal 17 November 2014
Spt saat ini, sejak masa penyapihan 2minggu lalu, pola tidur malam Ayra terganggu. Dia baru bisa tidur 2 jam setelah masuk kamar.
Seperti kejadian kemarin, saya mengajak Ayra pergi jam 16 sehingga maghrib sudah bisa di rumah. Dan ternyata sesuai perkiraan saya, dia sudah sangat ngantuk sampai2 sudah tidur mulai dari parkiran sampai pagi ini tidak bangun samsek. Ini karena sehari sebelumnya Ayra baru tidur jam 23.30 dan bangun jam 6.20. Sedangkan siangnya hanya tidur kurang dari 1 jam.
Cerita di hari sebelumnya adalah kami mengajak Ayra keluar sampai jam 21, sehingga sampai rumah jam 21.30 dan Ayra baru masuk kamar jam 22. Sehingga baru bisa tidur jam 23.30. Tanpa nangis sebenarnya.

Tanggal 22 November 2014
Papa sekarang jadi orang favoritnya Ayra menjelang tidur malam. Spt tadi malam, selesai sholat isya, kami kaget melihat Ayra tiduran di kasur dan sudah melepas celana piyamanya, sedang berusaha melepas diapersnya.
Waktu kami tanya, kenapa lepas celana, Ayra jawab mau dipijetin papa.
Jadilah kami melipat alat sholat sambil ketawa2. Dan saya harus merayunya utk nggak melepas diapersnya juga.
Berhasil, tiba2 dia balik badan, memposisikan tengkurap, spt orang yg siap dipijat. Alhasil papa berubah profesi jd tukang pijet. Ayra pun berubah jadi klien yg suka memberi instruksi...."habis ini tangan ya..", "habis ini perutnya ya"...
Selesai pijat, Ayra balik mendekat ke mama trus bobok deh 

Hingga kejadian dua malam lalu, hari Senin tanggal 25 November 2014. Sejak bangun pagi, berangkat sekolah, Ayra mulai berulah. Tapi ulahnya ini hanya ke aku aja. Kenapa aku tahu? Karena waktu sama mbaknya (dan aku kerja), mbaknya bilang Ayra baik2 saja seperti biasa. Cuma memang tidur siangnya lebih sedikit, cuma sekitar 1-1,5 jam saja.
Jadi hari Senin sore waktu aku pulang kerja, dia nangis tanpa alasan jelas, nggak mau melanjutkan makannya. Aku ajak ke kamar, aku peluk, berhenti sebentar. Trus nangis lagi.
Belum lagi aku juga dimarahi bapakku karena seharusnya aku begini begitu....jadilah memang hari itu aku capek fisik dan mental.
Singkat cerita, malamnya saat Ayra berulah lagi, aku benar2 nggak tahan, karena aku sendiri makannya kurang, dsb. Alhasil saat ganti baju tidur, dia bikin ulah, aku benar2 meninggalkannya ke lantai bawah. Setelah sebelumnya aku kasih pilihan dulu (tentu tanpa bentak2 yaa ;) ).
Saat di bawah, aku makan lagi, sudah jam 21 tapi aku masih lapar. Aku mendengar Ayra panggil2 aku. Tapi aku biarkan saja. Selesai makan, aku naik ke atas. Lihat Ayra bersama papanya, aku masuk kamar dan bersiap2 tidur. Aku pikir biar saja Ayra dengan papanya. Tiba2 Ayra masuk kamar diantar papanya dan langsung menuju ke arahku. Sudah dengan senyum manis, panggil "mama..." trus minta tidur di sampingku. Aku tawarkan baca buku cerita, hanya dengan 2 cerita, Ayra langsung tidur tanpa ba bi bu...
Setelah itu, si papa cerita kalau saat aku di bawah, Ayra nanya ke papa, "mama kemana?" trus manggil2 aku ke bawah itu.. Setelah nggak ada jawaban, Ayra duduk di sofa dan menunduk seperti merenung sambil bilang "mama...mama".
Karena papa nggak tega, papa pangku Ayra :'(
Aku langsung nangis waktu dengar cerita itu... Sepertinya memang Ayra sengaja berbuat ulah hanya ke aku untuk mengungkapkan yang ada di hatinya, entah apapun itu.
Sejak itu, Ayra sudah bersikap normal lagi ke aku, sampai hari ini juga. Pola tidurnya juga mulai membaik. Sudah bisa tidur lebih cepat dan siang sudah bisa tidur agak lama. Semoga ini menunjukkan Ayra sudah mulai stabil :)

