Sunday, May 10, 2015

Anak Bukan Kertas Kosong

2 comments
Sangat menarik membaca buku "Anak Bukan Kertas Kosong" ini. Baru saja siang ini saya membelinya, saya baru sampai di bab 1.
Tapi dari bagian Prakata, sudah banyak hal menarik.
Ijinkan saya membagi beberapa tulisan yang saya anggap penting :)


  1. Buku ini berpedoman dari ajaran Ki Hadjar Dewantara, yang mungkin terdengar jadul, tapi sebenarnya pemikirannya masih sangat relevan untuk dunia pendidikan saat ini maupun masa depan.
  2. Tiga pemikiran KHD antara lain: 1) setiap anak itu istimewa. Anak bukanlah kertas kosong, anak mempunyai kodratnya sendiri yang tidak bisa diubah oleh pendidik. Pendidik hanya bisa mengarahkan tumbuh kembangnya kodrat tersebut. 2) belajar bukanlah proses memasukkan pengetahuan ke diri anak. Belajar adalah proses membentuk pengetahuan, mengkonstruksikan pemahaman. 3) Keluarga adalah pusat pendidikan. Orangtua mungkin bisa mendelegasikan pengajaran pada kaum ahli, tetapi pendidikan anak tetaplah menjadi tanggung jawab orang tua.
Pada Bab 1 "Tantangan Zaman Kreatif", dijelaskan kenapa zaman ini disebut zaman baru. Karena  kita menyaksikan berbagai fenomena berbeda yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Anak bisa belajar apa saja dari internet, orang bisa bekerja dari mana saja termasuk dari kafe yang selama ini dianggap tempat bersantai, orang bisa belanja dari mana saja. Kita melihat profesi2 baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Tantangan zaman kreatif, antara lain:
  1. Komputer: menjiplak atau berkarya
  2. Internet: mencari yang relevan atau terombang-ambing dalam lautan informasi
  3. Kedekatan: menemukan teman atau mengumbar emosi
  4. Relasi sosial: ekslusif atau inklusif
  5. Belajar: mengunggah atau mengunduh
  6. Pendidikan: sebentuk bangunan atau sebentuk jejaring
  7. Pekerjaan: berkarier, bukan hanya bekerja
  8. Dunia kerja: fokus kekuatan diri atau fokus pada profesi
  9. Sumber daya: alam atau manusia kreatif 
Bab 2 "Pendidikan yang Menumbuhkan"
Pada bab ini dijelaskan mengenai prinsip dasar anak bukanlah kertas kosong. Anak sudah mempunyai benih atau kodrat, kita sebagai orang tua hanya bertugas mengembangkan benih tersebut. Penulis menganalogikan anak seperti benih tanaman. Ada yang benih padi, benih jagung, dll. Petani hanya memberikan fasilitas dan merawat sesuai kebutuhannya masing-masing. Jangan berharap benih padi akan menghasilkan jagung.
Selain itu, bab ini menjelaskan mengenai menguatkan bakat anak dari dalam. Analoginya adalah sebuah telur ayam. Anak ayam harus memecahkan cangkang telurnya sendiri dari dalam. Tidak bisa ditekan dari luar. Anak ayam ini ibarat anak kita.
Setiap makhluk berasal dari sebuah benih kehidupan yang tumbuh berkembang sesuai kodratnya. Benih tidak akan bertahan hidup jika ada kekuatan lain yang berlawanan dengan alur alami benih tersebut. Kita tidak bisa menetaskan telur dengan cara menekan dari luar, mengeluarkan isi telur sebelum waktunya atau cara pemaksaan lainnya. Ketika kekuatan dari luar menekan telur, benih kehidupan dalam telur akan mati. Kehidupan tidak bisa dipaksa, ia akan menemukan jalannya sendiri.

Sebaliknya, ketika kekuatan dari dalam tidak berhasil menekan keluar, benih kehidupan akan mati. Ketika calon anak ayam dalam telur itu gagal memecahkan kulit telur dari dalam, ia akan mati di dalam cangkang telurnya sendiri. Dibutuhkan kemauan hidup yang kuat dari diri sendiri agar anak ayam itu bisa mengatasi tantangan yang membatasi dirinya.

Bab 3: Anak Bukan Kertas Kosong
Bab 4: Belajar Seasyik Bermain
Bab 5: Setiap Anak Cerdas
Bab 6: Prinsip Mengembangkan Bakat Anak
Bab 7: Siklus Perkembangan Bakat Anak
Bab 8: Peran dan Sikap Orangtua dalam Pengembangan Bakat Anak
Bab 9: Delapan Aktivitas Orangtua yang Menumbuhkan Bakat Anak
Bab 10: Panduan Awal Pengembangan Bakat Anak

Sunday, May 3, 2015

Breastfeeding Baby with CHD

0 comments
Pada bayi normal, memang wajar jika usia 3-6bulan kenaikan BBnya tidak sebanyak usia 0-3 bulan. Hal ini dikarenakan bayi sudah mulai dapat merespon stimulus sekitar.
Hal ini juga terjadi pada Axel. Selain tahapan normal itu, akhirnya aku mulai menemukan ada gangguan lain dari proses menyusu Axel.
Dari beberapa literatur yang aku baca, bayi PJB memang cenderung cepat lelah dalam menyusu. Setelah aku amati, Axel pun demikian. Bukan dalam bentuk "ngos2an" kalau menyusu. Tapi dia sering melepas nenen saat Let Down Reflex (LDR) datang. Padahal dalam 1 sesi menyusu, bisa terjadi berkali2 LDR. Dan setelah dilepas, Axel seperti takut untuk nenen lagi. Selama 1 bulan terakhir, aku sudah mengamati dan menganalisis penyebab BBnya stagnan.

