Thursday, April 23, 2015

Ayra's 1st Hospitalization Experience

0 comments
Berselang 3 jam setelah saya menulis postingan ini, Ayra panas tinggi dan kemudian muntah air.
Sepanjang pagi Ayra tetap panas sampai 39,6 derajat celcius, diare berulang yang sangat cair dan nggak mau makan apapun. Cuma masuk air putih dan setengah gelas milo. Sampai jam 11 siang nggak ada perubahan, akhirnya saya membawa Ayra ke RS.
Mengingat riwayat Ayra yang susah sekali minum obat, dokter menyarankan Ayra untuk langsung opname. Akhirnya jam 13 Ayra masuk IGD untuk pasang infus. Karena sudah di fase dehidrasi (ringan atau sedang), pembuluh darahnya susah ditemukan. jadilah berulang kali tusuk jarum di tangannya. Jelas Ayra jerit2 kesakitan.
Penderitaannya nggak berakhir di situ. Setelah infus terpasang, Ayra masuk kamar rawat inap. Ayra sudah mau sedikit bicara. Tiba2 saja Ayra kejang!!
Untungnya kami semua sedang siaga di situ. Ada adik juga yang seorang dokter. Rasanya benar2 nggak tega melihatnya seperti itu. Saat itu juga ternyata Ayra pup lagi, yang langsung dibersihkan. Kemudian dimasukkan obat penurun panas lewat dubur, dsb.

Sangat nggak tega melihatnya.
Oh ya sejak awal membawa Ayra ke RS, saya juga membawa Axel. Alasan kenapa saya membawa Axel ada di postingan ini.
Axel susaaaah sekali menyusu. Mungkin karena saya lagi panik dan stres, mungkin juga karena tempat baru.
Sampai jam 19.00 saya meninggalkan Ayra, Axel masih susah menyusu dan tidur. Akhirnya dengan berat hati, kami memutuskan saya dan Axel yang tinggal di rumah. Sedangkan suami dan adik yang menjaga Ayra di RS.

Ini pertama kalinya Ayra opname dan pertama kalinya saya tidur terpisah dari Ayra sepanjang malam :(

Selama 3 hari Ayra opname, Axel ikut aku riwa riwi RS dan rumah. Dengan pertimbangan yang sangat berat, Sabtu malam kami memutuskan Ayra untuk pulang saja. Pertimbangannya adalah Ayra sudah mulai membaik meski sebenarnya belum selesai obatnya. Jadi obatnya harus dilanjutkan secara per oral di rumah. Pertimbangan lain adalah kondisi Axel yang menurun karena kecapekan. Jadi saat itu keputusan kami benar2 sangat berat. Kalau pulang, Ayra berisiko kembali sakit karena sebenarnya pengobatan belum selesai. Kalau tidak pulang, Axel yang bisa sakit lebih parah. Karena sejak hari ke 3 Axel sudah banyak bersin2.

Jadilah mulai Minggu sampai Selasa merupakan masa2 isolasi untuk kedua anakku. Ayra dan Axel benar dijaga supaya tidak memburuk. Minggu Ayra BAB 7x yang membuat kami semua deg-degan. Obat penurun panas sudah siap sedia. Untungnya nggak ada demam lagi. Senin Ayra BAB 1x saja. Selasa pagi Ayra harus kontrol ke dokter, sedangkan selasa sore Axel yang kontrol ke dokter jantung anaknya. Karena sejak Axel diketahui ISK, aku belum update ke dokternya. Pemberian antibiotik ke Axel juga berdasarkan resep dari dokter di RS tempat Ayra opname.
Kami bertiga pun kena flu.

Alhamdulillah saat ini sudah membaik semua. Perjalanan masih panjang, karena pengobatan untuk ISK-nya Axel masih ada.

Semoga Ayra segera membaik, sehat terus semuanya...amiinn yra...

Tentang Axel (3m)

0 comments
Sudah lama saya nggak update tentang Axel.
Banyaaak hal yang terjadi sampai saat saya menulis postingan ini, meski hanya baru 3,5 bulan lalu saya melahirkan Axel.
Postingan pertama tentang Axel ada di sini.
Melanjutkan postingan tersebut, saat Axel usia 1,5 bulan yaitu 6 Februari 2015, kami membawa Axel ke dokter anak konsultan jantung anak, dr. Mahrus, SpA(K). Dan hari itu juga dilakukan pemeriksaan echo. Dari hasil pemeriksaan tersebut, diketahui bahwa Axel memiliki 2 lubang di jantungnya, yaitu tipe ASD dan VSD. Yang mana saat pemeriksaan dilakukan, ASDnya sudah menutup sendiri. Sedangkan VSD belum. VSD ini berukuran 3mm. Saat itu, dr. Mahrus hanya menyarankan terapi konservatif saja dulu, yaitu diberikan obat oral (Noperten) untuk meminimalisir hipertensi pulmonalis. Jangan tanya saya kenapa sakitnya di jantung, tapi hipertensinya di paru. You should ask the expert :D

