Tuesday, June 30, 2015

Axel's Circumcision

Setelah menimbang kemungkinan sunat sejak Axel usia 4 bulan (karena BBnya mulai stagnan), kami berpindah2 dokter untuk konsultasi.
Alasan kami mempertimbangkan sunat adalah karena BB Axel mulai stagnan saat usia 4 bulan. Untuk bayi normal usia 3-6 bulan adalah wajar jika kenaikan BB tidak sebanyak saat usia 0-3 bulan. Tapi karena Axel ada PJB juga, maka saya sangat concern. Anak dg PJB memang terkenal dg slow weight gain. Kami juga sudah membawa Axel ke IBCLC utk konsul mengenai asupannya. Baca di sini
Saat itu dilihat memang lubang pipisnya Axel agak kecil. Tidak sampai ada gejala klinis pada Axel, tapi ISK pada anak2 biasanya memang tanpa gejala. Akibatnya bisa menyebabkan BB tidak naik.
Kami sudah membawa Axel ke dokter urologi saat usia 5 bulan yg menyatakan Axel tidak perlu sunat krn tidak ada gejala klinis ISK. Rupanya dokter urologi ini kurang paham ISK pada anak. Karena semua dokter anak dan beberapa dokter obsgyn yg saya kenal menyatakan ISK pada anak bisa tanpa gejala.
Akhirnya saya konsul ke dokter bedah anak pada hari Senin 29 Juni 2015. Dan langsung di-acc utk sunat utk besoknya. Sudah membawa surat pengantar dari dokter anak konsultan jantungnya, ternyata sunat utk Axel harus opname krn menggunakan bius total. Tidak bisa bius lokal seperti anak lain.
Hari ini 30 Juni 2015, Axel disunat jam 10. Dengan puasa 3 jam sebelumnya (karena harus bius total dan pengerjaannya di OK).
Gimana perasaanku? Sangat kacau!
Mendengar Axel nangis keras saat dipasang infus di ruang tindakan, padahal aku di kamar inapnya. Setelah infus terpasang, aku diperbolehkan menggendong dia. Tidak lama, dia langsung diam. Aku menggendongnya sampai ke OK.

Aku berusaha menguatkan diri demi Axel. Dan berjanji tidak akan membiarkan apapun atau siapapun membuatnya sakit.

Proses khitan sekitar 30 menit di OK. Aku dipanggil menuju ruang recovery. Di sana Axel dipasang selang oksigen dan menangis keras. Alhamdulillah, meski PJB, Axel memang tidak pernah biru. Bukan tipe yg cyanotic. 

Masa observasi 1 jam di RR. Awalnya perawat tidak membolehkan saya menyusui Axel sampai Axel tidak nangis lagi. Alasannya takut tersedak. Dalam hati, gimana bisa diam kalau dia nggak boleh menyusu?
Setelah ditawar, boleh diberi air putih. Perawat juga awalnya bilangnya tunggu diam dulu. Akhirnya setelah agak memaksa sedikit, diperbolehkan diberi air putih setetes2 saja. Terlihat Axel langsung meminum airnya. Haus sekali kelihatannya. Setelah beberapa sendok, dia mulai agak terkontrol nangisnya. Sekitar 10 menit kemudian, boleh disusui. Begitu tahu ditempelkan ke payudaraku, dia langsung menyusu dengan lahap dan diam menikmati dengan mata terpejam.
Kasihan sekali, nak...

Awal2 masih terputus diselingi dengan tangisannya. Hingga lama kelamaan dia tertidur di pelukanku.
Begitu aku bergerak sedikit, dia langsung nangis lagi. Di RR juga Axel sudah sempat bisa tersenyum2 saat digoda. Saat matanya melihatku, terlihat dia begitu lega berada di pelukanku.

Aku sendiri sudah 3x masuk OK sebagai pasien...1x operasi laparotomi dan 2x SC. Aku tahu sekali perasaan orang yang masuk OK. 
OK memang wajib dingin karena untuk menjaga sterilitas. Pasien juga dilarang menggunakan baju, biasanya pakai baju RS yang seperti kimono.
Jadi aku benar2 tahu rasanya. Rasanya benar2 tidak berdaya. Berada di ruangan sedingin itu tanpa menggunakan pakaian lengkap, apalagi kalau tidak kenal seorang pun di ruangan itu.
Sekarang bayangkan bagaimana perasaan bayi umur 6 bulan? Plus sunat itu sendiri tentu sakit kan...
Jadi tentu itu merupakan pengalaman traumatis untuk bayi sekecil Axel.





Sorenya Axel terlihat menghisap2 tangannya meski sudah aku susui, aku coba kasih makanan dari RS, ternyata dia mau!
Makanannya bubur halus, dan terasa plain :)






Aku yakin Axel anak yang kuat, mengingat perjalanan kami sejauh ini. Semoga setelah ini Axel bisa menjadi anak yang sehat dan kuat baik fisik, mental, iman dan Islamnya. Amiinn..

Even in hard times, there are always something to be grateful for.
Masa sulit kemarin pun, ada beberapa hal yg saya syukuri:
1. Suami mau ikut urus semuanya, ikut membantu mengurus anak2 100% padahal tetap puasa. Buka puasa juga cari makanan sendiri yg kemudian dimakan rame2 sama bapak dan adik juga. Cuma takjil aja yg dibawakan adik dan bapak saya dari rumah.
2. Ini yang paling membuat saya takjub: si kakak seharian saya cuekin karena adiknya rewel seharian paska khitan. Maunya nemplok nyusu terus. Alhamdulillah Ayra tidak pernah sekalipun rewel. Makan sama mbaknya, kalau pas mbaknya pulang, pipis dan mandi sama papa. Tidur sama papa (meski kesulitan tidur karena nggak suka sama tempat tidur di RS). Bahkan karena seringkali saya butuh bantuan papanya utk pegang adiknya, Ayra juga nggak mengeluh sama sekali, nggak rewel sama sekali. MashaAllah 😙😍
3. Axel juga nggak nyusahin sama sekali. Paska khitan cuma minta nyusu aja. Malam pun bisa nyusu sambil tiduran, jadi saya juga bisa istirahat meski kebangun2 jg. 7 jam paska khitan, mau makan buburnya. Dan keesokan harinya waktu nungguin penyelesaian administrasi, juga makan banyak. Proses lepas infus juga Axel ketawa2 aja diajak guyon sama perawatnya. Hari ini, atau H+1 paska khitan, Axel sudah nggak rewel sama sekali. Nyusu dan makan sudah normal lagi. Nangis cuma kalau ngantuk aja.
MashaAllaah 😙😙
Saya sangaaaattt bersyukur...alhamdulillaaahh...

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review