Monday, November 10, 2014

1 Minggu Tanpa Nenen

Kejadian malam ini mungkin adalah kejadian yang paling menyentuh hati saya sebagai seorang ibu. Kejadian ini adalah salah satu bukti kuatnya bonding ibu dan anak berkat menyusui.

Flashback...

Status FB tanggal 4 November 2014

Perjuangan Ayra utk menyapih dirinya sendiri masih berlanjut. Ini hari ke 3 tanpa nenen full day. Sejak mama kontraksi hari minggu lalu, papa sepakat utk ikut serta menyapih Ayra. Hari ke 1 & 2 Ayra sukses tidur sama papa hanya dengan dibacain buku cerita dan mama tidur memunggungi mereka.
Tapi malam ini, sampai buku cerita habis, Ayra masih full charge. Sampai papa pura2 tidur, Ayra masih gelibukan.
Alhasil ndusel2 mama lagi...
Tapi mama bilang kalau nggak bisa nenenin Ayra lg, mama peluk saja ya. Tanpa menjawab, Ayra menempatkan posisi di pelukanku dan nggak lama kemudian sudah tidur. Mama bisikin Ayra anak pintar ya..
Mbrebes miliii..betapa besar perjuangan Ayra untuk menyapih dirinya sendiri. Krn mungkin sbnrnya dia masih sangat menyukai aktivitas menyusu, tp dia sudah mulai paham kalau ada adik di perut mama yg semakin besar..
Pelukan mama akan selalu ada utk Ayra sampai kapanpun :')
#dansayapunmenangissekarang
#sambilmasihpelukAyra
#Ayra2y5m2w
#pregnant31w
#weaningwithlove

Status FB tanggal 6 November 2014

Hari ke 4 dan 5 Ayra tidur malam tanpa nenen...
Yang patut diacungi jempol adalah papanya...
Malam ke 4, Ayra nangis hebat krn mau nenen aja. Hampir aja aku nyerah utk nyusuin Ayra lagi. Tapi papa yg ambil alih gendong Ayra sampai tertidur.
Malam ke 5, malam ini, papa lagi2 membacakan dongeng utk Ayra. Tapi aku sdh ngantuk banget. Jd aku tidur duluan sambil memunggungi mereka.
Tahu2 saja pas aku ngelilir, Ayra sdh tidur sambil peluk aku dari belakang. Waktu aku tanya, si papa cuma bacain dongeng aja. Tapi memang agak lama dan Ayra juga sempat duduk, gelibukan lagi cari posisi yg nyaman.
Ini bukti bahwa WWL memang harus atas kesiapan 3 pihak: ayah, ibu dan anak.
Agak sedih rasanya...mengingat sudah 2,5th aku menyusui Ayra...and it comes to an end now..
She's growing up...but she'll always be my baby :')


Dan ini status saya hari ini di facebook jam 22.

Sudah genap 1minggu Ayra nggak nenen lagiii...
Hiksss...I'm gonna miss that moment, I even already missed those moments..
I missed how she enjoyed sleeping at my breast, how comfortable she was while sleeping at my hands, how I smelled her hair while breastfeed her, and much more..
She's my baby and always be my baby..

Setelah menulis status itu, Ayra tiba2 saja seperti mimpi buruk. Tiba2 nangis tapi matanya masih merem. Saya dan suami berusaha menepuk2 menenangkannya. Tapi gagal. Ayra ditanya masih bisa menjawab meski masih tidur. Dia menjawab "nggak mau" untuk semua pertanyaan yang kami ajukan. Akhirnya suami yg menggendong Ayra. Ayra masih tetap dengan mata tertutup. Dia bisa tidur di gendongan papa. Tapi begitu ditaruh kasur, dia nangis2 lagi. Begitu terus sampai berulang 3x, kemudian saya berinisiatif utk memeluk dia sambil duduk. Ternyata dia menolak saya langsung dan langsung mengarahkan tangannya ke papa.
Rasanya patah hati. Dia lebih memilih papanya. Sebenarnya tidak masalah buat saya kalau Ayra bisa tidur dg papanya. Malah saya sangat bersyukur hubungan mereka sangat dekat. Saya tidak cemburu sama sekali...not at all. 100%.

Hanya saja saya merasakan kami seperti dipisahkan secara tiba2 dalam momen tidur malam. Sepertinya itu juga yang dirasakan Ayra.
Biasanya tidur malam identik dengan tidur di pelukan mama, seminggu terakhir saya tidur memunggunginya. Sebenarnya saya pun nggak tega. Tapi suami yang meminta demikian dengan asumsi itu akan memudahkan Ayra untuk tidur tanpa nenen. Saya pikir juga begitu.
Tapi kejadian malam ini sungguh menyayat hati saya.

Setelah berulang 3x, saya tidak bisa menahan tangis. Saya malu sebenarnya, saya pikir untuk apa saya menangis, masa saya patah hati, cemburu karena Ayra lebih memilih papanya?
Saya menutupi tubuh dan muka saya dengan selimut dan memunggungi mereka berdua. Berharap suami tidak menyadari saya menangis. Kemudian saya mendengar suami meletakkan Ayra di belakang punggung saya. Rupanya dia sudah tertidur. Saya segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan ingus dan air mata. Saya nyalakan kran air untuk menutupi suara di dalam kamar mandi. Sayapun tidak bisa mendengar suara di dalam kamar tidur.

Sekitar 5 menit, saya kembali ke kamar dan melihat Ayra digendong papanya lagi. Kali ini dg mata yang terbuka dan basah karena menangis. Dan begitu melihat saya, dia langsung mengarahkan tangannya ke saya. Langsung saja saya menggendong dia dan kembali menangis.
Dia meminta saya untuk tiduran. Jadi kami kembali dengan posisi menyusui biasanya. Dia berada di atas tangan saya. Saya melihat matanya lega. Nggak lama kemudian, dia sudah tertidur di posisi itu.
Saya masih melanjutkan menangis. Dan suami yang menyaksikan itu semua juga ikut meneteskan air mata.

Saya yakin Ayra sebenarnya merasa tidak nyaman selama 1 minggu ini. Tapi dia belum bisa mengungkapkannya. Sejak beberapa hari yang lalu saya juga ragu apakah ini jalan yang benar, mungkin terlihat dari status2 saya di facebook.
Dengan kejadian ini saya merasakan bonding yang kuat di antara saya dan Ayra.

Lalu bagaimana selanjutnya? Saya juga belum bisa memastikan. Apakah proses penyapihan ini akan dilanjutkan ataukah saya melanjutkan NWP dan diteruskan dengan tandem nursing?
Apapun pilihannya, semoga itu yang terbaik untuk kami. Apapun itu, saya harus kuat secara fisik maupun mental. Kalau memang mau NWP lagi, berarti saya yang harus kuat untuk kedua anak saya. Kalaupun memang sudah berhenti, itu juga harus dengan keikhlasan Ayra. Semoga papanya bisa memahami dan mendukung seperti yang sudah dilakukannya selama ini. Semoga semuanya dilancarkan Allah SWT. Amiin yra...

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review