Itu pukulan kedua bagi saya, setelah yang pertama mendengar diagnosis PJB pada hari kedua kelahiran Axel. Axel usia 2m1w, saya mulai kembali bekerja di RS 2x per minggu dan di Konsultan as per request :)
Oh ya, selain ke dr. Mahrus, Axel tetap saya bawa ke dr. Hartoyo untuk imunisasinya. Alasan lainnya adalah dr. Hartoyo adalah dokter anak langganan sejak Ayra lahir dan juga beliau seorang konselor laktasi (meski saya agak ragu, tidak bisa bersih dari sponsor susu yang bekerjasama dg RSnya).

Tumbuh kembang Axel bagus, menyusu juga normal, grafik Growth Chart bagus. Usia 1 bulan sudah senang mengangkat kepalanya. Usia 2 bulan sudah miring2 dan usia 2,5 bulan sudah tengkurap (meski habis itu langsung nangis).
dr. Hartoyo sudah pernah mengingatkan saya bahwa nanti masuk usia 4 bulan, kenaikan BBnya biasanya tidak sebanyak 0-3 bulan. Saya pun juga tahu teori itu, jelek2 gini kan saya juga konselor laktasi.

Tapiii...saya benar2 nggak menyangka kalau pelitnya sampai segininya. BB Axel benar2 stagnan di usia 3m2w. Kalau di GC jadinya sudah memotong garis kuning bawah. Alarm berbunyi!!
Stres jelas!
Saya cek frekuensi BAK masih lebih dari 6x, BAB juga golden feces.
Saya bawa ke dr. Rizal Altway, SpA, IBCLC, seorang dokter anak yang juga konsultan laktasi internasional (yang mana juga suaminya ketua AIMI Jatim). Pemeriksaan fisik sudah, nggak ada tongue tie, hanya saja dicurigai fimosis. Jadi disuruh cek lab. Kalau memang ada ISK, bisa jadi itu menyebabkan BBnya nggak naik.
Sampai postingan ini ditulis, saya belum terima hasil labnya.

3 hari kemarin merupakan hari2 yang sangat menekan saya. dr. Rizal sudah menyampaikan kemungkinan ditambah sufor. Saya stres. Saya nggak rela anak saya diberi sufor. Wong Ayra yang sehat saja, bisa saya susui 30m. Apalagi Axel yang notabene punya PJB, harusnya lebih dari 30m dong!
Saya percaya ASI memberikan perlindungan terbaik buat anak. Kami sudah lihat buktinya di Ayra.
Tapi setelah melalui pemikiran panjang, akhirnya saya ikhlas kalaupun memang Axel perlu diberi sufor.

Setelah keikhlasan pemberian sufor, ganti mendapat "ujian" dari suami. Dia mau memberikan sufornya dengan dot. Jelas langsung saya marah! Dot sangat haram bagi ibu yang berniat menyusui hingga 2 tahun atau lebih. Kalaupun diberi sufor, saya berencana memberikan dengan cupfeeder, seperti kebiasaan Axel minum ASIP selama ini.
Setelah berdebat keras, saya menangis, hasil ASIP menurun (yang mana suami lihat langsung memang nggak keluar), akhirnya suami melunak.
Malam itu saya bisa tidur dengan tenang.
Keesokann harinya kepala mulai normal. Tepat tanggal 21 April 2015, saya harus mengantar Ayra untuk acara Kartinian di sekolahnya. Saya bawa Axel juga. Saya yang biasanya well-prepared, kali itu go with the flow. Saya nggak mengharapkan apa2.

Malah Axel bisa menyusu banyak 2x selama menunggu Ayra, bahkan sampai tertidur...yah meski berkorban tangan kaku semua. 

Waktu acara di sekolah Ayra, Ayra terlihat begitu senang melihat saya di antara mama2 lainnya. Sorenya saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya di RS. Dan langsung disetujui suami. Saat itu juga saya tembak suami untuk "membayar" pengorbanan saya untuk tidak pernah menggunakan dot. And he said yes!