Saturday, November 22, 2014

My Love Letter for My Ayra

0 comments
Dear Ayra,

saat mama menulis surat ini, usiamu genap 2,5 tahun. Dua setengah tahun yang sangat berharga untuk mama. Banyak hal yang mama pelajari setelah menjadi ibu.
Sejak hamil, mama mempelajari tentang ASI dan menyusui. Mempersiapkan segalanya untuk menyambut kehadiranmu. Semangat dan niat mama sangat kuat dari dalam diri sendiri karena memang sudah tidak ada ibunya mama atau nenekmu. Sedangkan kakek dan nenek dari papamu tinggal di luar kota.
Sejak kelahiranmu, semua mama kerjakan sendiri karena memang bertepatan dengan keluarnya asisten rumah tangga. Jadi mama merawatmu 100% sendiri tanpa bantuan siapapun, dan mama beruntung karena papa mau ikut terlibat merawatmu.
Pengalaman itu sangat berharga untuk mama. Dari mama yang biasa kemana-mana sendiri, sekarang harus mempertimbangkan kamu yang pasti harus ikut mama. Perubahan pola tidur, pengalaman menyusui yang awalnya mengalami puting lecet sampai terasa demam, mencari pengasuh karena mama harus kembali bekerja, hingga akhirnya mama meminta untuk bekerja secara part time dan lain sebagainya. Begitu banyak yang mama alami selama memilikimu.
Hingga kamu berusia 1,5 tahun mama mendapatkan tambahan pekerjaan, sebenarnya susah memutuskan karena mama ingin mempunyai banyak waktu denganmu. Tapi mama sadar, mama harus tetap bekerja selain untuk membantu papa menyiapkan masa depanmu, tapi juga untuk keseimbangan hidup mama. Dengan bergaul dengan banyak orang dan berkutat dengan passion mama, juga membuat mama menjadi lebih sehat secara mental. Mama ingin menjadi mama yang sehat untukmu, nak..
Tapi komitmen mama untuk selalu memprioritaskan anak akan selalu mama jaga. Terbukti mama masih bisa mengantar jemputmu sekolah, mengajakmu pergi berdua dan mengerjakan banyak hal lainnya bersamamu. 
Tepat usia 2,5 tahun ini Ayra sudah menjadi anak yang hebat dan pintar. Saat ini kita sedang menjalani masa penyapihan dan menyambut kehadiran adikmu. Mama sangat bangga karena Ayra paham dan mau menahan diri untuk tidak menyusu lagi. Proses menyapih dengan cinta ini sudah kita mulai sejak beberapa bulan lalu, tapi sudah 3 minggu ini kamu berhasil tidak menyusu lagi secara penuh. 
Proses weaning with love ini memang membutuhkan keikhlasan 3 pihak: mama, papa dan Ayra. Beberapa kali mama yang tidak ikhlas, merasa kehilangan dengan momen menyusui. Tapi papa yang selalu menguatkan. Selalu terbayang momen menyusuimu, nak, mama bisa memelukmu, mencium bau rambutmu yang segar dan memandang wajahmu yang menyusu dengan antusias. Meski sampai sekarang kamu selalu bilang sayang mama dan tidak ada perubahan sikap lainnya, tetap saja mama akan merindukan momen menyusuimu, nak..
Perjalanan kita masih panjang, Ayra, kita akan selalu belajar bersama, bergandengan tangan dengan papa dan calon adikmu kelak. 
Terimakasih Allah telah memberi kesempatan untuk menjadi ibumu, mama sangat bangga menjadi ibumu dan akan selalu begitu. Mama sayang Ayra selamanya, baik kamu sadari maupun tidak.

Love,
Mama

Monday, November 10, 2014

1 Minggu Tanpa Nenen

0 comments
Kejadian malam ini mungkin adalah kejadian yang paling menyentuh hati saya sebagai seorang ibu. Kejadian ini adalah salah satu bukti kuatnya bonding ibu dan anak berkat menyusui.

Flashback...

