Anak Bukan Kertas Kosong

Sangat menarik membaca buku "Anak Bukan Kertas Kosong" ini. Baru saja siang ini saya membelinya, saya baru sampai di bab 1.
Tapi dari bagian Prakata, sudah banyak hal menarik.
Ijinkan saya membagi beberapa tulisan yang saya anggap penting :)


  1. Buku ini berpedoman dari ajaran Ki Hadjar Dewantara, yang mungkin terdengar jadul, tapi sebenarnya pemikirannya masih sangat relevan untuk dunia pendidikan saat ini maupun masa depan.
  2. Tiga pemikiran KHD antara lain: 1) setiap anak itu istimewa. Anak bukanlah kertas kosong, anak mempunyai kodratnya sendiri yang tidak bisa diubah oleh pendidik. Pendidik hanya bisa mengarahkan tumbuh kembangnya kodrat tersebut. 2) belajar bukanlah proses memasukkan pengetahuan ke diri anak. Belajar adalah proses membentuk pengetahuan, mengkonstruksikan pemahaman. 3) Keluarga adalah pusat pendidikan. Orangtua mungkin bisa mendelegasikan pengajaran pada kaum ahli, tetapi pendidikan anak tetaplah menjadi tanggung jawab orang tua.
Pada Bab 1 "Tantangan Zaman Kreatif", dijelaskan kenapa zaman ini disebut zaman baru. Karena  kita menyaksikan berbagai fenomena berbeda yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Anak bisa belajar apa saja dari internet, orang bisa bekerja dari mana saja termasuk dari kafe yang selama ini dianggap tempat bersantai, orang bisa belanja dari mana saja. Kita melihat profesi2 baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Tantangan zaman kreatif, antara lain:
  1. Komputer: menjiplak atau berkarya
  2. Internet: mencari yang relevan atau terombang-ambing dalam lautan informasi
  3. Kedekatan: menemukan teman atau mengumbar emosi
  4. Relasi sosial: ekslusif atau inklusif
  5. Belajar: mengunggah atau mengunduh
  6. Pendidikan: sebentuk bangunan atau sebentuk jejaring
  7. Pekerjaan: berkarier, bukan hanya bekerja
  8. Dunia kerja: fokus kekuatan diri atau fokus pada profesi
  9. Sumber daya: alam atau manusia kreatif 
Bab 2 "Pendidikan yang Menumbuhkan"
Pada bab ini dijelaskan mengenai prinsip dasar anak bukanlah kertas kosong. Anak sudah mempunyai benih atau kodrat, kita sebagai orang tua hanya bertugas mengembangkan benih tersebut. Penulis menganalogikan anak seperti benih tanaman. Ada yang benih padi, benih jagung, dll. Petani hanya memberikan fasilitas dan merawat sesuai kebutuhannya masing-masing. Jangan berharap benih padi akan menghasilkan jagung.
Selain itu, bab ini menjelaskan mengenai menguatkan bakat anak dari dalam. Analoginya adalah sebuah telur ayam. Anak ayam harus memecahkan cangkang telurnya sendiri dari dalam. Tidak bisa ditekan dari luar. Anak ayam ini ibarat anak kita.
Setiap makhluk berasal dari sebuah benih kehidupan yang tumbuh berkembang sesuai kodratnya. Benih tidak akan bertahan hidup jika ada kekuatan lain yang berlawanan dengan alur alami benih tersebut. Kita tidak bisa menetaskan telur dengan cara menekan dari luar, mengeluarkan isi telur sebelum waktunya atau cara pemaksaan lainnya. Ketika kekuatan dari luar menekan telur, benih kehidupan dalam telur akan mati. Kehidupan tidak bisa dipaksa, ia akan menemukan jalannya sendiri.

Sebaliknya, ketika kekuatan dari dalam tidak berhasil menekan keluar, benih kehidupan akan mati. Ketika calon anak ayam dalam telur itu gagal memecahkan kulit telur dari dalam, ia akan mati di dalam cangkang telurnya sendiri. Dibutuhkan kemauan hidup yang kuat dari diri sendiri agar anak ayam itu bisa mengatasi tantangan yang membatasi dirinya.

Bab 3: Anak Bukan Kertas Kosong
Bab 4: Belajar Seasyik Bermain
Bab 5: Setiap Anak Cerdas
Bab 6: Prinsip Mengembangkan Bakat Anak
Bab 7: Siklus Perkembangan Bakat Anak
Bab 8: Peran dan Sikap Orangtua dalam Pengembangan Bakat Anak
Bab 9: Delapan Aktivitas Orangtua yang Menumbuhkan Bakat Anak
Bab 10: Panduan Awal Pengembangan Bakat Anak
  1. Setuju deh sama pembahasan disini. Biarkan anak berkembang sesuai kodrat yang ditentukan. Jangan dipaksa jadi orang lain

    ReplyDelete
  2. Sudah kelar belum mbak baca buku nya? Mungkin bisa di udpate buat bab-bab selanjutnya :D

    ReplyDelete

Designed by FlexyCreatives