Friday, April 17, 2015

Kenapa AIMI Tidak membuat iklan ASI

0 comments

Banyak yang bertanya,, kenapa sih iklan tentang ASI dan Menyusui jarang sekali tampil di TV? Ini penjelasannya Lianita Prawindarti MinLi dari AIMI..
Sudah pernah tahu berapa hitung2an pembuatan iklan di media terutama media elektronik? kalau belum, saya berikan gambarannya

Kalau boleh saya kasih gambaran, di Indonesia saja, perusahaan sufor adalah pengiklan tertinggi dalam kategori minuman. Tahun 2011 saja total budget iklan mereka di kuartal pertama (4 bulan pertama) di thn 2011, mencapai lebih dr 497 milyar Rupiah. Hehehhe, Coba kalau angka ratusan milyar itu dibuat pelatihan nakes dan subsidi ke RS dan klinik agar bisa lebih pro ASI, saya rasa akan lebih tepat sasaran, ketimbang habis sekian ratus milyar utk kita beriklan agar bisa mengimbangi iklan iklan sufor untuk durasi iklan yg hanya 1 menit saja, tapi kalau ada masalah menyusui masyarakat kita blm dapat dukungan nakes dan konselor menyusui yang mumpuni utk membantu kita semua.

Untuk perbandingan, anggaran kementerian kesehatan untuk promosi kesehatan anak dan ibu dalam satu tahun hanya 2,9 milyar.
Dan angka 2,9 milyar itu bukan hanya mencakup isu ASI saja ya. Secara matematika keuangan negara kita (plus donasi sana sini) ga mungkin bisa menyaingi biaya iklan perusahaan sufor.

Tapi justru dengan keterbatasan ini yuk kita edukasi diri sendiri dan lingkungan. Yg namanya iklan produk sudah pasti ga akan menjelek jelekkan produknya sendiri, jadi lebih baik mulai mengedukasi lingkungan terdekat untuk lebih menggunakan logika dalam mencermati iklan2 produk di media, apapun itu iklannya
Secara logika cost dan benefit, pembuatan iklan dengan budget yg besar besaran sebetulnya tidak tepat sasaran. Yuuk, kita coba kalkulasikan kira2 masuk akal nggak

Pertama, yg kita lawan, minimal ada 5 perusahaan sufor yg wira wiri di TV setiap hari. Minimal ya. Katakanlah satu perusahaan ngiklan 3 kali per hari, berarti kita mesti ngiklan setidaknya 15 kali sehari agar secara frekuensi bisa mengimbangi secara kuantitas. Itu baru di satu stasiun TV, kita punya banyak stasiun tv nasional.

Membuat video iklannya bisa jadi terjangkau secara finansial, tapi membayar slot timing penayangannya untuk jangka panjang, anggaran kemenkes untuk semua masalah kesehatan per tahun semua dialihkan ke iklan ga akan bisa menutup costnya Apa mau gara2 iklan ASI kita jadi ga punya obat murah? mesti bayar kalau mau nimbang ke posyandu? mesti bayar mahal utk imunisasi di puskesmas? ya jangan sampai kan? Ada banyak kebutuhan kesehatan lain yg juga penting untuk diatasi pemeriintah kita dengan dananya yg terbatas...

Sementara kami di AIMI ini semua pendanaannya kami cari lewat sumber2 yang "aman". Tidak dari perusahaan sufor dan dot, tidak boleh dari perusahaan2 negative list yang punya saham sufor dan dot, tidak boleh dari parpol. Karena AIMI non profit dan non partisan. Mau cari dana utk buat event seminar saja sulitnya setengah mati. Apalagi mau bicara membuat iklan yg bsia mengimbangi iklan sufor. Sementara dari pemerintahpun dananya juga terbatas sekali.

jadi, alih alih heboh buat iklan yang durasinya pendek dan efektifitasnya tidak terukur serta biayanya besar sekali, plus bayar slot iklannya di TV yang luar biasa mahaal, kita memilih jalur2 yg lebih kreatif dengan edukASI publik dan pemberdayaan sumber daya manusia.

Kedua, dengan uang sebanyak itu, kenapa tidak digunakan utk sesuatu yg lbh strategis, misal: subsidi ke RS dan klinik bidan agar nakes2nya bisa ikut pelatihan manajemen laktasi. Itu sudah bisa mengcover banyak propinsi, banyak RS, banyak nakes se-Indonesia.

Ketiga, isu menyusui tidak hanya berhenti di masalah edukasi apakah kita memberi asi atau sufor utk si kecil, tapi apa yg terjadi jika ada masalah menyusui. Kalaupun sudah banyak orang yg memutuskan menyusui tapi kemudian ketika ada mslh menyusui dan nakesnya tidak paham ttg bagaimana membantu ibu menyusui, bagaimana membantu menyelesaikan masalahnya, ya percuma juga kan?

Keempat, sufor bisa membuat iklan seperti itu karena mereka adalah perusahaan multi nasional, beroperasi di seluruh dunia. keuntungan mereka sebagian besar lari ke promosi dan iklan. Sementara gerakan AIMI dan gerakan2 sejenis sifatnya sukarela, non bisnis.

Oiya, AIMI dengan segala keterbatasan sumber dayanya sudah beberapa kali membuat video promosi dan edukASI:
https://www.youtube.com/watch?v=n7qrtVoB3ds
https://www.youtube.com/watch?v=CVIa8jo0rgI

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review