Status FB tanggal 4 November 2014

Perjuangan Ayra utk menyapih dirinya sendiri masih berlanjut. Ini hari ke 3 tanpa nenen full day. Sejak mama kontraksi hari minggu lalu, papa sepakat utk ikut serta menyapih Ayra. Hari ke 1 & 2 Ayra sukses tidur sama papa hanya dengan dibacain buku cerita dan mama tidur memunggungi mereka.
Tapi malam ini, sampai buku cerita habis, Ayra masih full charge. Sampai papa pura2 tidur, Ayra masih gelibukan.
Alhasil ndusel2 mama lagi...
Tapi mama bilang kalau nggak bisa nenenin Ayra lg, mama peluk saja ya. Tanpa menjawab, Ayra menempatkan posisi di pelukanku dan nggak lama kemudian sudah tidur. Mama bisikin Ayra anak pintar ya..
Mbrebes miliii..betapa besar perjuangan Ayra untuk menyapih dirinya sendiri. Krn mungkin sbnrnya dia masih sangat menyukai aktivitas menyusu, tp dia sudah mulai paham kalau ada adik di perut mama yg semakin besar..
Pelukan mama akan selalu ada utk Ayra sampai kapanpun :')
#dansayapunmenangissekarang
#sambilmasihpelukAyra
#Ayra2y5m2w
#pregnant31w
#weaningwithlove

Status FB tanggal 6 November 2014

Hari ke 4 dan 5 Ayra tidur malam tanpa nenen...
Yang patut diacungi jempol adalah papanya...
Malam ke 4, Ayra nangis hebat krn mau nenen aja. Hampir aja aku nyerah utk nyusuin Ayra lagi. Tapi papa yg ambil alih gendong Ayra sampai tertidur.
Malam ke 5, malam ini, papa lagi2 membacakan dongeng utk Ayra. Tapi aku sdh ngantuk banget. Jd aku tidur duluan sambil memunggungi mereka.
Tahu2 saja pas aku ngelilir, Ayra sdh tidur sambil peluk aku dari belakang. Waktu aku tanya, si papa cuma bacain dongeng aja. Tapi memang agak lama dan Ayra juga sempat duduk, gelibukan lagi cari posisi yg nyaman.
Ini bukti bahwa WWL memang harus atas kesiapan 3 pihak: ayah, ibu dan anak.
Agak sedih rasanya...mengingat sudah 2,5th aku menyusui Ayra...and it comes to an end now..
She's growing up...but she'll always be my baby :')


Dan ini status saya hari ini di facebook jam 22.

Sudah genap 1minggu Ayra nggak nenen lagiii...
Hiksss...I'm gonna miss that moment, I even already missed those moments..
I missed how she enjoyed sleeping at my breast, how comfortable she was while sleeping at my hands, how I smelled her hair while breastfeed her, and much more..
She's my baby and always be my baby..

Setelah menulis status itu, Ayra tiba2 saja seperti mimpi buruk. Tiba2 nangis tapi matanya masih merem. Saya dan suami berusaha menepuk2 menenangkannya. Tapi gagal. Ayra ditanya masih bisa menjawab meski masih tidur. Dia menjawab "nggak mau" untuk semua pertanyaan yang kami ajukan. Akhirnya suami yg menggendong Ayra. Ayra masih tetap dengan mata tertutup. Dia bisa tidur di gendongan papa. Tapi begitu ditaruh kasur, dia nangis2 lagi. Begitu terus sampai berulang 3x, kemudian saya berinisiatif utk memeluk dia sambil duduk. Ternyata dia menolak saya langsung dan langsung mengarahkan tangannya ke papa.
Rasanya patah hati. Dia lebih memilih papanya. Sebenarnya tidak masalah buat saya kalau Ayra bisa tidur dg papanya. Malah saya sangat bersyukur hubungan mereka sangat dekat. Saya tidak cemburu sama sekali...not at all. 100%.

Hanya saja saya merasakan kami seperti dipisahkan secara tiba2 dalam momen tidur malam. Sepertinya itu juga yang dirasakan Ayra.
Biasanya tidur malam identik dengan tidur di pelukan mama, seminggu terakhir saya tidur memunggunginya. Sebenarnya saya pun nggak tega. Tapi suami yang meminta demikian dengan asumsi itu akan memudahkan Ayra untuk tidur tanpa nenen. Saya pikir juga begitu.
Tapi kejadian malam ini sungguh menyayat hati saya.