Beberapa usaha yang sudah aku lakukan:
  1. Lebih sering di rumah, bahkan aku sudah memutuskan resign salah satu pekerjaanku, dengan harapan meski Axel cepat lelah, tapi frekuensi menyusunya bisa lebih banyak. Axel juga ikut aku kemana2 misalnya antar jemput Ayra sekolah. Inipun ada risikonya yaitu Axel jadi lebih sering terpapar virus di luaran.
  2. Memerah dulu sebelum disusukan dengan harapan mendapat hindmilk lebih banyak.
  3. Konsul dengan seorang dokter anak yg juga IBCLC yang mana tempat prakteknya jauh dari rumah sekitar 30km. Dari konsul pertama, diminta tes urine, karena curiga ada ISK, dan 3 hari kemudian memang terbukti hasil lab menunjukan ada bakteri. (Hasil lab keluar bersamaan dengan Ayra opname, ceritanya ada di sini). Akhirnya Axel minum obat antibiotik selama 10 hari.
  4. Minum antibiotik ini juga ada efek sampingnya, yaitu bikin Axel mual. Alhasil menyusu juga semakin malas.
  5. Di antara menunggu kondisi yang tepat untuk konsul lagi, aku mendokumentasikan proses menyusuiku dan aku share ke grup Minbuks yang KL semua. Nggak ada yang tahu kenapa Axel menolak menyusu.
  6. Aku juga menemukan fakta bahwa saat LDR pun Axel menahan putingku dengan lidahnya. Itu LDR ya, bukan aliran ASI deras.
  7. Menyusui sambil tiduran. Selain Axel lebih banyak menyusu saat tidur/tenang di ruangan yang tenang, tapi juga secara teori, posisi tiduran juga bisa membantu memperlambat aliran ASI yang deras.
  8. Setelah kondisi Ayra dan Axel stabil, kami kembali ke IBCLC untuk konsul lagi. Baru 1 hari lepas minum obat antibiotik, memang kami juga nggak bisa berharap BBnya akan naik dengan cepat. Dokter tsb juga melihat video proses menyusuiku. Terlihat Axel yang menolak2. Beliau menyarankan coba menggunakan media pipet utuk memberikan ASIP dg pertimbangan kalau pipet, bayi tidak perlu usaha apapun.
  9. Setelah agak "memaksa", sang IBCLC memberikan dosis sufornya. Maksimal 150cc dalam 1 hari.
Proses yang banyak ini memakan waktu juga. Padahal kami pun dikejar waktu, GC Axel sudah menyentuh garis merah! Sudah memotong 2 garis!
Akhirnya aku memutuskan untuk suplementasi sufor. Karena aku nggak mau mengorbankan fisik Axel.

Memutuskan ini pun sangat berat. Di satu sisi, dia butuh tambahan. Di sisi lain, tidak ada yang tahu sufor yang mana yang cocok untuk Axel. Karena salah 1 reaksi negatifnya adalah sembelit. Sedangkan Axel tidak boleh sembelit karena saat mengejan akan memperberat kerja jantungnya.

Coba, aku harus bagaimana? Both options has its own risks!

Tapi aku pasrah. Aku harus melakukan sesuatu. Jelas dengan ASI saja, BB Axel tetap.
Kemudian ada pertanyaan, permasalahan Axel adalah kuantitas ASI yang diminum memang sedikit. Karena saat dia nggak mau nyusu, meski dipaksa juga akan dilepeh lagi.
Misal dalam 1 hari dia menyusu 10x dan minum ASIP 2x. Ya sudah, memang maksimalnya Axel cuma 12x itu. Nggak bisa dipaksa lagi. Jadi kalaupun ada tambahan sufor, itu akan mengambil porsi minum ASIPnya. Jadi menyusu 10x, ASIP 1x dan sufor 1x. Ini cuma contoh sederhana yaa...karena aku nggak pernah hitung berapa kali dia menyusu.
This will lead to another question: berarti sufor lebih bagus dari ASI dong? Kalau kuantitas yang masuk tetap sama?
Nope! Dalam kasus Axel, yang kami butuhkan adalah protein susu sapinya, yang mana lebih susah dicerna tubuh. Harapannya protein susu sapinya akan "numpuk" di tubuhnya.

However, breastfeeding is still better than bottlefeeding baby with CHD.
Breastfeeding and baby's heart 
Some moms wonder if breastfeeding is too much work for their baby's heart. The “work” of breastfeeding is actually less than the “work” of bottle feeding. Sucking, swallowing and breathing are easier for a baby to coordinate while breastfeeding. The amount of oxygen available to your baby is greater while breastfeeding than bottle feeding. Your baby’s heart rate and breathing are more normal during breastfeeding. Compared to bottle-fed babies, breastfed babies with congenital heart defects grow better.
Sumber: http://www.chop.edu/pages/breastfeeding-baby-congenital-heart-disease#.VUo4rfmqqko
So yes, dot masih dan selalu menjadi barang haram, apalagi untuk bayi dengan PJB.


 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review