Setelah berulang 3x, saya tidak bisa menahan tangis. Saya malu sebenarnya, saya pikir untuk apa saya menangis, masa saya patah hati, cemburu karena Ayra lebih memilih papanya?
Saya menutupi tubuh dan muka saya dengan selimut dan memunggungi mereka berdua. Berharap suami tidak menyadari saya menangis. Kemudian saya mendengar suami meletakkan Ayra di belakang punggung saya. Rupanya dia sudah tertidur. Saya segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan ingus dan air mata. Saya nyalakan kran air untuk menutupi suara di dalam kamar mandi. Sayapun tidak bisa mendengar suara di dalam kamar tidur.

Sekitar 5 menit, saya kembali ke kamar dan melihat Ayra digendong papanya lagi. Kali ini dg mata yang terbuka dan basah karena menangis. Dan begitu melihat saya, dia langsung mengarahkan tangannya ke saya. Langsung saja saya menggendong dia dan kembali menangis.
Dia meminta saya untuk tiduran. Jadi kami kembali dengan posisi menyusui biasanya. Dia berada di atas tangan saya. Saya melihat matanya lega. Nggak lama kemudian, dia sudah tertidur di posisi itu.
Saya masih melanjutkan menangis. Dan suami yang menyaksikan itu semua juga ikut meneteskan air mata.

Saya yakin Ayra sebenarnya merasa tidak nyaman selama 1 minggu ini. Tapi dia belum bisa mengungkapkannya. Sejak beberapa hari yang lalu saya juga ragu apakah ini jalan yang benar, mungkin terlihat dari status2 saya di facebook.
Dengan kejadian ini saya merasakan bonding yang kuat di antara saya dan Ayra.

Lalu bagaimana selanjutnya? Saya juga belum bisa memastikan. Apakah proses penyapihan ini akan dilanjutkan ataukah saya melanjutkan NWP dan diteruskan dengan tandem nursing?
Apapun pilihannya, semoga itu yang terbaik untuk kami. Apapun itu, saya harus kuat secara fisik maupun mental. Kalau memang mau NWP lagi, berarti saya yang harus kuat untuk kedua anak saya. Kalaupun memang sudah berhenti, itu juga harus dengan keikhlasan Ayra. Semoga papanya bisa memahami dan mendukung seperti yang sudah dilakukannya selama ini. Semoga semuanya dilancarkan Allah SWT. Amiin yra...

Monday, November 3, 2014

Weaning with Love

0 comments
Jujur saja, aku nggak tahu bagaimana rasa kontraksi maupun kontraksi palsu. Karena waktu hamil Ayra dulu, sepertinya aku nggak pernah mengalaminya.
Nah sejak mengikuti pelatihan 3 minggu yang lalu, aku mengalami rasa kencang2 di bagian bawah disertai rasa sakit untuk berdiri. Setelah 1 hari tiduran saja, kondisi sudah membaik.
Kemarin tiba2 saja aku mengalami rasa nggak nyaman lagi. Rasa mules, sampai aku sudah pup 2x, tapi mulesnya masih ada dan disertai rasa seperti dilep mau mens. Setelah sms dua dokter obsgyn, aku diberi resep dan disuruh istirahat. Kalau setelah pemberian obat, rasa sakit masih ada, aku disuruh opname.
Kondisi di rumah juga nggak ada adik dan bapak, jadi aku bener2 nggak tahu ini kondisi emergency atau bukan.

Alhasil, siangnya suami memutuskan membantu menyapih Ayra. Bagaimanapun juga Ayra sudah nggak boleh menyusu lagi.
Jadi karena nggak ada kamar lain, aku memang tetap berada satu kamar. Dari perjalanan menyapih Ayra sebelum2nya, cuma ada aku dan Ayra, dia nggak mau dipeluk, ditepuk2, dll. Yang ujung2nya dia minta nenen lagi. Pernah 1x berhasil tidur tanpa nenen, setelah dia glibak-glibuk ke sana kemari. Perjuangan Ayra berat sepertinya... :(
Nah yang kemarin, karena ada suami, dia yang berinisiatif untuk menidurkan Ayra. Dia yang membacakan buku cerita, dan aku tidur memunggungi mereka berdua.
1,5 jam kemudian, aku melihat mereka berdua sudah tertidur. Entah siapa yang tidur duluan. Aku sendiri juga sudah bilang ke Ayra kalau aku sedang sakit. Jadi minum obat, dan sholatnya sambil duduk. Itu juga mungkin membantu Ayra, dia paham bahwa mama nggak bisa menyusui dia lagi.

Begitu pula malamnya, suami yang membantu menidurkan Ayra jam 9 malam, yang mana sebenarnya belum jam tidur suami. Akupun masih belum ngantuk sebenarnya. Jadi aku memunggungi mereka berdua, dan aku mendengar kalau suami yang tertidur duluan. Ayra masih bergerak2, hingga 10 menit kemudian sudah nggak ada gerakan lagi.

Sangaaat terharu....Ayra sudah bisa paham kalau mamanya nggak bisa menyusui lagi.
Aku juga sudah bilang kalau adiknya lahir nanti, belum bisa makan apa2 kecuali minum susu mama. Jadi susunya mama buat adik saja. Kalau Ayra kan sudah bisa makan nasi, puding, dll. Ayra sendiri yang menyebutkan nama2 makanannya :)

Pengalaman kemarin benar2 membuktikan bahwa menyapih membutuhkan kesiapan 3 pihak: ayah, ibu dan anak. Kalau sebelumnya hanya aku dan Ayra yang berjuang, hasilnya nggak maksimal. Kali ini si papa sudah merasakan sendiri bahwa dia harus turun tangan :)

Saturday, November 1, 2014

Pengambilan Raport Ayra

0 comments
Kemarin adalah pengambilan raport Ayra untuk cawu I. Meski sudah dibilangin beberapa hari sebelumnya bahwa Jumat mama mau ambil raport bareng sama Ayra, sepertinya Ayra belum paham apa itu raport. Jadi waktu Jumat kami ke sekolahnya, Ayra bilang kalau mama di mobil saja. Maksudnya sama seperti hari sekolah biasanya, mama cuma antar sampai gerbang saja :D

Semua hasil karya Ayra sepanjang cawu I, dirangkai menjadi satu :)


Portofolio Ayra, isinya: remasan kertas, mencoret, merobek kertas, dll :))
,
Antri dulu yaa..



Sejauh ini aku puas dengan pelayanan dan pendidikan di Al-Azhar. Semua kurikulum terjadwal dengan baik, petugasnya juga ramah, guru2nya komunikatif, kita bisa diskusi dengan gurunya, malah justru diharapkan orangtua di rumah dan sekolah bisa bekerjasama, sehingga nggak ada ajaran yang bertolak belakang antara di rumah dan di sekolah. Biaya sekolah memang relatif di atas rata2 PAUD milik pemerintah, meski tetap saja relatif sama dengan preschool di daerah Surabaya timur, tapi menurutku sesuai dengan yang kami dapatkan. It's worth it.

Ayra juga sangat senang sekolah, nggak ada beban untuk menghafalkan angka atau huruf, dsb. Penilaian juga diberikan secara deskriptif, bukan memberikan angka (penilaian 1-10) atau huruf (penilaian A - E). Memang ini yang aku cari saat survei dulu, karena menurutku untuk pendidikan anak usia dini, bukan nilainya yang penting, tapi lebih ke arah pengembangan karakternya. Dan itu tidak bisa dikuantitatif.










Semua dilakukan atas dasar pembiasaan, jadi murid2 dibiasakan untuk antri, cuci tangan sebelum makan, berdoa, dsb. Sesuai dengan prinsipku. Karena aku berkeyakinan, anak2 kecil hanya bisa karena terbiasa, mereka belum terlalu paham manfaatnya.

Melihat manfaatnya sejauh ini, aku merasa cocok dengan Al Azhar sebagai mitraku dalam mendidik anak. Oh ya, nggak ada juga tuh yang namanya pembedaan status sosial di sana. Karena sempat ada gosip bahwa petugasnya menanyakan sampai sejauh mana orang tua mampu membayar biayanya. Aku nggak pernah ditanyain menyangkut hal tersebut..
Satu lagi kelebihannya adalah aku nggak pernah diminta tambahan biaya apapun lagi selain pembayaran yang di awal. Sesuai janji mereka, bahwa biaya yang dibayarkan di awal sudah bersih, jadi selama sekolah nggak akan ada tambahan biaya ini itu lagi. Jadi waktu fieldtrip, gathering, dsb, aku sudah nggak mengeluarkan biaya lagi :)

Semoga selalu diberi rejeki untuk menyekolahkan anak di tempat yang baik...amiinnn :)

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review